NovelToon NovelToon
TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:13M
Nilai: 4.9
Nama Author: meliani

IG: ana_miauw
Bisa menikah dengan Yudha adalah bukan dari rencana Vita saat itu. Karena Yudha sudah memiliki hati yang lain sebelumnya. Dan atas nama pernikahan yang suci, dia mencoba untuk menerima takdirnya menjadi nomor dua meski dia adalah istri pertama.

Tetapi apa yang Vita rasakan semenjak pernikahan hingga saat ini?

Vita tidak sepakat dengan ketidakadilan yag dibebankan kepadanya karena tak pernah merasa dicintai sedikitpun oleh Yudha. Bahkan Yudha mengatakannya secara terus terang bahwa Vita hanyalah sebuah pelampiasan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemukan Istri Pertama

“Aduh-duh!” keluh Vita pada saat ponselnya terjatuh ke lantai. Beruntung ada anak kecil baik hati untuk mengambilkannya, sehingga ia tak perlu susah payah untuk berjongkok.

“Ini Tante,” kata anak itu sambil menyerahkan ponselnya.

“Terima kasih. Kamu baik sekali,” balas Vita tak kalah ramah. Sesaat setelah berkata demikian, anak itu pergi meninggalkannya dengan lambaian tangan. Senyum mengembang di wajahnya yang tampan. Membuatnya ikut tertular.

“Untung tidak pecah,” gumamnya setelah meneliti semua bagian ponselnya. Ponsel pemberian Yudha satu-satunya setelah menyembunyikan ponsel lamanya entah ke mana. Masih ingat betul pada saat itu ....

“Ini untukku?” tanya Vita ketika Yudha menyodorkan sebuah kotak ponsel bersegel setelah pulang bekerja. Berukuran 5,5 inchi.

“Iya, pakai itu mulai sekarang. Dan ini,” Yudha mengambil ponsel bututnya. “Aku singkirkan.”

“Jangan!” cegah Vita sangat menyayangkan. Terang saja dia merasa kehilangan. Ponsel itu sudah menemani hari-harinya selama ini semenjak dia berada di bangku SMA.

Bukan ia tidak mampu membeli yang baru, namun untuk apa mempunyai ponsel mahal-mahal kalau tidak ada gunanya. Karena benda itu pula dapat menyebabkan orang-orang menjadi lupa segala-galanya, pikir Vita sedemikian panjang.

“Mau ini?” tanya Yudha mengulurkan ponsel butut tersebut. Namun ketika Vita hendak mengambil. Pria itu malah menjaukannya, lalu beralih memeluknya dan menciumnya begitu gemas hingga bunyi kecapan-kecapan yang terdengar dari bibirnya.

“Kembalikan aku bilang!” pinta Vita sambil berjinjit, berusaha meraih ketinggian ponselnya di tangan Yudha.

“Kalau mau, ada syaratnya.” Yudha mengerlingkan mata.

“Apa?”

“Jangan pura-pura.”

“Malas, ah.”

“Kalau malas ini tidak akan kuberikan.”

“Kok begitu? Itu kan milikku.”

“Iya, tapi sudah waktunya kamu menggantinya. Pakailah yang baru. Kamu istriku, aku tidak mau orang-orang berasumsi yang tidak-tidak tentangku. Aku memperhatikanmu, Vita,” ucap Yudha menjelaskan.

“Mengerti maksudku?”

Vita mengangguk, namun kemudian dia tetap meminta ponselnya kembali. “Tapi biarkan aku yang simpan, ya.”

“Syaratnya tadi.”

Selalu begitu. Yudha yang memaksanya walau pada akhirnya, Vita tak bisa menolak. Tetapi hingga bersebadan itu terjadi, Yudha tak kunjung mengembalikannya sampai sekarang. Dia memang pantas dikatakan penipu bukan?

“Ya, dia memang penipu,” gumamnya lirih. Dia berhenti memutar memori kenangan dan kembali pada kenyataan.

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya Vita sampai di sini. Dia sedang berada di lantai satu Mall PI, membawa satu kotak perhiasannya untuk di jual di tempat ini. Menurut alamat yang tertulis di kuitansi.

‘Maaf, Mas Yudha. Bukannya aku tidak menghargai pemberianmu. Kami membutuhkan biaya hidup selama beberapa bulan ke depan, karena aku belum bisa bekerja kalau untuk sekarang-sekarang ini.’

Sudah ia pertimbangkan matang-matang keputusan menjual perhiasan ini. Sebenarnya, dia juga tidak rela menjual satu-satunya barang kenangan yang tersisa dari pemberian suaminya. Tetapi tidak ada jalan lain. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya yang mengharuskannya mengeluarkan dana secara mendadak.

Vita juga berencana untuk membuat asuransi kesehatan setelah ini agar nanti biaya persalinannya tidak terlalu mahal. Ya, dia telah memikirkan banyak rencana ke depan. Tentang bagaimana kelanjutan hidupnya.

Wanita dengan kulit kuning langsat dan lesung pipi itu bepergian dengan memakai tunik longgar berwarna putih, kemudian di padu-padankan dengan pasmina berwarna coklat muda, serta memakai bawahan yang berwarna senada. Sedang di pundak kirinya, tersampir tali tas yang berukuran sedang.

