Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisa Diandalkan
Citra terkejut dengan pertanyaan Kevin. Meskipun dia kesal dengan pertanyaan itu, dia tidak bisa menghindar dan harus menjawab walau Bima sudah memintanya untuk mengabaikan pertanyaan tadi.
"Saya sudah menutup masa lalu saya. Bahkan saya berusaha menutup interaksi dengan keluarga mereka!" tegas Citra, menyangkal apa yang dipikirkan Kevin padanya tadi.
"Kalau ingin menutup interaksi dengan keluarga mantan suamimu, kenapa kamu mendekati Bima?" Kevin kembali bertanya, karena jawaban Citra tak memuaskan baginya.
"Aku yang mendekati Citra, Vin! Kau ini kenapa!? Citra bukan orang jahat yang harus kau introgasi dan kau curigai seperti itu!" Bima terbawa emosi melihat Citra disudutkan oleh sahabatnya.
"Hei, aku ini sahabatmu, Bim. Kita sudah kenal lama, kenapa kau justru membela dia?" Kevin mempertanyakan sikap Bima yang menentangnya dan justru membela Citra yang baru dekat dengan Bima beberapa hari saja.
"Aku membela Citra, karena pertanyaanmu tadi tidak pantas untuk ditujukan pada Citra!" Bima merasa kesal karena momen perkenalan Citra dengan Kevin malah dibuat kacau dengan pertanyaan-pertanyaan Kevin yang sangat mengganggu.
"Bukankah Citra wanita yang ingin kamu nikahi? Masa aku harus tanya pada wanita lain!?" Dengan santai Kevin menjawab, seolah ia tak melakukan kesalahan.
"Sudah, sudah! Kenapa kalian jadi ribut kayak gini?" Cecil mencoba melerai pertikaian antara suaminya dengan Bima.
"Kamu tanyakan pada Bima, Yank! Kenapa hanya karena wanita, dia justru berselisih paham denganku!? Padahal aku dengan dia sudah lama berteman," sindir Kevin, menanggapi sikap Bima yang lebih membela Citra ketimbang dirinya yang sudah lama dikenal Bima.
Citra menahan nafas dan memejamkan mata. Ingin rasanya ia lari keluar dan meninggalkan rumah Kevin. Situasi saat ini benar-benar tidak mengenakkan baginya. Bukan karena dirinya dituding Kevin, tapi juga membuat hubungan Bima dan Kevin menjadi bersitegang.
***
Citra banyak terdiam dengan menekuk wajahnya. Sejak mendapat pertanyaan dari Kevin tadi, mood nya sambat buruk. Bisa-bisanya Kevin berpikiran dirinya akan menjalin asmara dengan Bayu kembali, sementara dia masih merasakan kecewa karena Bayu lebih memilih menuruti Arini dibandingkan dirinya.
"Jangan dimasukkan ke hati apa yang katakan Kevin tadi. Dia cuma khawatir terhadap saya." Bima mengerti perasaan Citra yang kesal dan kecewa dengan sambutan Kevin, meskipun akhirnya Kevin bisa menerima Citra jika dirinya berniat memperistri Citra.
Citra memalingkan wajah, pertanda ia tak ingin membahas hal tadi lagi.
"Kevin tidak bermaksud seperti itu. Dia itu hanya ingin memastikan kita bisa bersama selamanya." Bima kembali menjelaskan agar Citra tak salah paham, karena Citra memang langsung menunjukkan wajah kesal setelah berpamitan pada Kevin dan Cecil.
Bima menepikan dan menghentikan laju mobilnya. Dia ingin memastikan agar Citra tak terus berdiam diri.
Tentu saja Citra terkejut ketika mobil Bima berhenti. Dia pun seketika menoleh pada Bima.
"Kenapa berhenti?" tanyanya.
"Kamu marah sama saya?" Bima memutar posisi tubuhnya menghadap Citra.
Hempasan nafas panjang Citra terdengar. Jika dia marah pada Bima, itu hanya karena Bima mempertemukannya dengan Kevin yang bermulut tajam.
"Saya hanya lelah, Mas." Citra beralasan. Memang tak seharusnya ia melampiaskan kekesalan terhadap Bima. Setidaknya Bima berusaha melindunginya dari serangan pertanyaan Kevin.
"Tapi, kamu tidak marah ke saya, kan? Saya minta maaf karena membawa kamu bertemu dengan Kevin dan berakhir seperti ini." Seperti mengetahui isi hati Citra, Bima menyesal telah membawa Citra bertemu dengan Kevin lebih cepat dan mungkin momennya pun tak tepat.
