Zara Nabila gadis cantik yang berasal dari desa yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasip di sana untuk bisa membiayai kedua orangtuanya yang sedang sakit.
Tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuatnya terpaksa harus menikahi CEO muda dan tampan namun begitu angkuh di perusahaannya saat ia sedang membutuhkan banyak uang untuk pengobatan bapaknya di kampung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tiga orang yang datang adalah Bila dan kawan-kawannya. Mereka melihat Nanda dan Zahra saat memasuki restoran sehingga mereka menghampirinya.
Mereka teman sekolah Zahra dan Nanda saat waktu SMA, mereka bertiga selalu membuly Zahra.
"Eh Nanda, Lo mau-maunya tetap berteman sama dia apalagi sampai bawa dia makan direstoran mewah seperti ini." Ucap Bila.
"Kalo gue jadi lo mah ogah berteman lama-lama sama dia. Gak level banget sih." Sambung Riska.
"Ya iyalah, buat apa temenan sama anak culun. Udah culun, miskin lagi. Lo tuh gak pantes makan ditempat mewah seperti ini, Lo tuh pantesnya makan di jalanan." Timpal Rini.
"Heh kalian gak ada bosen-bosennya ya ngebully Zahra terus. Kalian maunya apa sih!!" Nanda yang geram menggebrak meja.
"Ada yang sok pahlawan nih. iiihh takuutttt," Ucap Riska dengan ekspresi pura-pura takut dan disambut tawa oleh ketiganya.
"Lo gak usah sok ngebelain dia deh, nanti lo dimanfaatin sama dia baru tau rasa." Ucap Bila. Kemudian Bila yang melihat ada minuman dimeja tersebut mengambilnya tanpa permisi dan dengan sengaja menyiramnya keatas kepala Zahra.
Zahra hanya diam saja saat rambut dan bajunya basah oleh air juice tersebut.
"Heh! Keterlaluan sekali kalian. Gue bisa ngelaporin kalian dengan tuduhan bullying yaa!" Ancam Nanda yang tidak Terima dengan perlakuan ketiga orang itu kepada sahabatnya.
"Dianya aja diem kok kamu yang sewot sih," Ucap Bila.
"Jangan sok pahlawan deh lo. Lo gak tau bokap Bila siapa hah! Bokapnya polisi dikota ini. Jadi walaupun lo ngelaporin kita, kita gak bakal masuk bui. PAHAM LO!!" Ucap Rini dengan senyum sinis.
"Udah Nan, aku gak papa kok.Mendingan kita pulang aja," Ucap Zahra melerai mereka.
Zahra memang kesal, tapi dia tidak ingin memperpanjang masalah. Dia memilih diam dan mengalah. Zahra bangkit dan menarik tangan Nanda untuk pergi dari tempat itu.
"Awas kalian ya!" Nanda berucap geram lalu menambrak bahu Bila untuk mengikuti Zahra yang sudah berjalan.
"Dasar anak culun. Gaya-gayaan mau makan ditempat mewah, nggak level keles." Ujar Rini.
"Ya gak pantas lah" Ujar Bila disambut tawa ketiganya. Mereka bertiga kemudian mencari tempat untuk duduk.
Sedangkan Zahra dan Nanda keluar menuju mobil.
"Kenapa sih kamu diem aja klo dibully sama mereka? Kesel aku sama kamu. Liat nih rambut kamu jadi kotor gini," Ucap Nanda kesal.
"Aku gak mau memperpanjang masalah, suatu saat mereka juga akan mendapatkan balasannya." Zahra berkata dengan senyuman.
"Kamu tuh yaa, sekali-kali balas perbuatan mereka gitu loh. Jangan ngalah terus. Dari kita sekolah mereka terus membuly kamu, tapi kamu diam aja Ra. Heran aku sama kamu." Nanda benar-benar merasa kesal karna sahabatnya selalu mengalah jika ada yang menyakitinya.
