Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Di Kembalikan Baik-Baik
Di tempat duduknya, Pandji pun bereaksi yang sama seperti kedua mertua kakak sepupunya itu, kaget, dan tak mampu berkata-kata. Mereka serentak menoleh pada Soraya yang menunduk semakin dalam dan diam seribu bahasa di tempat duduknya.
"Nak Harry, apa kamu tahu arti perkataanmu barusan? " Rizal akhirnya berucap, setelah sekian lama mencerna ucapan dari menantunya.
"Tidak mengakui bayi yang dikandung oleh Soraya adalah darah dagingmu, itu sama halnya menuduh putri Bapak telah bers3lingkuh, begitu?" Pria paruh baya itu mulai terpancing emosi, sebagai ayah ia tidak terima bila putrinya dituduh.
"Padahal sampai detik ini dia masih isterimu!" suara Rizal seketika meninggi, di luar kendalinya.
"Nak Harry, Ibu mohon... Jangan bicara seperti tadi, itu tidak baik, Nak," Irma ikut angkat bicara, suaranya bergetar, isaknya lolos begitu saja, di sisi kanannya Soraya juga mulai terisak pelan.
"Ka-lian bo-leh bertengkar, Nak... " Irma kembali berucap dengan suranya yang terbata.
"Cekcok dalam rumah tangga itu biasa, tapi jangan sampai tidak mengakui anak sendiri," Irma kembali terisak di ujung ucapannya.
Di tempat duduknya, Pandji melirik Harry di sebelahnya. Di dalam hati ia berdoa supaya kakak sepupunya itu mampu menjelaskan secara gamblang statement yang telah terlontar itu, ia kenal kakak sepupunya, tidak mungkin asal berucap.
"Sudah hampir enam bulan saya dan Raya tidak seranjang," Harry menjeda ucapannya, menata hatinya yang porak poranda sejak mendengar kabar kehamilan isterinya di klinik tadi. "Kami memang sekamar, tapi Raya selalu memaksa saya tidur di lantai."
"Raya, apa itu benar?" Rizal memandang putrinya dengan tatapan tajam.
"Itu tidak benar, Pak. Mas Harry hanya mau mencari-cari kesalahanku saja... " sangkal Soraya dengan kepalanya masih tertunduk dalam isaknya.
Rizal beralih pada Harry, rautnya suram. "Kamu dengar sendiri kan, Nak Harry?"
Harry menggeleng pelan. Pengkhianatan Soraya saja telah membuat hatinya terluka, sekarang ditambah sikap keluarga mertuanya yang malah lebih mempercayai putri mereka tanpa mempertimbangkan apa yang telah ia sampaikan.
"Tadinya, saya berharap apa yang kita obrolkan malam ini mendapat titik temu dan berakhir baik, Pak... Tapi sekarang sudah tidak lagi," Harry balas menatap datar pada ayah mertuanya yang masih mempertahankan raut suramnya.
"Seperti pesan Bapak di awal kami menikah dulu, jika saya sudah tidak sanggup lagi, kembalikan Soraya pada keluarganya dengan baik-baik, jangan sampai memukul. Jadi malam ini saya kembalikan Soraya pada Bapak sebagai ayahnya, dengan baik-baik, dan tidak pernah satu kali pun saya ringan tangan memukulnya. Dan dalam waktu dekat, saya akan melayangkan gugatan cerai di pengadilan," finalnya.
Mata Rizal membelalak, begitu pula dengan isterinya. DI sisi kanan mereka, Soraya yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat wajah dan menatap suaminya sembari menggelengkan kepalanya.
"Mas, aku tidak mau, Mas!" tangis Soraya semakin keras, menjatuhkan dirinya dan bersimpuh di kaki Harry, namun Harry langsung menghindar dan bangkit menjauh.
"Bapak memang pernah bilang begitu, tapi tidak begini caranya, Nak Harry, disaat Soraya tengah mengandung anak kalian," Rizal ikut berdiri melihat Harry berlaku demikian.
"Sekali lagi saya tegaskan, Pak. Bayi dalam kandungan Soraya bukanlah darah daging saya. Begitu gajian akhir bulan ini, saya akan bawa Soraya untuk test DNA, demi memastikan bila saya bukan ayah dari bayinya."
Rizal menatap Harry lekat, menemukan kesungguhan di wajah menantunya itu akan ucapannya. Mendadak ada setitik penyesalan kenapa ia gegabah membela putrinya hanya untuk membela harga diri keluarganya.
Andai dirinya lebih bijak tadinya, menantunya tidak akan berindak nekat seperti ini, batinnya.
"Nak Harry," intonasi tinggi Rizal langsung berubah rendah dan melembut.
