NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — Rakha Jatuh Sakit (1)

Lapangan itu tidak pernah benar-benar diam.

Suara bola basket menghantam lantai datang bertubi-tubi, bersahutan dari berbagai arah. Ada yang memantul terlalu keras, ada yang meleset, ada pula yang berhenti mendadak tanpa sempat ditangkap siapa pun.

Sebuah bola memantul sekali, dua kali, lalu berhenti di dekat garis—tak jauh dari posisi Rakha.

Rakha melirik sekilas ke arah bola itu. Pandangannya singgah sebentar, lalu berpindah. Kakinya tidak bergerak untuk menyusul.

Di tengah lapangan yang masih hidup oleh ritme latihan, Rakha justru berbalik menjauh dari kerumunan. Langkahnya pelan, nyaris terseret, sampai ia berhenti di sisi lapangan.

Entah sejak kapan kedua tangannya sudah bertumpu di lutut. Punggungnya condong ke depan. Bahunya terangkat sebentar, tertahan, lalu jatuh lagi—napasnya tak pernah benar-benar sampai penuh.

Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan dari ujung rambutnya, jatuh ke lantai tanpa sempat disadari. Wajahnya pucat, kontras dengan hiruk-pikuk di sekeliling yang sama sekali tak melambat.

Sebuah bola dilempar ke arahnya dengan cepat, datang saat Rakha bahkan belum sempat menegakkan badan.

Rakha sempat mengangkat tangan, tapi terlambat. Ujung jarinya hanya menyentuh bola itu sekilas. Cukup untuk mengubah arah, membuatnya memantul, bergulir, lalu berhenti lagi di lantai.

Ia tetap berdiri. Pandangannya tertahan pada bola itu tanpa ekspresi, seolah menunggu tubuhnya sendiri bereaksi. Tapi tidak ada yang terjadi.

"Rakha!"

Suara Nayla memecah ritme latihan. Terlalu nyaring untuk situasi yang biasanya terkendali. Beberapa kepala langsung menoleh ke arah yang sama.

"Rakh?"

Keenan melangkah mendekat. Tidak terburu-buru. Ia berhenti di samping Rakha tanpa langsung bicara.

Rakha menoleh. Sudut bibirnya terangkat tipis, datang dengan cepat, lalu jatuh lagi sebelum sempat bertahan.

"Gapapa," katanya. "Maaf, jadi ganggu latihan kalian."

Kata-katanya terdengar ringan. Tarikan napasnya tidak.

Keenan tidak menanggapi. Ia tetap berdiri di situ, pandangannya bergerak singkat dari bahu Rakha yang naik terlalu tinggi, ke tangan yang mengepal lalu mengendur lagi.

Olan dan Dimas ikut mendekat, langkah mereka lebih ribut dari yang seharusnya.

“Beneran gapapa?" tanya Olan.

Rakha cuma mengangkat bahu sebelah, gerakannya kecil.

"Lu istirahat aja, Kapten," sambung Dimas. "Muka lu pucat banget."

Olan mencondongkan badan sedikit, menyipitkan mata. "Kayak mayat."

"Mulut lu," balas Rakha cepat.

Dimas menyenggol siku Olan, nyengir tanpa rasa bersalah.

Rakha menarik napas. Bahunya sempat terangkat, lalu jatuh lagi.

Tangan kirinya mengusap tengkuk, badannya hampir tegak—hampir—sebelum kembali condong ke depan.

Ia mengibaskan tangan ke udara, asal—gerakan yang lebih ingin menghentikan perhatian daripada menjelaskan apa pun.

"Masuk angin kayaknya."

Keenan tetap diam. Pandangannya turun sebentar ke tangan Rakha yang masih bergerak gelisah, lalu kembali naik ke wajahnya.

"Lu di sini aja dulu," katanya akhirnya, nadanya datar. "Nggak usah ikut latihan. Sehari nggak ada lu juga kami nggak langsung jadi cupu."

Rakha mendengus kecil, tapi tidak membantah.

"Iya, setuju." Nayla menyahut cepat. Ia melangkah mendekat, bahunya sudah siap menopang. "Ayo ke tempat istirahat dulu."

Tangan Rakha mengibas pelan, menolak. "Iya, iya. Masih bisa jalan sendiri."

Belum sempat ia melangkah, Keenan sudah lebih dulu mendekat. Satu lengan menyelinap ke belakang punggung Rakha, satu lagi ke bawah lututnya.

"Hoi—" Rakha refleks bersuara.

"Diem," potong Keenan singkat.

Ia membopong Rakha ke area istirahat tanpa banyak drama.

