Bacin Haris seseorang mencari ibunya yang hilang di dunia lain yang disebut sebagai Black World. Dunia itu penuh dengan kengerian entitas yang sangat jahat dan berbahaya. Disana Bacin mengetahui bahwa dia adalah seorang Disgrace, orang hina yang memiliki kekuatan keabadian. Bagaimana Perjalanan Bacin didunia mengerikan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GrayDarkness, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Divisi Supranatual
Ruangan masih terasa hening setelah kepergian Jenderal Hendra. Hanya ada Bacin dan Simon Berry, sosok misterius yang baru saja mengambil alih kendali.
Bacin menatap Simon Berry dengan penuh kebingungan.
Lalu, dengan suara yang dalam dan tegas, Simon akhirnya berbicara.
"Bacin, mulai sekarang kau akan dipindahkan ke Divisi Supranatural, dan aku yang akan memimpinnya."
Bacin tertegun.
Divisi Supranatural?
Sebelumnya, ia memang mendengar desas-desus tentang adanya unit rahasia di kepolisian yang menangani hal-hal di luar nalar. Namun, ia tidak pernah mengira bahwa dirinya akan terlibat langsung di dalamnya.
"Aku tahu kau bingung," lanjut Simon Berry, "tapi kami sudah lama mengawasi dan mengetahui bahwa kau adalah seorang disgrace."
Bacin merasa darahnya mendidih seketika.
Ia menggenggam tangannya erat, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Selama ini, ia menyembunyikan kebenaran tentang dirinya.
Sebagai seorang disgrace, seseorang yang memiliki kekuatan supranatural, Bacin selalu berpikir bahwa tidak ada seorang pun di kepolisian yang tahu akan rahasianya.
Namun ternyata... mereka sudah mengetahuinya sejak lama.
Simon Berry melipat tangannya di depan dada.
"Jika kau bukan seseorang yang memiliki kekuatan spesial, tidak mungkin kau akan diterima di kepolisian, kecuali kau memiliki koneksi orang dalam."
"Faktanya, semua anggota di divisi ini adalah disgrace."
Bacin menatap Simon dengan ekspresi sulit ditebak.
Jadi, divisi ini berisi para disgrace?
Orang-orang yang masyarakat anggap hina dan tidak normal, tetapi justru menjadi tulang punggung dalam menangani kasus-kasus supranatural?
Simon menatapnya dengan tajam.
"Kita semua adalah orang hina yang memiliki kekuatan."
Bacin menghela napas berat.
"Jadi, mulai besok, aku tidak perlu datang ke kantor ini lagi?" tanyanya, masih berusaha memahami semuanya.
Simon Berry mengangguk.
"Benar. Mulai besok, kau resmi menjadi bagian dari Divisi Supranatural."
Kemudian, Simon mengambil selembar kertas dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
"Pergilah ke tempat ini besok. Itulah markas kita."
Sebelum Bacin bisa bertanya lebih lanjut, Simon Berry berbalik dan pergi meninggalkan ruangan, melangkah dengan mantap tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Bacin melihat kertas itu.
Di atasnya, tertulis sebuah alamat.
Namun, tidak ada keterangan lain.
Bacin keluar dari kantor polisi dengan pikiran yang masih dipenuhi pertanyaan.
Langit sudah gelap. Lampu-lampu kota bersinar terang, menerangi jalanan yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.
Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, lalu menatap kertas alamat itu sekali lagi.
"Divisi Supranatural, huh..." gumamnya.
Apa sebenarnya yang akan ia hadapi di sana?
Bacin menghela napas, lalu mulai mengemudikan mobilnya menuju apartemen tempat ia tinggal—Hello Apartemen.
Bacin mengendarai mobilnya dengan kecepatan stabil, melewati jalanan kota Bandung yang mulai sepi di malam hari. Lampu-lampu jalan menerangi trotoar, menciptakan bayangan panjang di aspal.
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan penuh pikiran, ia akhirnya tiba di Hello Apartemen.
Ia memarkirkan mobilnya, lalu keluar dengan napas yang berat.
"Akhirnya sampai juga," gumamnya sambil meregangkan badannya yang terasa kaku.
Malam ini, banyak hal yang harus ia pikirkan—mulai dari perpindahannya ke Divisi Supranatural hingga daftar nama misterius yang ia temukan.
Namun, saat ini, yang ia butuhkan hanyalah istirahat.
Bacin berjalan menuju pintu masuk apartemen, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Di tengah jalan, seorang wanita berdiri diam, seolah memang menunggunya.
