Hay para reader ini karya author yang ke2. Disini cerita fiksi dunia nya author halu...
Hidup di kota besar tidak mudah dijalani bagi gadis cantik yang masih berumur belia itu. Hidupnya hanya sendiri setelah ditinggal kan ibunya untuk selama lamanya.
Apalagi dirinya yang masih menjadi seorang Siswi dibangku kelas 3SMA.
Indira Cahaya Putri gadis cantik yang kehidupan nya berubah setelah kedua orang tuanya meninggalkan nya untuk selama lamanya.
Kisah apakah yang akan dialami oleh gadis cantik itu.. penasaran!! ikuti ceritanya yaa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part30
"Oma kita mau kemana?" Tanya Indira.
Kini ia berada di dalam mobil bersama Oma Lili dan seorang supir.
"Kita akan belanja hari ini." Oma tersenyum lebar mengingat kali ini dirinya ada teman ketika akan menghabiskan isi kartu pemberian anak bungsunya itu. Biasanya Lili yang hanya sendiri dan terkadang akan ditemani anak perempuan nya ketika mempunyai waktu senggang.
Indira yang baru datang kerumah Oma setelah jam sekolah selesai langsung disuruh untuk berganti baju dan ternyata mereka akan belanja di sebuah Mall terbesar di kota itu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mobil yang membawa mereka sampai di parkiran Mall.
"Ayo, kita belanja sepuasnya sayang." Oma pun menarik tangan Indira dengan semangat.
"Oma..Oma tau gak, Oma seperti anak muda yang sedang kesenangan disuruh belanja." Indira tertawa melihat tingkah Oma yang begitu senang dan semangat ketika memasuki area Mall, dan mereka kini berada disebuah toko sepatu dan sandal terkenal di Mall itu.
"Haha Oma senang karena ada yang temani Oma belanja, karena itu Oma sangat semangat, apalagi kamu yang menemani." Oma menarik pipi kiri Indira dengan gemas.
"Kalo Oma senang Dira juga senang Oma." Indira memeluk Lili dengan senyum mengembang.
"Sekarang kamu pilih apa saja yang kamu mau ya, Oma mau kesana dulu ada sesuatu yang membuat mata Oma tidak bisa berpaling."
"Beres Oma."
Lili pun meninggalkan Indira menuju barang yang ia inginkan. Sedangkan Indira melihat-lihat sepatu yang nampak bagus semua.
Tangan nya meraih satu sepatu yang menarik perhatian nya. "Gila..ini harganya 3kali gaji gue." Dirinya mencoba sepatu itu dan ternyata memang sangat pas dan bagus ketika ia pakai, wajahnya berbinar bahagia meskipun hanya sekedar mencoba saja. Segera ia melepas sepatu itu dan kembali menaruh sepatu tersebut ketempat semula setelah melihat tag harganya.
"Disini mah bukan jodoh kaki gue." Indira hanya bergumam, meskipun dirinya sangat ingin sepatu itu tetapi dirinya cukup tau diri ketika melihat harga bandrol sepatu itu.
Ia melihat kesekeliling, melihat, memegang dan melihat harganya, berulang kali gadis itu hanya menggeleng kepala dan berdecak kagum.
"Sumpah si Oma ngajakin gue ketoko sultan."
"Kamu bisa jadi istri sultan."
Deg
Tubuh Indira meremang ketika mendengar bisikan seorang pria tepat disamping telinganya, bahkan hembusan nafas pria itu menyapa kulit diarea telinganya.
dirinya berbalik dan terkejut.
"Abang!"
Allan hanya tersenyum manis melihat kulit wajah gadis itu sedikit merah tetapi dengan ekspresi terkejut.
"Ngagetin aja sih." Dengan kesal Indira memukul lengan Allan.
"Lagian kamu dari tadi cuma muter-muter beli ngak?" Tanya Allan yang masih menatap wajah gadis menggemaskan itu.
"Iss.. disini gak ada yang cocok buat kaki aku." Indira mendengus sebal dan pergi menuju tempat Oma berada.
"Dasar bocah." Allan bergumam dan hanya tersenyum melihat tingkah gadis remaja yang unik dan bar-bar.
"Oma..?"
"Lho, kamu sudah dapat yang kamu mau?" Tanya Oma setelah Indira sampai di sampingnya tetapi gadis itu tidak membawa apa-apa.
Indira hanya menggeleng kepala dan dengan wajah cemberut gadis itu duduk disebuah kursi yang biasa untuk para pembeli mencoba sepatu atau sandal.
"Kenapa muka nya ditekuk begitu?" Tanya Oma yang memperhatikan wajah Indira terlihat kesal.
"Dia abis nyari sepatu yang cocok buat kakinya Ma, tapi ngak ada." Tiba-tiba Allan datang.
"Ehh kamu sudah datang Al?"
Allan pun mencium pipi Mama nya. "Sudah Ma, Dan cukup lama melihat anak gadis mama yang seperti satpam komplek kelilingi." Ledek Allan yang membuat wajah Indira nampak kesal.
"Ehh,, emangnya kamu ngapain keliling kaya satpam nak?" Tanya Oma yang belum tahu jika anak bungsunya hanya menjahili Indira saja.
