Alma Fatara, gadis sakti yang muda belia, kini menjelma menjadi Ratu Siluman, pendekar cantik jelita yang memimpin satu pasukan pendekar sakti dan besar.
Berbekal senjata pusaka yang bernama Bola Hitam, Alma Fatara langlang buana demi mencari kejelasan siapa sebenarnya kedua orangtuanya.
Sejumlah kedudukan istimewa sudah dia raih di usia belia itu, menjadikannya sebagai pendekar muda yang fenomenal, disegani sesama pendekar aliran putih dan membuat pendekar jahat ketar-ketir, ditaksir banyak pemuda dan dihormati oleh pendekar tua.
Kali ini, Alma Fatara akan menghadapi dua kerajaan besar dan melawan orang yang tidak terkaalahkan. Petunjuk yang mengarahkan mendekati orangtuanya semakin terbuka satu demi satu.
Sampai di manakah kemampuan Alma Fatara dalam perjalanannya kali ini? Temukan jawabannya hanya di novel “Alma3 Ratu Siluman”.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akarmani 30: Menguasai Ibu Kota
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
Ketegangan yang terjadi di sekitar benteng timur Ibu Kota, bahkan sempat ada pertempuran yang mengorbankan banyak nyawa, kini berubah damai aman sentosa.
Bagaimana tidak, para pemimpin dua pasukan yang awalnya berperang, kini telah duduk bersama di atas benteng sambil menyeruput kopi dan sambil makan bubur kacang merah.
Demi kebersamaan, Panglima Galagap yang sudah kembung oleh tiga mangkuk bubur dan angin malam, harus ikhlas menambah isi perutnya dengan semangkuk bubur dan secangkir kopi lagi. Untung itu tidak membuatnya mabuk laut.
Kini ada sembilan orang petinggi pasukan yang duduk dua meja di atas benteng timur. Sambil berbincang serius, sesekali obrolan mereka disisipi dengan jok-jok dagelan yang menarik urat tawa.
Mereka adalah Alma Fatara yang punya banyak gelar tanpa satu pun hasil dari jalur akademi, kedua adalah Panglima Pulung Seket, ketiga Adipati Lalang Lengir, keempat Genggam Sekam alias Pendekar Tongkat Berat, kelima Sumirah alias Pendekar Buaya Cantik, keenam Panglima Galagap alias Kepala Pasukan Keamanan Ibu Kota, ketujuh Magar Kepang alias Kepala Desa Iwakculas, kedelapan Garam Sakti alias Pendekar Desa Iwakculas, dan kesembilan Ning Ana alias si anak hilang.
Ada dua meja papan yang dinaikkan ke atas benteng yang ditata menjadi satu meja panjang.
“Kita harus segera menutup benteng barat. Dengan takluknya pasukan ibu kota, berarti kita telah mengepung Istana. Pasukan Gusti Ratu sudah berhasil melakukan pembakaran di dalam Istana, berarti Gending Suro dan pasukannya sudah terkepung. Penutupan benteng barat untuk mencegah pasukan Senopati Gending Suro yang ada di wilayah barat datang membantu,” kata Adipati Lalang Lengir.
“Baik, aku akan segera menutup benteng barat,” kata Panglima Galagap. Lalu teriaknya kepada anak buahnya, “Pajrit Kerismon!”
“Hamba, Gusti Panglima!” sahut Pajrit Kerismon yang memang tidak mau jauh-jauh dari para pemimpin itu, sepertinya dia memang masih mencari mukanya yang tidak hilang.
“Pergilah ke benteng barat dan sampaikan perintahku kepada Komandan Dudung untuk menutup penuh benteng barat. Jika ada pasukan Kerajaan dari wilayah barat, jangan diizinkan masuk!”
“Tapi, Gusti ...,” ucap Pajrit Kerismon berat kepala.
“Kenapa?” tanya Panglima Galagap.
“Jabatan hamba kepala prajurit Gusti, bukan pengantar pesan,” protes Pajrit Kerismon.
“Oh, aku kira kau suka diberi tugas,” kata Panglima Galagap. Lalu perintahnya, “Sekarang pangkatmu aku turunkan menjadi pembawa pesan, sepertinya kau lebih mahir dalam tugas itu. Sekarang pergilah bawa pesanku!”
“Hahahak ...!” tawa keras Alma Fatara yang diiringi oleh tawa rekan-rekannya melihat nasib Pajrit Kerismon.
Kepala prajurit yang kini menjadi pembawa pesan itu hanya bisa terperangah seperti melihat wanita cantik tapi tanpa kepala. Sampai-sampai dia tidak bisa berkata apa-apa. hancur hatinya saat itu bagai ditumbuk alu. Ingin menangis rasanya, tapi dia masih punya ingatan bahwa dia adalah seorang lelaki dan seorang prajurit, juga seorang kepala keluarga. Pantang menangis hanya karena putus cinta, apalagi hanya perkara turun jabatan. Bukankah setelah jurang pasti ada bukit? Namun Pajrit Kerismon tidak tahu, bahwa setelah jurang yang ada hanyalah lautan lepas.
“Pergilah, atau tugas ini aku berikan kepada prajurit yang lain dan pangkatmu aku turunkan jadi juru masak prajurit!” perintah Panglima Galagap berisi ancaman.
“Baik, Gusti,” ucap Kerismon lemah dan pasrah.
Kerismon yang sudah tidak pakai pajrit lagi itu lalu berjalan pergi seperti orang yang kehilangan semangat dan imun tubuh.
“Semangat, Paman! Tunjukkan semangatmu walau sedang berada di lubang kakus! Jangan menyerah hanya karena turun pangkat! Hidup Kak Alma! Hidup Kak Alma!” teriak Ning Ana memberi semangat kepada Kerismon.