"Bapak minta maaf... Bapak bersikap seperti tadi karena terlalu terbawa perasaan," pelannya. "Ayah mana yang tidak menyayangi anaknya, dan ingin putrinya bahagia dengan mendapatkan seorang laki-laki baik seperti kamu?"
Harry menelan salivanya, sesak hatinya atas pengkhianatan isterinya belum juga mereda walau ayah mertuanya sudah lebih melunak.
"Saya bisa mengerti dan bisa memaklumi apa yang Bapak lakukan... karena saya juga seorang ayah. Tapi saya tetap tidak bisa memaafkan pengkhianatan yang Soraya lakukan atas pernikahan kami, Pak," tegasnya dengan raut kecewa.
"Banyak hal yang berusaha saya maklumi pada diri Soraya, seperti suka kabur dari rumah, pulang ke rumah Bapak dan Ibuk. Dan saya berbesar hati menjemputnya pulang ke rumah kami lagi setelah beberapa hari...."
Rizal dan Irma terdiam, karena perkataan menantu mereka itu benar adanya.
Sudah tidak terhitung lagi jumlahnya bila putri mereka sering kali melakukan hal itu. Walau sering dinasehati untuk pulang dan jangan mengulanginya lagi, tapi itu tetap saja terulang hingga sekarang.
"Soraya yang menyerahkan tanggung jawab mengasuh dan merawat Adri dan Naomi pada Melitha juga saya maklumi karena dirinya beralasan mengidap baby blues syndrom, diajak ke dokter untuk berkonsultasi dia tak pernah mau dengan berbagai alasan."
Mendengar fakta kedua itu Rizal dan Irma semakin tak mampu berucap. Dengan mata dan kepala mereka sendiri menyaksikan Harry dan Melitha lah yang selalu bergantian memandikan, mengganti popok, mengganti pakain, menyuapi mulai Adri dan Naomi masih bayi.
Bahkan mereka pernah kesal saat melihat Soraya menolak menyusui dua cucu mereka ketika baru lahir dengan alasan geli dan lecet pada pucuk dadanya.
"Supaya tidak bertengkar, saya membuat sarapan dan makan malam sendiri. Bahkan pakaian saya dan anak-anak, saya juga yang mencuci dan menyeterikanya. Karena kasihan, Melitha juga yang sering mengambil alih."
Rizal dan Irma benar-benar bungkam, tak satupun fakta yang disebutkan Harry itu bisa mereka sanggah.
Sejak kecil, Soraya memang tidak suka melakukan pekerjaan rumah tangga, dan itu terbawa sampai dirinya menikah. Semua pekerjaan dapur termasuk cuci mencuci Irma lah yang selalu melakukannya seorang diri walau Soraya ada di rumah mereka.
"Namun saya tidak bisa memaklumi saat harga diri saya sebagai seorang suami dan seorang laki-laki diinjak-injak oleh seorang isteri yang berani bermain api dengan laki-laki lain. Saya tidak akan pernah bisa terima, dan tidak akan pernah bisa memaafkan!"
Soraya yang menangis seketika terdiam, tak berani melihat tatapan Harry yang ditujukan padanya dengan sorot amarah dan penuh kekecewaan.
"Raya, jujur pada Bapak, siapa laki-laki brengs3k itu?" Rizal menggeram pada putrinya, merasa sangat malu.
"Jangan tanyakan itu di depan saya, Pak," Harry langsung menyela.
"Saya tidak sudi mendengar namanya disebut. Setelah saya pergi dari sini, Bapak boleh bertanya apa saja yang Bapak mau ketahui tentang laki-laki itu."
Selesai berucap Harry beralih pada adik sepupunya. "Pandji, kita pulang sekarang. Kasian anak-anak sendirian di rumah bersama Melitha."
"Tunggu, nak Harry," Irma mendekati menantunya itu.
"Ibuk mohon, pertimbangkanlah masak-masak niatmu menceraikan Soraya. Bagaimana anak kalian nantinya bila kalian sampai berpisah?" cemasnya.
"Saya akan mengambil hak asuh Adri dan Naomi, Buk. Soraya tidak akan pernah mampu merawat dan membesarkan mereka. Semoga saja bayi yang akan di lahirkan Raya beberapa bulan kedepan beruntung, ibunya bisa berubah dan mau merawatnya."
Melihat Harry pergi bersama Pandji, Rizal segera menangkap tubuh isterinya yang hampir rebah.
"Pak, ini hanya mimpi, kan?" Irma menangis sejadi-jadinya, memegangi lengan suaminya yang menjadi tumpuan kekuatannya.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.