Semuanya nampak baik-baik saja, dia ceria , bahagia , ramah , kuat dan tegar! Tetapi itu hanya cover nya saja, dan yang kenyataannya adalah?
Dia rapuh, cengeng dan juga sakit!
Dan semua nya berubah ketika dia sembuh dari sakit yang membuat mental nya terganggu.
Dia bukan lagi wanita ramah dan ceria, melainkan wanita cuek dengan wajah datar dan segudang frestasi dan kekayaan!
*
Zahra Khoerunisa, memilih untuk pergi dan meninggalkan cinta pertama nya daripada bertahan dengan sakit yang teramat sakit.
-Di ambil dari kisah nyata-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
-Mall
Saat Zahra , Bunda dan Citra sampai di Mall, mereka langsung menuju ke stand yang menjual pakaian.
Bunda sengaja mengajak kedua nya untuk menikmati weekend dengan berbelanja sepuas nya.
"Ayo Kak, kita akan belanja apa saja" ucap Citra dengan semangat.
Bunda hanya duduk di sofa, ia membiarkan kedua nya untuk memilih apapun.
Berbeda dengan Zahra, ia hanya mengambil apa yang ia sukai saja.
"Maaf Nyonya, ini minuman anda" ucap pelayan toko dengan sopan.
"Ingat, jangan ada yang berani buka mulut tentang wanita itu atau toko mu ini akan habis" ancam Bunda dengan tegas.
Glek.
"Ba baik Nyonya" patuh pelayan tersebut.
Bunda memang sengaja memboxing toko itu agar Zahra bisa leluasa, disana terdapat banyak macam pakaian dalam, pakaian formal, biasa dan santai.
Citra dan Zahra terus saja memilih pakaian, mereka juga memilihkan untuk Bunda dan Ray.
"Cit, ini cocok tidak untuk Kakak mu?" tanya Zahra dengan malu.
Citra langsung mengalihkan pandangannya, ia tersenyum dengan pilihan Zahra.
"Ini cocok, model sederhana namun sangat elegant nan mewah" jawab Citra dengan mengacungkan ibu jari nya pada Zahra.
Zahra tersenyum, lalu ia memilih beberapa lagi untuk Ray.
"Ah ini pasti akan lucu, secara Ray kan selalu memakai putih dan hitam saja" batin Zahra sambil memilih kemeja dan jas warna yang cocok untuk Raymond.
Setelah puas di pakaian, Zahra dan Citra pindah ke sepatu dan sandal.
Sedangkan belanjaannya akan di total oleh pelayan dan Zahra memberikan kartu dari Raymond.
Zahra langsung menuju ke etalase dimana disana terpampang jelas deretan sandal santai, formal dan berbagai sepatu pria.
"Hmm ini pasti akan cocok dengan Ray" gumam Ray mengambil sandal santai.
Lalu ia juga memilih sepatu untuk Ray dan Irwan, ia tersenyum kecil saat memilih sepatu untuk Ray.
"Kak, ayo pilih untuk Kakak juga" ucap Citra dengan terkekeh.
"Hehe, iya ini juga mau" balas Zahra tersenyum kecil.
Zahra hanya memilih sepatu kerja untuk nya dan juga sandal untuk ke pesta, tak lupa juga ia memilih untuk sang Bunda.
Hampir 3 jam mereka berbelanja disana dan mereka baru menyelesaikannya saat akan jam makan siang.
Bunda membawa ke dua nya ke lantai atas toko tersebut, yang memang disana juga ada Restoran.
"Senang?" tanya Bunda dengan tertawa kecil melihat kedua nya yang meneguk jus hingga tandas.
"Senang sekali Bun, apalagi ini gratis" jawab Citra dengan tertawa renyah.
"Dan nanti yang akan menerima hukuman ini pasti Kak Zahra, Kak Ray pasti akan merengek untuk ditemani lah, di bantu ataupun apapun itu" ucap nya lagi dengan tertawa lepas.
Zahra hanya bisa pasrah, ia juga sudah mendapatkan pesan chat dari Ray karena berbelanja hari ini.
"Sebelum kita pulang, Kakak mu sudah mengirim chat yang berisi penyiksaan, huaaaa" keluh Zahra dengan pura-pura nangis.
"Ya ampun" ucap Bunda dan Citra, lalu mereka berdua tertawa lepas melihat wajah loyo Zahra.
Ish.
Zahra mencebik melihat Bunda dan Citra yang menertawakan nasib nya.
"Haha maaf, Zah. Memang nya apa pesan dari Ray?" tanya Bunda dengan masih saja tertawa kecil.
