SINOPSIS
Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Balik Air Mata
Aula utama Kuil Emas menjadi saksi dimulainya latihan sakral bagi kedua bersaudara itu. Suasana hening, hanya ada aroma dupa yang mengepul dan suara rendah Biksu Dutar yang membimbing mereka masuk ke dalam kekuatan batin.
Pelajaran Nara: Mantra Parivartan
Nara menggenggam tongkat kayunya erat-erat. Biksu Dutar mulai melafalkan suku kata kuno yang bergetar di udara. Nara mengikuti setiap kata dengan penuh fokus, mencoba menyelaraskan energi di telapak tangannya dengan kayu tongkat tersebut.
"Ingat, Nara," bisik Biksu Dutar, "Benda ini tidak berubah karena sihirmu, melainkan karena ia mengenali jiwamu yang ingin melindungi."
Nara memejamkan mata, merapal mantra itu berulang-ulang. Di balik kelopak matanya, ia membayangkan tongkat itu melengkung, menjadi busur kokoh yang siap melindungi adiknya.
Di sisi lain, Ingfah duduk dengan tenang. Sejak kecil, ia sudah terbiasa meditasi di bawah bimbingan guru lamanya di Ayutthaya, namun kali ini rasanya berbeda. Begitu ia memejamkan mata dan mengatur napas, kegelapan di depannya tidaklah kosong.
Kilasan pertama muncul:
Ia melihat bayangan Ayah Patan yang tersenyum lebar, menggandeng tangannya dan Nara menuju pasar Ayutthaya yang ramai. Ia mencium bau makanan jalanan yang manis dan merasakan hangatnya genggaman tangan Ayahnya. Ia melihat saat-saat mereka pertama kali ke kuil dan mendapatkan batu cahaya—saat dunia masih terasa sederhana dan penuh cinta.
Kilasan kedua yang menyakitkan
Namun, ketenangan itu mendadak pecah. Ingfah melihat gambaran dramatis di bukit suci. Ia melihat punggung Ayahnya yang terluka parah, darah yang membasahi tanah, dan tatapan terakhir Patan yang penuh harapan sebelum napasnya berhenti. Isak tangis Nara di bukit itu bergema kembali di telinga Ingfah.
Reaksi Mustika
Tanpa disadari oleh Ingfah, emosinya yang bergejolak antara rindu dan duka membuat Mustika Prema-Vana di atas altar bereaksi. Batu itu mulai berdenyut dengan cahaya biru yang kuat, seirama dengan detak jantung Ingfah yang semakin cepat.
Udara di dalam aula mulai bergetar. Nara yang sedang merapal mantra merasakan kekuatan besar itu. Tiba-tiba, tongkat di tangan Nara bersinar terang, bukan lagi hijau, melainkan putih keemasan yang menyilaukan.
Biksu Dutar membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat bagaimana emosi Ingfah memicu kekuatan mustika, dan kekuatan mustika itu memberikan energi tambahan bagi busur Nara.
"Tenang, Ingfah... Tarik napasmu kembali," ujar Biksu Dutar dengan tenang namun tegas. "Jangan biarkan kesedihan menguasaimu, jadikan kesedihan itu sebagai kekuatan untuk menjaga, bukan untuk menghancurkan."
Nara, yang merasakan energi adiknya sedang tidak stabil, segera meraih tangan Ingfah meskipun matanya masih terpejam.
"Nong, Pi di sini. Ayah juga di sini..."
Suasana di aula besar itu menjadi sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Ingfah yang memilukan. Biksu Dutar menghentikan rapalannya, memberikan ruang bagi dua bersaudara itu untuk saling menguatkan.
Nara mendekap tubuh kecil adiknya dengan sangat erat, membiarkan bahunya menjadi tempat Ingfah menumpahkan segala kerinduan dan kepedihan yang terpendam. Dengan gerakan lembut yang penuh kasih, Nara menghapus air mata di pipi adiknya yang kemerahan.
"Kamu tidak akan pernah sendiri, Nong. Pi akan selalu bersamamu," bisik Nara dengan nada yang sangat yakin.
"Suatu hari nanti, setelah kita menjadi kuat di sini, setelah kita belajar melindungi diri sendiri, kita akan pergi mencari mereka. Kita akan menemukan Mae Parang, Nenek Bua, Nenek Prik, dan keluarga Paman Prawat serta si kecil Ning."
Ingfah mendongak, matanya yang basah menatap Nara dengan penuh harap.
