Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hari baru telah datang dan Mia melihat matahari terbit dari atas ranjangnya. 'Cerah sekali' pikirnya. Mungkin saja ini pertanda bagi Mia yang tidak lama lagi akan menyandang status barunya. Janda. Memang agak memalukan bagi seorang perempuan seusianya menyandang gelar itu, tapi ini untuk yang terbaik. Mia menyibakkan selimut dan membereskan ranjangnya. Berjalan ke arah kamar manadi lalu menyiapkan diri dengan baik untuk pergi ke pengadilan.
Ibunya telah menyiapkan sarapan seakan menunggu kabar terbaik hari ini dari Mia. Untuk hari ini, Mia terpaksa tidak masuk kerja karena tidak ingin Mari dan Kai mengetahui masalah hidupnya.
"Ibu akan menemanimu" kata ibu Mia.
"Lebih baik jangan, Bu. Mia tidak ingin ibu menutup retoran dan menangisi sesuatu seperi ini"
"Baiklah, Mia memang sudah dewasa. Tapi ... cepatlah pulang dan jangan pergi kemana-mana setelahnya"
"Baik, Bu"
Mia akhirnya keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil lama yang sudah membawanya pergi kemana-mana selama dua tahun ini. Sebelum menginjak gas untuk pergi, ada pesan yang datang ke ponselnya. Tante Laura yang mengirim pesan untuk datang ke rumah keluarga Clay terlebih dahulu pagi ini. Meskipun bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang terjadi, Mia akhirnya mengambil jalan untuk pergi ke rumah keluarga Clay. Mia sangat takut terjadi sesuatu pada Tante Laura krena perceraian ini.
Sesampainya Mia di rumah keluarga Clay, ada Benjamin dan paman Jonathan yang sedang duduk di meja makan.
"Paman Jon" sapa Mia sopan. Bukankah seharrusnya Benjamin ada di pengadilan juga pagi ini, kenapa keluarga ini terlihat santai sedangkan dada Mia berebar karena gugup.
"Kau sudah datang, Mia. Tantemu ingin sekali bicara padamu, tapi sayang keadaannya tidak begitu baik pagi ini. Mungkin karena perceraian kalian"
Benar dugaan Mia, Tante laura-lah yang membuat pernikahan ini terjad. Dan sekarang saat ada perceraian, pasti Tante Laura akan merasa sedikit sedih.
"Apa Tante Laura tidak apa-apa?"
"Tidak apa. Hanya merasa sakit di dadanya sejak pagi"
Entah kenapa, Mia merasa sedikit bersalah karena Tante Laura sakit sekarang. Tapi, bagaimana lagi. Mia juga ingin segera mengakhiri pernikahan yang tidak terjadi karena cinta ini. Tapi anehnya, Benjamin yang sedang ada di dalam ruangan ini tidak berbicara ataupun menanggapi saat Mia dan Paman Jon membicarakan masalah kesehatan ibunya.
"Apa Mia bisa melihat Tante sebelum berangkat ke pengadilan?" tanya Mia membuat Benjamin berhenti menyedokkan makanan ke mulutnya.
"Apa kau ingin melihat ibuku meninggal sekarang juga?" jawaban tiba-tiba Benjamin membuat Mia terkejut. Tuduhan apa itu? Membuat Tante Laura meninggal?
Laki-laki yang sempat hadir di khayalan ibu itu meninggalkan makannya dan menghampiri Mia.
"Ternyata menantu ibuku menginginkan kematian ibu mertuanya sendiri"
Mia melongo mendengar tuduhan yang tidak berdasar itu.
"Apa maksudmu?"
"Ibuku sakit karena harus mengurus perceraian kita. Sebagai seseorang yang sangat ingin bercerai, bukankah seharusnya kau pergi sendiri mengurus segalanya?"
Pernyataan Benjamin memang benar, seharusnya Mia mengurus perceraian ini karena dia yang menginginkannya. Tapi, bukan menjadi hak Benjamin untuk mengatakan hal itu. Karena ... laki-laki ini sudah membuat Mia bingung selama dua hari ini.
"Semuanya sudah terjadi, aku minta maaf ... Paman" kata Mia berusaha tidak membesarkan masalah.
"Sebaiknya kalian pergi ke pengadilan bersama. Dan ... Mia, maafkan Paman dan Tantemu selama ini" ucap Paman Jon lalu pergi ke kamarnya dengan Tante. Rasa bersalah mulai menguasai hati Mia. Selama ini, Paman dan Tante sangatlah baik padanya. Meskipun pernikahannya dengan Benjamin terjadi karena permintaan Tante Laura, Mia juga tidak menolak saat itu.
"Ayo pergi" kata laki-laki yang akan remi menjadi mantan suaminya tidak lama lagi. Mia mengikuti Benjamin ke mobilnya dan masuk ke dalamnya tanpa rasa curiga sedikitpun.
Berdua di dalam mobil, Mia merasa sangat tidak nyaman. Hal itu karena laki-laki ini sudah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya pada Mia.
