NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.Tamu yang Tidak Membawa Simpati

Asrama Imperion tidak pernah benar-benar sunyi.

Langkah kaki selalu ada, bisik-bisik selalu berlapis, dan dindingnya menyimpan terlalu banyak rahasia. Namun malam itu, ketika Selvina melangkah masuk kembali setelah berhari-hari skorsing sementara, sunyi terasa seperti hukuman yang disengaja.

Beberapa pasang mata menoleh.

Tidak ada sapaan. Tidak ada ejekan terang-terangan.

Hanya jarak.

Ia berjalan menyusuri lorong dengan punggung tegak, tas diselempangkan di bahu. Pintu kamarnya terbuka setengah—teman sekamarnya tidak ada. Atau mungkin sengaja tidak ingin ada.

Belum sempat ia meletakkan tas, ponselnya bergetar.

Pemberitahuan Resmi – Dewan Fraksi Imperion

Ia membacanya sekali. Lalu dua kali.

> Selvina Kirana diberhentikan sementara dari seluruh kegiatan fraksi perempuan selama satu bulan, terhitung mulai hari ini, sampai proses evaluasi selesai.

Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada ruang bantahan.

Ia menghembuskan napas pelan.

Diberhentikan dari fraksi bukan sekadar larangan aktivitas. Itu pemutusan pengaruh. Pemisahan dari orang-orang yang selama ini berdiri di belakangnya. Cara paling efektif untuk melemahkan tanpa menyentuh langsung.

Selvina duduk di tepi ranjang.

Sebulan.

Waktu yang cukup untuk menghapus namanya dari percakapan strategis.

Ketukan di pintu terdengar.

Dua kali. Tegas. Tidak ragu.

Selvina berdiri dan membuka pintu.

Di hadapannya berdiri dua orang yang tidak seharusnya berada di asrama siswa.

Rivena berdiri paling depan.

Penampilannya sama seperti terakhir kali Selvina melihatnya dari jauh—setelan gelap dengan potongan tegas, rambut hitam tergerai rapi. Tidak ada riasan berlebihan, tidak ada perhiasan mencolok. Segalanya sederhana, dan justru karena itu menekan.

Di sampingnya, Gevano berdiri dengan sikap lebih tenang. Wajahnya ramah, tapi tertutup—jenis ketenangan yang lahir dari pengalaman panjang mengamati konflik tanpa ikut terlibat langsung.

“Kami ingin bicara,” kata Rivena.

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Selvina mengangguk kecil dan mempersilakan mereka masuk.

Kamar itu mendadak terasa sempit.

Rivena tidak duduk. Ia berdiri di tengah ruangan, menilai—bukan kamar, tapi Selvina. Seolah sedang menimbang apakah gadis di depannya layak dipertahankan atau dikorbankan.

“Kami dengar,” ucap Rivena, “kamu diberhentikan sementara dari fraksi.”

Selvina menjawab tenang. “Iya.”

“Bagus,” kata Rivena.

Selvina menatapnya. “Bagus?”

“Artinya tekanan bekerja,” jawabnya datar. “Dan kamu masih berdiri.”

Gevano melirik singkat ke arah Selvina. “Kami tidak datang untuk menyalahkan.”

“Tidak juga untuk menghibur,” potong Rivena.

Ia melangkah lebih dekat. Jarak mereka kini terlalu dekat untuk sopan, terlalu jauh untuk disebut akrab.

“Kamu tahu kenapa kamu dilepas dari fraksi?” tanyanya.

“Karena aku dianggap beban,” jawab Selvina jujur.

“Karena kamu simbol,” koreksi Rivena. “Dan simbol yang tidak dikendalikan selalu disingkirkan.”

Selvina tidak membantah.

“Kami ingin memastikan satu hal,” lanjut Rivena. “Apakah kamu masih berniat bertahan?”

Selvina mengangkat dagu. “Aku tidak datang sejauh ini untuk mundur.”

Tatapan Rivena mengeras—bukan marah, melainkan puas.

“Bagus,” katanya. “Karena mulai sekarang, kamu tidak boleh bergerak sendiri.”

Gevano akhirnya bicara, nadanya lebih rendah dan tenang. “Kami akan mengatur beberapa hal. Tapi kamu harus disiplin.”