"Pi Nara tidak bohong kan? Kita benar-benar bisa bertemu Mae Parang dan Nenek Bua?" tanya Ingfah polos. Bagi Ingfah, mereka adalah sisa-sisa kehangatan rumah yang masih ia miliki di dunia ini.
"Pi berjanji. Pi tidak akan pernah membohongimu," jawab Nara sambil mencium kening adiknya.
"Sekarang, tenangkan hatimu. Bayangkan saat kita bertemu Mae Parang nanti, dan bagaimana serunya bermain lagi dengan Nong Ning. Mereka pasti sedang mendoakan kita dari jauh agar kita menjadi anak yang hebat."
Keajaiban Ketulusan
Begitu hati Ingfah mulai tenang karena janji kakaknya, sebuah keajaiban kecil terjadi di dalam aula tersebut.
Penyatuan Energi: Cahaya biru dari Mustika Prema-Vana yang tadinya berdenyut liar, perlahan berubah menjadi cahaya hijau yang lembut dan hangat. Energi itu mengalir lembut menyelimuti Nara dan Ingfah, seolah memberikan pelukan dari alam.
Transformasi Busur: Bersamaan dengan ketenangan Ingfah, tongkat kayu di tangan Nara bergetar untuk terakhir kalinya. Tanpa Nara perlu merapal mantra lagi, kayu itu melentur dan memanjang secara otomatis, berubah wujud menjadi Busur Pusaka yang indah dengan ukiran daun emas yang bersinar.
Biksu Dutar, yang menyaksikan hal itu, mengangguk perlahan.
"Kalian lihat? Kekuatan sejati tidak muncul dari kemarahan atau kesedihan, melainkan dari cinta dan janji untuk melindungi satu sama lain. Nara, busurmu telah bangkit karena ketulusan janjimu. Dan Ingfah, mustika itu telah tenang karena hatimu telah menemukan kedamaian."
Malam itu, latihan pertama berakhir bukan dengan mantra yang sempurna, melainkan dengan ikatan persaudaraan yang semakin kokoh.
Mereka tahu, jalan menuju Chiang Mai hanyalah awal, dan jalan kembali untuk menjemput keluarga mereka akan menjadi tujuan akhir yang membakar semangat mereka.
Malam itu, di bawah perlindungan atap Kuil Emas yang sakral, Nara memeluk erat tubuh kecil Ingfah. Dalam kegelapan yang sunyi, ia membisikkan sumpah yang sudah menjadi kompas hidupnya.
"Kita akan bersama sampai kapan pun. Itu adalah janjiku," bisiknya pelan, memastikan hanya angin malam dan roh penjaga kuil yang mendengarnya.
Lilin-lilin perlahan padam, membawa mereka ke dalam istirahat panjang sebelum fajar kembali memanggil.
***
Pagi yang Penuh Harapan
Keesokan harinya, rutinitas pagi kembali dimulai. Nara tetap menjadi kakak yang protektif; ia melarang Ingfah membantunya mengangkat air yang berat, khawatir adiknya kelelahan sebelum pelajaran dimulai.
"Tunggu di teras saja, Nong. Biar Pi yang mengambil air," pinta Nara.
Namun, saat bagian menyapu pelataran dimulai, Ingfah tidak bisa diam. Baginya, tumpukan daun kering yang gugur dari pohon pinus adalah arena bermain yang menyenangkan. Dengan jemari mungilnya, ia bersemangat mengumpulkan daun-daun itu menjadi gundukan kecil.
Percakapan Kecil di Sela Daun Kering
Sambil memunguti daun, Ingfah mendongak dengan mata yang berbinar, namun ada sedikit rasa lapar akan kenangan di dalamnya.
"Pi Nara, Fah rindu masakan Nenek Bua. Apa setelah kita kuat, kita benar-benar akan bertemu mereka lagi?" tanya Ingfah polos.
Ingatannya tentang aroma dapur Nenek Bua seolah menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa benar-benar pulang.
Nara berhenti sejenak mengayunkan sapunya. Ia menatap adiknya dengan tatapan yang penuh keyakinan.
"Kita pasti akan bertemu mereka. Pi sudah berjanji, bukan? Maka Pi akan menepatinya. Pi akan lakukan apa pun, belajar sekeras apa pun, supaya kita bisa kembali dan menjemput mereka semua," kata Nara tegas, lalu kembali menyapu dengan semangat baru.
Kenangan Manis di Sepanjang Jalan
Pagi itu, suasana menjadi jauh lebih ceria. Ingfah mulai mengoceh tentang banyak hal. Ia mengingat kembali pasar-pasar yang mereka lewati saat perjalanan menuju kuil, mainan kayu yang pernah ia lihat, dan bau roti hangat yang tercium dari warung di pinggiran desa.
