"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Masuk Perangkap
"Bu... Kita hancur, uang yang ada sama Dara hilang semua." Ucap Agung dengan bahu merosot.
"Astaga... Kenapa semua jadi begini. Sudah kamu temui Dara sekarang. Dia pasti sedih setelah kamu bentak. Ingat Dara hamil anakmu. Jangan sampai kamu tidak bertanggung jawab karena uang itu hilang. Hibur Dara." Perintah Ibu Arumi.
"Kenapa Ibu hanya memikirkan bayinya saja, sedangkan uangku semuanya hilang." Ucap Agung mulai merasa kesal.
"Dua minggu lagi kamu jadi CEO, uang kamu diganti puluhan kali lipat dari yang hilang. Sedangkan anak itu, mau nunggu lagi dari Dira yang hamil? Mau sampai kapan kalau si tuli mandul." Ucap Ibu Arumi.
"Sudah sana, cari solusi lain. Yang penting jangan biarkan Dara stres, karena Ibu hamil tidak boleh stress nanti berakibat fatal."
"Hmmm... Kalau gitu aku ke rumah Dara dulu, tapi mau naik apa? Astaga kenapa jadi susah begini hidupku." Gerutu Agung.
"Telepon Dara dulu, apakah dia punya uang simpanan atau apa. Yang penting bisa buat bayar ojek dan beli makan kalian. Untuk yang lainnya, pikirkan nanti saja setelah kamu jadi CEO." Ucap Ibu Arumi membuat Agung kembali semangat meskipun tidak full.
Tut
Tut
Tut
"Halo Dara, kamu masih punya uang berapa? Atau perhiasan atau apa pun untuk hidup kita dua minggu."
Terdengar suara tangisan yang menyayat hati, bagaikan tokoh protagonis yang teraniaya oleh tokoh antagonis jahat.
"Mas... aku lapar, anakmu ingin makan." Ucap Dara terbata-bata.
"Ya makanya, aku mau datang. Tapi tidak ada kendaraan yang bisa aku pakai ke sana. Aku akan pesan ojek online, tapi nanti kamu bayari ya."
"Kenapa jadi aku yang harus bayar? Kamu itu laki-laki Mas Agung, apa tidak malu minta uang denganku." Marah Dara. Suara tangisan yang bagaikan orang teraniaya langsung berubah menjadi galak.
"Astaga Dara kenapa kamu perhitungan. Dua minggu lagi Dara... dua minggu lagi aku sudah CEO. Uangmu aku ganti sepuluh kali lipat." Teriak Agung terpancing emosi.
"Maaf... Jangan marah begitu Mas, aku takut." Cicit Dara bersandiwara.
"Ya sudah aku ke sana, tunggu di depan setengah jam lagi dan bayar ojek onlinenya." Ucap Agung lalu mematikan teleponnya.
"Bu... Aku berangkat dulu, jika Ibu sudah lapar masak aja yang ada di kulkas." Lanjutnya.
Setelah ditinggal sendirian, Ibu Arumi mendengus karena harus sarapan hanya dengan nasi dan oseng kangkung.
"Semua masalah terjadi gara-gara Arimbi, andai anak itu punya otak sedikit saja untuk berfikir. Tidak mungkin ambil uang segitu saja ketahuan, malah ngaku segala. Sialan... perhiasan limited editionku hilang." Umpat Ibu Arumi tidak terima.
Sementara itu, si bungsu Ambar yang pamit berangkat kuliah ternyata tidak pernah sampai kampus sudah dari beberapa bulan yang lalu.
Dia berada di...
"Om... uangku sudah habis, boleh tidak aku minta buat makan?" Tanya Ambar.
"Tentu saja, asal kamu bisa memuaskan aku nanti malam." Ucap seseorang yang duduk di tepi ranjang, sedangkan Ambar merapikan dasi sang pria yang dipanggil Om.
"Om... Tidak bisakah aku kembali kuliah?" Tanya Ambar berwajah melas.
"Masalahnya bukan uang Ambar, tapi kamu sudah di DO karena ketahuan mencuri lembar jawaban di meja Dosen." Ucap pria itu.
"Salah sendiri kenapa tugasku tidak diterima padahal hanya telat seminggu. Om kan punya kuasa yang begitu besar, setidaknya berikan aku kesempatan kedua supaya bisa lulus." Ucap Ambar dengan tatapan sendu.
