Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar Arga
Beberapa jam berlalu, Arga sudah siap dengan kaos oblong hitam dilapisi jaket senada yang ia tarik sampai bawah siku, dipadukan dengan celana krem pendek. Reno juga Anita sudah terlihat segar, dan menuruni anak tangga bersama.
Tak mandi bersama, karena Anita menolak, karena tidak ingin untuk suaminya menahan keinginan dan tersiksa. Hanya sedikit manja, meminta dendong untuk diantarkan ke kamar mandi lalu menyuruh Reno pergi.
"Sudah siap?" tanya Reno, berdiri di balik sofa tempat Arga duduk.
Melihat penampilan dari papanya, sungguh berbeda dari setelan jas hitam yang mencerminkan keangkuhan. Kini, lelaki itu berpenampilan santai, celana pendek sampai lutut dan kaos juga jaket, hampir sama dengan penampilan Arga sekarang. "Tampan?" bangga Reno tersenyum, memainkan kedua alis bersamaan.
"Arga pergi dulu, Ma. Om Rian sudah ada di sana," berdiri bocah yang sengaja mengacuhkan. Reno berkata sabar dalam hati, menenangkan diri untuk tak mengeluarkan gas beracun dari mulutnya.
"Perginya sama papa, ya? mama tidak bisa mengantar," kata Anita lembut.
"Tidak perlu, Arga pakai taksi saja." Bergegas ia menjawab, lagi-lagi kalimat sabar terucap dalam hati Reno dengan menghadap arah lain mengelus dada.
"Aku tampan, kaya raya, baik hati, penyabar, penyayang, lemah lembut." Reno berucap dalam hati dnegan tangan kanan terus mengusap lembut dada.
Anita masih tetap meminta pada putranya untuk pergi bersama Reno, dengan nasihat ia berikan juga alasan ketenangan. Tentu saja, Arga tak ingin membuat sang mama cemas seharian dan pasrah menuruti. "Baiklah,"
Memeluk putranya usai tersenyum lebar, Anita mencium kening Arga. Sedangkan lelaki di sampingnya, masih sibuk berbicara dalam hati, hingga tak mendengar persetujuan diberikan. Anita harus menepuk lirih punggung suaminya, menyadarkan Reno dan menoleh. "Ya?!" tegas lelaki sempat terkejut itu. "Iya?" ulangnya, mengubah nada sedikit lembut bersama senyum terpasang.
Anita memberikan isyarat lewat kedua mata, namun Reno tak memahami dan memiringkan kepala untuk menunjukkan ketidakpahamannya. "Pergilah, Arga sudah siap." Anita memaksakan senyum, seketika dipahami oleh lelaki dengan mulut terbuka juga kepala mengangguk berulang.
"Okay! Let's go!" ucap Reno bersemangat, menepuk tangan.
Menarik tubuh Arga untuk ia rangkul dan berjalan bersama, Reno hanya ingin bisa akrab dengan putranya. Seperti apa diusulkan oleh sang istri ketika di kamar dan masih berada di atas ranjang, untuk pergi mengantarkan putra mereka pergi. Walau sebenarnya, Reno sangat ingin di rumah.
Tapi, ia memang harus pergi supaya hubungan antara dirinya dan Arga membaik, juga bisa sedikit memahami tentang putranya. Banyak hal diceritakan Anita, tentang seperti apa anak satu-satunya itu. Dari watak keras kepala, hingga kedewasaan lain yang tak semua anak punya dalam usianya.
Bukan menggunakan kalimat larangan ketika ingin anaknya tak melakukan suatu hal, namun menunjukkan resiko dan jalan keluar lain. Karena Arga bukanlah anak yang akan menurut saat dilarang, justru nekat mencoba ketika ia dilarang. Namun, saat ia diberitahu akan dampak sebuah tindakan, maka cepat Arga berpikir dan tak akan pernah melakukan.
Meninggalkan Anita di rumah, Reno mengemudikan mobil sportnya bersama Arga. Dalam mobil, bocah itu tampak diam menatap ponsel, Reno berusaha untuk melihat apa yang tengah diperhatikan. Tak bisa untuk menangkap apa yang ada pada ponsel putranya, Reno menyalakan musik dan mengenakan kacamata.
Arga melirik sekilas, Reno tampak memainkan kepala mengikuti irama lagu Infinity yang di putar. Basis luar biasa sampai menghentak dada, membuat Arga tersenyum tipis namun ia sembunyikan. "Mama tahu hal ini?" tanya Arga spontan, menoleh papanya. "Music, alcohol and sexy girl." Arga mengangguk berulang.
"Hahaha!" terbahak Reno. "Rahasia kita!" timpalnya.