Jarak dari pintu loby ke toko perhiasan itu terasa sangat lama. Entah memang demikian atau hanya perasaannya saja. Berjalan perlahan, matanya mengedar untuk mencari di mana tempat toko itu berada. Sesekali ia mengelus perutnya yang kini sudah terlihat kian kentara. Lebih besar daripada istri kedua suaminya.

‘Kamu senang kan, aku bawa jalan-jalan? Suka?’ Vita bergumam dalam hatinya. ‘Kita cari makan enak nanti di restoran setelah ini, ya.’

F & C

Vita mendongak melihat tempat yang dia cari sudah berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

Begitu Vita masuk, dia langsung dipersilakan duduk oleh salah seorang pembeli yang berada di sana. Bahkan orang itu sampai rela memberikan tempat duduknya lantaran merasa iba. Banyak orang di sana, namun ia merasa lebih di utamakan.

“Ya, Bu? Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang wanita yang sedang berjaga.

Kemudian Vita menjelaskan. Apa tujuannya kemari, lalu mengeluarkan benda dari dalam tasnya yang akan dia jual.

“Yakin mau di jual semuanya, Bu?”

“Iya,” kata Vita menjawab. Dia hanya menyisakan cincinnya saja yang masih melingkar di tangannya.

‘Kalau untuk cincin yang satu ini, tidak akan pernah aku jual sampai kapan pun. Sekalipun keadaanku sangat mendesak nanti. Tapi mudah-mudahan jangan sampai terdesak. Aku akan mengelola uang ini nantinya sebaik mungkin.’

Beberapa menit berlalu. Uang lebih dari seratus juta sudah berada di dalam salah satu debitnya saat ini. Dia tersenyum. Ini nominal yang sangat aman untuk selama beberapa bulan ke depan pikirnya.

Setelah keluar, dia langsung masuk ke dalam restoran Jepang yang menjual menu shabu-shabu. Dia makan sepuasnya sambil berselancar di ponselnya.

“Aku merindukanmu,” bisiknya menatap lembut salah satu foto pria yang ia curi gambarnya saat dia sedang tertidur.

Terkadang jika malam-malam menjelang, dia membayangkan wajah pria itu dalam angan-angannya. Hanya dengan seperti itulah dia memiliki bayangan utuh hidup bahagia bersama anaknya kelak.

“Kita mau makan di mana, Sayang?” terdengar percakapan dari satu keluarga kecil yang baru saja datang. Mengambil tempat duduk yang tak jauh darinya. Membuat fokusnya teralihkan.

“Di sini saja, Yah,” jawab si perempuan yang di duga istrinya. Mereka membawa seorang bayi mungil yang diletakkan di stroller khusus. Di dorong oleh si suami perempuan itu.

“Wah, Adek bangun, Yah ...,” ucap si perempuan itu lagi. Memperhatikan lamat-lamat bayinya yang terbangun di dalam sana.

“Adek mau ikut makan juga, hmm?” si laki-laki tersebut ikut mendekatinya dan mengangkat bayinya dengan sangat sayang. Yang satu menggendong dan satunya lagi menciumnya berulang-ulang. Benar-benar keluarga yang bahagia.

Hatinya berdesir hebat melihat pemandangan ini. Vita sangat iri dan sangat sedih sekali. Seolah-olah Tuhan memang sengaja sedang mempermainkannya, membuat hatinya menjadi semakin sempit. Tidak henti-hentinya Dia menyiksa wanita malang ini. Menjungkir balikkan perasaannya yang sedang sangat rapuh itu.

Setelah membayar, Vita langsung menuju ke lobby untuk mencari taksi. Selama di perjalanan, tak henti-hentinya tangan itu mengusap-usap perutnya yang terus bergerak seakan sedang memberi protes, bahwa dia tak ingin Mamanya menangisi nasibnya.

‘Maaf, Sayang. Maafin Mama ... maaf ...,” bisiknya berkali-kali.

***

Yudha berlari cepat ketika dia sudah sampai di pusat perbelanjaan tersebut, setelah beberapa menit yang lalu Uminya mengabarkan bahwa beliau tak sengaja melihat Vita sedang berkeliaran di tempat ini.

“Gimana, Abah, Umi? Apa ditemukan?” tanya Yudha begitu sampai di depan orang tuanya.

“Sudah kami cari ke mana saja, sampai keliling, tapi tidak ada,” jawab Abah dan Umi ikut menganggukinya.

“Umi lihat di mana awalnya?” tanya Yudha lagi.

“Tadi Umi lihat keluar dari toko perhiasan ini,” jawab Umi menunjukkan tempat itu.

Yudha menoleh. Matanya sedikit terbelalak. ‘Ini toko tempatku membeli perhiasan untuknya dulu.’

Pria itu langsung berjalan cepat memasuki area diikuti oleh kedua orang tuanya.

“Permisi, Pak,” ucap Yudha.

“Ya, ada yang bisa dibantu?” tanya lelaki yang berjaga di sana.

