Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Rahasia
Pelayan wanita itu kembali dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat namun penuh hormat.
"Tuan... Kepala Cabang bersedia menemui Anda. Silakan lewat sini."
Zhaofeng mengangguk. Dia mengikuti pelayan itu naik ke lantai teratas menara. Di setiap lantai, dia mendengar suara-suara bisikan, transaksi gelap, dan denting emas. Menara ini adalah jantung dari segala konspirasi di wilayah barat.
Mereka sampai di sebuah pintu ganda berbahan kayu cendana merah.
"Silakan masuk."
Zhaofeng melangkah masuk.
Ruangan itu luas dan mewah, dipenuhi aroma dupa yang memabukkan. Di balik tirai tipis, seorang wanita duduk di kursi malas, mengisap pipa panjang.
"Selamat datang, 'Pedang Buta'," suara wanita itu serak-serak basah, menggoda namun berbahaya. "Atau haruskah kupanggil... Ren Zhaofeng, Pahlawan Sekte Awan Hijau?"
Zhaofeng tidak terkejut identitasnya ketahuan. "Di Menara Seribu Telinga, dinding pun punya telinga. Panggilan apa saja boleh, Nyonya..."
"Panggil aku Nyonya Merah," wanita itu menyingkap tirai. Dia mengenakan qipao merah menyala, kipas Xue Sha dan Token Hei She tergeletak di meja di depannya.
"Kau membawa barang-barang menarik, Tuan Muda Ren. Kipas ini milik Xue Sha, jenius Sekte Pedang Darah. Token ini milik Hei She, Tuan Muda Aliansi. Dua barang besar di tangan satu orang. Kau benar-benar ingin membuat dunia gempar."
"Aku tidak butuh pujian," kata Zhaofeng, duduk di kursi yang disediakan tanpa ragu. "Aku butuh dua hal. Informasi, dan lokasi."
"Katakan."
"Pertama, aku mencari sepotong logam hitam kuno. Bentuknya tidak beraturan, sangat berat, dan memiliki aura yang mirip dengan pedangku," Zhaofeng menepuk Pedang Hitam di punggungnya.
Mata Nyonya Merah berkilat. Dia menghisap pipanya dalam-dalam.
"Ah... Batu Pemberat Jiwa," gumam Nyonya Merah. "Benda itu tiba di kota ini tiga bulan lalu. Aliansi Ular Hitam menemukannya di reruntuhan tambang kuno. Tapi mereka tidak bisa meleburnya. Jadi, mereka memberikannya kepada Tuan Kota Duanmu sebagai hadiah ulang tahun."
"Di mana benda itu sekarang?"
"Di leher Tuan Kota," Nyonya Merah tersenyum licik. "Duanmu menjadikannya liontin kalung. Dia percaya benda itu bisa melindunginya dari serangan mental karena beratnya menekan jiwa."
Zhaofeng menyeringai tipis. Pecahan Keempat dijadikan kalung? Itu mempermudah segalanya. Dia hanya perlu memenggal kepala Duanmu untuk mengambilnya.
"Informasi kedua?" tanya Nyonya Merah.
"Struktur kekuatan Aliansi di kota ini. Siapa yang terkuat?"
Nyonya Merah meletakkan pipanya. Wajahnya berubah serius.
"Selain Tuan Kota Duanmu (Pengumpulan Qi Tahap 8), ada tiga Wakil Ketua Aliansi yang bersembunyi di kota ini. Mereka disebut Tiga Kepala Ular. Kultivasi mereka rata-rata Pengumpulan Qi Tahap 6. Dan yang paling berbahaya... ada rumor bahwa Utusan Pusat dari markas besar Aliansi baru saja tiba kemarin malam."
"Utusan Pusat?"
"Ya. Seseorang yang levelnya di atas Ranah Pengumpulan Qi. Mungkin... Pembentukan Inti."
Zhaofeng terdiam. Pembentukan Inti? Itu setara dengan Tetua Sekte. Jika dia harus melawan musuh sekuat itu sekarang, peluangnya tipis.
"Terima kasih," Zhaofeng berdiri. "Barang-barang di meja itu... anggap saja pembayaran awal."
"Tunggu," Nyonya Merah melempar sebuah koin emas khusus. "Ambil ini. Jika kau berhasil selamat malam ini, datanglah lagi. Aku punya tawaran bisnis yang lebih besar."
Zhaofeng menangkap koin itu. "Selamat?"
"Kau pikir kau bisa masuk ke sini tanpa diikuti?" Nyonya Merah tertawa kecil. "Saat kau keluar dari pintu utama, separuh pembunuh di kota ini akan menyambutmu. Kepala seharga 50.000 Batu Roh terlalu menggiurkan."
