Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Raya mendorong tubuh Leo menjauh dengan gerakan lemah. Matanya sembab, dan napasnya masih tersengal, menyisakan sesak yang belum sepenuhnya hilang. Ia mundur satu langkah, menciptakan jarak yang terasa seperti jurang di antara mereka.
"Nggak semudah itu, Leo," ucap Raya dengan suara serak.
Ia menatap Leo dengan pandangan kosong, seolah melihat bayangan masa lalu yang kelam. "Dokter terbaik pun tidak akan bisa menyembuhkan Lili begitu saja. tujuan puluh persen ginjal Lili sudah tidak berfungsi, dia membutuhkan ginjal baru. Dan itu tidak mudah," ucap Raya lagi, menekankan betapa mustahilnya janji yang baru saja Leo ucapkan.
Mendengar itu, Leo hanya bisa tertegun. Kata-kata Raya menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik manapun. Ia melihat keputusasaan di mata wanita itu, sesuatu yang membuatnya merasa sangat tidak berdaya.
"Jangan khawatir, Raya. Aku akan mencarikan donor untuk Lili," ucap Leo lirih, berusaha meyakinkan Raya, dan mungkin meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja.
Raya menggeleng pelan, air matanya kembali tumpah melewati pipi yang kuyu. "Akan sangat sulit mencari donor yang cocok. Lili memiliki golongan darah langka, Leo. Bahkan untuk sekadar transfusi darah biasa saja, kami harus berjuang setengah mati."
Raya menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar, lalu menatap Leo dengan tatapan yang menghancurkan hati. "Jika semua semudah yang kamu ucapkan, dari dulu aku sudah memberikan ginjalku sendiri untuk Lili. Tapi aku bukan donor yang cocok."
Melihat kehancuran di depan matanya, tekad Leo justru semakin mengeras. Ia melangkah lebih dekat, meskipun ia tahu kehadirannya mungkin tidak diinginkan.
"Aku akan mencarinya. Sampai ke ujung dunia pun, aku akan mencarikan donor untuk Lili," ucap Leo. "Aku tidak akan membiarkan takdir mengambilnya dariku lagi, Raya."
Raya hanya bisa tertawa getir mendengar janji itu. Di matanya, Leo tetaplah pria yang sama, pria yang percaya bahwa segalanya bisa diselesaikan dengan perintah dan kekuasaan.
"Dunia tidak berputar mengikuti kemauanmu, Leo," desis Raya sambil memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari ketenangan yang tidak ia temui dimanapun. "Uangmu tidak bisa mengubah golongan darah seseorang."
Raya menarik napas panjang, suaranya terdengar makin rapuh. "Lili memiliki golongan darah AB negatif. Itu golongan darah yang sangat langka. Mencari donor yang cocok dalam waktu singkat itu... hampir mustahil."
Alih-alih merasa kalah oleh kenyataan, ia justru melangkah maju. Dengan gerakan yang tegas namun lembut, ia meraih kedua bahu Raya, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Ia memaksa Raya untuk menatap langsung ke dalam matanya yang kini memancarkan kesungguhan luar biasa.
"Aku akan berusaha, Raya. Aku tidak akan menyerah," ucap Leo dengan suara rendah namun mantap. "Kalau memang mencari orang lain itu mustahil, maka biar aku yang mendonorkan ginjalku. Aku ayahnya. Darah kami pasti sama, kan?"
Raya tertegun, bibirnya bergetar ingin membantah, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Sebelum ia sempat menjauh, Leo kembali menariknya ke dalam dekapan. Kali ini tidak ada paksaan, hanya sebuah pelukan hangat yang terasa seperti tempat berlindung di tengah badai.
Leo menyandarkan dagunya di puncak kepala Raya, jemarinya bergerak lembut mengusap rambut wanita itu yang sedikit berantakan.
"Jadi kumohon, tenanglah," bisik Leo tepat di telinganya, suaranya terdengar sangat tulus. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi. Mulai sekarang, biarkan aku yang menanggung beban ini bersamamu."
Raya terdiam dalam pelukan itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah terasa sedikit melunak. Kehangatan tubuh Leo perlahan-lahan meredakan isak tangisnya yang tadinya tak terkendali.