Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikrar Yang Dipaksakan
Tidak ada yang bertanya apakah Zafira Elinara siap.
Pagi itu, ia duduk di depan cermin kamar pengantin dengan balutan kebaya putih gading yang terlalu indah untuk perasaan yang ia miliki. Wajahnya dipoles rapi, bibirnya tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip topeng.
Di balik pantulan kaca, matanya kosong, seolah jiwanya tertinggal di rumah kecil orang tuanya semalam.
Di luar kamar, suara tamu berdatangan. Ucapan selamat, tawa, dan doa bercampur menjadi kebisingan yang membuat kepala Zafira berdenyut. Semua orang terlihat bahagia—kecuali pengantin perempuannya sendiri.
Saat pintu dibuka, Zafira melangkah menuju pelaminan. Setiap langkah terasa berat, seperti menapaki jalan yang tidak pernah ia pilih.
Di ujung sana, Atharv Pranata berdiri tegak dalam setelan pengantin berwarna gelap. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seolah pernikahan ini hanyalah agenda yang harus diselesaikan.
Mata mereka bertemu sesaat.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kehangatan.
Hanya jarak yang tak kasatmata.
Prosesi berjalan singkat dan formal. Ketika ijab kabul diucapkan, suara Atharv terdengar tegas dan tanpa ragu. Satu tarikan napas, satu kalimat sakral, dan hidup Zafira resmi berubah.
“Sah.”
Kata itu menggema di telinganya, lebih keras daripada tepuk tangan para tamu. Zafira menunduk, menyembunyikan mata yang mulai basah.
Ia kini istri Atharv Pranata—status yang seharusnya membahagiakan, namun justru terasa seperti borgol halus di pergelangan tangannya.
Saat prosesi selesai, Atharv mencondongkan badan sedikit ke arahnya. Suaranya rendah, hanya cukup untuk didengar mereka berdua.
“Jangan berharap lebih dari pernikahan ini,” katanya datar. “Kita menjalani peran masing-masing.”
Zafira mengangguk pelan, menelan perih yang menggores tenggorokannya.
“Aku mengerti.”
Ia memang mengerti. Sejak awal, pernikahan ini bukan tentang cinta—melainkan tentang menjaga nama baik, menutup aib yang tak pernah ia perbuat, dan menerima hidup yang dipaksakan kepadanya.
Di hadapan para tamu, Zafira berdiri sebagai pengantin yang sah.
Namun di dalam dirinya, sesuatu telah patah tepat di saat ikrar itu diucapkan.
Atharv melepaskan tangannya segera setelah prosesi usai, seolah sentuhan itu terlalu lama untuk ditoleransi. Ia berjalan sedikit lebih dulu, meninggalkan Zafira yang masih berdiri di pelaminan dengan langkah ragu.
Tepuk tangan kembali terdengar, kamera-kamera menyorot, namun semua terasa jauh—seperti sedang menyaksikan kehidupan orang lain dari balik kaca tebal.
Zafira mengikuti di belakangnya, menundukkan kepala, menjaga senyum tipis yang diajarkan perias sejak pagi.
Setiap ucapan selamat terasa seperti duri kecil yang menusuk perlahan. Ia menjawab dengan anggukan dan kata terima kasih singkat, sementara dadanya semakin sesak menahan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.
Di sela-sela keramaian, Raisa Paramitha berdiri tak jauh dari mereka.
Gaun lembut yang ia kenakan membuatnya tampak anggun dan rapuh. Ketika mata Zafira tak sengaja bertemu dengannya, Raisa tersenyum tipis—senyum singkat yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat perut Zafira mual.
Ada sesuatu di sana, sesuatu yang terasa salah, tapi Zafira tak punya kekuatan untuk memikirkannya lebih jauh.
Atharv berhenti di sudut ruangan, menerima ucapan selamat dari rekan bisnis dan keluarga.
Ia tidak menoleh, tidak memastikan Zafira mengikutinya, seolah keberadaannya bukan lagi tanggung jawab emosional—hanya status yang sudah terikat. Namun entah mengapa, ketika jarak di antara mereka terlalu lama tak terisi, Atharv melirik sekilas.
Zafira berdiri sendirian.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Atharv mengeraskan rahangnya. Ia memalingkan wajahnya kembali, menolak perasaan ganjil yang berusaha menyusup perasaan yang tidak seharusnya ia miliki terhadap perempuan yang menurutnya telah menjebaknya ke dalam pernikahan ini.
Zafira akhirnya melangkah mendekat, berdiri di sisi Atharv dengan jarak yang sopan—terlalu sopan untuk sepasang pengantin baru. Ia mengikuti alur acara tanpa suara, tanpa protes, seperti bayangan yang ditempelkan di samping sosok pria itu.
Setiap kali tangan mereka bersentuhan secara tak sengaja, Zafira menegang, sementara Atharv langsung menarik tangannya kembali, seolah sentuhan itu keliru.
Seorang kerabat meminta mereka berfoto bersama. Atharv meletakkan tangannya di pinggang Zafira sekadarnya, dingin dan kaku. Zafira menatap kamera, senyumnya tetap terukir, namun matanya kosong.
Di balik kilatan lampu, ia merasa seperti sedang berpura-pura hidup di dalam peran yang dipaksakan orang lain kepadanya.
Sementara itu, di antara kerumunan tamu, Bapak Dharma Pranata mengamati mereka dengan ekspresi puas—seolah sebuah masalah besar telah selesai.
Tidak ada yang peduli pada jarak yang tercipta di antara kedua pengantin itu, karena bagi semua orang, status “sah” sudah lebih dari cukup.
Ketika sesi foto berakhir, Atharv menunduk sedikit ke arah Zafira.
“Kita pulang setelah acara ini,” katanya singkat, tanpa menatapnya. “Rumahku.”
Zafira mengangguk lagi. Kata itu "rumahku" terdengar asing dan dingin. Ia tahu, tempat yang akan ia datangi nanti bukanlah rumah dalam arti sebenarnya, melainkan sebuah ruang baru yang harus ia tempati tanpa pernah benar-benar ia miliki.