Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 28
Pagi ini seperti biasa keluarga Dirgantara sarapan pagi, Arumi dengan telaten menyuapi Ayumi yang mana ia sudah berusia delapan bulan.
Ayumi sangat antusias dengan makanannya maklum saja ia baru saja sembuh dan kemarin nafsu makannya berkurang jadi saat sembuh ia dengan lahap makan makanannya.
Namun, saking antusiasnya Ayumi malah membuat mangkuk yang sedang di pegang ibunya terjatuh hal itu memicu kemarahan Arumi yang sontak berdiri dan memarahi balita yang masih polos itu hingga membuat sarapan pagi kali ini sangat gaduh.
"Bisa sabar gak makannya," seru Arumi dan Ayumi hanya bisa menangis sambil merentangkan tangannya mengisyaratkan jika anak itu ingin digendong.
Semua orang hanya diam ia tidak mau ikut campur padahal sedari tadi Tiara sudah kesal dengan menantunya tangannya menggenggam erat garpu ingin rasanya garpu itu ia lemparkan pada wajah menantunya saat ini juga.
"Tenang, mih biarkan kita lihat saja dari jauh sampai Kenan benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau istrinya seperti itu," ujar Arsyad menahan istrinya yang ingin menyusul Arumi yang membawa Ayumi ke taman belakang.
"Pokoknya saat dia tau kelakuan Arumi, Kenan harus segera menceraikannya!" putus Tiara beranjak dari duduknya dan memilih ke dalam kamar sembari memijat kepalanya menahan amarah membuat kepalanya terasa pusing.
"Riana, bagaimana keadaan kantor? Apa semua baik-baik saja," tanya Arsyad pada Riana hanya tinggal mereka berdua di meja makan.
"Baik, pih tidak ada kendala sama sekali. Berkat bantuan Jimmy juga aku bisa menghandle semuanya," ungkap Riana yang kini bersiap berangkat ke kantor, tetapi ia mendekat terlebih dahulu,"Pih, nanti siang aku antar cek up ke rumah sakit," Arsyad mengangguk kan kepalanya pelan.
Memang kesehatan Arsyad akhir-akhir ini sedang menurun itu sebabnya Tiara tidak meladeni menantunya agar Arsyad tidak terlalu kepikiran.
Di sisi lain Arumi sedang duduk bersama Ayumi di ayunan Nina berada di samping nya atas suruhan Tiara.
"Tidak perlu menemani ku lebih baik kau pergi saja!" seru Arumi sedikit ketus pada Nina.
"Nyonya menyuruh ku di sini untuk menemani Nona, kalo ga nanti saya di pecat Non," terang Nina memelas ia menjadi serba salah harus mendengarkan yang mana.
"Tidak akan ... pergi lah! Titah Arumi lalu Nina pun pergi, sesekali ia menatap Arumi sebelum ia memutuskan benar-benar pergi dari hadapan Arumi.
Arumi celingukan ia seperti melihat situasi apakah aman atau tidak. Lalu ia meraih ponselnya menelepon seseorang.
"Temui aku di gudang X," ucap Arumi mematikan sambungan telepon ia langsung menggendong Ayumi perlahan menuju keluar.
Tina saat ini sedang membersihkan lantai ia melihat Arumi yang membawa putrinya ia tidak merasa curiga dan berpikir jika Arumi hanya ingin duduk di depan teras saja.
Pintu tertutup buru-buru Arumi berlari menuju gerbang, tetapi langkahnya terhenti ketika security rumahnya bertanya pada Arumi.
"Mau ke mana, Non pagi-pagi begini?" tanya pak Ilham.
"Ah itu ... Mau ke rumah teman saya, Anita," ucap Arumi sedikit gugup. Pak Ilham pun percaya tidak lama sebuah mobil terparkir di depan rumahnya.
"Tolong bukakan pintu gerbangnya," titah Arumi.
Pak Ilham pun mendorong pintu itu,"Sudah izin dengan Nyonya, Nona?" Arumi pun mengangguk kan kepalanya pelan.
Ia mendekat ke arah mobil itu yang mana supirnya tidak keluar atau membukakan kaca untuk sekedar menyapa Arumi. Tangannya meraih handle pintu Arumi tertunduk lalu ia pun berbalik memandangi rumah besar milik Dirgantara dengan tatapan sulit diartikan. Tidak lama ia pun menarik handle pintu mobil dan langsung masuk ke dalam mobil pun segera melaju bergegas meninggalkan rumah itu.
***
Mobil mewah telah sampai di rumah yang terbilang cukup besar memiliki dua lantai dan juga beberapa bodyguard yang berjaga hampir di sebuah sudut pria tegap berkulit hitam itu ada untuk menjaga.
Arumi turun dari mobil dan melihat sekeliling ia mempererat pelukannya pada Ayumi untungnya Ayumi sedang tertidur.
"Mari aku antar, dia ada di atas sudah sejak tadi menunggu anda," seorang maid mengantarkan Arumi yang mengikuti kemana arah maid itu membawanya hingga sampai lah ia di ruangan seseorang yang sudah sedari tadi menunggu nya.
Pintu terbuka setelah maid itu menempelkan kartu otomatis lalu perlahan Arumi masuk ke dalam,"Tuan, Nona sudah datang," pria itu mengangkat tangannya tanpa bicara apapun hanya memberikan perintah melalui jarinya yang seolah menyuruh maid itu keluar.