“Hahaha!” Alma Fatara dan rekan-rekannya justru tertawa mendengar teriakan anak cantik berlidah barbar itu.
“Biarkan Panglima Galagap tetap mengamankan benteng dan Ibu Kota. Biar pasukanku dan pasukan Adipati Lalang Lengir yang maju ke benteng Istana,” kata Panglima Pulung Seket.
“Jika begitu, sebelum matahari terbit, pasukan harus sudah berkumpul di depan benteng Istana,” kata Alma Fatara.
“Aku menduga, laporan tentang takluknya benteng Ibu Kota sudah sampai kepada Senopati Gending Suro. Kemungkinan besar, dia pasti sudah mengambil keputusan untuk mencegah kita menyerbu benteng Istana,” kata Genggam Sekam.
“Wah, kita harus lebih dulu, Kak Alma. Jika tidak, bisa-bisa kita akan bernasib seperti Kak Ning Ara, kekasihnya lebih dulu direbut perempuan buaya,” kata Ning Ana.
“Kau menyindirku, Ning Ana?” tanya Sumirah mendelik.
“Aku tidak menyindir. Jika Kak Susu merasa perempuan buaya, berarti benar memang perempuan buaya perebut lelaki orang,” kata Ning Ana pedas, tanpa takut sedikit pun kepada Sumirah, yang jelas-jelas bisa dengan mudah menjewernya.
Memang, sejak tahu bahwa Sumirah selalu menempel dengan Genggam Sekam, Ning Ana tidak pernah suka dengan wanita yang dinilainya genit itu.
“Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu itu, aku bisa melemparmu dari atas benteng,” ancam Sumirah sembari melotot kepada Ning Ana yang berseberangan meja dengannya.
“Aku juga bisa melempar Kakak Susu dari bawah benteng!” balas Ning Ana tidak mau kalah.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar kata-kata Ning Ana. Ia lalu berkata kepada Ning Ana, “Jika kalian tidak mau berdamai di masa perang seperti ini, nanti aku akan menyediakan arena duel kepada kalian berdua.”
“Aku setuju!” kata Sumirah.
“Aku juga setuju!” kata Ning Ana lantang, membuat Alma Fatara, Genggam Sekam, Magar Kepang, dan Garam Sakti terbeliak.
“Apakah kau bisa melawan Kak Sumirah yang sakti dan lebih besar?” tanya Alma Fatara kepada Ning Ana.
“Hah! Kak Susu hanya sakti dalam urusan merebut lelaki dan hanya susunya yang besar. Dia belum tahu sehebat apa diriku sebenarnya,” kata Ning Ana sesumbar.
“Hahaha!” tawa kaum batangan mendengar sesumbar Ning Ana.
“Baik, setelah kita menang, kau dan Kak Sumirah akan duel di depan Istana. Sepakat?” kata Alma Fatara memutuskan.
“Sepakat!” jawab Ning Ana mantap jiwa.
“Bagaimana, Kak Sumirah?” tanya Alma Fatara.
“Setuju,” jawab Sumirah sambil menatap tanpa kedip kepada Ning Ana yang juga melotot kepadanya, bahkan Ning Ana memaju-majukan bibir bawahnya mengejek perebut kekasih kakaknya itu.
“Sudah, tidak usah adu kata-kata lagi jika sudah ada kesepakatan. Tunjukkan kehebatan kalian nanti saat duel,” kata Alma Fatara sambil membelai kepala Ning Ana sekali.
“Bagaimana, Panglima Dewi?” tanya Panglima Pulung Seket, membawa pembicaraan kembali ke alurnya.
“Benar kata Kakang Genggam Sekam dan Ning Ana. Segera bawa masuk pasukan ke Ibu Kota dan langsung menuju ke benteng Istana,” kata Alma Fatara.
“Jika demikian, aku izin untuk kembali ke pasukan,” kata Adipati Lalang Lengir.
“Aku juga,” kata Panglima Pulung Seket.
“Baik,” ucap Alma Fatara.
Maka, Panglima Pulung Seket dan Adipati Lalang Lengir menghormat kepada Alma Fatara. Mereka berdua segera turun ke kuda mereka dan pergi bersama kembali ke basis pasukan jauh di depan benteng.
Sementara itu di dalam Istana.
“Lapor, Gusti Senopati!” pekik seorang prajurit yang datang menghadap kepada Senopati Gending Suro yang terus memantau upaya pemadaman kebakaran dua gudang.
“Ada apa, Prajurit?” tanya Senopati Gending Suro.
“Benteng Ibu Kota telah ditaklukkan oleh pasukan Ratu Warna Mekararum dengan mudah,” lapor prajurit itu.
“Apa? Dengan mudah? Apa saja kerja Panglima Galagap?” kejut Senopati Gending Suro gusar.
Senopati lalu terdiam sejenak untuk berpikir.
“Gampar Seblak!” panggil sang senopati kepada seseorang.
Ternyata orang yang bernama Gampar Seblak berada tidak jauh dari posisi Senopati Gending Suro. Maka dia pun segera berlari datang menghadap.
Orang yang bernama Gampar Seblak tidak berpakaian prajurit, tetapi berpakaian ala-ala pendekar yang bersenjata dua celurit besar yang terselip di pinggang belakang. Dia salah satu orang suruhan Senopati dari unsur non prajurit.
“Hamba, Gusti Senopati!” sahut Gampar Seblak sembari menghormat.
“Kirim prajurit untuk memanggil semua pemimpin pasukan yang ada di dalam Istana ini!” perintah Senopati Gending Suro.
“Baik, Senopati.” (RH)