"Bagus," kata Zhaofeng tenang. "Aku sedang butuh pemanasan sebelum ke rumah Tuan Kota."
Zhaofeng berbalik dan berjalan keluar.
Jalanan di depan Menara Seribu Telinga mendadak sepi. Pedagang kaki lima menghilang. Jendela-jendela toko tertutup rapat.
Suasana sunyi yang tidak wajar.
Zhaofeng melangkah keluar dari pintu menara. Xiao Yu yang menunggunya di luar langsung berlari mendekat, wajahnya cemas.
"Tuan! Orang-orang melihat kita dengan tatapan jahat!"
"Tetap di belakangku," perintah Zhaofeng.
Dia berjalan ke tengah jalan.
Sreeet... Sreeet...
Suara pedang ditarik dari sarung terdengar serempak dari gang-gang gelap, atap bangunan, dan balik gerobak.
Puluhan orang muncul. Mereka bukan satu kelompok. Ada bandit, pengembara, pemburu hadiah, dan murid Aliansi. Mereka semua memiliki satu tujuan: Kepala Zhaofeng.
"Itu dia! Pedang Buta!" "Serang bersamaan! Siapa cepat dia dapat!"
"Mundur, Xiao Yu," kata Zhaofeng.
Dia tidak mencabut pedangnya. Dia hanya berdiri tegak, memejamkan mata di balik kelopaknya (karena kain penutup matanya sudah tidak dia pakai sejak perang sekte, dia memakai topeng besi setengah wajah sekarang sesuai aliasnya).
Gerombolan pertama menerjang. Lima orang bersenjata golok.
Zhaofeng menghentakkan kaki kanannya.
"Seni Pedang Tanpa Wujud: Medan Gravitasi - Zona Berat."
DUMMM!
Area radius sepuluh meter di sekitar Zhaofeng tiba-tiba menjadi sangat berat.
Lima penyerang itu merasa seperti ada gunung yang jatuh di punggung mereka. Lutut mereka remuk menghantam tanah batu. Senjata mereka jatuh karena terlalu berat untuk diangkat.
"Argh! Apa ini?! Tubuhku... berat sekali!"
Zhaofeng berjalan melewati mereka. Setiap langkahnya santai, tapi bagi mereka yang terperangkap dalam medannya, itu seperti melihat raksasa lewat.
"Gema Riak."
Zhaofeng menjentikkan jarinya ke udara.
TING!
Gelombang getaran merambat melalui udara yang dipadatkan oleh gravitasi.
Kepala kelima orang itu meledak serempak.
Darah muncrat, tapi tidak mengenai jubah Zhaofeng karena tertahan oleh dinding gravitasi tak terlihat.
Sisa penyerang yang masih di belakang mundur ketakutan.
"Siapa lagi?" tanya Zhaofeng datar.
Dari atap, seorang pemanah membidik. "Mati kau!"
Anak panah melesat ke arah jantung Zhaofeng.
Zhaofeng tidak menghindar. Saat panah itu menyentuh dadanya... tubuhnya menjadi Fase Tak Berwujud.
Panah itu menembus dadanya tanpa melukainya, lalu menancap di tanah di belakangnya.
Zhaofeng memadat kembali.
"Giliranku."
Dia mencabut Pedang Hitam-nya. Dia mengayunkannya ke arah atap—meski jaraknya dua puluh meter.
"Tebasan Gravitasi!"
Dia tidak mengirimkan Qi tajam. Dia "melempar" beban berat pedangnya melalui medium udara.
BRAKKK!
Atap bangunan tempat pemanah itu berdiri runtuh seketika seolah dijatuhi batu besar. Pemanah itu jatuh tertimbun reruntuhan.
Zhaofeng melihat sekeliling. Tidak ada lagi yang berani maju. Ketakutan telah menguasai keserakahan mereka.
"Dengar baik-baik," suara Zhaofeng diperkuat Qi, menggema di jalanan kota. "Malam ini, aku akan mengunjungi Tuan Kota Duanmu. Siapa pun yang menghalangi jalanku... akan berakhir seperti mereka."
Zhaofeng berbalik ke Xiao Yu yang melongo takjub.
"Ayo. Kita cari penginapan dulu. Aku harus mempersiapkan 'hadiah' untuk Tuan Kota."
Zhaofeng berjalan pergi, membelah lautan pembunuh yang kini menyingkir memberinya jalan layaknya raja.
Di menara tinggi, Nyonya Merah melihat dari jendela sambil tersenyum.
"Menarik. Kota ini akan banjir darah malam ini."
💪