"Nggak apa-apa, Mas. Saya hanya ingin cepat pulang dan beristirahat." Citra mengisyaratkan Bima untuk segera melanjutkan perjalanan karena saat ini sudah lewat dari jam delapan malam, sementara ia sendiri sudah penat dengan pekerjaan di kantor sebelumnya.
"Baiklah," Bima mengerti dan mulai melajukan mobilnya kembali untuk mengantar Citra pulang.
***
Citra menarik kursi rias dan duduk di hadapan cermin. Menatap wajahnya yang polos tanpa make up dan rambut terurai. Dia tidak tahu, apa yang membuat Bima tertarik kepadanya?
Wajah cantik? Dia rasa banyak wanita yang mempunyai wajah cantik dan glowing jauh melebihinya. Yang masih gadis juga banyak. Tapi, kenapa Bima terus berusaha mengejarnya?
Jika melihat circle lingkungan Bima, sepertinya Bima di atas Bayu. Bima punya sahabat seorang CEO dengan bisnis yang membuat sahabat Bima itu seorang pengusaha tajir. Posisi Bima sendiri cukup mapan sebagai bos di departemen marketing. Artinya lingkungan yang akan ia hadapi adalah orang-orang kelas atas, sementara dia sendiri dari kelas ekonomi pas-pasan. Apa dia bisa melewatinya? Apa lagi kalau harus bersaing dengan istri-istri bos seperti Cecil, rasanya itu tidak mungkin.
"Ya Allah, kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini?" Gamang melanda hati Citra. Namun, dia teringat kala Bima membelanya di hadapan Kevin dan Cecil.
"Aku tidak mungkin mengenalkan Citra pada kalian kalau dia bukan wanita yang baik dan tepat untukku!"
"Kau tidak pantas menanyakan hal itu pada Citra, Vin!"
"Aku yang mendekati dia! Bukan dia yang menggodaku!"
Tanpa terasa sudut bibir Citra membentuk sebuah lengkungan, mengingat sikap Bima selayaknya pria sejati yang bisa membela orang yang dicintainya. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari Bayu. Bayu tidak bisa melindunginya Arini. Tak sadar Citra mulai membandingkan antara mantan suaminya dan calon suaminya mendatang.
***
"Yank, kamu kenapa seperti itu ke Citra? Kasian dia hampir mau menangis tadi. Bima juga jadi marah sama kamu."
Sementara itu di tempat berbeda, Cecil berbincang dengan Kevin. Selama menjadi istri Kevin dan melihat pertemanan antara suaminya dengan Bima, ini kali pertama melihat mereka berdebat dan itu sangat disayangkan olehnya.
"Aku hanya ingin tahu, apa benar Citra memang wanita setia dan memang tepat untuk Bima? Selain itu aku juga ingin membuat Citra percaya kalau Bima bisa melindunginya," jawab Kevin tersenyum sambil menyesap minuman.
"Maksudnya, Yank?" Cecil kurang paham apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Bima itu sudah seperti keluarga, seperti saudaraku sendiri. Tentu aku tidak ingin dia mendapatkan wanita yang salah. Selain itu, aku juga ingin membuat Citra menyadari jika Bima memang pria yang bisa diandalkan untuk melindunginya. Sebab Bima cerita, katanya Citra agak trauma berhubungan dengannya karena Bima masih kerabat dari mantan suami Citra dulu. Citra takut Bima akan seperti Bayu yang tidak bisa diandalkan membelanya." Kevin memaparkan dengan jelas tujuannya melakukan hal tadi pada Citra dan Bima.
"Astaga! Jadi tadi itu settingan? Kamu dan Bima nggak benar-benar berdebat?" Cecil kaget ternyata itu hanya sebuah drama. Padahal ia sangat khawatir pertengkaran tadi membuat hubungan Bima dan Kevin menjadi renggang.
"Bukan settingan juga! Bima tidak tahu kalau aku sengaja menekan Citra, karena itu dia kesal tadi," jawab Kevin dengan tersenyum menyeringai.
"Ya ampun, ada-ada saja idemu, Yank." Cecil tak menduga ulah sang suami membuat Bima benar-benar meradang.
Kevin merangkul Cecil dan mencium pipi sang istri. "Kamu tahu kalau suamimu ini sangat ahli dalam banyak hal," jawab Kevin berbangga.
"Asal kebiasaanmu menaklukkan hati wanita benar-benar berhenti." Cecil menimpali yang disambut tawa lepas Kevin.
❤️❤️❤️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best