Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pak Darma membuka matanya perlahan dan menatap sekeliling dengan pandangan bingung.
"Raka, apa yang terjadi, kenapa kakek ada di jalanan ini." Pak Darma memegangi dadanya yang anehnya terasa sangat ringan dan lega tidak seperti biasanya.
"Kakek tadi pingsan karena penyakit jantung kakek kambuh." Raka membantu kakeknya untuk duduk bersandar pada badan mobil SUV.
"Penyakit jantung." Pak Darma bergumam pelan sambil menarik nafas dalam-dalam tanpa merasakan rasa sakit sedikit pun.
"Tapi aneh sekali, dada kakek terasa sangat lega seperti kakek tidak pernah sakit selama bertahun-tahun."
Pak Darma menatap supirnya yang masih menangis di dekat ban mobil.
"Siapa yang sudah mengobati saya tadi."
Supir itu segera menunjuk ke arah Astiana yang sedang bersiap menggendong tas ranselnya untuk pergi.
"Gadis muda itu yang menolong Anda, Tuan Darma."
"Dia menggunakan semacam terapi tusuk jarum yang sangat ajaib."
Pak Darma menoleh ke arah Astiana dan menatap gadis lusuh itu dengan tatapan penuh penilaian.
Matanya yang tua namun tajam bisa melihat ketenangan luar biasa yang memancar dari diri Astiana.
"Gadis ini bukan orang sembarangan." Suara hati Pak Darma terdengar jelas di telinga Astiana.
"Teknik jarum perak seperti itu hanya dikuasai oleh para tabib legendaris yang sudah punah puluhan tahun lalu."
Astiana sedikit terkejut karena pria tua ini ternyata memiliki pengetahuan yang luas tentang dunia medis kuno.
"Nak, tunggu sebentar." Pak Darma memanggil Astiana dengan nada suara yang sangat lembut dan berwibawa.
Astiana menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap pria tua tersebut.
"Ada apa lagi, Kek."
Astiana sengaja menggunakan panggilan akrab orang desa agar terlihat seperti gadis lugu biasa.
"Kakek berhutang nyawa padamu hari ini."
Pak Darma berusaha berdiri meskipun masih dibantu oleh Raka dari samping.
"Katakan apa yang kau inginkan sebagai balasan, kakek akan mengabulkan apapun permintaanmu."
Raka langsung menatap Astiana dengan sorot mata penuh peringatan yang sangat jelas.
"Jangan berani-berani meminta hal yang tidak masuk akal, dasar gembel licik."
Suara hati Raka kembali mengumpat dan mengancam Astiana tanpa suara.
Astiana tersenyum tipis merespons pikiran buruk pria tampan di sebelahnya itu.
"Saya tidak minta apa-apa, Kek."
"Kakek saya di desa selalu mengajarkan untuk tidak mengharapkan pamrih saat menolong orang lain."
Astiana menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat sebelum berbalik pergi.
"Saya permisi dulu, hari sudah mulai gelap dan saya harus mencari tempat tidur."
Pak Darma tersenyum lebar mendengar jawaban jujur dan tulus dari gadis di depannya.
"Gadis yang sangat langka dan berhati mulia, dia sama sekali tidak tergoda oleh harta."
Suara hati Pak Darma semakin yakin bahwa Astiana adalah penyelamat yang dikirimkan Tuhan untuknya.
"Tunggu, Nak, kakek tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja."
Pak Darma memberi isyarat pada supirnya untuk segera membukakan pintu mobil SUV.
"Hari sudah malam dan kau bilang kau belum punya tempat tinggal kan."
Astiana menghentikan langkahnya lagi karena ucapan Pak Darma memang sangat tepat sasaran.
Dia hanya memiliki uang lima puluh ribu rupiah yang tidak cukup untuk menyewa kamar penginapan termurah sekalipun.
"Bagaimana kalau malam ini kau ikut pulang dan menginap di rumah kakek."
Raka langsung melotot kaget mendengar tawaran konyol dari kakeknya tersebut.
"Kakek, apa kakek sudah gila." Raka berbisik protes di telinga kakeknya dengan nada tidak setuju.
"Bagaimana kakek bisa membawa orang asing yang asal-usulnya tidak jelas masuk ke dalam rumah kita."
Pak Darma mengangkat tangannya untuk membungkam protes cucunya itu.
"Raka, diam, dia adalah penyelamat nyawaku dan kakek yang berkuasa membuat keputusan."
Raka langsung terdiam bungkam meskipun wajahnya terlihat sangat kesal dan menahan marah.
Astiana berpikir sejenak mempertimbangkan tawaran menggiurkan tersebut.
Dia teringat pada amanat kakeknya untuk mencari orang tuanya lewat petunjuk liontin hijau.
Keluarga Darma ini adalah orang kaya yang pasti memiliki banyak relasi di kota besar ini.
Mungkin dengan berada di dekat mereka, dia bisa mendapatkan informasi lebih cepat tentang asal-usul mobil sedan hitam tadi.
"Baiklah, Kek, jika tidak merepotkan saya akan menumpang menginap untuk satu malam saja."
Astiana akhirnya menyetujui tawaran itu dengan nada suara yang dibuat sedikit ragu-ragu.
"Bagus, supir, bantu Nak Astiana membawakan tasnya masuk ke dalam mobil."
Pak Darma tersenyum puas dan masuk ke dalam mobil SUV miliknya.
Raka berjalan melewati Astiana dengan langkah panjang dan berhenti sejenak di samping gadis itu.
"Jangan berpikir kau bisa membodohiku, gadis udik."
Raka berbisik sangat pelan dengan nada mengancam di dekat telinga Astiana.
"Aku akan mengawasimu terus, jika kau berani berbuat jahat pada keluargaku, aku sendiri yang akan menghancurkanmu."
Astiana hanya menatap kepergian Raka menuju mobil sport merahnya tanpa ekspresi yang berarti.
"Anjing yang banyak menggonggong biasanya tidak bisa menggigit."
Astiana membalas ancaman itu dalam hatinya sambil tersenyum miring.
Malam pertamanya di ibu kota ternyata jauh lebih menarik dari yang dia bayangkan.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