Kehilangan seseorang yang sangat disayangi untuk selamanya itu, bukan hal yang mudah. Apalagi orang itu merupakan seorang anak yang sangat di sayangi.
Anaya Aninditia merupakan seorang gadis yang berumur 12 tahun, Anaya memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Suatu ketika keharmonisan itu hilang, akibat ulah ibunya yang selalu mementingkan arisan, semenjak suaminya naik jabatan dan memiliki Gaji yang besar.
Anaya yang periang berubah menjadi pendiam karna perceraian orang tuanya. Satu ketika sang ayah mengenalkan sosok wanita yang memiliki 2 orang anak. Wanita itu mampu mengambil hati seorang Anaya.
Anaya yang dulu pendiam berubah menjadi periang kembali. Setelah kebahagiaan datang, Anaya mengalami kesedihan yang teramat dalam. Anaya harus kehilangan seorang ibu kandungnya untuk selamanya.
Dan kini Anaya sedang berjuang melawan penyakit meningitis yang bersarang di otaknya. Sakit itu berawal dari anaya sering sakit kepala.
apakah Anaya mampu bertahan dan melewati semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Keesokan harinya Anaya terbangun dan di sampingnya ada sang ayah yang setia menemani anaknya.
"Ayah," ucap Anaya.
"Iya sayang kenapa?," tanya ayah.
"Anaya ingin buang air besar," ucap Anaya.
Ayah membantu Anaya bangun dari kasur dan menuntun menuju kamar mandi.
"Anaya bisa ceboknya, atau ayah mau panggilkan bunda?," tanya ayah.
" Gak apa-apa kalau minta tolong sama bunda, soalnya tangan Anaya yang sebelah kiri masih pegal bekas infusan kemarin," ucap Anaya.
"Iya gak apa-apa sayang, Anaya masuk kamar mandi dulu, ayah cari bunda. Kalau udah teriak ya," ucap ayah
Ayah pun pergi ke dapur mencari bunda dan meminta tolong untuk membantu Anaya, ayah dan bunda menunggu di luar.
"Ayah... Udah," ucap Anaya.
Bunda pun masuk kamar mandi dan membantu Anaya membersihkannya, sekalian menyeka badannya.
"Bunda... Maaf ya, jadi ngerepotin bunda," ucap Anaya.
"Gak apa-apa sayang, Anaya kan anak bunda juga," ucap bunda.
"Makasih ya bunda," ucap Anaya.
"Sama-sama sayang," ucap bunda.
Bunda pun membantu Anaya dan telah selesai, bunda pun membantu Anaya memakaikan baju tidur nya yang bersih.
"Mau di kamar atau mau di ruang tv?," tanya bunda.
"Emang sekarang jam berapa?," tanya Anaya.
"Sekarang baru jam 8," ucap bunda.
"Adam dan ka Aris udah berangkat ya bun," ucap Anaya.
"Adam udah berangkat, ka Aris belum bangun karna seminggu ini libur, dan minggu depan UN," ucap bunda.
"Ya udah Anaya diem di ruang Tv aja bun, tapi maaf bun, Anaya boleh bawa bantal biru, guling dan selimut?," tanya Anaya.
"Boleh dong sayang, masa gak boleh," ucap bunda.
Bunda dan Anaya ke ruang tv dengan perlengkapan Anaya untuk tiduran di sofa. Ayah segera Bersiap-siap untuk pergi kerja, karna seminggu gak masuk kantor.
"Anaya mau sarapan apa?," tanya bunda.
"Anaya mau bubur ayam yang di depan komplek bun," ucap Anaya.
"Ya udah bentar, bunda nyuruh om Rio supir bunda beli ya," ucap bunda.
Akhirnya bunda meminta tolong sama supirnya untuk membeli bubur ayam kumplit 3 bungkus.
Rio pun pergi kedepan komplek dengan menggunakan motornya.
Tiba -tiba ada yang mengetuk pintu dan ayah membuka pintunya, ternyata asisten dokter Benny yang bernama Fauzi datang.
"Assalamu'alaikum pa," ucap Fauzi.
"Walaikumsalam nak Fauzi, silahkan masuk," ucap ayah.