"Minumlah ini!" Tiba-tiba saja, Benjamin mengulurkan sebuah gelas kertas dengan asap mengepul dari dalamnya.
Mia terpaksa mengambilnya karena khawatir mengganggu konsentrasi Benjamin yang sedang menyetir.
"Kenapa? Apa kau tidak suka kopi?"
"Suka. Terima kasih"
Kami berdua terdiam selama beberapa waktu lalu Benjamin memulai pembicaraan lagi.
"Kenapa kau pergi pagi-pagi sekali kemarin?'
Akhirnya pertanyaan tentang ini muncul juga. Padahal, Mia ingin menghindarinya.
"Tidak apa"
"Apa badanmu baik-baik saja?"
Mia melihat ke arah suaminya seperti tidak mengerti tentang pertanyaan yang diajukan.
"Kita melakukannya semalaman, dan kupikir badanmu akan sangat berat di pagi hari" jelas Benjamin membuat mata Mia melotot.
"Apa kau terkejut dengan kemampuanku dalam memuaskanmu?" sambung Benjamin lagi.
Mia tidak bisa menjawab hal itu karena dia memang merasa sangat lelah setelah malam itu. Karena itulah Mia tidur selama seharian penuh hanya untuk membuat badannya pulih.
"Kau harus banyak berolahraga Mia, atau tulangmu akan hancur karena melayaniku"
Desir angin dingin seperti masuk ke dalam pakaian Mia. Badannya tiba-tiba merinding tanpa alasan yang jelas.
"Aku yakin kalau malam itu adalah terakhir kalinya kita melakukannya" kata Mia serta memalingkan wajahnya melihat jalan. Dia tidak menyadari seringai di wajah suaminya saat ini.
Tak sampai lima belas menit, Mia dan Benjamin sampai di gedung pengadilan. Mia yang bersemangat untuk bercerai, masuk terlebih dahulu dan mencari bagian yang mengurus perceraian.Dan disana hadir seorang pengacara, satu-satunya orang lain yang hadir saat pernikahan Mia dan Benjamin.
"Senang sekali Nyonya datang kemari untuk memperbarui perjanjian pernikahan"
'Apa? Apa maksud orang ini? Pembaruan perjanjian pernikahan?' pikir Mia.
"Iya. Kami juga senang dapat memperbarui perjanjian pranikah kami" kata Benjamin yang menyusul Mia dari belakang.
Kekhawatiran yang Mia rasakan sejak pagi ini ternyata tentang hal ini. Dia duduk di sebelah Benjamin dan menghadapi surat perjanjian pernikahan yang mereka buat dua tahun lalu.
"Apa maksudnya ini?" tanya Mia menanti penjelasan dari Benjamin. Pengacara keluarga Clay itu tampak bingung. Benjamin lalu memintanya keluar dari kantornya untuk berbicara berdua saja dengan Mia.
"Kita tidak akan bercerai"
Mia tertawa kering dari dalam lubuk hatinya.
"Tidak. Tante Laura telah menyetujui ide ini. Dan ibu juga ... Tidak"
"Aku tidak akan menceraikanmu, Mia Hazel" jelas Benjamin membuat Mia benar-benar terpukul.
"Kau mencintai kekasihmu. Kalian hidup bersama selama ini" Baru kali ini Mia menyebut masalah Olivia di hadapan Benjamin. Hal itu karena selama ini dia merasa tidak terganggu, dan sekarang? Mia harus membela dirinya sendiri. Dia tidak akan berada dalam hubungan pernikahan dimana tidak ada cinta di dalamnya.
"Bagaimana kalau aku sudah berpisah dengan Olivia?"
Mia benar-benar tertegun mendengar jawaban Benjamin.
"Tidak. Keluargamu telah berjanji dan perceraian ini harus tetap dilaksanakan"
"Aku tidak akan bercerai. Kau akan tetap menjadi istriku, Mia"
Tidak ada kata yang bisa keluar lagi dari mulut Mia. Tubuhnya terasa lemah ketika mengetahui keputusan Benjamin. Dan wajah tampan suaminya yang berada dekat sekali dengannya, memastikan apa yang akan terjadi hari ini.
Benjamin hampir tidak bisa menahan tawa ketika melihat ekspresi istrinya yang terpaku mendengarnya. Mia pasti tidak mengira kalau hari ini mereka tak akan bercerai. Wajah Mia terlihat sangat cantik saat tidak bisa berpikir dengan baik seperti sekarang. Perlahan Benjamin mengulurkan tangan dan memeluk Mia dan mencium keningnya.
"Kau istriku. Dan kau akan hidup denganku suka atau tidak"
Tidak pernah Benjamin mengira kalau dirinya bisa beralih hati dengan mudah seperti ini. Bayangan Oliva seperti hilang dan terisi dengan setiap gerak-gerik, suara seta penampilan istrinya yang lebih muda sepuluh tahun darinya. Muda, cantik, mandiri, dan mempesona, dialah Mia, istrinya. Istri sah-nya.
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla