NovelToon NovelToon
Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Dark Romance / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Larissa Marcelle

Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.

Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".

Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 - Sampai Bosan

...ARGO ROMANOV...

Setelah melihat pemandangan luar biasa itu lewat layar ponselku, aku pergi menemui Franco di sebuah kasino. Aku tidak bisa pulang gara-gara cakaran sialan di dadaku.

"Argo Romanov, senang melihatmu." Aku menyapa beberapa pria yang melihatku datang.

"Lama banget, Argo. Sini." Franco merangkul bahuku dan menyeretku ke sudut yang lebih sepi. Kelihatannya dia sudah mabuk.

Tempat ini selalu penuh orang. Semuanya kenalan dan bergerak di bidang yang sama denganku, bisnis ilegal.

"Sini, manis." Dia memanggil seorang pelacur setengah telanjang yang lewat dan mendudukkannya di pangkuannya. "Hirup nih." Lalu dia menggeser sepiring bubuk putih dengan sedotan ke arahku.

Aku menghirupnya. Jarang-jarang aku begini, tapi pikiranku terlalu kacau untuk menolak, dan benda itu bikin aku lupa masalah.

"Kamu panggil aku ke sini buat nonton kamu meniduri cewek?"

"Santai, Bro." Franco menyuruh perempuan itu berdiri dan menampar pantatnya. "Nanti balik lagi ya, seksi!"

"Whisky," kataku pada pelayan yang kebetulan lewat. "Tolong."

"Udah berapa lama kamu nggak ke sini, Argo. Ada apa?"

"Lihat." Aku membuka kemeja dan menunjukkan dadaku padanya.

"Sialan! Loretha lihat ini?"

"Menurutmu kenapa aku di sini?"

"Cewek itu api, Sobat." Dia ikut menghirup satu garis. "Liar, galak, susah dijinakkan."

"Rum," gumamku.

"Eh, tunggu. Tunggu sebentar. Kamu jatuh cinta sama dia?"

"Jaga mulutmu, Franco."

"Syukurlah. Terus kenapa kamu begini?"

"Aku sendiri nggak tahu, Sobat. Gadis itu beda."

"Beda gimana?"

"Dia kurang ajar padaku, menantangku, bikin aku naik darah, dan sama sekali nggak takut."

"Dan itu bagus? Kamu hirupnya bener nggak tadi?" candanya. "Di sini banyak perempuan yang lebih berpengalaman, kok malah main-main sama bocah?"

"Lihat saja." Aku melambai pada seorang penari yang lewat, cukup dengan satu gerakan tangan. Dia duduk di pangkuanku dan mulai mencium leherku.

Franco nyengir, sudah paham maksudku.

"Cukup, pergi!" Aku menyuruh perempuan itu bangun dari pahaku. "Paham? Hari ini aku menarik keputusan yang sudah kubuat, gara-gara setan kecil itu."

"Terus kamu mau ngapain?"

"Meniduri dia sampai bosan." Aku meneguk whisky. Franco langsung ngakak tak terkendali. "Aku bilang lelucon?"

"Kamu pikir bisa datang ke dia terus bilang, 'Hei, Fiorella, aku udah bosan, ya? Sekarang minggat!'" Si berengsek itu malah menirukan suaraku. "Dia bakal cerita ke semua orang apa yang kamu lakukan."

"Kubunuh dia. Mayat nggak bisa bicara."

"Aku nggak mau ada di posisimu waktu Loretha tahu, Sobat. Kamu ngerti kan?"

"Ngomong soal dia." Ponselku berdering, kuangkat.

"Argo, kamu nggak pulang?"

"Aku di kasino, Loretha. Mungkin sampai dini hari."

"Rapat?"

"Sama Franco."

Aku tidak punya alasan berbohong pada Loretha. Dia sudah lama tahu aku sering datang ke tempat-tempat seperti ini. Kami tidak bisa ke tempat umum, jadi tempat privat paling cocok untuk rapat membahas kesepakatan, sekaligus bersenang-senang.

"Loretha bakal lihat tanda itu."

"Makanya aku pulang dini hari. Besok pagi mungkin sudah hilang."

"Kamu begini gara-gara seorang bocah. Setidaknya pikirkan apa yang mau kamu lakukan soal penjaga yang kamu bunuh."

