Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Kebahagiaan yang Tertanam di Hati"
Hari-hari berlalu dengan cepat setelah momen di puncak gunung. Kebahagiaan Dewi tumbuh setiap hari di desa neneknya. Setiap pagi, dia bangun dengan hati yang senang, siap membantu neneknya di kebun atau menunggu Rafi yang selalu datang dengan cerita baru. Mereka sering jalan-jalan ke pantai sore hari, berbaring di pasir putih sambil melihat langit malam yang penuh bintang. Rafi akan menceritakan legenda lokal tentang laut dan gunung, membuat Dewi tertawa dan lupa semua kesedihan.
Suatu pagi, ibunya Dewi mendekatinya sambil memegang ponsel. Wajahnya terlihat sedih tapi tegas. “Sayang, udah sebulan lebih kita di sini ya,” ujarnya, menyentuh pundak Dewi. “Ayah telepon tadi pagi—sayuran yang dia rawat mulai membutuhkan perawatan lebih serius, dan dia juga kangen banget sama kita. Kita harus pulang besok pagi.”
Kata-kata itu membuat Dewi terasa seperti terkena petir. Dia duduk terkejut, mata memandang ibunya dengan tidak percaya. “Pulang? Besok? Tapi aku baru saja merasa nyaman di sini, Bu. Aku belum siap pulang.”
Ibundanya menghela nafas panjang. “Aku tahu, sayang. Aku juga tidak mau pulang—desa ini tenang dan baik untukmu. Tapi ayah butuh kita. Dan kamu juga harus memutuskan keputusan finalmu tentang Arif, bukan?”
Dewi terdiam. Ibunya benar. Dia datang ke desa untuk memantapkan hati, untuk memutuskan apakah dia akan tetap berpisah dengan Arif atau memberi kesempatan terakhir. Tapi selama ini, dia hanya menikmati kebahagiaan di desa dan menghindari keputusan itu.
Sore hari itu, Dewi tidak bisa menyibukkan diri seperti biasa. Dia duduk di teras dapur, memandang laut yang tenang. Pikirannya penuh dengan pertanyaan: apakah dia sanggup meninggalkan kebahagiaan yang ada di desa? Apakah dia sanggup kembali ke kota dan menghadapi Arif lagi? Apakah kebahagiaan yang dia rasakan bersama Rafi hanya sementara?
Tidak lama kemudian, Rafi datang. Dia melihat wajah Dewi yang sedih dan langsung mendekatinya. “Apa yang terjadi, Dewi? Kamu terlihat sedih banget.”
Dewi mengangkat kepala, mata berkaca-kaca. “Kita harus pulang besok, Rafi. Ibuku bilang ayah butuh kita.”
Rafi terdiam sebentar, wajahnya juga terlihat sedih. Tapi kemudian dia tersenyum dengan lemah. “Oh, gitu ya? Sudah waktunya ya.” Dia duduk berdampingan dengan Dewi, tangannya memegang tangannya. “Aku tahu ini sulit untukmu. Kamu sudah menemukan kebahagiaan di sini, kan?”
Dewi mengangguk, air mata mulai menetes. “Ya, Rafi. Kamu, nenek, dan desa ini membuatku bahagia lagi. Aku takut pulang—takut semua kesedihan akan kembali, takut aku tidak bisa melupakan Arif, takut aku akan kehilangan kebahagiaan ini.”
Rafi mengusap air mata Dewi dengan jari jemari yang lembut. “Kamu tidak akan kehilangan kebahagiaan ini, Dewi. Kebahagiaan itu ada di dalam dirimu, bukan hanya di tempat ini. Aku yakin, meskipun kamu pulang ke kota, kamu masih bisa merasakannya. Dan aku—aku akan selalu ada untukmu. Kita bisa saling hubungi, kan? Atau kamu bisa kembali ke desa kapan saja kamu mau.”
Dewi tersenyum dengan lemah. Dia merasa beruntung memiliki Rafi di hidupnya. “Terima kasih, Rafi. Kamu benar-benar membuatku merasa lebih baik.”
Malam itu, neneknya mengadakan makan malam kecil untuk merayakan waktu terakhir mereka di desa. Di teras dapur, mereka duduk bersama dengan beberapa tetangga yang ramah. Mereka makan ikan bakar, lalapan, dan nasi hangat, sambil berbicara dan tertawa. Neneknya memegang tangan Dewi dengan erat. “Sayang, jangan sedih ya. Desa ini selalu terbuka untukmu. Kamu bisa kembali kapan saja—nenek akan selalu menunggumu.”
