NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Nasib Zana

"Lepas!! Lepaskan aku, brengsek!"

Zana terus meronta kala tubuhnya diseret paksa oleh dua orang laki-laki bertubuh besar. Sialnya, semakin perempuan itu memberontak, cekalan pada kedua tangannya semakin mengerat, seakan dua laki-laki yang tak dikenalnya itu ingin meremukkan tulangnya.

"Siapa kalian, hah?! Lepaskan aku!" wajah Zana merah padam karena marah.

Awalnya dia hanya ingin menenangkan otaknya di sebuah cafe sembari memikirkan langkah selanjutnya demi mencapai tujuannya. Dan tiba-tiba saja, dua laki-laki dengan asing bertubuh besar datang dan menyeretnya.

Zana sudah berteriak minta tolong, tetapi orang-orang sialan yang berada di sana hanya diam menyaksikan. Terkesan tidak peduli, bahkan saat dua laki-laki itu memasukkan Zana ke dalam mobil Jeep.

Hingga di sinilah Zana berada. Dirinya di bawa ke sebuah hutan yang ditanami pohon cendana. Di seret paksa, sampai dapat Zana rasakan kakinya yang sakit karena menginjak akar liar.

"Dasar tuli! Bisu! Lepaskan aku, sialan!"

Dua laki-laki itu tak mengindahkan umpatan demi umpatan yang Zana lontarkan. Mereka setia menyeret tubuh Zana yang jauh lebih kecil dari mereka. Hingga, mereka sampai pada sebuah bangunan seperti bekas pabrik.

"Hei, tempat apa ini?! Aku tidak mau dibawa ke sana!" kepanikan Zana bertambah saat kedua laki-laki kekar itu membawanya masuk ke dalam bangunan. Rontaannya semakin brutal tak terkendali. Lalu---

Brukk.

"Awww..."

Tubuh Zana terlempar pada lantai yang dingin. Telapak tangannya terasa sakit karena menompang tubuhnya. Seketika--- dia menatap kedua laki-laki kekar itu dengan pandangan tak terima.

"Berani sekali kalian memperlakukanku seperti ini! Kalian tidak tahu siapa aku?!"

Kedua laki-laki itu tetap diam tanpa ekpresi. Hingga, terdengar ketukan sepatu dari dalam. Tepatnya, pada sebuah lorong penghubung. Semakin lama, suara itu terdengar semakin dekat.

Dan sumpah demi alam semesta, Zana tidak pernah menyangka jika suara sepatu itu adalah milik seseorang yang ia idam-idamkan.

Kalendra Wijaya.

"Tua--Tuan, tolong saya." Zana beringsut mendekati Kalendra yang berdiri menjulang. Menyentuh kaki laki-laki itu meminta perlindungan.

Kalendra bergeming, enggan menunduk dan menatap Zana. Namun, pembantu itu tak menyerah begitu saja.

"Tuan, mereka telah menculik saya. Untung anda juga berada di sini, tolong jebloskan mereka ke penjara, Tuan."

Duaagh.

"Argh!!" Zana memekik, menatap Kalendra dengan raut tak percaya. Bukannya menolong-- laki-laki itu dengan tega menendang perutnya hingga terasa nyeri.

"Tu--Tuan..."

"Menjijikan." suara Kalendra mengalun dingin.

"Tuan, kami sudah membawa perempuan ini kemari, sesuai perintah dari anda."

Mendengar penuturan dari salah satu laki-laki yang menyeretnya, mata Zana membola seketika. Mulutnya menganga terkejut. Jadi, ini semua--- ini semua ulah Tuan Kalendra?

Bodohnya Zana meminta bantuan kepada otak dari penculikannya.

"Tuan-- apa salah saya? Kenapa anda tega melakukan semua ini?!" raung Zana merasa dipermainkan.

Kalendra terkekeh dingin. Laki-laki itu berjongkok, meraih leher Zana untuk ia cengkram kuat. Sangking kuatnya sampai urat telapak tangannya terlihat lebih jelas, pun dengan wajah Zana yang memerah kehabisan napas.

"Kau masih bertanya, apa salahmu?" ujar Kalendra rendah, penuh tekanan.

Zana menggeleng ribut. Tenggorokannya terasa sakit, kedua tangannya mencoba melepaskan cengkraman Kalendra pada lehernya. Sayangnya, semakin dia berusaha, lebih erat pula Kalendra mencengkram lehernya.

"Ja-lang, kau berani menyentuh istriku. Berusaha melenyapkannya. Dan kau masih bertanya apa salahmu?"

Pergerakan tangan Zana berhenti. Ekspresi terkejut jelas terlihat pada wajahnya. Batinnya bertanya-tanya, kenapa Kalendra bisa tahu, bahwa dirinya adalah orang yang menyelinap masuk ke ruang rawat Kanaya?

"Tidak berguna."

Dugh.

"Arghhh!" jerit Zana menggema, saat dengan keras Kalendra membenturkan kepalanya pada dinding.

Suami Kanaya itu berdiri. Memandang dingin pada Zana yang tengah menangis kesakitan.

"Kalian tahu apan tugas kalian selanjutnya?" tanya laki-laki itu kepada kedua bawahannya yang sedari tadi diam menunduk sopan.