Tidur Ayumi sedikit terusik membuat ia pun terbangun, Ayumi mengerjakan matanya melihat sekeliling yang terlihat gelap karena semua warna di ruangan itu serba hitam.
"Jangan takut, mama di sini," ujar Arumi berusaha menenangkan Ayumi yang tidak kunjung diam.
Pria itu berbalik menatap Arumi mengangkat satu kakinya dan bersedekah dada menyunggingkan senyuman menatap keduanya.
"Akhirnya kau datang membawa keponakan ku," ucap pria itu beralih mendekati Arumi dan mencoba untuk menggendong Ayumi. Akan tetapi, Arumi malah menarik putrinya dalam pelukannya.
"Aku akan mendiamkan nya dulu," seru Arumi dan pria itu pun tidak menghalangi Arumi yang duduk di sofa sembari memberikan putrinya cemilan yang sengaja ia bawa persiapan jika Ayumi menangis saat terbangun.
Prang
Suara pecahan itu terdengar sangat jelas bahkan riuhnya suara orang-orang di luar yang sepertinya sedang mengejar seseorang.
"Kau lihatlah dia sepertinya dia ingin kabur lagi," ujar Arumi seraya menatap pintu yang tertutup ia sangat penasaran apa yang terjadi di luar.
"Kenapa dia selalu berbuat ulah. Menyebalkan!" pintu itu terbuka dengan wajah marahnya pria itu langsung melihat apa yang terjadi di luar.
Bruugh.
Seorang wanita di dorong paksa dan terjatuh di hadapan pria yang sedang berdiri. ia terdiam sejenak menelusuri kaki itu hingga wanita itu mendongak menatap nya dengan benci dan juga rasa takut.
"Akkhh," pria itu menarik wajah sang wanita hingga ia berteriak kesakitan tapi karena ulah nya sendiri membuat pria itu marah dan semakin mencengkram dengan amat kencang nya membuat wanita itu meringis kesakitan tanpa henti ia menangis memohon agar dilepaskan.
"To ... Long lepaskan aku," lirih Helen.
"Jangan mimpi!" tekan Narendra ia mendorong wajah Helen hingga ia tersungkur di lantai.
Narendra memberi perintah pada bodyguard nya agar membawa Helen kembali ke kamarnya.Dengan tubuh yang lemah Helen menatap Narendra dan juga wanita yang berada di belakangnya dengan tatapan benci entah apa bagaimana nasibnya nanti mengapa hidupnya berakhir seperti ini.
Naren berbalik ia bersitatap dengan Arumi berjalan mendekatinya,"Apa keponakan ku sudah tenang," Arumi hanya mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan menemuinya," ujar Narendra meninggal kan Arumi yang masih berdiri menatap kepergian Narendra dari hadapannya.
Arumi tidak menyusulnya ia malah pergi ke arah yang berlawanan. Arumi memilih menemui Helen yang sedang menangis di kamarnya ia hanya berdiri di depan pintu.
Helen tersadar kehadiran Arumi dan menoleh ke arahnya. Langkah kaki Arumi membuat wanita itu memundurkan tubuhnya,"Apa kabar mu, Helen? Apa kau bahagia dengan pernikahan mu dengan adik ipar ku?" tanya Arumi.
"CK, kalian brengsek benar-benar brengsek!" teriak Helen yang langsung menghampiri Arumi yang saat ini menyunggingkan senyumannya, tetapi dengan cepat dua bodyguard yang berjaga menahan wanita itu.
"Brengsek? sepertinya itu kata yang pantas untuk pria yang telah melenyapkan suamiku! Menghancurkan suami ku!" pekik Arumi bergantian marah dengan Helen.
"Kenan," lirih Helen yang langsung teringat dengan pria itu. Bagaimana nasibnya nanti jika ia tau istri yang di cintainya itu tidak tulus dengannya.
"Jangan macam-macam Arumi, apa kau tidak kasihan dengan putrimu. Lupakan dendam mu jangan lah seperti ini dia sangat mencintai mu apakah ini balasan atas cintanya padamu!"
Jangan kan kasihan dia menganggap anak itu saja tidak. Awalnya memang Arumi berpikir jika ia akan melupakan dendamnya dan membuka hati untuk Kenan.
Namun, justru ia semakin mengingat mendiang suaminya dan dendam itu muncul kembali apalagi saat Narendra yang baru mengetahui kebenaran nya jika Natan adalah kakaknya lalu ia menemui Arumi dan membuat suatu kesepakan.
"Kasian sama putri ku? Dari dalam kandungan pun dia selalu ingin ku lenyapkan dan Kenan pun tau itu jadi, jangan pernah berpikir jika aku benar-benar menerima Ayumi sekalipun ia terlahir dari rahim ku!" ucap Arumi penuh penekanan.
"Satu hal lagi aku dan Narendra sudah menyusun rencana yang sebegitu sempurna untuk membalaskan dendam kami berdua dan kau harus menjadi saksinya,"
Arumi mendekat pada Helen,"Menjadi saksi kematian Kenan, pria yang masih kau cintai sampai saat ini," bisik Helen.
Degh
*
*
Bersambung.