Wanita itu memiliki rambut hitam panjang yang terurai, wajahnya dihiasi kacamata tipis, dan tatapan lembut yang terasa familiar.
Bacin mengenali wanita ini.
Ia adalah wanita yang pernah ia tolong sebelumnya, ketika tasnya dicuri oleh seorang pencopet di tengah jalan.
Wanita itu tersenyum saat melihatnya, lalu berkata dengan suara yang ramah,
"Lama tidak bertemu, Pak Polisi."
Bacin sedikit terkejut, tetapi ia segera membalas senyumannya dan mengangguk.
"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
Wanita itu mengangguk pelan, masih mempertahankan senyumnya.
"Aku baik-baik saja. Itu semua berkatmu," jawabnya.
Bacin tertawa kecil, lalu menghela napas.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Tapi kalau aku sendiri... banyak yang terjadi. Aku kelelahan."
Wanita itu menatapnya dengan penuh perhatian.
"Aku bisa melihatnya dari wajahmu," katanya. "Kau pasti melewati hari yang sulit."
Bacin tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya.
"Ya, bisa dibilang begitu."
Bacin mengingat perjalanannya sebelumnya, saat pergi ke dunia lain, cewek gila. Setelah beberapa detik hening, Bacin terpikir satu hal.
"Oh, ngomong-ngomong... aku belum tahu namamu."
Ia mengulurkan tangannya, "Namaku Bacin Haris."
Wanita itu menatapnya sejenak, lalu menerima uluran tangannya.
"Suzie Rahma," jawabnya. "Senang berkenalan denganmu, Bacin."
Bacin tersenyum, lalu perutnya tiba-tiba berbunyi.
Suzie tertawa kecil mendengar itu.
"Sepertinya kau lapar," katanya. "Mau makan bersama?"
Bacin menggaruk kepalanya sedikit malu, tetapi ia memang lapar setelah semua kejadian yang ia alami hari ini.
"Baiklah, itu ide bagus. Tapi di mana kita makan?"
Suzie tersenyum misterius.
"Aku tinggal tepat di sebelah kamar apartemenmu. Kita bisa makan di sana."
Bacin sedikit terkejut.
Jadi, selama ini, tetangganya adalah wanita yang pernah ia tolong?
Ia tertawa kecil dan mengangguk.
"Kalau begitu, aku terima tawaranmu."
Mereka berdua mulai berjalan masuk ke dalam apartemen, menuju unit tempat tinggal Suzie.
Di dalam pikirannya, Bacin merasa sedikit lebih rileks untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Bacin duduk di sofa, merasa sedikit rileks untuk pertama kalinya setelah hari yang panjang.
Suzie tersenyum hangat dan berkata, "Tunggu di sini, aku akan memasak makanan untuk kita."
Bacin melirik ke arahnya, sedikit tidak enak hati jika hanya duduk-duduk saja.
"Apakah kau butuh bantuan? Aku bisa membantumu di dapur."
Namun, Suzie menggelengkan kepalanya dengan lembut.
"Kau sangat baik, Bacin, tapi tidak perlu. Biar aku yang memasak untukmu. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah menolongku waktu itu."
Bacin mengangguk pelan, merasa tersanjung dengan perhatian wanita ini.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di sini."
Suzie tersenyum, lalu berjalan ke dapur.
Sementara itu, Bacin memperhatikan ruangan apartemen Suzie.
Ruangan ini bersih dan rapi, tidak terlalu banyak perabotan, tetapi cukup nyaman.
Ada sebuah televisi di sudut ruangan, sebuah meja kecil dengan beberapa buku tertata di atasnya, serta tanaman hias di dekat jendela.
Namun, satu hal menarik perhatiannya.
Di salah satu sudut dinding, terdapat noda hitam samar yang terlihat tidak biasa.
"Mungkin itu hanya kotoran," pikir Bacin, berusaha tidak terlalu memikirkannya.
Setelah sekitar sepuluh menit menunggu, Suzie akhirnya kembali dengan membawa dua piring berisi steak daging dengan kentang.
Aromanya menguar menggoda, membuat perut Bacin semakin lapar.
"Ini dia," kata Suzie sambil meletakkan piring di meja.
"Wow, kelihatannya enak," kata Bacin, menelan ludah.
Mereka berdua mulai menyantap hidangan itu bersama-sama.
Saat Bacin mengambil gigitan pertama, ia langsung terkejut.
Dagingnya begitu lembut, bumbunya meresap sempurna, dan kentangnya renyah di luar namun lembut di dalam.