Arga tersenyum, diacak rambutnya oleh lelaki masih sanggup tertawa. Ya, bukan tak mungkin jika Arga mengetahui musik apa yang ia putar, dan seperti apa kehidupan malam. Tentu, siapa yang tak pernah singgah dengan dunia penuh kegilaan? terutama Reno yang memang sering mengunjungi, kala jenuh dengan kehidupan.
Perempuan cantik dan seksi, tak lepas dari kehidupannya selama ini. Berjajar mengantri, serta berlomba untuk bisa dekat dengannya. Tak perlu menanti atau bahkan mencari, banyak perempuan datang menyodorkan diri dalam pakaian seksi serta kata manja menggoda, yang tak sanggup terhitung dengan jari.
...----------------...
Tiba di sebuah bangunan jauh dari kata mewah, memasuki bersama putranya. Sesekali, Reno memperhatikan sekitar, tak ada bangunan rumah lain di sana. "Kamu *******?" tanya lelaki tetap mengenakan kacamata hitam itu. "Ah, baunya tidak enak." Reno mengibaskan tangan di depan hidung, mencium aroma bangunan tua dengan sedikit kelembaban.
Berisik dengan berjalan, Reno berubah terkesima begitu tahu apa yang ada di dalam. Banyak sekali layar LED terpasang pada dinding, ada juga beberapa orang di sana sedang menatap layar laptop masing-masing. Langkahnya berputar, mengamati setiap apa yang ada dengan tatapan terbelalak takjub.
"Selamat datang, Tuan!" sapa Rian, segera menghampiri begitu melihat keduanya masuk.
"I—ini?" tunjuk Reno pada layar mengelilingi ruangan.
"Ini tempatku bekerja," santai Arga dan langsung pergi ke tempat biasa ia melakukan pekerjaan.
"Wah, aku tidak percaya ini!" masih dengan takjub, biji mata Reno berkeliling. "Kau, Rian?" berhenti kedua mata pada lelaki tinggi yang mengangguk mengiyakan.
"Kita ada urusan!" tunjuknya pada Rian dan pergi. Lelaki itu tersenyum, dia tahu siapa orang yang datang bersama bocah telah dianggapnya anak selama ini dan memberikan kasih sayang tanpa syarat.
Reno mendekat pada putranya yang sedang bekerja, meja berlapis kaca bening itu ada beberapa foto terselip. "Bukankah ini ...," tanya Reno menggantung.
"Ada foto papa di sana," santai bocah dengan jari bermain pada keyboard.
"Kamu mengawasi ku selama ini?!" tanya Reno, meletakkan tangan kanan pada ujung sandaran punggung kursi warna hitam.
"Aku hanya ingin mencari tahu kebenarannya, kita juga pernah bertemu sebelumnya. Papa lupa?" sahut Arga, berpikir lelaki kini melepaskan kacamata. "Papa pernah memarahi anak kecil di mall, anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan es krim pada sepatu. Ingat?"
"Kamu yang menjatuhkan?" tanya Reno, masih belum mengingat.
"Bukan. Aku yang memarahi papa waktu itu," jawab Arga tanpa berpaling dari layar. "Aku belum tahu, kalau papa itu papaku. Mama juga ada di sana, menggantikan es krim anak kecil sangat ketakutan, karena amarah Tuan muda yang langsung minta gendong bodyguard dan membuang sepatu mahalnya. Sayangnya, dia papaku."
"Hahaha, mana mungkin? aku menyayangi anak kecil," tawa Reno, tetap berusaha mengingat. Arga tersenyum mendengar, ingatan akan hari itu melekat kuat dalam pikirannya.
Kala itu, Anita sedang bersama putranya. Sengaja bersembunyi di dekat eskalator begitu melihat wajah Reno. Namun, putranya justru menghampiri untuk menegur seseorang tengah memarahi anak laki-laki berusia lima tahun, hanya karena mengotori sepatu tanpa sengaja.
Dari hari itu, Anita meminta supaya Arga tak pernah memaki lelaki sama di kemudian hari atas dasar apa pun. Arga yang masih berusia tujuh tahun setengah, penasaran dan bertanya apa alasan dibaliknya. Tapi, Anita tidak bisa mengatakan apa-apa, sampai Arga mencari tahu dengan bantuan Rian.
Jangan lupa Like, Komentar dan Vote, untuk bantu level karya. Terima kasih.
Ohya, bolehlah mampir juga ke karya kak "m anha" dengan judul "My Papa My Boss" dan "The Billionaire Twin's Baby" karya "JBlack" Terima kasih banyak.
ap ms ad seosean 2 ny