Adinda Aira tidak menduga jika kekasihnya yang bernama Frans Albar telah memiliki calon istri yang akan segera ia nikahi.
Kini Adinda hamil.
Demi menutupi Aib itu, Frans memaksa Ryan Alaska yaitu teman sekaligus rekan kerjanya agar menikahi Adinda Aira untuk sementara saja. Frans berjanji akan menikahi Adinda setelah setahun pernikahannya dengan sang istri, Nia Devira.
Ryan terpaksa menerimanya karena hidupnya pada saat itu begitu bergantung kepada Frans dan sedang mengalami konflik besar dengan keluarganya.
Lantas apakah yang terjadi? Jika mereka ternyata sudah terjerat oleh rasa cinta yang dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Ryan, Sang Dewa Penolong
Gambar hanya sebuah Ilustrasi, by pinterest.
Akhirnya Ryan Alaska atau Tan Woong, si pangeran yang terbuang itu tiba tepat waktu di sebuah garasi rumah rahasia milik Aditama Lukman.
Pagi itu ia terlihat terburu-buru sehingga lupa mengenakan jaket motornya. Tidak ada warna lain Khas hitam putih dari barang-barang yang Ryan kenakan adalah warna kesukaan yang tanpa sengaja melambangkan jika dirinya adalah pernah menjadi pimpinan mantan kopasus mafia Lim Woong yang tersembunyi.
Ryan Alaska mulai memainkan drama nya sebagai tokoh kedua yang dipilih oleh Frans Albar untuk membantu misi pencucian masalah itu.
"Dreeeeeeeeeeeeeen....dreeeeeeeen......dreeeeeeeeeen" suara keras jeritan moge Ryan yang cukup melengking sebagai yel-yel menantang. Suara yang sengaja ia deru kan sebagai sapaan manis untuk mereka yang sedang berada di dalam.
Pemuda itu tidak pernah takut menghadapi seberapa hebat lawannya, sebuah mental keras yang sudah ditanamkan oleh Lim Woong, sejak ia masih berusia 15 tahun. Didikan Lim yang super gila, tidak hanya menguji Ryan untuk bertarung dengan manusia namun juga mengujinya dengan binatang, seperti singa, harimau, banteng (Sebuah uji coba yang tidak bisa dilakukan sembarangan, butuh pengawasan ketat dan peralatan canggih) Hal itu, Lim lakukan agar Ryan memiliki ukuran mental keberanian di atas rata-rata manusia normal. Berkelahi juga sudah menjadi hobi buruk Ryan sejak remaja.
Sontak semua yang mendengar di dalam ruangan itu merasa terkejut, Aditama menyuruh para Bodyguardnya untuk sejenak menunda aksi pembunuhan sadis itu, mereka berpikir ada polisi yang datang.
Setelah Ryan membuka helmnya, ia pun berjalan cepat memasuki ruangan eksekusi itu.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya!" sapa imut Ryan melangkah santai saat memasuki sidang yang cukup menegangkan, seperti tidak ada masalah disana, sontak semua mata tertuju kepada pria itu. Penampilan Ryan yang santai menunjukkan bahwa ia tidak lagi bagian dari Bodyguard keluarga Frans.
Nia Devira cukup terkejut dan tidak menduga jika Ryan akan datang, Frans terlihat bernafas lega karena akhirnya Ryan datang menyelamatkan Adinda sebagai skenario yang sudah dia atur.
"Inilah alasannya mengapa aku harus memilih Ryan, karena hanya dia lah, satu-satunya manusia yang bisa membantuku dari masalah sulit ini!" gumam bahagia Frans tersenyum tipis.
Ryan langsung menuju ke arah Adinda, ia melihat wajah wanita itu sangat pucat seperti kertas putih yang polos, di dahi Adinda penuh titik keringat juga airmata yang membasahi kedua pipinya.
Ryan dalam drama manis bak pangeran kuda yang datang menyelamatkan sang putri, langsung merangkul kecil Adinda, melepaskan ikatan wanita itu tanpa rasa takut sedikitpun sebagai penyebab masalah, reflek semua Bodyguard disana mulai hendak menyerang Ryan, termasuk teman-teman seperjuangannya dulu ketika saat menjadi Bodyguard. Kerja seorang Bodyguard itu layaknya sebuah sistem remote control, namun Aditama dengan cepat menaikkan sebelah tangannya, memberi kode aba-aba kepada para Bodyguard, untuk tidak menyerang Ryan dan mengaktifkan kembali cctv di ruangan itu.
Adinda menangis tertahan dengan nafas yang lepas terlihat ia terengah-engah tepat di hadapan dada Ryan, seakan-akan nafas wanita itu sedang di gantung menuju kematian.
"Ternyata kau disini sayang, aku mencari mu sejak pagi!" ucap senyum Ryan memegang lembut pipi Adinda, ia mulai memainkan sandiwara drama kepalsuan antara hubungan asmaranya dengan wanita malang itu.
Rasa ketakutan Adinda reflek memeluk Ryan dalam tangis yang pecah.
