"Seiman, aku ingin seperti Mama yang cium tangan Papa di sepertiga malam sambil pakai mukena ... belajar ngaji selepas Isya dan berdiri berdampingan di Jabal Rahmah." - Zavia
Menjadi pasangan seorang Azkayra Zavia Qirany adalah impian seorang Renaga Anderson. Namun di sisi lain, sepasang mata yang selalu menatapnya penuh cinta justru menjadikan Renaga sebagai cita-cita, Giska Anamary.
Mampukah mereka merajut benang kusut itu? Hati mana yang harus berkorban? Dongeng siapa yang akan menjadi kenyataan? Giska yang terang-terangan atau Zavia yang mencintai dalam diam.
Follow ig : Desh_puspita
Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama konten penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Hingga Esok Hari
"Jangan menolak ya ... untuk kali ini, aku mohon egois sedikit saja demi aku, Zav. Terima kasih sudah menungguku. Tidurlah, my angel."
Hingga keesokan hari, kalimat manis yang sama sekali tak terduga itu masih terbayang jelas di benak Zavia. Renaga, benar-benar membuat pertahanan Zavia porak-poranda hingga sama sekali tidak bisa tidur. Jiwanya benar-benar lemah, apa yang dia tata sejak lama memang sudah hancur sejak kepulangan Renaga.
Lingkar hitam di matanya kian jelas, Mikhayla mendadak merasa bersalah lantaran terlalu keras pada permatanya. Padahal, sama sekali bukan itu sebab Zavia persis pasien kurang darah pagi ini.
Semata-mata hanya karena Renaga, sama sekali Mikhayla tidak menyadari jika putrinya sampai begitu karena laki-laki. Evan belum mengatakan apapun pada istrinya. Bukan karena ingin merahasiakan hal baik ini, tapi dia khawatir jika sudah sampai ke telinga Mikhayla, maka bisa dippastikan satu keluarga besar heboh nantinya.
"Zavia, kalau memang tidak kuat di rumah saja malam ini ... Mama khawatir kamu sakit lagi."
"Tidak, Ma, aku baik-baik saja."
Sungguh meragukan, sebagai seorang dokter dengan jam terbang cukup tinggi, Mikhayla bisa membedakan seseorang benar-benar fit atau tidak. Suara putrinya bahkan terdengar serak, sudah dipastikan dia memang tidak begitu sehat.
"Yakin?"
"Habis diapaian Renaga tadi malam?"
Suara Azkara benar-benar menjadi bencana jika sudah terdengar. Zavia mendelik tak suka kala adiknya ini bersuara. Tidak dia lihat bagaimana Evan yang sejak tadi memasang wajah datar seakan hendak menelan Zavia bulat-bulat, entah kenapa Azkara sama sekali tidak paham keadaan begitu.
"Apasih?"
"Aku cuma tanya, soalnya yang kemarin demam karena habis dipeluk ... nah ini habis diapain? Matanya sampai begitu, dilanjutin dalam khayalan ya?"
Azkara benar-benar cari perkara, mata Mikhayla membola bahkan kini bingung harus mengucapkan apa. Suasana di meja makan mulai sedikit memanas, perdebatan kedua buah hatinya sedikit mengusik pagi yang cerah ini.
"Aku bisa cek cctv loh, Kak."
"Terserah," pungkas Zavia kembali menikmati roti tawar dengan selai kacang yang mendadak pahit akibat kehadiran adiknya.
"Yee dibilangin, ngaku aja kenapa sih? Lagian sudah dewasa, Mama juga tidak mungkin marah."
"Enyenyenye ... diam!!"
"Uuuu Zavia mulai, kawinin aja, Ma," bisik Azkara hingga membuat Zavia menarik rambutnya hingga pemuda itu mendongak, Azkara tahu segalanya dan dia tengah mengintimidasi sang kakak saat ini.
Keduanya belum juga sadar diri, hingga salah satunya mengalah kala menyadari tatapan datar Keyvan yang mengawasi mereka begitu teliti. Tidak hanya kedua buah hatinya yang takut, Mikhayla juga demikian.