“Maksudnya?” tanya Selvina.

“Tidak ada reaksi emosional,” jawab Rivena. “Tidak ada pernyataan publik. Tidak ada keputusan impulsif.”

Selvina tersenyum tipis. “Kedengarannya seperti penjara.”

“Perlindungan sering terasa seperti itu,” balas Rivena tanpa ragu.

Hening jatuh.

“Kami juga ingin kamu tahu,” lanjut Rivena, “langkah pertama sudah dimulai.”

Selvina menegang. “Ayah saya?”

“Rekening yayasan pendidikan,” jawab Rivena singkat. “Ada ketidaksesuaian. Cukup kecil untuk diabaikan publik. Cukup besar untuk ditindaklanjuti.”

Gevano menambahkan, “Belum akan muncul ke permukaan. Tapi sudah tercatat.”

Selvina memejamkan mata sejenak.

“Ini belum akhir,” kata Rivena. “Ini hanya tanda bahwa papan permainan bergerak.”

Ia berbalik menuju pintu, lalu berhenti.

“Satu hal lagi.”

Selvina menatapnya.

“Perjodohan itu bukan belas kasihan,” ucap Rivena dingin. “Itu kontrak perlindungan.”

“Aku mengerti,” jawab Selvina.

Rivena menatapnya lama. “Bagus. Karena jika kamu jatuh, Varrendra ikut jatuh.”

Gevano membuka pintu. “Kami akan kembali menghubungi.”

Mereka pergi tanpa pamit.

Pintu tertutup.

Selvina berdiri sendiri di kamar asrama yang kembali sunyi.

Ia duduk perlahan di ranjang.

Diberhentikan dari fraksi. Diawasi dari segala arah. Dikelilingi orang-orang yang menyebut perlindungan dengan nada ancaman.

Namun anehnya—

Ia tidak merasa kalah.

Ia merasa sedang dipersiapkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Selvina menyadari satu hal:

Ia tidak lagi sendirian di medan perang.

Tapi itu tidak membuat segalanya lebih aman.

Justru sebaliknya.

-bersambung-

1
Ayara
dari segi alur ini mantep banget, ya walau enemynya masih kurang banyakk enemynya..
tapi udah mantapp.. trus konflik tokohnya fan nadira yg ada di hubungan selvina dan varrendra itu terasa nyata kayak konflik di dunia bgt..
pokonya top markotop lah ceritanya..
semangat trus ya thor..
Aretha putri: Aku ucapkan terimakasih banyak karena kak Ayara telah membaca ceritaku
total 1 replies
Ayara
hahahaha.. benerkan dugaan ku.. 🤭
Ayara
belum ada kata tamat berarti ada plot twist nya.. dan harusnya nadira di penjara...
Ayara
aku yakin nadira bakal di penjara..
Mercy ley
thanks authorrrr..semangatt ku tunggu karya mu yg selanjutnya
Aretha putri: Sama-sama dan terimakasih kembali karena telah membaca ceritaku
total 1 replies
Mercy ley
yeyyy 🤗🤗🤗
happy nyaaa
Mercy ley
panik panik🤗
Mercy ley
akhirnya 😌😌
Mercy ley
lah mimpi
Mercy ley
walau kaget..Sang ratu akan abadi di hating sang raja dan pangeran kecilnya🤍
Mercy ley
...🙂
Mercy ley
beuh🥲
Mercy ley
...ngerii banget
Nadira kamu parah si..
Mercy ley
astaga nad..
kalo kamu sudah ditolak kayak gitu..
mundur bukan sakit hati..karena dia memang udah menikah.. kecuali kalo dia emg ga punya hubungan apa apa..boleh kamu Pepet hatinya🥲
Mercy ley
lucunyaaa
Mercy ley
apa kira kira yg mau Nadira lakukan..
Ayara
lanjut thorr
Aretha putri: Siap kak!!!
total 1 replies
Mercy ley
emg bapaknya sel tuh agak agak
Mercy ley: heem..
total 2 replies
Mercy ley
jadi ke inget Selvina
Nyx
bab ini bab fav ku karena varrendra nya tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!