"Cup..cup...cup tenang yah, jangan nangis dan takut, kemarin berani kan berbuat di atas ranjang, sekarang juga harus berani!" bisik manja Ryan kepada Adinda, namun dibalik suaranya yang halus namun tetap saja Ryan menyalahkan wanita itu.
Adinda si wanita super girl, sebelum bertemu Ryan tidak pernah melihat adegan pistol mematikan ataupun sangat lugu dengan kekejaman permainan para mafia konglomerat yang tidak punya belas kasih sayang, demi kedudukan harta dan tahta. Mereka akan menebas siapa saja yang menjadi penghalang ataupun perusak dari reputasi nama mereka di dunia sosial.
"Jadi dia benar kekasih mu?" tanya Deny Sulaiman tampak terheran-heran menatap Ryan dengan tatapan cukup serius.
"Hehehe, Jadi begini om, wanita ini bernama Adinda Aira dia juga pernah menjadi mantan kekasih Frans. Sebenarnya kami sudah mengenal cukup lama sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih. Tidak sengaja, kami berdua sama-sama khilaf dan nyaman sehingga akhirnya terjadilah hal-hal yang diinginkan itu!" ucap santai Ryan dengan gaya tengilnya bicara sangat baik tanpa gugup bahkan tersenyum cengengesan.
Deny dan yang lainnya terdiam, suasana berubah menjadi lebih baik.
Mendengar penjelasan Ryan, Aditama sontak tersenyum bahagia, sambil berkata dalam hatinya;
"Wah...wah...wah...Ini benar-benar berita happy, bagaimana reaksi Lim yang sombong itu jika ia tau, ternyata sekarang keponakan yang dulu ia banggakan itu benar-benar sudah kehilangan arah, aku tidak sabar melihat wajahnya ditampar dengan berita ini!"
Meskipun pernah bekerjasama dengan Lim Woong, Aditama tidak menyukai kesombongan dan keegoisan Paman Ryan itu.
"Kekasih saya ini, bekerja sebagai sekertaris Frans, jadi tentu orang-orang berpikir kehamilannya dihubungkan kembali dengan Frans," ucap Ryan tersenyum tipis.
Adinda terbengong-bengong menatap akting hebat Ryan yang mampu meyakinkan orang-orang penting disana.
"Apa benar yang dikatakan Ryan?" tanya Deny sekali lagi menatap tajam kearah Adinda.
Mau tidak mau, Adinda akhirnya mengangguk saja, kemudian kembali menunduk dalam perasaan hancur dan kecewa.
"Artinya kau akan menikahi wanita ini!" tanya Deny lagi kepada Ryan merasa tidak percaya, keponakan hebat Lim itu ternyata akan menikahi wanita biasa seperti jejak Ayahnya dulu.
"Tentu Om, sebagai pria sejati, Ryan akan bertanggung jawab, karena Lelaki yang sudah menodai kekasihnya sendiri lalu lari dari tanggung jawab, sungguh ia begitu hina, ia juga adalah lelaki yang tidak pantas di panggil seorang lelaki, Ryan tidak mau seperti itu," jawab Ryan menyindir Frans.
Meski Frans merasa tersinggung dan cukup sebel dengan ucapan tajam Ryan namun semua itu termaafkan karena aksi heroik Ryan sudah menolong dirinya dan Adinda.
Mendengar perkataan Ryan, Deny pun mengangguk tersenyum lega masalah anaknya akhirnya selesai.
"Prok...Prok...Prok...👏👏👏!" dengan iringan tepuk tangan, Aditama bangkit dari duduknya terus berjalan menuju Ryan Alaska langsung memeluk kecil pemuda itu sambil berkata,
"Hebat kamu!"
Ryan hanya tersenyum tipis pujian itu bercampur aduk dengan sebuah hinaan, ia juga sudah mengenal karakter Aditama Lukman.
"Om, minta maaf, hampir saja membunuh calon istri dan anakmu jika kau tidak datang tepat waktu dan sebagai permintaan maaf kami, kami akan membuat pesta pernikahan kalian dengan pesta yang sangat mewah atau spektakuler!" jawab Aditama dengan tujuan akan semakin mempermalukan Lim Woong.
Ryan hanya diam dalam senyumannya.
"Kau bisa juga bekerja di X-Tren group Atau di Aditama Group, om juga punya banyak saham yang lainnya, jadi kamu bebas tinggal pilih yang mana, kami akan memberikan kamu jabatan terbaik, sebenarnya tawaran ini sudah lama Om ingin sampaikan, namun kita belum punya kesempatan untuk bertemu langsung, Om juga sempat mengenal Ayahmu, ia pria pekerja keras dan cukup hebat di dunia bisnis ," ucapan manis Aditama tetap saja berbau bangkai di pikiran Ryan.
"Terima kasih om, Ryan lebih memilih ingin membesarkan GMC!"
"Wah, bagus kalau begitu, om tunggu sepak terjangmu!" menepuk kecil pundak Ryan.
"Frans juga akan membantu Ryan!" sambut Deny.
Suasana tegang itu kini kembali tenang di hati dan pikiran Adinda, wanita polos itu hanya bisa menunduk dan berlindung di balik tubuh kekar Ryan.