"Maaf saya datang terlambat, karna tadi agak macet. Soalnya saya dari kampus untuk mengambil berkas dulu," ucap Fauzi.
"Gak apa-apa nak, emang kuliah dimana?," tanya ayah.
"Saya di UNPAD jurusan keperawatan semester akhir pa," ucap Fauzi.
"Wah hebat, mari kedalam saya perkenalkan Anaya dan istri saya," ucap ayah.
Ayah dan Fauzi pun berjalan ke ruang tengah, ada Anaya yang lagi rebahan.
"Anaya, bunda, ini perawat buat Anaya namanya Fauzi dan dia juga yang akan membantu Aris, Adam dan Anaya dalam pelajaran," ucap ayah.
"Hai Ka Fauzi, aku Anaya," ucap Anaya sambil menjulurkan tangan.
"Hai Anaya," ucap Fauzi sambil menjulurkan tangan dan menyambut tangan Anaya.
"Ini istri saya namanya Hanna, kamu panggil bunda aja dan panggil ayah. Jangan panggil bapak dan ibu. Biar lebih akrab," ucap Ayah.
Aris yang baru bangun dan berjalan menuju kebawah.
"Nah yang baru turun itu anak sulung saya bernama Aris. Ris nanti kalo ada pelajaran yang kurang dimengerti tanya sama Fauzi aja ya, dia siap bantu," ucap ayah.
"Okay yah, asiiik ada yang bantu belajar," ucap Aris sambil berjabat tangan sama Fauzi.
"Dan ada anak bungsu saya namanya Adam, dia lagi sekolah," ucap ayah.
"Ini Nita asisten istri saya yang bantu-bantu di rumah," ucap ayah.
Dan supir yang baru datang habis membeli bubur untuk Anaya.
"Nah ini Rio supir di rumah ini," ucap ayah.
"Hai semuanya, saya Fauzi asisten dokter Benny, saya kuliah di UNPAD jurusan keperawatan semester akhir," ucap Fauzi.
Semua pun tersenyum dan mengganggukkan kepala ke arah Fauzi. Bunda menyiapkan sarapan untuk Anaya dan Aris.
"Fauzi nanti kamu tidur di kamar sebelah sini ya, dekat kamar Anaya. Biar lebih mudah dalam menangani Anaya kalau satu waktu anfal," ucap ayah.
"Baik pa, eh ayah," ucap Fauzi sambil malu-malu karna masih canggung.
"Saya pamit dulu ya, tolong jaga Anaya sesuai anjuran dokter Benny," ucap ayah.
Fauzi pun segera menyiapkan peralatan untuk menginfus Anaya, sekarang Anaya udah gak takut lagi sama jarum, karena kemarin selama di rumah sakit ketemu jarum terus.
"Bun... ayah pamit ke kantor ya, sekalian ke sekolah Anaya," ucap Ayah setengah berbisik pada sang istri.
"Aris... Ayah titip Anaya sama kamu ya. Kamu belajar yang benar, karna minggu depan kamu UN," ucap ayah.
"Siap yah," ucap Aris.
"Anaya sayang... Ayah berangkat kerja dulu ya, nurut sama bunda, ka Fauzi, dan ka Aris ya," ucap ayah sambil mengecup kening Anaya.
"Okay ayah," ucap Anaya.
Ayah pun berangkat tapi sebelum bekerja ayah pergi ke sekolah Anaya untuk bertemu dengan wali kelas Anaya.
Ayah pun tiba di sekolah, banyak anak-anak yang lalu lalang. Ayah berjalan menuju ruang guru.
"Assalamu'alaikum bisa bertemu dengan ibu Nunung," ucap Teguh.
"Walaikumsalam...Oh sebentar ya pa," ucap salah satu guru.
"Assalamu'alaikum pa Teguh, ada yang bisa saya bantu?," ucap Ibu Nunung.
"Walaikumsalam bu, iya saya mau berbicara sama ibu tentang Anaya," ucap Teguh.
"Oh iya pa, Anaya kemana?," tanya Ibu Nunung.
"2 minggu yang lalu mamahnya meninggal, setelah 3 hari kematian ibunya. Anaya tiba-tiba sakit dan jatuh pingsan" ucap Teguh.
