Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung
Dengan tatapan bosan, Anya mengamati Arga yang sedang asyik memilih-milih berbagai mainan. Ia sudah sangat jengah menunggu, terlebih lagi Arga terus berkeliling tanpa satupun mainan yang berhasil menarik perhatiannya.
"Kau sudah terpaku di depan mainan itu terlalu lama, Arga! Kenapa tidak segera diambil saja? Aku sudah lelah menemanimu yang hanya bisa memandangi mainan-mainan itu," ucap Anya dengan nada jengkel.
Wajah Arga langsung berubah murung. "Arga bingung, Anya. Semua mainan di sini kelihatan bagus dan keren," ucapnya dengan nada ragu.
Anya memandang Arga dengan tatapan kesal. "Kau pilih satu sekarang atau kutinggal di sini sendirian!" ancamnya dengan nada tajam, memaksa Arga untuk segera membuat keputusan.
Dengan wajah cemberut, Arga mendengus kesal lalu berlari ke arah rak figura. Ia meraih sebuah figura berbentuk robot yang harganya cukup menguras dompet. Namun, Anya tidak memperdulikan harganya karena kartu yang ada di tangannya saat ini adalah kartu sakti dari Pramudya yang berisi uang bulanan mereka dengan jumlah yang fantastis.
"Anya, perut Arga sudah keroncongan," rengek Arga sambil memegangi perutnya yang berbunyi dengan keras.
"Sabar sebentar, aku mau lihat-lihat perhiasan keluaran terbaru dulu," ucap Anya dengan senyum berbinar, membayangkan dirinya memakai perhiasan mewah yang sudah lama diidam-idamkannya. Mengingat setelah menikah ia belum sempat pergi berbelanja barang edisi terbatas.
"Tapi Arga lapar sekali, Anya," ucap Arga lagi dengan nada lemas.
Anya menatap Arga dengan tatapan sinis. "Itu salahmu sendiri! Siapa suruh tadi lama sekali memilih mainan? Sekarang ikut aku dulu beli perhiasan yang aku mau. Kalau tidak mau ikut, ya sudah sana pergi sendiri! Jangan salahkan aku kalau kau hilang, aku tidak akan mencarimu!" ancamnya dengan nada dingin.
Ancaman Anya membuat mata Arga langsung memerah dan berkaca-kaca. Ia sangat trauma ditinggal sendirian, apalagi di tengah keramaian mall seperti ini. "Anya jahat... Arga lapar sekali," ucapnya dengan nada sedih, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.
Melihat Arga yang sudah terisak-isak, Anya merasa kesal namun juga panik. Ia tidak mau Arga menangis seperti anak kecil di tempat umum dan membuat keributan. Bisa-bisa ia akan menjadi pusat perhatian dan bahan omongan orang.
Dengan berat hati, Anya menghela napas panjang, merasa pasrah menghadapi Arga yang kekanak-kanakan. "Oke, oke, kita makan dulu sekarang," ucapnya dengan nada mengalah. "Tapi setelah makan, kau harus menemaniku membeli perhiasan. Setuju?"
Arga mengangguk dengan antusias, wajahnya langsung berseri-seri. "Setuju, Anya! Arga janji akan jadi anak manis dan menemani Anya!" ucapnya dengan riang.
Tanpa banyak bicara, mereka langsung menuju restoran cepat saji terdekat. Arga memesan makanan dengan porsi yang sangat banyak, seolah baru saja lolos dari hutan belantara dan belum makan selama berhari-hari. Anya hanya bisa menghela napas pasrah melihat kelakuan Arga yang seperti anak kecil, namun ia tidak mempermasalahkannya. Yang penting, Arga tidak rewel dan membuatnya pusing.
Selesai mengisi perut, mereka langsung bergegas menuju toko perhiasan yang menjadi tujuan utama Anya. Begitu memasuki toko, mata Anya langsung berbinar-binar terpukau melihat koleksi perhiasan mewah yang memancarkan kilauan yang mempesona. Ia mencoba satu per satu, lalu meminta pendapat Arga tentang perhiasan mana yang paling cocok untuk mempercantik penampilannya.
"Arga, coba lihat ini, bagaimana menurutmu? Cantik sekali kan?" ucapnya sambil memperlihatkan kalung berlian yang harganya selangit.
Dengan senyum lebar yang tulus, Arga menjawab, "Sangat cantik, Anya memang cantik kalau memakai apa saja. Arga suka sekali," pujinya dengan nada riang, membuat pipi Anya merona merah karena tersipu malu.
Senyum lebar merekah di wajah Anya, merasa bangga dengan pujian Arga. "Sudah jelas aku cantik. Buktinya, kamu selalu saja menempel padaku kemanapun aku pergi," ucapnya dengan nada riang.