"Ehm, Sayang kenapa? Apa mau aku buatkan sarapan yang lain?"
Menatap sang suami yang hingga saat ini masih memegang roti tawarnya, Mikhayla bingung sendiri. Evan tidak pernah semurung ini, entah apa yang terjadi setelah pulang dari kediaman Justin mendadak jadi pendiam begini.
"Tidak, Sayang ... tanah di samping apa masih dijual?"
Bak petir di siang bolong, pertanyaan Keyvan jelas membuat Mikhayla mengerutkan dahi. Tiada angin tiada hujan, dia justru membahas tanah kosong di sebelah kediaman mereka.
"Sepertinya masih, kenapa memangnya?"
"Bukan apa-apa, aku tanya saja," ucapnya kemudian tersenyum getir menatap Zavia yang menguap beberapa kali di hadapannya.
Evan begitu menyayangi Zavia, tadi malam hatinya dibuat bergetar dengan keberanian pria tampan yang meminta Zavia baik-baik. Anehnya, meski Renaga meminta baik-baik, hati Keyvan mendadak sakit.
"Papa aneh banget, buat apa beli tanah lagi? Mau berkebun? Tomat lumayan tuh," usul Azkara memecah keheningan, Mikhayla yang sedang berpikir serius mendadak buyar akibat ucapan putranya.
"Ya buat apa saja, Azka. Siapa tahu nanti kalian menikah, jadi kita tidak perlu jauh-jauh."
Apa ini? Ucapan keyvan benar-benar menimbulkan tanya hingga Azkara justru berprasangka sedemikian buruk padanya. Dia curiga tentu saja, khawatir jika Keyvan memiliki rencana yang tidak-tidak untuknya.
"Papa kenapa tiba-tiba? Jangan bilang papa mau jodohin aku sama anaknya pak Broto ya, Azka tidak akan pernah mau," tolak Azka mentah-mentah, belajar dari pengalaman orang di sekitarnya, Azkara tidak mau menjalani takdir sekonyol itu.
"Ngaco, siapa yang mau menjodohknmu, Azka." Putranya terlalu percaya diri, perkara Zavia saja belum selesai mana mungkin dia punya waktu menyiapkan jodoh untuk pembangkang seperti Azkara.
"Terus untuk apa?"
"Kakakmu, Papa tidak punya cita-cita dia tinggal di rumah Justin setelah menikah."
"HAH?!"
Setelah sebelumnya Azkara yang sibuk sendiri, kali ini jsutru berbeda. Mikhayla membeliak, dia tersedak hingga Azka merelakan air minumnya untuk menyelamatkan Mikhayla.
Tidak hanya Mikhayla, meski sdah menebak-nebak sejak awal Zavia masih sama kagetnya hingga dia tidak bisa bicara sepatah kata sekalipun. Bagaimana papanya pagi ini membuktikan jika Renaga tidak membual tadi malam, dia benar-benar melamar Zavia di hadapan keyvan.
"Om Justin? Tunggu, ini maksudnya gimana? Kenapa om Justin? Kak What's wrong with you? Otakmu dimana sampai berniat jadi ibu tiri kak Aga?"
Zavia hanya memutar bola matanya malas, dia merasa sudah sedikit bodoh, akan tetapi melihat Azkara yang begini dalam keadaan panik Zavia merasa sedikit lebih unggul.
"Azka kamu sebaiknya mandi dulu sana, mulutmu bau."
Zavia bergegas meninggalkan Mikhayla yang masih tenggelam dalam kebingungannya. Tidak ingin diserbu banyak pertanyaan yang dirinya sendiri tidak punya jawaban, Zavia pergi lebih dulu pagi dulu.
"Sudah sejauh ini ternyata, tapi bagaimana dengan_ aku mohon egois sedikit saja demi aku, Zav."
Lagi, Zavia seakan terjebak di antara Giska dan Renaga. Bertahun-tahun dia mengutamakan perasaan Giska, dan hal itu justru membuat Renaga merasa tidak adil dan dia menuntut Zavia harus bersikap sama seperti pada Giska.
.
.
- To be Continue -