“Apa tadi ada perempuan pakai baju putih yang membeli atau menjual perhiasan di sini?”

Pria itu sontak menjawab, “Wah, saya tidak terlalu memperhatikan kalau itu, Pak. Banyak sekali pelanggan yang datang hari ini. Lumayan ramai.”

“Bisa saya lihat CCTV-nya?” ucap Yudha.

“Maaf, Pak. Kalau untuk itu tidak bisa.”

“Tolong ... Pak,” kata Yudha terdengar memohon.

Orang tersebut tersenyum dan menggeleng. “Ini sudah peraturan kami di sini dan kami tidak ingin terkena sanksi oleh atasan.”

Yudha menghela napasnya. Entah bagaimana caranya memastikan. Dia bingung. Dia berdiam sejenak untuk memikirkan, sebelum akhirnya dia berkata lagi. “Saya sedang mencari istri saya yang pergi dari rumah. Saya hanya ingin memastikan yang dilihat oleh orang tua saya tadi benar atau salah.”

“Ciri-cirinya seperti apa, Pak?” sahut salah satu penjaga berjenis kelamin perempuan.

Umi mendekat dan ikut menyahut juga. “Bajunya putih, pakai pasmina warna coklat, tingginya sedang, ada lesung pipinya kalau senyum,” ujarnya menjelaskan.

“Oh, ya, saya tadi melayani customer dengan ciri-ciri sama persis seperti yang Ibu sebutkan,” jawab wanita itu segera. “Yang lagi hamil apa tidak orangnya?”

“Hamil?” ulang Yudha bertanya. Jantungnya langsung berdebar, sesak, hingga napasnya terdengar tak beraturan.

“Ya, istri Bapak lagi hamil atau tidak? Perutnya agak buncit tadi. Atau saya salah orang?” kata perempuan itu lagi. “Saya tidak terlalu mengingat, sebab banyak sekali orang yang datang hari ini.”

“Sebesar apa perutnya?” tanya Umi.

“Ya ... kira-kira empat bulan atau lebihlah. Jalannya juga sudah agak susah.”

“Coba tunjukkan perhiasan mana yang dia jual,” kata Abah kepada pelayan tersebut.

“Baik, Pak.” Wanita itu menuju ke belakang untuk mengambil perhiasannya.

“Ini,” ucapnya setelah kembali dan meletakkan barang tersebut ke atas etalase.

“Rekening yang diajukan atas nama siapa?” Yudha bertanya.

“Namanya ... sebentar,” wanita itu terlebih dahulu mengecek data yang di inputnya beberapa menit yang lalu. “Inisial V,” katanya lagi membuat semua orang berubah menjadi ketar-ketir.

Tangan Yudha gemetar membuka isi wadah itu. Dia tidak asing sama sekali dengan bentuk-bentuk perhiasan ini karena dia sendiri yang membelikannya sebelum menikah dengan Rahma.

“Ya, betul. Ini memang miliknya,” kata Yudha kemudian. Tidak bisa digambarkan bagaimana perasaan Yudha pada saat itu.

1
Ara Dhani
begitulah yg dirasakan Vita saat MLM pertama mereka . Yudha menyebutkan nama rahma
Ara Dhani
sakitnya sampai sini ya allah😭
Lina Astika Sari
jangan terlalu kamu sanjung yuda
Lina Astika Sari
sakit sekali di banding²kan😥
Lina Astika Sari
woopppss.. sakitnya
Lina Astika Sari
jadinya huruf hijaiyah ya vita😂😂😂
Lina Astika Sari
sejenis anggora mas alif😂😂
Lina Astika Sari
katanya yudha tempat trrnyaman dan tenang hanya rahma.. ini kok malah vita memng dah aneh ni yudha
Lina Astika Sari
setelah vitanya pergi baru sadar.. bahwa dy mencintai vita begtu dalam
sutiasih kasih
kmana aja km yud.... baru tau klo vita itu jauh lbh unggul dri istri ksayanganmu si rahma....
bhkn km tak punya hati.... dlu sll membandingkn vita dgn rahma...
km sll memuji rahma... bhkn km bilang hnya rahma yg bisa mmberimu kdamaian.... dan km mngtakn hnya rahma istri terbaikmu....
mkanya yud.... jgn trtipu dgn anggunnya cover luaran.... tpi nyatanya busuk dalamnya...
Ara Dhani
ngakak di part ini😆😆
Ara Dhani
ya allah.. part ini ngakak aku😂😂
Ara Dhani
spesies langkah betina ini mah😂
sutiasih kasih
kasih paham yudha lif..... biar abangmu itu waras dikit otaknya🤣🤣
Komariyah
Buruk
Khairul Azam
meskipun klo km dipaksa, klo km tegas dan punya pendirian gak bakalan jg nikahin rahma yuda, tp ya gimana lgi emang emang ceritanya dibikin begini sama othornya
Khairul Azam
disininyg perlu disalahkan yuda
Khairul Azam
aku gak ada kasihannya tu sama ini kluarga yuda karma itu
Khairul Azam
aku gak sukanya begini terkesan vita cuman jd cadangan
Khairul Azam
laki laki tak berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!