Akay, pemuda yang kadang bermulut pedas, terjebak dalam pernikahan dengan Aylin, gadis badung yang keras kepala, setelah menabrak neneknya. Itu adalah permintaan terakhir sang nenek—dan mereka harus menandatangani perjanjian gila. Jika Akay menceraikan Aylin, ia harus membayar denda seratus miliar. Tapi jika Aylin yang meminta cerai, seluruh harta warisan neneknya akan jatuh ke tangan Akay!
Trauma dengan pengkhianatan ayahnya, Aylin menolak mengakui Akay sebagai suaminya. Setelah neneknya tiada, ia kabur. Tapi takdir mempertemukan mereka kembali di kota. Aylin menawarkan kesepakatan: hidup masing-masing meski tetap menikah.
Tapi apakah Akay akan setuju begitu saja? Atau justru ia punya cara lain untuk mengendalikan istri bandelnya yang suka tawuran dan balapan liar ini?
Apa yang akan terjadi saat perasaan yang dulu tak dianggap mulai tumbuh? Apakah pernikahan mereka hanya sekadar perjanjian, atau akan berubah menjadi sesuatu yang tak pernah mereka duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pujian
Akay melirik ponselnya, membaca ulang pesan yang dikirimnya tadi pada Aylin. Sudah hampir tengah malam, dan ia baru bisa pulang. Namun, saat membuka pintu apartemen, alisnya langsung berkerut.
Sepi.
Ia melangkah ke dalam, memeriksa kamar. Kosong.
"Hah… dasar istri kecil nakal! Badung! Sukanya kabur-kaburan," gumamnya, namun senyum tipis tersungging di bibirnya.
Bukan Akay kalau tidak mengantisipasi hal seperti ini. Dengan santai, ia membuka aplikasinya, menatap titik merah kecil di layar ponselnya.
"Ketahuan," ucapnya pelan, lalu segera melajukan mobilnya menuju rumah Nenek Ros.
Sesampainya di sana, Akay melangkah masuk tanpa kesulitan berarti. Semua orang di rumah ini mengenalnya. Ia berjalan ke kamar Aylin dan menemukan gadis itu sudah terlelap, tubuhnya meringkuk di bawah selimut dengan napas teratur.
Akay mendekat, duduk di tepi ranjang, memerhatikan wajah istrinya yang terlihat jauh lebih damai saat tidur. Beberapa helai rambut jatuh ke wajahnya, dan Akay tanpa sadar merapikannya dengan lembut.
Saat jemarinya menyentuh pipi Aylin, tiba-tiba gadis itu bergumam dalam tidur.
"Akay..."
Senyuman langsung terukir di wajah Akay. Ia menatap Aylin beberapa saat, lalu tanpa pikir panjang, mengecup pipinya sekilas.
"Dasar bocah," bisiknya, lalu berdiri untuk berganti pakaian.
Setelah selesai, ia membaringkan dirinya di samping Aylin. Seperti sudah menjadi kebiasaan, tangan Aylin tanpa sadar mencari kehangatan, dan seolah memiliki magnet sendiri, tubuhnya mendekat ke Akay. Akay tersenyum kecil sebelum akhirnya memejamkan mata.
Keesokan Paginya
Aylin menggeliat pelan, merasa nyaman dengan kehangatan di sekelilingnya. Ia mendesah pelan, mengeratkan pelukannya.
Tunggu.
Apa?
Matanya terbuka seketika. Ia mendapati wajah Akay yang terlelap tepat di depannya, satu lengannya memeluknya erat.
LAGI?!
Aylin langsung meronta, mencoba melepaskan diri. "AAAH! KENAPA LO ADA DI SINI?!"
Akay membuka mata perlahan, masih terlihat malas untuk bangun. "Pagi juga, istri kecil..." ucapnya santai, kemudian menarik Aylin kembali ke pelukannya.
"LEPASKAN, DASAR MESUM!" Aylin berusaha melepaskan diri, tapi Akay malah mengeratkan pelukannya, dagunya bertumpu di atas kepala Aylin.
"Gimana bisa lepas kalau kamu sendiri yang nyariin aku pas tidur?" godanya dengan suara serak khas pagi hari.
Aylin membeku. "Hah?"
Akay menatapnya sambil tersenyum miring. "Mau aku ulangi omongan kamu semalam?"
Aylin mengerutkan keningnya, lalu matanya membesar.
Oh tidak.
Jangan bilang...
Muka Aylin langsung memerah saat ingatan samar itu kembali. Ia memang memanggil nama Akay dalam tidurnya!
"AKU NGGAK INGAT! AKU NGGAK BILANG APA-APA!" Aylin berusaha mengelak, tapi wajahnya yang merah padam justru membuat Akay makin gemas.
Akay tertawa kecil. "Nggak apa-apa kok, kalau kamu kangen aku tinggal bilang aja."
"KANGEN PALAK LO!" Aylin buru-buru melepaskan diri dan melompat turun dari ranjang, sementara Akay hanya terkekeh puas.
Aylin memijat pelipisnya. "Aku beneran harus cari cara biar bisa tidur sendiri!"
Akay menyeringai. "Sialnya, kamu kabur ke tempat yang pernah kita datangi bareng. Jadi gampang ketebak."
Aylin mengerang frustasi. "AAAARGH! KAMU NYEBELIN!"
Sementara Aylin sibuk memaki, Akay hanya tersenyum santai, menikmati kemenangan kecilnya.
***
Aroma nasi goreng memenuhi ruang makan saat Aylin duduk di meja, mengaduk-aduk sarapannya dengan malas. Mbok Inem sibuk menyajikan lauk tambahan, sementara Akay menikmati kopinya dengan santai.