Dengan sigap, Anya mengambil kalung berlian itu dan membayarnya di kasir tanpa berkedip. Terlihat jelas bahwa harganya sangat fantastis, dan kalung itu merupakan koleksi edisi terbatas yang baru saja dirilis.
Tidak dapat dipungkiri, Anya memang memiliki selera yang tinggi dalam memilih barang-barang mewah dan eksklusif.
Dengan langkah anggun, Anya keluar dari toko perhiasan, diikuti oleh Arga yang dengan patuh membawakan beberapa paper bag berisi barang belanjaan mereka. "Mainan sudah, cokelat sudah dapat, susu juga sudah dibeli. Sekarang, apa lagi yang kau inginkan?" tanya Anya pada Arga dengan nada sedikit ketus.
"Anya, Arga ingin main ke rumah Ibu," ucap Arga dengan nada memelas.
Anya mengerutkan keningnya dalam-dalam, mencoba mengingat siapa yang dimaksud Arga dengan sebutan 'Ibu'. Ibu kandung Arga sendiri saja tidak pernah ia lihat, lalu siapa yang Arga maksud?
"Ibu? Siapa?" tanya Anya dengan nada bingung.
Dengan wajah cemberut, Arga menjawab dengan nada kesal, "Ibu! Ibunya Anya yang sudah Arga sayang seperti ibu Arga sendiri!"
Anya baru teringat bahwa Arga memang sudah menyukai ibunya sejak pertama kali mereka berkunjung ke rumah ibunya setelah pulang dari hotel di malam pernikahan mereka.
"Oh, baiklah. Kebetulan sekali, aku juga sedang ingin bertemu dengan Ibuku," jawab Anya dengan nada setuju dan senyum tipis.
Selama perjalanan menuju rumah ibunya, Anya tenggelam dalam keheningan. Sudah terlalu lama ia mengabaikan ibunya. Ia bertanya-tanya, bagaimana keadaan ibunya saat ini? Apakah ibunya merindukannya seperti ia merindukan ibunya? Ia merasa bersalah karena terlalu fokus pada kehidupan pernikahannya dan melupakan ibunya yang kesepian.
Kenangan tentang ayahnya juga menghantuinya, luka yang ditorehkan oleh ayahnya masih terasa perih di hatinya. Perjodohan paksa yang diatur tanpa mempertimbangkan perasaannya membuat hubungan ayah dan anak menjadi dingin, dan ayahnya lah yang menjadi penyebab keretakan itu.
"Anya, kenapa diam saja dari tadi? Apa Arga melakukan kesalahan lagi?" tanya Arga dengan nada cemas, melihat Anya yang terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah yang suram.
Arga merasa aneh, karena biasanya Anya akan mengomelinya atau berbicara seperlunya saja. Tapi kali ini, Arga bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Anya.
Anya hanya terdiam, tidak merespons ucapan Arga. Pikirannya masih berkecamuk, memikirkan berbagai masalah yang membebani hatinya.
Arga meraih tangan Anya dan menggenggamnya erat dengan lembut. "Anya jangan sedih ya. Arga akan selalu ada di sini untuk Anya," ucapnya dengan tulus, berusaha menghibur Anya yang sedang bersedih. "Nanti Arga akan melakukan apa saja agar Anya tertawa, dan Anya tidak akan bersedih lagi."
Anya hanya bisa pasrah saat Arga menggenggam tangannya dengan erat, mencoba menenangkan dirinya. Pikirannya masih tertuju pada ibunya, berharap ibunya baik-baik saja.
Dengan erat, Arga terus menggenggam tangan Anya, berusaha menyalurkan energi positif dan memberikan dukungan tanpa syarat. Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa Anya sedang dilanda kegelisahan yang mendalam. Meskipun ia tidak tahu apa yang sedang membebani pikiran Anya, ia tahu pasti bahwa Anya membutuhkan kehadirannya di sisinya saat ini.
Mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat familiar bagi Arga. Ia langsung mengenali, ini adalah rumah ibunya Anya. Senyum bahagia menghiasi wajahnya, merasa gembira karena akan segera bertemu dengan wanita yang sudah ia cintai seperti ibunya sendiri.
"Anya, kita sudah sampai di rumah Ibu!" seru Arga dengan nada riang dan penuh semangat.
Anya melangkah keluar dari mobil dengan langkah mantap, diikuti oleh Arga yang setia mengekorinya dari belakang. Ia berusaha sekuat mungkin untuk mengubah ekspresi wajahnya menjadi cerah dan menyembunyikan semua kegelisahan yang sedang ia rasakan.