"Kau harus bertanggung jawab dengan menemani ku lembur, makan malam, membuatkan ku sarapan dan menyiapkan keperluanku untuk besok pergi ke perusahaan" jawab Zahra lemas.
"Tadinya aku akan langsung pulang dan istirahat dengan cantik disana, Bunda" ucapnya lagi dengan nada kesal.
"Haha, terima saja nasib mu, Kak" balas Citra dengan tertawa kecil.
Lalu mereka menghentikan obrolan nya dan mulai makan siang karena pesanan mereka sudah sampai.
Zahra menikmati makanan tersebut dengan lahap, entah karena kesal pada Ray atau memang sudah lapar.
Setelah puas menikmati makanan, mereka memutuskan untuk kembali ke mansion karena sudah akan sore.
Di dalam mobil, Zahra dan Citra menyenderkan kepala nya di pundak sang Bunda.
Mereka bahkan memejamkan mata nya yang cukup lelah.
Hingga tak berselang lama mereka benar-benar terlelap karena lelah.
"Kamu ini baik, sopan dan cantik, tapi kenapa dulu mertua dan suami mu membuang mu dengan tega nya" ucap Bunda
"Mereka rela membuangmu yang sudah seperti berlian, Nak" ucap nya lagi dengan mengusap lembut kepala Zahra.
Sopir tersebut hanya melirik Nyonya nya saja, ia juga membenarkan perkataan sang Nyonya.
"Nyonya benar, bahkan demi perhatian mereka Nona Zahra sampai rela berpura-pura gila" timpal sopir tersebut.
"Ya , aku bingung mereka entah mencari apa. Kalaupun keturunan, mesti nya mereka memberikan suport pada Zahra bukannya malah cuek" ucap Bunda sedikit emosi.
Sopir hanya diam, dia juga bingung pada keluarga mantan mertua calon Nona muda nya.
Tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi pun sudah sampai di depan mansion.
"Tolong panggil Irwan dan Ray" ucap Bunda pada sang Sopir.
"Baik Nyonya" patuh Sopir.
Lalu ia melangkah masuk ke dalam mansion, dan kebetulan sekali Tuan muda nya dan Irwan baru sampai di tangga terakhir.
"Tuan, di panggil Nyonya" ucap Sopir.
Ray langsung saja mengangguk, ia melangkah dengan cepat karena takut terjadi sesuatu.
"Ray, cepat gendong Zahra ia kelelahan setelah belanja dan kau Irwan gendong Putri ku" ucap Bunda dengan pelan.
"Ah baiklah, Bun" balas Ray.
Ray lalu menggendong Zahra dan membawa nya ke kamar ia pribadi.
Sedangkan Irwan langsung saja menuju ke kamar milik Citra.
Bunda menyuruh kepala pelayan untuk menyimpan belanjaan mereka di ruang keluarga saja.
Dan ia pun memilih untuk istirahat di kamar nya.
*
Ray, ia terus saja menatap wajah cantik Zahra yang sedang terlelap.
Dia enggan meninggalkan kamar nya , ia mengusap lembut pipi Zahra.
"Ah aku sudah tidak tahan untuk segera menikahi mu, sayang" gumam nya dengan tersenyum.
"Tetaplah bersamaku apapun yang terjadi" gumam nya kembali dengan terus saja mengusap lembut pipi Zahra.
Zahra menggeliat karena merasa terganggu, ia memiringkan tubuh nya dan memeluk guling yang ada disana.
"Istirahatlah yang nyenyak, sayang" ucap Ray lembut.
Ray lalu meninggalkan Zahra dan pergi kembali ke lantai bawah, ia akan makan siang terlebih dulu bersama Irwan sebelum mengerjakan pekerjaannya kemabali.
"Ayo makan dulu" ajak Ray pada Irwan yang memang menunggu di sofa yang ada di dekat tangga.
"Baik Tuan" balas Irwan.
Ia lalu mengikuti langkah sang Tuan menuju ke lantai bawah. Mereka langsung saja ke ruang makan untuk makan siang.
Ray makan dengan tenang, sesekali ia tersenyum kecil saat memikirkan Zahra yang saat ini sedang terlelap.
"*Seperti nya aku harus segera menikahi Zahra" batin Ray dengan yakin.
"Setelah Abang nya menikah, aku akan segera menikahi Zahra" tekad Ray dengan yakin*.
.
.
.
ini perkataan atau sekedar kalimat cerita
pasti yg mandul itu Wendy scra pamannya kn GK BS punya ank dengan Tante mila