Olan dan Dimas saling pandang sebentar, lalu mengangguk dan kembali ke lapangan—latihan berlanjut, seolah tak terjadi apa-apa.

Setelah menurunkan Rakha ke bangku, Keenan berbalik. Ia berlari kecil kembali ke lapangan, tapi kepalanya sempat menoleh sekali—memastikan Rakha sudah duduk, dengan Nayla di sisinya.

Rakha duduk di sana, mengangkat telapak tangan, menutup wajahnya sebentar.

Punggungnya bersandar ke dinding.

Tangannya turun lagi. Pandangannya kembali ke lapangan.

Hanya sesaat.

Keenan kembali ke posisinya. Ia bergerak bersama yang lain, mengikuti pola latihan—tapi langkahnya tak lagi serapi sebelumnya. Sekali-dua kali kepalanya menoleh ke pinggir lapangan, ke Rakha yang tetap diam.

Peluit akhirnya berbunyi.

Suara di lapangan perlahan mereda. Satu per satu anak tim mengambil barang mereka. Hiruk-pikuk yang tadi penuh menguap, menyisakan Keenan, Rakha, dan Nayla.

Keenan menunduk, meraih tas Rakha yang tergeletak di pinggir. Ia menyampirkannya ke bahu.

"Ayo. Gue anter," katanya singkat.

Rakha hendak membuka mulut, tapi batuk kecil memotong niatnya sendiri. Ia menutup mulut, menarik napas.

Nayla, yang sejak tadi memperhatikan, ikut mengangguk pelan.

"Iya. Aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan."

"Masih bisa jalan kok, Nay."

Rakha baru setengah berdiri ketika langkahnya goyah. Lantai terasa bergeser sesaat—cukup untuk membuat lututnya melemas.

Sebuah tangan menangkap lengannya sebelum tubuhnya benar-benar jatuh.

"Gak usah ngeyel," suara Keenan terdengar dekat. "Ntar kondisi lu makin parah, ribet gue."

Nayla sudah berdiri di sisi lain. Tangannya menahan bahu Rakha, memastikan ia tetap tegak.

"Duduk dulu. Jangan dipaksa."

Rakha menghela napas pendek, akhirnya menuruti. Ia kembali duduk, punggungnya bersandar penuh ke bangku.

"Motor gue gimana?" tanyanya kemudian. Suaranya lebih rendah dari tadi.

"Gue yang urus," jawab Keenan tanpa mikir lama. Ia sudah berdiri, tangannya terulur. "Kuncinya mana?"

Rakha merogoh saku jaketnya, lalu melemparkan kunci itu begitu saja.

Keenan menangkapnya refleks, menggenggam sebentar sebelum menyelipkannya ke saku sendiri.

Nayla berdiri di samping mereka, ragu.

"Kalau perlu bantuan—"

Keenan menoleh. Nada suaranya melembut, hampir seperti permintaan. "Kamu pulang aja, Nay. Jangan pulang malam-malam."

Nayla sempat ingin membantah, tapi urung. Pandangannya beralih ke Rakha.

"Kamu aman, kan?" tanyanya pelan.

Rakha mengangguk kecil. "Iya."

Keenan ikut menoleh ke arahnya, lalu kembali ke Nayla.

"Aku pastiin aman, Nay."

Kalimat itu pendek. Tapi cukup.

Nayla menghela napas, lalu meraih ponselnya. "Kalau gitu aku pesen Grab dulu ya."

"Iya," kata Keenan. "Kabarin kalau udah sampai rumah."

Nayla mengangguk. "Rakha aku titip ke kamu, ya."

Keenan mengangguk sekali. Tidak berlebihan.

Nayla melangkah menjauh, sesekali menoleh sebelum benar-benar keluar dari aula.

Baru setelah itu Keenan bergerak. Ia berdiri di depan Rakha, menunduk sedikit. "Duduk dulu bentar," katanya.

Rakha tidak membantah.

"Lu udah makan?" Keenan melanjutkan. Nadanya lebih ringan dari tadi, tapi tetap khas dia. "Kok bisa sampai begini."

Rakha mengedikkan bahu pelan. Ia sendiri tak menyangka kondisinya bakal sejauh ini.

Keenan tidak menunggu jawaban.

"Udah mendingan belum?" Ia melirik sekilas ke wajah Rakha. "Kalau bisa berdiri, kita pulang sekarang."

Ia mengulurkan tangannya pelan, memberi waktu. Rakha menyambutnya tanpa banyak tenaga. Genggaman mereka bertahan sesaat lebih lama dari yang diperlukan—cukup untuk memastikan Rakha benar-benar berdiri.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!