Arumi gadis cantik tomboy dan baik hati bertemu dengan pria songong dan sok tampan, pertemuan itu meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi sang pria tampan, dia menyimpan dendam yang membara terhadap gadis itu.
Dunia memang sempit, sang pria tampan menjadi guru olahraga di sekolah Arumi, di sana mereka pun saling melampiaskan dendam masing-masing.
Lama kelamaan rasa dendam dan benci berubah menjadi cinta, bagaimana keseruan kisah cinta mereka.
Yuk capcus langsung baca karyaku ya...🙏🙏
jangan lupa tinggalkan jejak rate, like dan komentar 🙏🙏🙏
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tian berusaha menyimpan rasa bersalah yang ada di hatinya, dia berusaha mengalihkan pandangannya pada yang lain.
Dia berpura-pura tidak mendengar pembicaraan Ridho dan Arumi.
"Oh, ya udah kalau begitu, saya ke kelas dulu, ya," ujar Arumi pamit pada sang guru.
"Ya, silakan," ujar Ridho.
Arumi pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kedua guru single yang mempesona mata seluruh kaum hawa yang ada di SMA Cendikia.
"Gadis yang baik hati, dia memang sempurna," gumam Ridho.
Tian menoleh ke arah sahabatnya itu, saat mendengar ucapan sang sahabat.
"Lu naksir gadis itu?" tanya Tian pada sang sahabat.
"Entahlah, yang pasti gue kagum pada pribadinya. Dia putri pengusaha terkenal di ibu kota, jiwanya yang ramah dan tidak pandang bulu. Dia berteman dengan siapa saja, dia juga pemurah dan selalu membantu temannya yang membutuhkan bantuan," ujar Ridho mengungkap kekaguman yang ada di hatinya.
"Wah, jangan-jangan Lu beneran suka sama bocah tengil itu," ujar Tian mengejek sang sahabat.
"Bocah tengil?" Ridho menautkan kedua alisnya.
"Eh, i-itu, siapa namanya ta-tadi," ujar Tian gugup.
Tian tidak mau Ridho mencurigai apa yang telah terjadi di antara dirinya dengan siswi tengil yang menyebalkan baginya.
"Arumi," sahut Ridho.
"Iya, Arumi." Ridho tersenyum menutupi kegugupannya.
Teeeetth.
Bel masuk kelas pun berbunyi.
"Sudah bel, yuk masuk kelas," ajak Ridho pada sang sahabat.
Kedua guru single nan topan itu berdiri dan melangkah menuju kelas yang akan diajarkannya.
Mereka pun mulai melaksanakan tugas masing-masing hingga waktu belajar pun usai.
Hari ini pada pukul 13.30, Tian dan Ridho memiliki jadwal belajar tambahan untuk mempersiapkan kompetisi yang akan diadakan dua minggu lagi.
Sebelum mereka melaksanakan kewajiban mereka untuk membimbing para siswa, dua guru tampan itu menikmati santap makan siang di kantin begitu juga dengan Arumi dan Laras.
Di saat Arumi dan Laras menatap ke arah Arumi yang sedang asyik menikmati makanannya sambil bersenda gurau dengan sang sahabat.
"Gadis tengil itu cantik juga, terpancar dengan jelas pesona dari dalam dirinya. Dia memang gadis yang baik, aku sudah bersalah membuatnya sakit," gumam Tian di dalam hati.
Ridho menyadari arah tatapan sang sahabat, dia pun mengikuti pandangan Tian tertuju pada siapa.
"Hei, Bro," ujar Ridho sambil menjentikkan jarinya di depan wajah sahabatnya.
"Eh, kenapa?" tanya Tian.
"Lu ngeliatin siapa? Arumi atau Laras?" tanya Ridho mencurigai sang sahabat.
"Laras itu juga baik, mereka berdua sama-sama pintar. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP. Tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan persahabatan mereka," ujar Ridho memberitahukan kedekatan dua siswi teladan di SMA Cendikia.
"Lu suka sama Laras?" tanya Ridho menuduh Tian.
"Ah, Lu apaan, sih?" ketus Tian.
"Kalau dilihat dari penampilan, dan sifat gadis itu. Dia termasuk dalam kriteria calon pendamping buat lu," ujar Ridho menggoda sang sahabat.
"Enggak, ah. Masa iya cari calon itu murid sendiri, seharusnya rekan kerja," ujar Tian asal menepis ucapan Ridho.
