NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.13 -Pacaran Ala Aksara

Mobil Aksara melaju pelan menyusuri hiruk-pikuk ibu kota. Dari jendela samping, Aylin menatap ke luar dengan pandangan kosong. Ia mengenakan dress hitam yang baru-entah bagaimana, Aksara selalu membelikannya dress warna itu, seolah Aylin adalah koleksi kecilnya yang harus ia jaga.

Rambut Aylin diikat asal, membuatnya terlihat lebih muda-mirip remaja yang baru pertama kali diajak jalan oleh pacarnya.

Aksara sempat mencuri pandang. Ada sesuatu pada wajah itu... sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh. Familiar. Dekat. Dan entah kenapa, ia ingin terus melihatnya.

"Kita mau ke mana?" tanya Aylin, memecah kesunyian.

"Pacaran versi halal," jawab Aksara santai.

Aylin nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Hah?! Jadi kita ini serius?"

Tatapan bulat dan lugu itu membuat Aksara tertawa begitu saja. Tawa yang jarang keluar, dan selalu membuat Aylin bingung.

Suara musik lembut mengisi mobil, memberi suasana hangat yang tak pernah mereka rencanakan.

"Memang menurutmu kita main-main?" Aksara melirik sebentar. "Pura-pura?"

Aylin mengerjap. "Ya... kan kita menikah karena warisan. Harusnya ya pura-pura aja gitu."

Ya harusnya begitu, Aylin pikir Aksara dan Aylin tak akan ikut campur urusan masing-masing.

Aksara tersenyum tipis, tapi matanya berkata lain. Dia sudah memikirkan ini dari jauh sebelumnya. Entah sejak kapan, dia tidak hanya ingin "melindungi" Aylin. Ada perasaan yang bergerak pelan-nggak meledak, tapi pasti.

Bisa jadi cinta. Bisa juga rasa ingin memiliki.

"Pacaran halal itu... apa, sih?" gumam Aylin tiba-tiba, jujur saja dia tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun.

Aksara menahan tawa lagi. "Kayak pacaran, tapi tanpa dosa. Pegang tangan boleh. Jalan bareng boleh. Pulang malem... asal sama suami sah mu, boleh banget."

"Ciuman," goda Aksara menaik turunkan alisnya.

Pipi Aylin memanas. Ia buru-buru menoleh ke arah jendela, jantungnya tak aman di gombali Aksara.

"Dasar aneh," gumamnya pelan.

Aksara tersenyum lebar. "Iya, aneh... untuk kamu aja."

Mobil berhenti di sebuah area hijau luas, pepohonan tinggi berbaris rapi, embun pagi masih menggantung di ujung daun. Udara sejuk langsung menerpa ketika pintu mobil terbuka.

Aylin memandang sekeliling. "Taman?" gumamnya pelan.

Terakhir kali dia pergi ke taman adalah saat, Aylin masih berusia dua tahun. Saat orang tuanya baik-baik saja.

Aksara mengangguk sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Kamu bilang terakhir kali jalan-jalan itu... waktu SD, ya?"

Aylin mengerjap bingung.

"Kapan aku bilang gitu? Terus ngapain juga ketaman." Gerutunya.

"Eh!" Aksara tertegun, iya juga kapan Aylin ke taman. Bodoh, Aksara malah mengingat yang lain.

"Sudah lupakan, kita pacaran halal versi hemat oksigen," jawabnya enteng.

Aylin langsung menoleh cepat.

"Hah?!"

Aksara menahan tawa, lalu berjalan lebih dulu.

"Ayo. Udara pagi bagus buat kamu yang sangat kurus." Celetuk Aksara.

"Mas ihh, tapi iya juga sih aku kurus." Cicitnya dengan pelan.

Aylin pun mengikuti langkahnya Aksara. Mereka masuk ke dalam jalur batu menuju area taman yang lebih dalam. Burung-burung kecil terdengar bersahutan, dan matahari menembus pepohonan dengan lembut.

Aylin memeluk lengannya sendiri karena angin cukup dingin.

Tanpa bicara, Aksara melepas jaket tipisnya dan meletakkannya di pundak Aylin. "Pakai."

"Eng-nggak usah, nanti Mas Aksa kedinginan."

"Kalau kamu sakit, aku juga nanti yang repot. Sudah, dipakai."

Aylin merengut kecil, tapi menurut juga. Jaket itu langsung hangat, baunya maskulin dan entah kenapa membuat jantungnya memukul terlalu keras.

"Sadar Aylin, kamu jangan jatuh cinta." Ucapnya dalam hati, mencoba membangun tembok pertahanan.

Mereka berjalan lagi, melewati pepohonan tinggi. Aylin sesekali menginjak dedaunan kering yang menimbulkan suara renyah.

Aksara memperhatikannya sambil tersenyum tipis.

"Kayak anak kecil," celetuknya.

