**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 berdamai dengan rasa sakit kehilangan
Malam itu Erin tampak gelisah di ruang makan yang terlalu sepi. Piring di hadapannya hampir tak tersentuh, dan matanya berulang kali melirik ke arah kursi kosong di seberang meja, tempat Veronica biasanya duduk dengan punggung tegak dan mata berbinar menatap hidangan. Pelayan yang membereskan meja bahkan tak berani bertanya mengapa hidangan daging favorit Veronica kembali dibawa ke dapur dalam keadaan utuh. Menantunya murung sepanjang hari setelah berbelanja, hampir tak bicara sepatah kata pun di kereta, dan langsung masuk ke kamar begitu mereka tiba. Erin tidak bisa marah pada Rose karena apa yang dikatakan gadis itu memang kenyataan, tetapi kata-kata itu telah membuat Veronica merasa bersalah atas sesuatu yang tak pernah ia lakukan.
Di dalam kamarnya, Veronica duduk di tepi ranjang dengan kedua lutut dirapatkan dan jari-jari yang meremas selimut. Ia tidak berani turun makan bersama ibu mertuanya, karena setiap kali membayangkan wajah Erin, kata-kata Rose kembali bergema di kepalanya. Wanita itu pasti sangat membencinya, ras naga yang telah merampas suami dan kedua putranya. Ia teringat bagaimana Erin menyisir rambutnya, mengajarinya memegang pisau, dan menggandeng tangannya di toko tadi siang, lalu bertanya-tanya berapa banyak dari semua itu yang sungguh tulus. Perlahan keraguan merayap di hatinya, membuatnya bertanya-tanya apakah semua kebaikan Erin selama ini hanya sandiwara. Hatinya terasa sesak, sesak yang belum pernah dirasakannya bahkan saat ia masih bergelung di dasar guanya yang dingin. Mungkin suatu hari ia akan dibuang begitu saja, apalagi pernikahannya dengan Altres sejak awal hanyalah diplomasi untuk memperkuat aliansi.
Pintu kamar berderit pelan. Emma masuk sambil membawa nampan kecil berisi teh hangat, lalu meletakkannya di meja samping ranjang dengan hati-hati. "Duchess Erin ingin berbincang dengan Anda malam ini," ucapnya lembut sambil memperhatikan wajah majikannya yang pucat.
"Katakan padanya aku lelah dan ingin langsung beristirahat," jawab Veronica cepat tanpa menoleh, bahunya merosot dan matanya tak lepas dari lantai.
Emma menggigit bibir bawahnya sambil memandang teh yang mulai tak lagi mengepul di meja. Majikannya yang beberapa hari terakhir mulai ceria kini kembali menutup diri, bahkan terhadap Erin yang telah begitu sabar membimbingnya. Ia baru hendak membuka mulut untuk membujuk ketika pintu kembali terbuka dan Erin melangkah masuk dengan gaun malam sederhana, rambutnya tergerai tanpa hiasan apa pun. Pandangannya sekilas bertemu dengan Emma, dan wanita itu mengangguk kecil. "Emma, tinggalkan kami berdua."
"Baik, Duchess." Emma menunduk memberi hormat, lalu mundur keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan agar keduanya bisa berbicara tanpa terganggu.
Di balik pintu, Emma berdiri sejenak dengan telinga menempel pada kayu, hanya untuk memastikan tak ada suara tangis, lalu melangkah pergi dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
"Aku lelah, Ibu," ujar Veronica lagi dengan suara kecil, tangannya merapikan selimut yang sebenarnya sudah rapi. "Aku ingin segera beristirahat."
Erin hanya tersenyum, tak menanggapi alasan itu. Ia berjalan mendekat tanpa suara, duduk di samping Veronica hingga ranjang sedikit melesak, lalu mengulurkan tangan dan membelai rambut merah menantunya dengan gerakan yang lembut dan berulang. "Aku tahu kau tidak benar-benar lelah," katanya pelan. "Aku sudah tidak mempermasalahkan soal suamiku dan kedua putraku, Veronica. Sungguh. Aku sudah terlalu lelah dengan kemarahan dan dendamku pada naga."
Veronica mengangkat wajahnya sedikit, matanya berkaca-kaca. "Tapi Ibu pasti membenciku. Aku seekor naga, dan naga-naga itulah yang merenggut mereka."
"Aku tidak membencimu," sahut Erin tegas sambil menangkup pipi Veronica agar menantunya menatap matanya, lalu tersenyum tipis saat melihat kening menantunya berkerut tak percaya. "Justru aku sering heran melihatmu. Kau seekor naga, tetapi bertingkah seperti gadis muda yang penuh rasa ingin tahu, yang melompat dari kursi hanya karena mendengar kata kota. Itu kesan yang sangat aneh bagiku, dan lama-lama aku berpikir bahwa naga tidak semenakutkan yang selama ini kupikirkan."
"Apakah Ibu akan menyuruhku pergi suatu hari nanti?" tanya Veronica dengan suara gemetar, akhirnya mengucapkan ketakutan yang paling dalam.