"Oh, begitu. Ya sudah. Guru-guru di sini juga banyak yang single," ujar Ridho lagi.
"Dih, udah, deh. Jangan bahas cewek lagi," ujar Tian berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ridho tersenyum melihat ekspresi sahabatnya, wajah Tian yang memerah menahan malu membuat Ridho yakin ada sesuatu di antara dirinya dan Laras.
Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka. Usai makan, Ridho beralih ke laboratorium bersama Laras dan Arumi. Mereka belajar berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu Sains sementara itu Tian pun sudah berada di lapangan untuk melatih tim basket.
Mereka sangat asyik berlatih hingga mereka tak menyadari jam di dinding laboratorium sudah menunjuk ke angka lima.
"Sudah pukul 5 sore, mungkin hari ini cukup sampai di sini pelajaran kita, hari Sabtu kita lanjutkan lagi," ujar Ridho menutup pembelajaran mereka.
"Baik, Pak," sahut Arumi dan Laras.
Mereka pun mulai merapikan buku-buku mereka yang berserakan di atas meja.
Setelah itu mereka menyimpannya ke dalam tas. Mereka berdiri dan melangkah keluar dari laboratorium.
"Terima kasih untuk hari ini," ujar Ridho pada kedua siswinya.
"Sama-sama, Pak." Arumi dan Laras pun berpamitan pada Ridho lalu mereka melangkah meninggalkan laboratorium.
Saat Arumi dan Laras melewati lapangan basket Arumi melihat Tian sedang mempraktekkan tripoin pada tim basket asuhannya.
"Wow keren," lirih Arumi saat Tian dapat memasukkan bola ke dalam keranjang pada jarak 3 poin.
Laras menoleh ke arah sang sahabat. Dia heran dengan sikap Arumi yang memuji orang yang paling dibencinya.
"Lu serius puji dia?" tanya Laras heran.
"Hah, dikit. Enggak masalah, kan," ujar Arumi cuek.
Laras tersenyum mendengar jawaban dari sang sahabat.
"Yakin? Entar naksir baru tahu rasa, Lu," ujar Laras mengejek sahabatnya.
"Hush, jangan ngomong yang aneh-aneh, deh. Cuma orang gila yang bisa jatuh cinta pada pria sombong dan angkuh itu, selain itu dia merupakan cowok yang tidak punya hati," ujar Arumi mengumpat Tian.
Dia tidak pernah melihat Tian berbuat baik, di matanya Tian adalah pria yang jahat.
"Terserah lu, deh. Nanti kalau lu naksir dia berarti lu sendiri orang gilanya," ujar Laras mewanti-wanti.
"Gue mah ogah naksir dia," bantah Arumi tidak suka mendengar ucapan sang sahabat.
Mereka sampai di parkiran sepeda motor, Arumi pun menaiki sepeda motor miliknya diikuti oleh Laras yang naik berbonceng di sepeda motor milik sahabatnya.
Sebelum benar-benar meninggalkan sekolah, Arumi memastikan sepeda motor Tian masih kempes.
"Mampus, Lu. Gue tidak akan pernah maafin lu," rutuk Arumi di dalam hati.
Arumi melajukan sepeda motornya meninggalkan kawasan sekolah dengan hati yang senang. Dia sudah membayangkan Tian mendorong sepeda motor bututnya keluar kawasan sekolah.
Tak berapa lama setelah kepergian Arumi, Tian menyelesaikan latihannya pada hari ini.
Dia membubarkan tim basket, lalu dia melangkah menuju parkiran bersama dengan anak didiknya.
Sesampai di parkiran, Tian kaget melihat ban sepeda motornya sudah kempes bagian depan dan belakang.
"Ya ampun, ada apa dengan sepeda motor gue," gumam Tian sambil menendang kesal pada ban sepeda motornya.
"Ada apa, Pak?" tanya Aldo menghampiri Tian yang terlihat kesal.
"Eh, Aldo. Ini sepeda motor bapak," jawab Tian.
"Lho, kok bisa dua duanya kempes, Pak? Sepertinya ini ada yang mengerjai bapak," ujar Ridho menyampaikan pendapatnya.
"Hah, siapa juga yang akan mengerjai bapak?" tanya Tian heran.
"Aku juga tidak tahu, Pak," jawab Aldo sambil mengangkat bahunya.
"Ya ampun, jangan-jangan bocah tengil itu yang mengerjai sepeda motor gue," gumam Tian di dalam hati.
Bersambung...
ijin mampir baca ya'!