Nara mendengarkan dengan sabar, sesekali tertawa kecil mendengar celotehan Ingfah. Baginya, ocehan polos adiknya adalah musik yang jauh lebih indah daripada denting lonceng kuil. Itulah yang memberinya alasan untuk terus bertahan.
Saat matahari mulai naik setinggi dahan pohon, suara langkah kaki terdengar mendekat. Biksu muda yang kemarin datang kembali untuk menjemput mereka.
"Sudah cukup bermainnya, murid-murid kecil. Biksu Dutar sudah menunggu di dalam. Hari ini, kalian tidak hanya akan meditasi, tapi Nara akan mulai memegang busurnya di lapangan latihan," ujar biksu muda itu.
Ingfah melompat senang.
"Pi Nara akan memanah? Wah, hebat!"
Nara tersenyum, namun tangannya sedikit gemetar karena bersemangat. Ia tahu, setiap langkah latihan di kuil ini membawanya selangkah lebih dekat untuk menepati janjinya kepada Ingfah.
Matahari mulai meninggi, membiaskan cahaya keemasan di lapangan rumput luas di belakang kuil yang dikelilingi oleh pepohonan pinus yang rapat. Biksu Dutar berdiri di tengah lapangan, sementara di depannya telah disiapkan beberapa target dari jerami yang dipasang pada batang pohon.
Latihan Busur Cahaya
Nara melangkah ke tengah lapangan, menggenggam tongkat kayunya yang kini telah berubah kembali menjadi Busur Pusaka.
Bentuknya melengkung indah, permukaannya terasa hangat dan berdenyut pelan di tangannya.
"Nara," panggil Biksu Dutar. "Busur ini tidak memiliki tali dan tidak memerlukan anak panah kayu. Ia memakan energi dari niatmu. Jika niatmu tajam, maka panahnya akan menembus apa pun."
Nara menarik napas dalam, ia mengambil posisi berdiri tegap seperti yang pernah diajarkan ayahnya secara rahasia dahulu. Ia menarik "tali" yang tak kasat mata di busur itu. Tiba-tiba, seberkas cahaya hijau terang muncul membentuk anak panah yang berdesis pelan.
Wush!
Anak panah itu melesat secepat kilat, namun sayang, ia hanya menyerempet bagian pinggir target dan menghilang menjadi butiran cahaya.
"Jangan hanya menggunakan ototmu, gunakan perasaanmu terhadap mereka yang ingin kau lindungi," pesan Biksu Dutar.
Kekuatan Intuisi Ingfah
Sementara Nara berlatih, Ingfah diminta duduk bersila di bawah pohon besar tak jauh dari sana. Biksu Dutar meletakkan sebuah mangkuk air jernih di depan Ingfah.
"Ingfah, kamu merindukan Nenek Bua dan Mae Parang, bukan? Fokuslah pada bayangan wajah mereka di air ini. Biarkan mustika di dalam dadamu menjadi jembatan," perintah sang Biksu.
Ingfah memejamkan mata. Ia membayangkan aroma ramuan obat Nenek Bua dan hangatnya pelukan Mae Parang. Perlahan, air di dalam mangkuk mulai beriak. Permukaan air yang tadinya bening mulai menampakkan bayangan samar—seperti cermin ajaib.
"Pi Nara! Lihat!" seru Ingfah pelan namun penuh gembira.
Nara berhenti berlatih dan mendekat. Di dalam air itu, mereka melihat bayangan Nenek Bua sedang duduk di depan rumah mereka di desa, ia tampak sehat namun wajahnya terlihat cemas menatap ke arah utara. Di sampingnya, terlihat Mae Parang sedang menjemur kain.
"Mereka selamat..." bisik Nara dengan mata berkaca-kaca.
Melihat bayangan keluarga mereka yang masih hidup dan menanti kepulangan mereka, semangat Nara dan Ingfah berkobar berkali-kali lipat. Nara kembali ke posisinya, menarik busurnya dengan keyakinan penuh. Kali ini, anak panah cahayanya melesat lurus dan menancap tepat di tengah sasaran hingga target jerami itu terbakar sedikit oleh energi suci.
"Bagus," puji Biksu Dutar. "Kalian mulai mengerti. Kekuatan ini bukan untuk menyerang, tapi untuk memastikan jalan pulang kalian aman."
Waktu terus berlalu, dan mereka terus berlatih setiap hari.