Salsabillah Khairunnisa Kirani, 25 tahun. Terpaksa harus menikah dengan Adrian Mangku Kusumo, 25 tahun. Karena perjodohan orang tua mereka, padahal mereka sama-sama memiliki kekasih.
Sabillah tak tahu mengapa Adrian selalu menuduhnya menjadi penyebab kehancuran Ajeng, kekasih Adrian.
Hingga di tujuh bulan pernikahan mereka, Sabillah melihat Adrian bersama wanita yang tengah hamil tua, dan wanita itu, kekasih Adrian.
Apakah Adrian sudah mengkhianati pernikahan mereka? Meski mereka sepakat untuk berpisah setelah dua tahun pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Ajeng menutup wajahnya menggunakan lengan, setelah para perawat keluar mengganti jarum infus ditanganya tadi. Lelah, dia sudah sangat lelah dengan hidupnya yang terus berharap pada seseorang yang kini tidak sama sekali mengharapkanya.
Tubuhnya terguncang karena tak kuat menahan tangis yang pecah. Disaat sedang kalut seperti ini, ponselnya berdering. Tak ada namanya, tapi Ajeng kenal nomor tersebut.
"Halo."
"Jeng, aku butuh uang."
"Aku sudah tidak punya uang. Kamu kan tahu kemarin sudah aku transfer semua ke rekening kamu."
"Tapi sekarang aku lagi sangat butuh."
"Itu bukan urusan ku."
"Oke, berarti aku kirim bukti percakapan kita ke pacar kamu itu, biar semuanya terbongkar."
Sialan.
"Kamu meras aku?" Merasa sudah tak benar.
"Bukan meras, tapi ini kerja sama. Kamu sudah mendapatkan keuntungannya kan? Ini berat loh, dua nyawa. Pilih mana?"
Menghela nafas berat, tidak langsung menjawab, berpikir bagaimana cara mendapatkan uang lagi yang lebih besar dari Adrian.
"Kasih aku waktu satu minggu."
"Terlalu lama, tiga hari."
"Kamu pikir aku punya pohon duit."
"Pacar kamu kan kaya, masa nggak mau kasih lebih? Bilang aja kamu ada keperluan Alief."
"Nanti aku kabari jika sudah ada."
"Gitu donk, kan sama-sama enak." Ajeng memutuskan panggilan itu. Menutup mata dengan tangan yang masih memegang ponsel.
Sudah pusing, bertambah pusing saja kepalanya. Sekarang tabungan Alief yang dibuatkan Adrian habis terkuras olehnya. Ajeng tidak tahu, apakah Adrian menyadari atau tidak jika dia mengambil uang tabungan Alief.
"Bu, maaf anaknya saya antar kesini. Saya sedang banyak pasien." Suster yang tadi dititipkan Adrian masuk bersama Alief.
"Loh, papanya mana, Sus?" Suster itu bingung.
"Papa yang mana, Bu?"
"Laki-laki yang masuk tadi itu papanya," jawab Ajeng.
Lah, bukanya cowok tadi bilang omnya?
"Oh, laki-laki yang tadi bukanya bersama Ibu?"
"Kamu tidak melihat papa, Lief?" tanyanya pada Alief, Alief menggeleng.
Ajeng mendesah kesal, kemana Adrian? Bukanya tadi dia bilang mau mencari Alief? Benar-benar Adrian tidak bisa dipercaya lagi.
* * *
Karena pada kenyataannya Adrian kini mengantarkan Sabillah dan anak-anaknya pulang. Selama perjalanan Sabillah memilih diam, dia juga duduk di jok penumpang belakang bersama Eka dan memangku Abimanyu, Arial disamping Adrian. Anggap saja dia penumpang yang menyewa taksi.
Melupakan sesuatu yang tersentuh secara tidak sengaja membuatnya semakin kesal dengan mantan suaminya.
Mobil yang dikendarai sendiri oleh Adrian berbelok disalah satu restoran mewah.
"Kita makan dulu ya, hampir masuk jam makan siang."
"Kalau kamu lapar makan saja, aku dan anak-anak bisa pulang memesan taksi online."
Adrian melirik Sabillah dari spion tengah.
"Pernah dengar kan, kalau tidak baik menolak rejeki. Anggap aku mentraktir-" Ingin mengatakan anak yatim, takut Sabillah tersinggung. "Tuhan marah jika kita menolak rejeki darinya. Apa yang aku lakukan sekarang itu rejeki dari Tuhan yang dititipkan melalui aku." Mobilnya sudah terparkir di slot yang kosong.
Sejak kapan dia bisa bicara membawa-bawa nama sang pencipta. Apakah setelah ini Adrian akan merangkap jadi seorang pak ustad?
"Arial lapar nggak?" Arial selalu menjadi senjata andalanya.
"Iya," sahut bocah itu mengangguk.
"Umak masih kenyang katanya, kita makan berdua, Umak dan kakak pulang duluan nggak papa? Nanti Arial diantar sama, Om?
"Iya," menoleh kebelakang. "Umak sama tatak boleh pulang duluan, Alial tidak papa sama Om Adlian."
Mana mungkin Sabillah meninggalkan anaknya bersama Adrian.
"Yasudah, kita makan bersama dulu." Kebetulan dirumah memang belum memasak apapun. Kasihan jika anaknya kelaparan.
Adrian tersenyum menang, ibunya susah ditaklukkan, ada anaknya yang bisa diandalkan.