"Nggak akan muncul di TV, aku sudah membungkam pers. Peluru di dadanya mustahil dilacak. Aku sudah memikirkan semuanya, Franco, kawan lamaku."

Aku sampai di rumah sekitar pukul 4.00 pagi. Musik keras masih berdentum di telingaku, lampu-lampu kelap-kelip itu masih menyilaukan mataku. Suara-suara dan tawa terus terngiang di kepalaku. Aku membuka pintu kamar sambil nyaris menyeret kaki. Di atas ranjangku ada Fiorella Ferraz, tidur seperti malaikat.

"Ahh, sialan..." Aku mengerang saat melihatnya. Aku tahu itu bukan dia, obat itu bikin halusinasi. Mana mungkin Fiorella ada di ranjangku pukul empat pagi? Tapi persetan.

"Hai, Tuan Argo." Dia membuka mata dan melihatku.

Sial, ini tidak mungkin terjadi padaku. Aku melihat gadis itu di tubuh istriku.

"Hai, seksi." Aku tidak sanggup menahan diri melihatnya begitu. Meski bukan Fiorella, bayangannya ada di depanku, bahkan aroma kulitnya sama.

Aku membuka kakinya dan masuk tanpa persiapan, tanpa peringatan. Aku hanya ingin merasakannya.

* * *

Aku pulang dari sekolah dan membuka pintu ruang tamu. Aku bersemangat sekali, baru saja berkenalan dengan seorang gadis cantik, dan dia naksir berat padaku. Aku terhanyut dan melupakan hal yang selama ini bikin aku jijik.

Begitu pintu terbuka, ayahku ada di ruang tamu, dengan perempuan yang sama. Aku terpukul seketika. Aku tidak mengerti kenapa dia setega itu menghina ibuku.

"Jagoanku sudah pulang. Anak ini bakal hebat, sama seperti bapaknya." Dia berteriak sambil melambai memanggilku.

Aku ingin bilang tidak, tapi ayahku lebih tinggi dan lebih kuat daripadaku. Sebenarnya dia monster, besar dan jahat.

"Aku memanggilmu, Argo. Ini perintah, kemari."

Perempuan yang juga tidak berharga itu menatapku dengan nafsu. Melihat aku tidak bergerak, ayahku berdiri, mendekat, dan meninju wajahku.

"Aku memanggilmu, anak sialan!" Dia mengangkatku dari lantai dan menyeretku ke perempuan itu.

"Kamu berdarah. Anak itu berdarah." Perempuan itu berkata pada ayahku, dan itu malah membuat amarahnya makin memuncak. Giliran dia yang dihajar. Dua tamparan, satu di tiap pipi.

"Ayo, Argo. Jadilah laki-laki, kamu keluar dari karung ini!" Melihat aku tetap tak bergerak, ayahku melucuti pakaianku.

Perempuan itu telanjang. Melihat tubuhnya, aku tidak bisa tetap dingin. Aku berusaha berpikir dengan kepala, tapi yang kuturuti justru yang di bawah. Terdengar bunyi di pintu, Mama membukanya dan mendapati kami bertiga telanjang di ruang tamu. Aku hanya punya satu keinginan: mati, tidur dan tidak bangun lagi. Aku melihat matanya berubah menjadi jijik. Saat itu aku membenci diriku sendiri.

* * *

"Argo." Aku mendengar Loretha memanggil namaku di dekat telinga.

"Sialan!" Aku langsung bangun begitu sadar tidak memakai baju.

"Kenapa?"

Aku melihat ke bawah, dan untungnya bekas cakaran di dadaku sudah hilang.

"Jam berapa?" Aku berusaha menyamarkan kepanikanku.

"Sudah pukul 10.00 pagi."

Loretha sudah berdandan rapi. Aku mengecup kepalanya lalu bangun. Sebelum masuk kamar mandi, aku mendengar suara-suara di kamar sebelah.

"Siapa di sana?"

"Penjahit dan seorang desainer. Mereka datang mengukur badan Fiorella untuk gaun pengantin."

"Sekarang? Masih ada dua puluh hari, Loretha, dan kamu tidak bilang apa-apa padaku, sialan!" Aku membentak.

"Tenang, Argo. Kenapa aku harus memberitahumu soal gaunnya?" Dia bangun dari ranjang. "Dua puluh hari itu cepat sekali."

Sialan! Dua puluh hari, cuma dua puluh hari. Aku masuk kamar mandi dan membanting pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!