aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'
'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sekarang dia istriku
"Rama...? ini semua pesananmu...?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Alda masih menatap suaminya dengan ekspresi bingung, sementara para guru lainnya saling berbisik, masih tak percaya dengan makanan dalam jumlah besar yang tiba-tiba datang. rama, yang menyadari kebingungan itu, menghela napas kecil sebelum akhirnya menjelaskan.
"anggap saja ini sebagai rasa syukur atas pernikahan kita, Da," katanya dengan tenang, menatap Alda dengan lembut. "pernikahan kita kemarin berlangsung begitu mendadak, tanpa banyak persiapan atau perayaan. jadi, aku ingin berbagi sedikit kebahagiaan dengan mereka"
beberapa guru langsung bereaksi mendengar penjelasan rama.
"aduh, malah jadi nggak enak begini," celetuk salah satu guru perempuan. "harusnya kami yang memberi hadiah atau traktiran untuk kalian, bukan malah sebaliknya!"
"iya, benar!" timpal guru lain. "baru pertama kali nih, ada pengantin baru yang justru mentraktir teman-teman seperti ini."
Alda tersenyum mendengar tanggapan rekan-rekannya, lalu menoleh ke Rama. tatapan lembutnya penuh dengan rasa terima kasih.
"terima kasih, Ram." katanya pelan namun penuh makna. "tapi seharusnya aku juga ikut membeli. jangan hanya pakai uangmu saja."
Rama tersenyum mendengar ucapan istrinya, lalu tanpa ragu menjawab dengan nada tenang namun penuh keyakinan, "uangku adalah uangmu, Da. tapi uangmu tetap hakmu."
ruangan mendadak dipenuhi suara riuh rendah dari para guru yang mendengar pernyataan itu. beberapa guru perempuan langsung menatap Alda dengan penuh iri.
"ya ampun, suamimu ini tipe langka, Da!" seru salah satu dari mereka. "baru kali ini dengar suami bilang uangnya itu uang istrinya juga, tapi uang istrinya tetap haknya sendiri. duh, bikin iri!"
"benar, benar!" sahut guru lain sambil terkikik. "suamiku mana pernah ngomong gitu! hadeh, Alda, kamu beruntung banget!"
Alda hanya bisa tersenyum malu-malu, sementara Rama tetap terlihat santai meski mendapat begitu banyak pujian.
"ya ampun, mas Rama ini romantis banget sih," canda seorang guru pria, ikut menggoda. "boleh dong kasih tips biar istri saya juga makin sayang."
suasana pun semakin mencair, diselingi tawa kecil dari para guru yang ikut menikmati momen tersebut. Alda melirik Rama yang tetap tersenyum, lalu tanpa sadar menggenggam tangannya lebih erat.
namun disela perbincangan ini, seorang pria tiba-tiba bangkit dari kursinya dan keluar tanpa sepatah kata pun.
pergerakannya yang mendadak membuat semua orang di ruangan itu langsung menoleh, termasuk Rama. mata Rama sedikit menyipit, memperhatikan punggung laki-laki itu yang semakin menjauh. seketika, potongan-potongan cerita yang pernah diceritakan Karina terhubung dalam pikirannya.
namun, alih-alih menunjukkan reaksi terkejut atau terganggu, Rama justru tetap tenang. senyum tipis terukir di wajahnya, seolah ia sudah memperkirakan sesuatu seperti ini akan terjadi. tatapannya penuh arti, namun tidak ada amarah atau kegugupan di dalamnya.
dengan santai, ia menoleh kembali ke para guru yang masih kebingungan dengan kepergian mendadak rendra.
"silakan dinikmati makanannya dulu, bapak dan ibu," kata Rama ramah, nadanya tetap lembut dan bersahabat. "saya akan keluar sebentar."
beberapa guru tampak ragu, sebagian masih terkejut dengan situasi yang baru saja terjadi. Alda menatap suaminya dengan penuh tanya, merasa ada sesuatu yang aneh dari cara Rama bereaksi.
"mas...?" Alda mencoba bertanya, tapi Rama hanya tersenyum dan menepuk punggung tangannya dengan lembut.
"tidak apa, Da," bisiknya singkat. "aku hanya ingin berbincang sebentar."
tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, Rama berbalik dan melangkah keluar, mengikuti arah kepergian pria tadi. tatapan para guru masih tertuju padanya, penasaran dengan apa yang akan terjadi.
Alda, meski hatinya dipenuhi tanda tanya, memilih untuk percaya pada suaminya. ia menghela napas, lalu mencoba mencairkan suasana kembali.