"Udah, aku gak apa kok. anterin aku pulang ya," Ucap Zahra menenangkan sahabatnya.
"Ya udah lah. Ayo aku antar." Nanda masuk kedalam mobil diikuti oleh Zahra.
Zahra pulang dengan diantar oleh sahabatnya.
Saat memasuki gerbang depan, tanpa Zahra dan Nanda ketahui. Ada seorang pria yang terus menatap Zahra dengan tatapan mesum. Dia adalah suami dari yang punya kosan yang Zahra tempati, namanya Bagas. Awal pertama Zahra ngekos disana, memang Bagas sangat penasaran kepada Zahra dan mengagumi kecantikan Zahra.
Zahra melewatinya tanpa ia sadari. Pria itu yang melihat sikap Zahra yang acuh, membuatnya semakin penasaran dengan gadis itu. Dia terus menatapnya.
Zahra yang tidak tau bahwa dirinya sedang diincar oleh suami dari ibu kosannya itu, ia masuk ke kosannya tanpa dikunci lalu masuk ke kamar dan tanpa mengunci pintu kamarnya.
Zahra kemudian bergegas masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor karna air juice tadi. Beberapa saat kemudian, Zahra keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.
Bagas yang merasa aman, memulai aksinya dengan mencari Zahra. Saat memasuki dapur, dia tidak melihat Zahra disana dan dia melihat ada sebuah pintu didekat dapur. Bagas berfikir bahwa itu adalah kamar tidur gadis yang sedang dia cari. Saat membuka pintu ternyata pintu tidak dikunci. Dia masuk dan melihat Zahra sedang menyisir rambutnya. Zahra yang mendengar pintu dibuka, kaget ternyata itu adalah Bagas suami ibu kosannya.
"Pak Bagas, bapak ada apa ya?" Zahra mulai merasa tidak enak.
"Ssstt... Jangan takut, saya gak akan nyakitin kamu kok." Bagas menutup pintu itu dan mulai berjalan kearah Zahra.
"Jangan mendekat!!" peringat Zahra yang mulai ketakutan.
"Ayolah manis, saya hanya ingin mengajak bersenang-senang dengamu." Goda Bagas.
"Saya bilang jangan mendekat!" Zahra mundur dengan perlahan.
"Jangan sok suci kamu manis, aku yakin kamu akan suka denganku setelah ini." Bagas terus melangkah perlahan mendekati Zahra.
"Aku bilang jangan mendekat, atau aku teriak!" Zahra terus mundur menghindar dari Bagas.
"Kalo kamu teriak, kamu yang akan mati sayang," Ucap Bagas.
Zahra yang tak bisa mundur lagi karna terhalang tembok dibelakangnya, semakin panik dan ketakutan.
"Saya mohon jangan sakiti saya." Zahra memohon.
"Kita hanya akan bersenang-senang sayang, kamu tenang aja." Bagas mulai menyentuh wajah Zahra tapi gadis itu selalu menepisnya.
"Aku mohon jangan sakiti aku." Kata Zahra yang mulai menangis dan bergetar.
Bagas tidak menghiraukan ucapan Zahra, dia semakin mendekatkan dirinya pada gadis itu.
"Tidak ada gunanya kamu memohon sayang. Aku tidak akan melepaskanmu." Kata Bagas tersenyum smirk.
Bagas memegang kedua tangan Zahra dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra. Dia menyeret Zahra keatas ranjang sehingga posisi Zahra berada dibawah Bagas.
Dengan tatapan liar, Bagas mencoba mencium bibir ranum Zahra. Namun, berkali-kali mencoba, Bagas terus gagal karna gadis itu terus memberontak dan menghindarinya.
"Jangan...." Zahra terus memohon.
"Sial, kau semakin menarik jika terus jual mahal begini sayang." Bagas terus mencoba mencium bibir Zahra.
