Dilarang keras menyalin, menjiplak, atau mempublikasikan ulang karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin penulis. Cerita ini merupakan karya orisinal dan dilindungi oleh hak cipta. Elara Nayendra Aksani tumbuh bersama lima sahabat laki-laki yang berjanji akan selalu menjaganya. Mereka adalah dunianya, rumahnya, dan alasan ia bertahan. Namun semuanya berubah ketika seorang gadis rapuh datang membawa luka dan kepalsuan. Perhatian yang dulu milik Elara perlahan berpindah. Kepercayaan berubah menjadi tuduhan. Kasih sayang menjadi pengabaian. Di saat Elara paling membutuhkan mereka, justru ia ditinggalkan. Sendiri. Kosong. Hampir kehilangan segalanya—termasuk hidupnya. Ketika penyesalan akhirnya datang, semuanya sudah terlambat. Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepercayaan arsen pada elara
Selamat membaca
Arsen baru saja pulang dari perusahaan milik ayahnya. Seharian penuh ia menghabiskan waktu di sana, duduk di ruang rapat, mengamati cara para manajer berdiskusi, hingga ikut mendengarkan bagaimana keputusan besar diambil dengan penuh perhitungan. Ayahnya sengaja membawanya berkeliling, memperkenalkan Arsen pada dunia bisnis yang suatu hari akan ia hadapi.
Di sela perjalanan pulang, ayahnya sempat menawarkan sesuatu yang cukup besar.
“Setelah kamu lulus sekolah, kamu bisa langsung jadi manajer di perusahaan, ayah." ucap sang ayah dengan nada serius.
Namun Arsen menolaknya dengan sopan. Ia tidak ingin melangkahi proses. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya memulai dari bawah, menjadi karyawan biasa, belajar dari kesalahan, bukan hanya dari fasilitas. Mendengar itu, ayahnya justru tersenyum bangga dan menyetujui keputusan Arsen.
Sekarang, Arsen berdiri di depan rumah Elara.
Masih dengan kemeja kantor berwarna gelap dan jas yang belum sempat ia lepaskan, Arsen memandang gerbang rumah itu cukup lama. Di kepalanya berputar satu hal yang sejak siang tadi mengganggunya—rumor di sekolah.
Beberapa sahabatnya mengabari bahwa Elara dirumorkan membully anak baru. Isu itu menyebar cepat, terlalu cepat, dan Arsen tidak menyukainya.
Ia tidak percaya sedikit pun.
Elara bukan tipe orang yang bisa melakukan hal keji seperti itu. Namun daripada menebak-nebak atau terpengaruh omongan orang lain, Arsen memilih satu hal: menanyakan langsung pada kekasihnya.
Mobilnya masuk ke halaman setelah gerbang terbuka perlahan. Arsen turun, merapikan jasnya, lalu menekan bel rumah.
“Bentar,” terdengar suara dari dalam.
Tak lama, pintu terbuka dan menampakkan Bi Lastri.
“Eh, Den Arsen. Mau ketemu Non Elara ya?” tanyanya ramah.
“Iya, Bi. Elaranya ada?” tanya Arsen sopan.
“Ada, Den. Baru pulang sekolah. Masuk aja,” jawab Bi Lastri sambil tersenyum lalu berlalu kembali ke dapur.
Arsen melangkah menuju lantai atas. Langkahnya pelan, seolah ia tidak ingin mengagetkan siapa pun. Saat tiba di depan pintu kamar Elara, ia mengetuk pelan.
“Masuk aja, nggak dikunci kok,” suara Elara terdengar dari dalam.
Arsen membuka pintu perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Elara yang duduk di tepi ranjang. Wajahnya tampak sembam, matanya sedikit merah, namun senyum tipis langsung terbit begitu ia melihat Arsen.
“Nio,” ucap Elara dengan suara penuh rindu.
Tanpa menunggu lama, Elara bangkit dan langsung meloncat ke pangkuan Arsen. Arsen refleks memeluknya erat, satu tangannya mengusap lembut rambut Elara.
“El, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Arsen pelan. Ia bisa melihat jelas bekas tangis di wajah kekasihnya itu.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Elara, meski senyumnya tampak dipaksakan.
“Kamu baru pulang dari kantor?” tanyanya lagi, berusaha mengalihkan suasana.
“Iya. Aku langsung ke sini,” jawab Arsen jujur.
Elara terdiam sejenak, lalu menunduk. “Kamu pasti denger rumor di sekolah tadi, kan?”
Arsen mengangguk pelan. “Iya. Tapi aku percaya sama kamu, El.”
Kalimat itu membuat mata Elara kembali berkaca-kaca.
“Aku yakin kamu nggak mungkin ngelakuin hal keji seperti itu,” lanjut Arsen tanpa ragu.
“Tapi mereka semua nyalahin aku,” suara Elara bergetar. “Mereka nganggep aku pembully…”
“Cerita ke aku,” ucap Arsen lembut. “Pelan-pelan aja.”
Dengan napas yang berat, Elara mulai menceritakan semuanya. Dari awal Vira masuk ke toilet, dari sikap anehnya, hingga bagaimana keadaan berbalik seolah Elara adalah pelaku. Ia tidak menambah, tidak mengurangi. Semua ia ceritakan apa adanya.
Arsen mendengarkan tanpa menyela.
“Jadi… kamu percaya kan sama aku?” tanya Elara ragu di akhir ceritanya.
“Iya,” jawab Arsen tegas. “Aku percaya. Aku yakin kamu nggak bully dia.”
Elara menghela napas lega. “Dan ke depannya, kamu harus terus percaya sama aku ya.”
Ia mengacungkan jari kelingkingnya.
“Janji,” ucap Arsen sambil mengaitkan jari mereka.
“Kamu udah makan?” tanya Elara tiba-tiba.
“Belum. Aku cuma makan pagi,” jawab Arsen ringan.
“Kebiasaan,” omel Elara kecil. “Ayo ke bawah, aku buatin nasi goreng aja.”
Arsen tersenyum, lalu bangkit. Mereka berjalan berdampingan menuju dapur, tanpa tahu bahwa di luar sana, masalah ini belum benar-benar selesai.