"Oh iya pa, Anaya juga sering bilang saat di kelas, kalau pusing. Makanya saya sering memberi ijin Anaya tidur di kelas atau di UKS," ucap Ibu Nunung.
"Nah seminggu kemarin Anaya masuk rumah sakit, dan di analisis oleh dokter. Anaya mengidap Meningitis yang berupa virus," ucap Teguh.
"Astagfirullah Anaya," ucap Ibu Nunung.
"Saya mau meminta ijin, untuk sampai sebelum UN, Anaya bisa belajar di rumah dan Apakah Ibu bisa datang ke rumah saya di daerah Batununggal," ucap Teguh.
"Sebaiknya kita bicarakan sama pihak kepala sekolah," ucap Ibu Nunung.
"Baik bu, apa kepala sekolahnya ada?," tanya Teguh.
"Kebetulan pak Irwan baru saja datang, sebentar saya ke dalam dulu," ucap Ibu Nunung.
"Baik bu," ucap Teguh.
Tak lama kemudian Ibu Nunung dan pak Irwan telah datang, sebelumnya Ibu Nunung telah menjelaskan kondisi Anaya saat ini.
"Assalamu'alaikum pa Teguh," ucap pa Irwan.
"Walaikumsalam pa," ucap Teguh.
"Untuk Anaya bisa bersekolah di rumah saja dulu sampai mau UN, tapi UN tetap di sekolah ya pa," ucap Pa Irwan.
"Terima kasih pihak sekolah mau mengijinkan Anaya untuk sementara ini sekolah di rumah," ucap Teguh.
"Sama-sama pa, Anaya itu merupakan siswi terbaik di sekolah ini. Dari segi nilai slalu di atas rata-rata, dia selalu membantu teman-temannya baik teman sekelasnya atau teman di bawah dia. Dia juga di sini membantu para guru untuk membantu les anak-anak kelas 1 dan 2 yang sulit membaca," ucap pa Irwan.
"Masya Allah allhamdulilah, Terima kasih Ibu dan bapak mau memaklumi keadaan Anaya saat ini," ucap Teguh.
"Sama-sama pa, kita saling membantu. Kami juga ingin Anaya tetap memiliki nilai yang baik agar bisa masuk sekolah negeri," ucap pa Irwan.
"Sepertinya akan masuk ke sini lagi, soalnya biar sama dengan kakaknya yang akan masuk SMA disini" ucap Teguh.
"Oh begitu pa, iya sih biar ada yang jagain ya pa," ucap pa Irwan.
"Iya, takutnya sewaktu-waktu bisa anfal," ucap Teguh.
"Iya pa, kalau begitu mulai besok Ibu Nunung akan ke rumah bapak, setelah jam mengajar di sini habis," ucap pa Irwan.
"Terima kasih sekali lagi kepada bapa dan Ibu, kalau begitu saya pamit undur diri, Assalamu'alaikum," ucap Teguh.
"Walaikumsalam pa, salam buat Anaya," ucap Pa Irwan.
Setelah banyak mengobrol, ayah pun pamit. Tanpa disadari sedari tadi ada Dita yang menguping pembicaraan ini. Dita yang sudah menangis sedari tadi.
"Ayah kenapa gak bilang kalau Anaya sakit?," tanya Dita.
Teguh pun kaget mendengar suara Dita yang menangis dan kaget melihat Dita.
"Maafkan ayah nak, ayah saat itu belum tau sakit apa Anaya. Nanti sepulang sekolah, Dita dan kakakmu ke rumah ya, nanti ayah dan bunda jelaskan semua. Sekarang Dita jangan menangis lalu kembali belajar," ucap Teguh yang sambil memeluk Sahabatnya Anaya itu.
Dita pun menghapus air matanya dan kembali ke kelas dengan perasaan gelisah dan tak sabar ingin bertemu dengan Anaya.
Sebelum masuk kelas, Dita mengirim pesan pada kakaknya.
"kak nanti pulang sekolah kita ke rumah Anaya, tadi adek ketemu ayah Teguh di sini" isi pesan Dita.
Dita pun masuk kedalam kelas dengan hati dan pikirannya sudah ingin bertemu Anaya.
#RIPNadiaPermata
ga sabar nya🤗😆😆