Dewi memeluk neneknya dengan erat. “Terima kasih, Nenek. Aku akan selalu ingat semua yang kamu lakukan untukku.”
Ini adalah kenangan yang selalu akan tetap hangat di hati Dewi—kenangan tentang kebahagiaan yang dia temukan di desa neneknya, tentang senyum yang tiba-tiba kembali, tentang Rafi yang membuatnya merasa hidup lagi.
Setelah makan malam yang penuh tawa bersama nenek dan tetangga, Dewi dan Rafi keluar ke pantai. Malam itu, langit malam sangat terang, penuh dengan bintang-bintang yang bersinar seolah ingin menyaksikan momen terakhir mereka bersama. Ombak berdesir lembut, menyentuh pasir putih yang lembut di bawah kaki mereka. Mereka duduk berdampingan, tidak perlu berkata apa-apa—keheningan dan pemandangan yang indah sudah cukup mengungkapkan semua yang mereka rasakan.
“Aku akan kangen kamu, Dewi,” ujar Rafi akhirnya, suara yang lemah tapi penuh makna. Setiap kata itu terasa seperti pelukan lembut di hatinya.
Dewi mengangguk, mata sudah berkaca-kaca tapi hati penuh rasa syukur. “Aku juga akan kangen kamu, Rafi. Sangat-sangat kangen. Kamu yang membuatku bisa tersenyum lagi setelah lama tidak merasa bahagia.”
Mereka berdiri, memeluk satu sama lain dengan erat. Dalam pelukan itu, Dewi merasa tenang sepenuhnya. Dia merasakan kehangatan tubuh Rafi, merasakan kebenaran kata-katanya yang pernah berkata: “Kebahagiaan itu ada di dalam dirimu.” Dia tahu bahwa meskipun akan berpisah besok, dia tidak akan sendirian.
Saat mereka berjalan pulang ke rumah nenek, Dewi melihat cahaya yang menyala di teras. Neneknya masih menunggu, memegang cangkir teh hangat. “Kamu berdua pulang ya?” ujarnya dengan senyum yang ceria. “Mari minum teh dulu sebelum tidur. Besok kamu akan bangun pagi.”
Dewi duduk di teras bersama nenek dan Rafi, menyeduh teh yang harum. Neneknya menceritakan cerita tentang masa muda dia, tentang bagaimana dia bertemu kakek Dewi di tepi pantai yang sama. Kata-kata neneknya seperti musik yang lembut, membuat Dewi merasa di rumah. “Nenek akan kangen kamu, sayang,” ujar neneknya, memegang tangan Dewi. “Tetap jaga diri ya, dan jangan lupa kembali ke desa kapan saja.”
“Tidak akan lupa, Nenek,” jawab Dewi, memeluk neneknya dengan erat. Semua kenangan di desa itu membanjiri pikirannya: hari-hari membantu nenek di kebun, memasak ikan bakar di dapur terpisah, jalan-jalan ke pantai bersama Rafi, dan momen di puncak gunung yang mengubah segalanya. Semua itu adalah kebahagiaan yang dia cari selama ini.
Esok pagi, matahari belum terbit ketika mereka mempersiapkan diri untuk pulang. Neneknya berdiri di teras rumah, memakai baju batik coklat tua yang selalu dia kenal. Wajahnya ceria tapi penuh kerinduan. Rafi juga ada di situ, berdiri di tepi gerbang, memakai baju kaos biru yang selalu dia pakai. Matanya lembut, penuh harapan.
“Jangan lupa hubungi aku ya, Dewi!” serunya ketika mobil siap melaju.
Dewi melambai-lambai kembali dari jendela mobil, mata sudah penuh air mata tapi hati penuh kebahagiaan. “Tidak akan lupa, Rafi! Aku akan kembali, pasti!”
Ketika mobil mulai melaju, Dewi melihat nenek dan Rafi yang semakin jauh. Dia menutup mata sejenak, merenungkan semua kenangan yang dia bawa. Dia tidak merasa sedih karena berpisah—dia merasa syukur karena pernah mendapatkan kebahagiaan itu. Sebab kebahagiaan itu bukan hanya ada di desa atau bersama orang tertentu, tapi sudah tertanam di dalam dirinya sendiri.
Besok akan menjadi hari baru, hari dia mulai hidup kembali di kota. Tapi dia tahu, meskipun jauh dari desa, nenek, dan Rafi, kebahagiaan yang dia temukan di sana akan selalu menyertai dia ke mana pun dia pergi.