"Ck. Abang nyebelin banget sih." Indira berdecak sebal, mendelik kearah Allan yang hanya duduk santai dengan wajah datarnya.
Pelayan datang membawa dua pasang sepatu yang sama tetapi dengan ukuran berbeda. "Sayang kamu coba sepatu ini, muat tidak ukuran nya?" Lili pun memberikan sepasang kepada Indira.
"Tapi buat apa Oma?"
Indira tahu sepatu itu sangat mahal tidak beda jauh dengan sepatu yang ia coba tadi.
"Nanti kita bisa samaan kalo pas ada waktu olahraga lagi, ni Oma juga ambil yang ini."
Indira mau tidak mau menerima sepatu itu dan mencobanya dan ternyata ukuran nya pas. Allan hanya melirik dua wanita beda generasi itu, jika bersama Mama nya Indira akan menjadi gadis sedikit manja.
"Nah kan bagus dan pas, kalo kamu pakai." Oma tersenyum bahagia ketika pilihannya sangat cocok dipakai Indira. "Saya ambil ini semua ya mbak." Oma memberikannya kepada pelayan toko itu.
"Baik bu." Ucap pelayan sopan dan berlalu pergi.
"Oma itu kan mahal banget, Dira mana bisa gantinya Oma." Indira berkata dengan wajah sendu.
"Oma kasih buat kamu, Oma tidak minta ganti."
"beneran Oma?" Wajah Indira kembali berbinar ketika mendapat sepatu gratis yang harganya lumayan itu.
"Iya sayang, Oma sudah anggap kamu seperti cucu Oma sendiri." Ucap nya dengan mengelus kepala Indira.
"aaahh makasih Oma, Dira sayang Oma." Indira langsung memeluk Lili dan mencium kedua pipi wanita paruh baya itu dengan senang hati.
"Dira anggep itu kado dari Oma karena hari ini Indira ulang tahun." Indira berucap dengan wajah bahagia mengingat masih ada orang yang menyayanginya.
"Kamu Ulang tahun, kalo begitu selamat ya sayang, doa Oma yang terbaik buat kamu."
"Makasih Oma ku sayang, Dira bahagia karena masih ada orang yang menyanyangi Dira selain Almarhum Mama dan papa." Mata Indira berkaca-kaca dengan wajah sendu.
"Jangan sedih ada Oma yang akan selalu menyayangimu."
Oma pun memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Nah mumpung kamu sedang ulang tahun, hari ini kami bebas pilih apa saja yang kamu mau." Kata Lili dengan serius.
"Tidak perlu Oma, Dira sudah bahagia bisa dipertemukan dengan orang seperti Oma."
"Yakin tidak mau merima tawaran Mama?" Allan yang sedari tadi diam dan hanya mendengarkan obrolan dua orang yang beda usia itu dan dirinya juga jadi tahu bahwa gadis yang sudah sedikit banyak menguasai pikiran nya hari ini sedang berulang tahun.
"Sangat yakin." Ucap Indira dengan penuh penekanan.
"Oke, Mama sudah belum belanjanya."
"Belum Mama masih ingin mengunjungi butik langganan Mama dulu, Ayo sayang kita kesana dan kamu Al ambil belanjaan Mama dikasir ya." Ucap Lili segera pergi setelah menyuruh Allan.
Allan hanya mendengus. "Gue jadi asisten ibu negara." gumamnya dan berjalan menuju kasir.
..................
"Iss ini jangan kaya gini dodol.." Kiki kesal karena sejak tadi Jingga tidak pernah pas menaruh balon-balon yang sudah berhasil mereka tiup, meskipun ada alat pompa balon tapi dengan sengaja Raka menyembunyikan alat itu dan alhasil mereka semua berlomba-lomba meniup balon yang lumayan banyak.
"Loe dari tadi sensi terus si sama gue, tar naksir berabe loe." Ucap Jingga kesal.
"Idih ogah gue sama cowok tengil model loe Jing." Kiki menjulurkan lidah nya dan pergi menuju tempat Arum sedang menghias lampu.
"Ehh awas loe ya Kiki Mariki..!"
"Duh akang Bimo yang bunny nya lagi ultah keknya seneng bener." Ledek Guntur yang sedang menaruh kursi didekat meja bundar itu, hanya ada satu meja bundar yang lumayan cukup besar untuk mereka delapan personil.
Bimo hanya tersenyum sekilas. Mereka semua sedang menghias roof top Apartemen Bimo berniat memberi kejutan pesta kecil untuk sahabat mereka, Bimo sendiri yang meminta para sahabatnya untuk membantu, karena biasanya hanya Arum dan Kiki yang akan datang kerumah Indira hanya sekedar pesta kecil tiup lilin dan makan cemilan.
"Gue harap loe suka Ay." Bimo menatap kesekeliling roof top yang sudah nampak seperti tempat pesta, dirinya hanya ingin melihat gadis pujaan hatinya bahagia karena masih banyak orang yang menyanyangi nya.
sedikit kerikil nya lngsung clear gitu 😂
bujang lapuk gitu loh🤣🤣
tapi aku aih pilih kw Alan yg udah mpan hee🤦😍