"Tahu, Tuan." kedua laki-laki bertubuh besar itu kompak menjawab.

"Lakukan. Ingat, jangan sampai mati. Ja-lang ini tidak bisa dengan mudah memasuki neraka."

Setelah itu, Kalendra melangkah pergi dan itu membuat Zana semakin panik. Dia mencoba bangkit, mengejar langkah Kalendra dengan tertatih-tatih.

"Tu--Tuan, ampuni saya! Saya khilaf, Tuan. Tolong ampuni saya!"

"Hei, mau kemana kau?! Tuan Kalendra telah menyerahkanmu pada kami untuk kami bersenang-senang." cegat salah satu bawahan Kalendra mencekal lengan Zana.

"Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan aku!" ronta Zana ketakutan.

"Ck berisik sekali." dengus bawahan Kalendra yang satunya.

"Kita buat saja dia diam. Misal dengan....merobek mulutnya?" sahut laki-laki yang masih mencekal lengan Zana. Menyeret perempuan itu agar mengaku langkahnya yang semakin masuk ke dalam gedung.

Temannya terkekeh. "Aku lebih suka menarik lidahnya keluar dan membuatnya menjulur seperti anjing."

Zana merinding sekujur badan. Paniknya semakin terasa. Kini ia sadar, kedua laki-laki ini tidak hendak melecehkannya, melainkan ingin menyiksanya.

Mereka--- adalah psikopat.

"Wah, aku tidak sabar mencuci tanganku dengan darahnya."

"Jangankan kau, aku sudah sangat ingin melukis di kulit putihnya itu."

"Ti--tidak!!" jerit Zana.

"Kalian boleh melakukan apapun padaku. Kalian--- kalian bisa menikmati tubuhku sepuas kalian, aku tidak masalah. Tapi aku mohon jangan lukai aku." bujuk perempuan yang hampir putus asa itu.

"Wah, lihatlah. Target sedang mencoba merayu kita." salah satu laki-laki berceletuk. Membuka pintu kayu yang sudah lapuk, kemudian mendorong Zana hingga perempuan itu oleng dan menabrak dinding yang lengket dan berbau busuk.

"Argh! Da-darah!!"

"Kami memang ingin menikmati tubuhmu." laki-laki itu mengambil pisau berkarat yang tertancap sebuah kursi usang di sana.

"Mengu-liti tubuh manusia, mendengar jerit kesakitan dari manusia itu, membuat kulitnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah, begitulah cara kami mencari kepuasan."

Tubuh Zana ambruk pada lantai yang kotor. Tempat ini sangat menjijikan dengan bau busuk yang sangat menyengat. Percikan darah ada di mana-mana. Bahkan di salah sudut ruangan, terdapat bangkai yang dikerubungi oleh lalat dan belatung.

Kemana suara itu? Kenapa di saat aku membutuhkannya dia tidak datang?! 

batin Zana berseru frutasi. Tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

.

.

BREAKING NEWS!! Dokter muda Pramudya Abraham terlibat skandal dengan seorang pejabat negara. Foto mesra keduanya tersebar di salah satu media sosial. Publik menanyakan hal ini, benarkah dokter Pram meminta bantuan pejabat negara wanita itu untuk memuluskan kariernya di dunia medis.

Sampai saat ini, belum ada konfirmasi dari kedua pihak yang bersangkutan. Namun, banyak masyarakat yang berspekulasi, bahwa dokter Pram di sini berstatus sebagai simpanan dari oknum pejabat negara yang sudah berkeluarga itu.

Kanaya hampir tak percaya apa yang dia lihat pada tayangan televisi di ruang rawat inapnya. Baru kemarin mereka bertemu dan kini--- dia harus mendengar kabar buruk dari laki-laki itu.

Batin Kanaya bertanya-tanya, apakah yang diberitakan di televisi itu sebuah kebenaran atau hanya sekedar berita picisan pencari sensasi.

Apapun itu, Kanaya hanya berharap Pram baik-baik saja. Hubungan mereka memang tidak baik, tetapi Kanaya tidak sejahat itu untuk bahagia di atas masalah orang lain.

"Padahal, dokter Pram tampan. Kenapa dia malah mau menjadi simpanan wanita tua yang sudah berkeluarga? Bukannya dia bisa mencari perempuan seumuran dan setara?" ujar Ami yang tengah membereskan pakaian Kanaya. Kabar baiknya, hari ini istri Kalendra itu sudah diijinkan pulang.

Kanaya menoleh. "Berita ini belum tentu benar, Bi. Siapa tahu mereka hanya sedang mencari sensasi."

Ami tampak mengendikan bahunya. "Tetap saja, Nyonya. Baik berita ini benar atau tidak, sekarang pandangan saya tentang dokter Pram sudah tidak sama lagi.

Mendengarnya, Kanaya mengulum senyum geli. " Ohh, apakah Bi Ami juga menyukai dokter Pram?"

"Astaga! Apa yang Nyonya bicarakan? Saya. Tidak suka berondong. Lagipula, cinta saya hanya untuk mendiang suami saya seorang. Tidak ada yang lain!" rajuk Ami yang membuat Kanaya meledakkan tawanya.

"Ahhh, romantisnya...."

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!