"Tidak bisa, nanti aku malah yang kena. Sudahlah ngapain pusing kuliah jika tanpa itu kamu sudah dapat uang banyak dariku. Sekarang aku berangkat kerja dulu, kamu diam saja di sini. Tapi ingat, jangan keluar Apartemen. Jangan buka pintu jika ada yang membunyikan bel, karena kalau aku yang datang pasti langsung masuk tanpa harus menekan bel. Apartemen ini aku belikan untukmu, sudah atas nama kamu juga. Tapi, bukan berarti posisimu aman. Karena Istri dan anakku tidak tahu jika aku membelikanmu Apartemen."
"Jadi, bersikaplah biasa jika di luar. Jangan ekspos diri di Apartemen atau membuat status yang mencurigakan di akun media sosialmu. Mata anakku jeli, dan kamu jaga jarak dengannya mulai sekarang. Aku cemburu, meskipun Wisnu anakku." Ucap pria tadi yang ternyata adalah Ayah dari teman kuliah Ambar yang selama ini mengejarnya.
Kepala Ambar tak kalah kosong, dicintai pria seumuran malah menolaknya. Justru terjerat pria beristri yang parahnya adalah Ayah kandung Wisnu. Teman satu kampus tapi mereka beda kelas dan beda jurusan.
Dalam pandangan Wisnu, Ambar adalah gadis cantik yang jual mahal. Padahal aslinya, Ambar takut jika Pria yang menjadikannya simpanan tahu.
Tuan Wardhana adalah seorang pemilik perusahaan yang juga seorang cassanova. Pertemuan pertama Ambar dengannya saat tidak sengaja Ambar menabrak mobilnya. Hubungan tidak wajar pun terjadi, sebagai ganti rugi mobil Tuan Wardhana yang rusak karena Ambar. Hingga akhirnya Ambar tahu jika Tuan Wardhana adalah Ayah Wisnu, teman yang pernah mengatakan cinta.
Ambar tidak bisa lepas dari Tuan Wardhana karena sebuah perjanjian. Meskipun awalnya jijik harus melayani pria tua, pada akhirnya Ambar justru ketagihan dengan semua fasilitasnya. Tidak ada yang tahu, jika sudah setahun dia menjadi simpanan. Ambar terlalu cerdik menyimpan kebusukannya. Dan jika Wisnu tahu, bukankah akan seru perang dunia ketiga.
Dira...
Calon janda itu tahu, karena salah satu detektif yang dibayarnya sudah mendapatkan jejak hitam dari semua anggota keluarga Agung. Makanya hanya Arimbi yang dia lepaskan, karena Arimbi hanya pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Dan sudah ada niatan bertaubat. Dira tidak berhak menghakimi masa lalu Arimbi yang terjerat dunia malam karena keinginannya lulus kuliah. Pengakuannya, kejujurannya mengakui kesalahan saat Dira bertanya tentang uang korupsi. Sudah menjadi satu poin penting yang tidak bisa Dira abaikan. Ketulusan Arimbi membantu mengembalikan semua hasil curiannya, membuktikan jika sebenarnya Arimbi bukan seorang yang serakah. Karena pada dasarnya dia besar di lingkungan keluarga yang toxic.
Sementara di rumah baru Dara, wanita hamil itu merengek manja karena semalam susah tidur nyenyak. Kasur tipis tanpa ranjang dan tiadanya AC menjadi dua alasannya.
"Sudah, jangan nangis terus Dara. Kasihan anak kita ikut sedih, yuk makan dulu setelah itu kita bercinta." Ucap Agung membangkitkan semangat Dara ke setelan awal.
Dan...
Lagi-lagi dua biawak masuk perangkap sang eksekutor sejati. Rumah itu, ada kamera CCTV yang tersembunyi dan terhubung langsung ke ponsel Dira dan Pengacaranya.
Tidak hanya itu, Dira sudah membayar tetangga rumah untuk membuat huru hara saat Agung datang.
"Dobrak pintunya! mereka pasangan mesum yang kumpul kebo." Ucap Warga.
Sebaliknya, setiap sebab, ada akibatnya.
Masuk akal kan?
Asap sebagai akibat dan api menggambarkan penyebab.
Hmm … kalau dipikir-pikir lagi, setiap fenomena di dunia ini memang berhubungan dengan sebab dan akibat.
Hukum sebab akibat merupakan sesuatu yang berlaku secara universal, dan bsai kita temui dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.
Pada hakikatnya, kita perlu sadar dulu bahwa apa yang terjadi di dalam kehidupan ini, merupakan akibat dari tindakan sebelumnya...🤔
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