Namun, suasana itu terusik ketika Mira, sang janda genit, tiba-tiba bergerak mendekati Akay. Dengan senyum menggoda, ia meraih centong nasi dan menjejalkan diri di sisi Akay, berdiri terlalu dekat.
"Tuan Akay, saya ambilin nasi, ya?" suaranya dibuat semanis mungkin, dengan nada menggoda yang tidak disukai Aylin.
Aylin yang sedang menyesap jus jeruknya langsung berhenti, menatap Mira dengan sorot tajam. Ada sesuatu yang membuatnya gerah, meski ia tak mau mengakui apa itu.
Sementara itu, Akay, alih-alih tersenyum atau membalas godaan, justru menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap Mira dengan ekspresi penuh arti.
"Mira… kau cantik dan… seksi," ucapnya, membuat mata Mira berbinar dan senyum percaya diri terukir di wajahnya.
"Ah, Tuan bisa aja," sahutnya dengan nada manja, tangannya saling bertaut di depan dada sementara pipinya merona malu.
Mbok Inem melirik Akay dengan dahi berkerut, terkejut mendengar pujian tersebut. Sementara Aylin mengangkat alis, menaruh garpu di piringnya, lalu menatap suaminya dengan pandangan skeptis. Ia tak yakin pria di depannya ini benar-benar memuji Mira.
Firasatnya pun terbukti benar saat Akay melanjutkan kalimatnya.
"Tapi sayang… terlalu murah."
Keheningan seketika menyelimuti meja makan.
Senyum Mira seketika pudar, wajahnya memucat. Matanya membelalak, jelas tak menyangka akan mendapat ucapan seperti itu. "M-maksud Tuan?"
Akay hanya mengangkat bahu santai, menyesap kopinya tanpa beban. "Nggak usah pura-pura nggak ngerti."
Aylin, yang sedari tadi menahan tawa, segera menyembunyikan senyumnya di balik gelas jusnya. Kepuasannya sulit disembunyikan melihat ekspresi malu dan marah yang kini bercampur di wajah Mira. Mulut suaminya memang tajam, tapi kali ini ia setuju dengan ucapannya.
Mbok Inem, yang sejak awal tak suka dengan tingkah laku genit Mira, tak bisa menahan diri untuk menegur. "Tum, kalau kerja ya, kerja yang bener! Jangan sok manjain majikan. Mau jadi pelayan atau menggoda majikan?! Kerja yang bener atau cari tempat lain yang lebih cocok buat manjain laki-laki!"
Mira menggigit bibirnya, wajahnya memerah karena malu. "M-mbok, saya cuma mau bantu ambilin nasi..."
"Ambilin nasi atau nyari perhatian?" seloroh Aylin dengan nada santai, tapi penuh sindiran.
Mira langsung terdiam, memilih mundur dengan muka kesal, sementara Akay tetap santai menikmati sarapannya.
Aylin menghela napas, merasa puas, lalu kembali menyantap sarapannya. Entah kenapa, pagi ini terasa lebih menyenangkan dari biasanya.
Usai sarapan, Akay melirik sekilas ke jam tangannya, lalu bangkit dari kursinya. "Aku harus berangkat lebih pagi hari ini," gumamnya santai.
Aylin masih asyik dengan makanannya, tidak terlalu peduli. Namun, tanpa aba-aba, Akay tiba-tiba mendekat. Sebelum Aylin sempat menyadari apa yang terjadi, pria itu sudah menunduk dan mengecup bibirnya sekilas.
"Apa—?!" Mata Aylin membelalak, tangannya refleks meraih serbet, menempelkan ke bibirnya dengan wajah merah padam.
Akay hanya tersenyum tipis, seakan puas dengan reaksi istrinya. "Jangan nakal," ujarnya santai seraya menepuk pelan kepala istrinya sebelum melangkah pergi.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Mbok Inem yang sedang merapikan meja makan tersentak, nyaris menjatuhkan piring di tangannya. "Astaga, Tuan Akay! Pagi-pagi udah bikin orang tua jantungan!"
Sementara itu, Mira, yang masih berdiri tak jauh dari meja makan, tampak pucat. Mata janda genit itu membelalak tak percaya, bibirnya mengerut dalam ekspresi iri dan kesal.
Aylin, yang masih terkejut, berusaha keras menenangkan degup jantungnya yang mendadak berlari kencang. "APAAN SIH LO?! KAGAK ADA ADAB BANGET!" bentaknya, pipinya memerah.
Tapi Akay hanya tertawa kecil, melambaikan tangan santai sebelum benar-benar pergi.
Sementara itu, Mbok Inem menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum geli melihat wajah Aylin yang merah padam. "Hihihi, Non Aylin, udah halal kok malu-malu."
"Mbok!!" Aylin makin kesal. Ia melempar serbet ke meja, sementara Mira hanya bisa menggigit bibirnya, hatinya terbakar cemburu melihat betapa mudahnya Aylin mendapatkan perhatian Akay.
...🌟...
..."Jangan terbang karena pujian dan jangan tumbang karena cacian."...
..."Pujian dapat melalaikan; tetaplah rendah hati dan fokus pada kebaikan."...
..."Hati-hati dengan pujian. Tanpa iman, pujian bisa menyesatkan."...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
bosan aku...klo kamu mank jagoan jumpai Akay,gak perlu pakai pion ...
ingat mereka senior mu,junior dilarang menjahili senior klo gak mau dapat bonus hantaman
Aylinpun mulai percaya pada Akay.tidak meragukan lagi
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