"ayo, kita makan saja dulu," katanya, berusaha terdengar riang. "kita nikmati makanan ini sebelum dingin"
para guru akhirnya mengangguk, meski beberapa dari mereka masih menoleh ke arah pintu tempat Rama menghilang, ingin tahu apa yang akan terjadi di luar sana.
***
Rama melangkah dengan tenang, mengikuti arah kepergian Rendra yang berjalan cepat di lorong sekolah. gerakan pria itu tampak terburu-buru, seolah ingin segera menjauh dari suasana di ruang guru tadi. namun, Rama tak terburu-buru. ia menjaga langkahnya tetap stabil, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memanggilnya.
"Rendra."
langkah pria di depannya itu mendadak terhenti. bahunya sedikit menegang, namun ia tak langsung berbalik. seakan ragu ingin menanggapi atau mengabaikan.
Rama melangkah lebih dekat. "apa benar kau Rendra?" tanyanya, nadanya tetap tenang.
Rendra akhirnya menoleh, ekspresinya penuh ketidaksukaan. "apa urusanmu?" balasnya dengan nada tajam dan sarkastik. tatapannya dingin, seolah tak berniat berbasa-basi dengan rama.
Rama tetap menunjukkan ketenangannya. "boleh kita bicara sebentar?" tanyanya lagi, dengan nada yang sama tenangnya.
Rendra mendengus kecil. ia melirik ke arah taman sekolah yang tak jauh dari mereka, tetapi kemudian kembali menatap rama dengan tatapan meremehkan. "aku tak punya waktu untuk basa-basi. kalau mau bicara, katakan di sini saja."
Rama menghela napas singkat. jelas, Rendra masih terbawa egonya sendiri. tidak ingin mengikuti keinginannya untuk berbicara di tempat yang lebih tenang, Rama pun tak punya pilihan lain selain menyampaikan maksudnya di sini.
"baiklah," ujar Rama akhirnya. ia menatap Rendra dengan sorot mata dewasa, tanpa sedikit pun niat untuk memprovokasi. "aku hanya ingin meluruskan sesuatu. ini tentang Alda."
Rendra menegang sejenak, tapi ia tetap mempertahankan ekspresi sinisnya.
tanpa ragu, Rama melanjutkan, "apa benar kamu memiliki perasaan pada istriku?"
Rendra menatapnya tajam, lalu tanpa berpikir panjang, ia menjawab dengan lantang, "iya!"
Rama tetap tak menunjukkan ekspresi terkejut. ia sudah menduganya. perlahan, ia menarik napas sebelum akhirnya berbicara dengan hati-hati, "aku mengerti. maaf, jika kehadiranku terasa seperti merebut Alda darimu. aku tidak pernah berniat seperti itu."
Rendra mengepalkan tangannya, jelas tak suka dengan arah pembicaraan ini. namun, sebelum ia sempat menyela, rama melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, "tapi aku sudah menjadi suami Alda, Rendra. dan sebagai suaminya, aku ingin memintamu untuk mengikhlaskannya. biarkan dia menjalani masa depan nya dengan ku. untuk masa lalu Alda, aku memang tidak tau ada apa dibelakang nya. tapi, bagiku yang sudah ya biarkan selesai. kedepan nya biarkan aku dan dia yang berjalan bersama"
mata Rendra membelalak. ia nyaris tertawa sinis mendengar pernyataan itu. "mengikhlaskan?" gumamnya, lalu menatap Rama dengan penuh kebencian. "kau pikir semua ini semudah itu? Alda tidak pantas untukmu!"
Rama terdiam sejenak. bukan karena terkejut, tapi lebih kepada memahami seberapa dalam Rendra menyimpan rasa itu dalam dirinya. namun, ketenangannya tetap tak tergoyahkan. ia tahu, percakapan ini belum berakhir, dan ia harus menyelesaikannya dengan cara yang benar.
Rama tetap berdiri dengan tenang, meski di hadapannya, Rendra tampak semakin tersulut emosi. ada api di matanya, ada kemarahan yang jelas terpancar. namun, Rama tak menunjukkan rasa terintimidasi sedikit pun. ia tetap pada ketenangannya, memilih untuk menanggapi dengan hati-hati.
"apa sedalam itu kamu menyukai Alda?" tanyanya, suaranya datar namun penuh makna.
Rendra menatapnya tajam. tanpa ragu sedikit pun, ia menjawab, "iya."
jawaban tegas itu tidak membuat Rama kaget. ia hanya mengangguk pelan, lalu bertanya lagi, "lalu, apa Alda juga demikian? apa kalian pernah terikat?"
pertanyaan itu sukses membuat emosi Rendra semakin tersulut. rahangnya mengatup erat, matanya menyipit tajam ke arah Rama.
"itu bukan urusanmu!" bentaknya, suaranya penuh ketegangan. "yang jelas, kau tidak pantas untuk Alda! aku sudah mengenal dia sejak lama, sejak dia ada di sini! sementara kau? Kau hanya orang baru!"
Rama menatapnya sejenak, lalu perlahan, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. senyum itu bukan ejekan, bukan juga kemenangan, hanya sebuah senyum yang penuh pemahaman.
lalu, dengan suara yang lebih tenang dari sebelumnya, ia berkata, "baik. jika kamu masih tidak bisa mengikhlaskan Alda, aku tidak akan memaksa. aku paham, hati manusia tidak bisa dibentuk dengan mudah. perasaan juga tidak bisa dipaksakan untuk berubah dalam semalam."
Rendra menatapnya tajam, seolah ingin membalas perkataan itu dengan emosi. tapi sebelum ia sempat menyela, rama melanjutkan dengan nada lebih dalam, lebih bermakna,
"tapi, Ren, aku hanya minta satu hal. tetaplah jaga jarak yang pantas antara kau dan Alda. bagaimanapun, dia sudah menjadi istriku. dan selayaknya laki-laki pada umumnya, aku tahu bagaimana cara bertindak jika ada yang menyentuh bahagiaku."
Rendra terdiam. wajahnya memerah padam, antara marah dan tidak terima. napasnya memburu, dan kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. tapi Rama tidak menunggu jawaban. ia hanya tersenyum sopan, menepuk bahunya sekilas, lalu berbalik pergi dengan langkah santai, kembali ke ruang guru tanpa menoleh lagi.
sementara itu, Rendra tetap berdiri di tempatnya, rahangnya mengatup kuat. tangannya mengepal makin erat, seakan berusaha menahan gejolak emosinya yang semakin berkecamuk.
begitu Rama kembali ke kantor guru, semua mata langsung tertuju padanya. suasana yang tadinya dipenuhi percakapan santai kini berubah, seolah semua orang menunggunya untuk memberikan penjelasan.
Alda yang sejak tadi tengah berbincang dengan beberapa rekan guru wanita langsung bangkit begitu melihat suaminya masuk. wajahnya menyiratkan kebingungan sekaligus kekhawatiran. tanpa ragu, ia segera menghampiri Rama.
"Rama?...." tanyanya tertahan, suaranya cukup rendah agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang.
namun, Rama hanya tersenyum. senyum yang sama seperti sebelumnya, tenang dan seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"semua sudah selesai, Da. tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucapnya dengan nada lembut.
Alda mengerutkan kening. ia masih ingin bertanya lebih jauh, tapi ia tahu situasinya tidak memungkinkan untuk membahas ini sekarang. akhirnya, ia hanya menghela napas pelan dan mengangguk, meski tetap menyimpan rasa penasaran.
tak lama, suasana di ruangan kembali mencair. beberapa guru mulai melanjutkan obrolan mereka, hingga tiba-tiba, seorang guru pria tersenyum ke arah Alda dan Rama.
"ayo, Alda, Rama. acara bazar sudah berlangsung dari tadi. Kita lihat-lihat ke luar," ajaknya.
Alda menoleh ke arah Rama, kemudian tersenyum kecil "ayo, Ram. kita turun langsung ke lapangan," katanya, menggandeng tangan suaminya dengan alami.
Rama hanya mengangguk dan mengikuti langkah Alda keluar dari ruangan. mereka berjalan berdampingan, menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai dengan suara riuh siswa yang sibuk di bazar.
namun, selama perjalanan, Alda sesekali menatap suaminya dari samping. ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tapi ia menahan diri. ia tahu bahwa Rama tidak akan diam-diam pergi menemui Rendra tanpa alasan.
Rama yang menyadari tatapan itu hanya melirik sekilas ke arah Alda, lalu tersenyum kecil. "kamu ingin bertanya sesuatu, Da?" tanyanya lembut.
Alda sedikit terkejut karena ketahuan, tapi ia tidak langsung menjawab. ia hanya menggeleng kecil dan menunduk sesaat, sebelum akhirnya berkata, "nanti saja. sepertinya kita perlu waktu sendiri, Ram"
Rama tersenyum tipis, mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut. "baik," jawabnya singkat.
mereka pun melangkah lebih jauh ke arah lapangan, menyambut suasana bazar yang semakin meriah. namun, di dalam hati Alda, rasa penasaran itu masih menggelitik. apa yang sebenarnya dibicarakan Rama dengan Rendra? dan yang lebih penting… apa yang akan terjadi setelah ini?