Rani ibu kos yang tadi melihat suaminya masuk ke dalam kosan Zahra langung mencoba mencarinya kearah kamar mandi namun tidak ada. Dia mendengar suara pria yang tidak asing dari kamar Zahra. Ibu Rani pun membuka kamar tersebut tanpa permisi dan melihat sesuatu yang tidak dia duga sebelumnya.
"Aaaakkkhhhhh... Apa-apaan kalian hah ??!" Bu Rani berteriak histeris saat melihat suaminya berada diatas tubuh Zahra.
"Sayang, dia yang menggodaku." Bagas bangkit dan menghampiri Rani.
"Kamu nggak bohong kan mas?" tanya Rani menatap suaminya.
Bagas mengangguk gugup."Ka-amu nggak percaya ya sama suami kamu sendiri." ucapnya dengan memasang wajah sendu.
"Aku percaya sama kamu mas. Kamu Zahra, kamu benar-benar kurang ajar ya. Mulai sekarang kamu angkat kaki dari kosan saya, CEPATT!!" Bentak Bu Rani menatap tajam Zahra yang sedang menangis di ujung kasur.
Bu Rani menyeret Zahra keluar dari kosan miliknya."DASAR WANITA MURANG, JALANG, PERGI KAMU DARI SINI! SAYA GAK SUDI MENERIMA ORANG SEPERTI KAMU DI KOSAN MILIK SAYA!!" ucapnya berteriak marah.
"Ayo masuk rumah," Ajak Bu Rani pada suaminya.
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah. Sedangkan Zahra berjalan semakin jauh menyusuri jalanan yang mulai gelap.
"Aku harus kemana sekarang?" Lirih Zahra pada dirinya sendiri.
Zahra menjinjing tas berisi pakaian dengan terus melangkah tanpa tujuan.
***
Roy yang sedang dalam perjalanan pulang untuk mengantar sang bos, tak sengaja melihat sosok yang dia kenal dari kejauhan.
"Tuan, coba lihat. Gadis itu seperti nona Zahra." Kata Roy membuyarkan lamunan Alfa.
"Jangan mengada-ada Lo. Mana mungkin dia masih berkeliaran jam segini," Ucap Alfa.
"Tapi gua yakin itu Zahra Al," Ucap Roy.
"Coba dekati orang itu." Titah Alfa pada Roy.
Saat Roy menepikan mobilnya tepat didepan Zahra, baru Alfa percaya jika itu benar-benar Zahra. Alfa pun turun dari mobilnya dan mendekati Zahra.
Zahra yang melihat bosnya turun dari mobil, langsung menghapus air matanya. Berharap bosnya tidak melihat dirinya menangis.
"Tuan Alfa," ucap Zahra.
"Gadis yang baik tidak akan berkeliaran dimalam hari." Kata Alfa dengan cueknya.
"Maksud tuan? tuan kenapa tuan ada disini?" Tanya Zahra.
"Kenapa? Harusnya saya yang bertanya. Kamu perempuan Zahra, kenapa masih berkeliaran jam segini?" Kata Alfa dingin.
"Aku..."
"Ternyata kamu tak sepolos yang saya kira." Kata Alfa tersenyum sinis.
"Apa maksud tuan?" Tanya Zahra lagi.
"Pura-pura gak ngerti lagi. Mukanya aja yang terlihat polos, tapi kenyataannya murahan." Kata Alfa.
*Jleb*
Hati Zahra rasanya sakit mendengar itu, belum tadi dikatain wanita murahan oleh Bu Rani dan sekarang ditambah lagi oleh Alfa.
salam dari Ellisa Mentari Salsabila. jangan lupa mampir 🤗🤗 tinggalkan love dn komentar...
nanti zahra cuekin baru tau rasa...
si author bisa aja bikin kepo pembaca....
ditunggu kelanjutan nya... jangan lama lama ya kaka author...