Erin terkejut sesaat, lalu menggeleng tegas. "Tidak akan, Veronica. Kau adalah bagian keluarga ini, dan itu tidak akan berubah hanya karena ucapan orang lain di toko." Ia menggenggam tangan menantunya erat-erat, seolah ingin memastikan kata-kata itu benar-benar sampai.
Sudut bibir Veronica berkedut, antara ingin tersenyum dan ingin menangis karena lega, dan ia buru-buru mengusap matanya dengan punggung tangan sebelum air matanya jatuh. Erin menghentikan belaiannya sejenak, menatap dinding kosong di depan mereka, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam. "Yang harus disalahkan atas kematian mereka bukanlah naga, melainkan para penguasa yang rakus. Dulu manusia dan naga hidup berdampingan. Naga melindungi manusia sebagai makhluk yang kuat. Tetapi manusia merasa mampu menaklukkan ras naga yang berkuasa, dan dari situlah perang dimulai. Dalam perang itu, naga dan manusia sama-sama menderita kerugian yang sama besar."
"Ibu tidak marah pada naga yang membunuh mereka?" tanya Veronica pelan, hampir berbisik, jemarinya memilin ujung lengan bajunya.
"Suamiku juga membunuh banyak naga yang kuat, Veronica," jawab Erin sambil menghela napas panjang. "Pasti ada naga lain yang merasakan sakit seperti yang kurasakan, karena itu aku menganggap kematiannya sebagai balasan. Kedua putraku pun tak kalah hebat. Mereka menghancurkan beberapa sarang naga dan membuat para naga kehilangan anak-anaknya. Sekarang akulah yang merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak." Suaranya sempat bergetar di akhir kalimat, tetapi ia segera menarik napas dan tersenyum lagi. "Rasa sakit itu sama saja, Veronica, siapa pun yang mengalaminya, manusia ataupun naga."
Veronica terdiam lama sambil menatap tangan Erin yang masih membelai rambutnya, alisnya berkerut, kebingungan yang tulus tergambar jelas di wajahnya. "Aku tidak mengerti," gumamnya sambil menggeleng. "Kenapa Ibu menganggap itu wajar? Kalau ada yang menyakiti keluargaku, aku pasti akan membalas dendam. Itu yang dilakukan setiap naga."
"Aku belajar menerima," jawab Erin lembut sambil menyelipkan rambut Veronica ke belakang telinganya. "Tidak mudah, dan tidak terjadi dalam semalam. Ada malam-malam ketika aku hanya duduk menatap kamar yang kosong dan tak tahu harus berbuat apa dengan amarahku."
Veronica menahan napas, mendengarkan seperti mendengarkan sesuatu yang rapuh. Erin melanjutkan, "Aku mendekat pada dewa dan memohon pencerahan, dan akhirnya aku dicerahkan oleh ajaran-Nya. Kebencian dalam hatiku hilang satu per satu sampai tak ada yang tersisa. Sekarang aku bahkan berharap manusia dan naga bisa hidup damai lagi seperti dulu."
Mata Veronica membesar, rasa ingin tahunya perlahan mengalahkan rasa takut yang tadi menekannya, dan ia mengerjap beberapa kali seolah baru terbangun dari mimpi buruk. Ia menegakkan duduknya sedikit, seperti murid yang baru menemukan pelajaran menarik. "Ajaran dewa? Seperti apa itu, Ibu? Apakah dewa itu lebih kuat dari naga?"
Erin tertawa pelan mendengar pertanyaan polos itu, dan untuk pertama kalinya sejak siang tadi wajahnya tampak benar-benar rileks. "Besok akan kuajarkan padamu tentang ajaran yang dipercayai manusia, yaitu ajaran Dewa Lazarus, sang pencipta. Malam ini cukup dengan mengetahui bahwa kau tidak sendirian." Ia menepuk pangkuannya dengan lembut. "Sekarang berbaringlah."
Veronica ragu sejenak, merasa canggung karena belum pernah berbaring seperti ini di hadapan siapa pun, kedua tangannya mengepal di atas lutut, lalu perlahan merebahkan kepalanya di pangkuan Erin. Jari-jari wanita itu kembali menyisir rambutnya, hangat dan sabar, dan kelopak mata Veronica mulai terasa berat. Di luar jendela, angin malam menggoyangkan tirai dan membawa aroma taman yang lembap. Ketakutannya akan dibenci wanita itu menguap sedikit demi sedikit seperti kabut pagi, dan di tempatnya tumbuh perasaan hangat yang asing namun nyaman, kasih seorang ibu pada anaknya.
"Terima kasih, Ibu," bisiknya dengan suara serak, matanya sudah terpejam, dan Erin hanya mengangguk sambil terus membelainya hingga napas menantunya mulai tenang. "Tidurlah," katanya lirih, hampir seperti nyanyian. "Besok masih ada banyak hal yang harus kau pelajari, dan kau tidak perlu melakukannya sendirian."