Aylin mendelik. "Emang aku anak kecil?"

"Kamu manisnya kayak anak kecil sih."

Aylin langsung tersedak udara, berada di dekat Aksara ternyata tak aman.

"A-apa?! Gombal mulu ih."

Aksara tertawa pelan, menikmati reaksi kaget istrinya itu.

Mereka berhenti di sebuah bangku taman yang menghadap danau kecil. Embun di permukaan air berkilau terkena sinar matahari. Aksara duduk duluan, lalu menepuk tempat di sampingnya.

Aylin mencuri pandang ke arah Aksara, jika di lihat lebih dekat lelaki yang menjadi suaminya cukup tampan.

"Aku tau aku tampan, jadi biasa saja melihatnya."

"Apaan sih, biasa aja kok." Balas Aylin salah tingkah.

"Aylin..." Aksara mencondongkan tubuh, suaranya turun sedikit.

"Aku pengin mengenal istriku, tanpa alasan warisan."

Aylin menatapnya, jantungnya bergetar pelan.

"Mas Aksa, kita-"

"Tenang aja." Aksara tersenyum miring. "Aku belum akan mencium kamu di taman kok."

Aylin menoleh kencang. "S-siapa juga yang mikir begitu?!"

Aksara hanya terkekeh.

Di bawah sinar lembut pagi, di tengah sejuknya udara dan wangi tanah basah, keduanya terdiam... tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti dua orang yang tiba-tiba sadar bahwa mereka sedang perlahan jatuh-meski sama-sama berpura-pura dan berkata tidak.

*

*

Sementara itu, Arvano pulang ke apartemennya dengan kepala penuh emosi. Namun langkahnya mendadak terhenti ketika matanya menangkap sosok yang sangat familiar.

"Dia... ibunya Aylin, kan?" gumamnya. Rosalind sedang berdiri bersama Anisa, menunggu lift.

Arvano terbelalak kecil. Ternyata mereka tinggal di sini juga?

Tanpa pikir panjang, dia mempercepat langkah dan masuk ke dalam lift yang sama.

Begitu pintu tertutup, Arvano memasang senyum ramah palsu.

"Baru lihat, Ibu orang baru ya di sini?" tanyanya sok akrab.

Rosalind tersenyum sopan. "Iya, Mas. Saya baru pindah."

"Oh begitu. Wah, sepertinya lantainya sama." Arvano terkekeh ringan. "Jangan-jangan kita tetangga."

Lift berhenti. Di luar, suami dan anak Anisa sudah menunggu. Rosalind dan Anisa segera keluar.

Arvano melangkah keluar juga, mengikuti arah mereka.

"Nah, benar. Kita tetangga ternyata." Suaranya santai, tetapi matanya mengamati setiap gerak Rosalind.

Wanita itu hanya tersenyum tipis, lalu segera masuk ke unit Aylin dan menutup pintu rapat.

Begitu pintu tertutup, senyum Arvano menghilang seketika. Rahangnya mengeras.

"Ternyata benar," dengusnya dingin. "Kamu memberikan unit mewah yang sama denganku, untuk gadis miskin itu."

Matanya meredup penuh ketidaksukaan. Tapi setelah beberapa detik, sebuah ide menyelinap ke pikirannya. Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Aku akan mendesak Aksara. Untuk minta warisan cepat-cepat ke Kakeknya... dan menceraikan Aylin."

Dia mendesis pelan. "Lihat saja nanti."

Arvano masuk ke unitnya dan membanting pintu, suaranya menggema di lorong.

Di dalam unit Aylin - Rosalind

Rosalind membuka bungkusan makanan dan menatanya di atas meja. Anisa, suaminya, dan anak mereka, Rora ikut membantu.

"Mama, kita nginep di sini?" tanya Rora polos.

"Iya. Sampai Tante Aylin pulang. Kasihan Nenek Rosa sendirian," jawab Anisa.

Rora langsung bersorak kecil. "Asik! Ada TV gede, terus mandinya air hangat tiap hari!"

Rosalind tersenyum tipis melihat tingkah cucunya walau bukan cucu kandung, tapi Rosalind menyayangi Rora. Suasana hangat itu sedikit banyak menenangkan hatinya.

Suami Anisa menoleh. "Tadi itu siapa, Bu? Yang bareng di lift."

"Entahlah. Mungkin tetangga sebelah," jawab Rosalind.

Tapi hatinya tidak tenang.

Dia ikut duduk dan makan bersama, namun pikirannya melayang ke lelaki tadi.

Wajah yang sama dengan yang ia lihat di pernikahan Aylin-wajah yang saat itu memandangi Aksara dan Aylin dengan sorot marah dan tidak rela.

Rosalind mengusap dadanya pelan.

"Ya Tuhan..." gumamnya dalam hati, "...semoga perasaan saya salah."

Bersambung ....

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!