Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.
***
Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?
Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?
originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Rasa Dari Masa Lalu
Empat tahun sudah. Ke mana saja Toni selama empat tahun itu? Ia masih sama. Tak ada yang berubah sebenarnya. Kecuali, kencan aman dengan beberapa wanita, untuk memenuhi egonya sebagai seorang laki-laki. Satu-satunya wanita yang benar-benar dipacari Toni cukup lama, hanya Tasya. Mungkin itu sebabnya, Tasya begitu berang dan kembali merongrong, setelah melihat Toni keluar kamar bersama Devy.
Kenapa Toni tidak berusaha kembali atau mengejar Wulan? Ia juga masih trauma.
Karena kebodohan dan ketidakpekaannya sebagai seorang suami, ternyata tanpa sengaja membuat Wulan begitu menderita. Ia bekerja, pagi hingga malam. Ia berada di luar rumah dan lupa untuk membahas soal bagaimana keadaan rumah, saat ia tinggalkan.
Hanya dua bulan setelah Toni dan Wulan menikah, orang tua Toni mengalami kecelakaan di jalan tol. Tabrakan beruntun yang menyebabkan tiga mobil pribadi, ringsek. Papi Toni dan supirnya, tewas di tempat. Sedangkan ibunya, mengalami patah tulang pinggul dan hingga kini hidup dengan bantuan kursi roda listrik.
Wulan yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, memang baru sedikit bisa menyentuh hati ibu mertuanya. Dan di tengah usaha wanita itu mengambil hati Mami Toni, kecelakaan itu terjadi. Neraka rumah tangga Wulan berawal dari hal itu. Tekanan dan sindiran terus menerus diterima Wulan setiap hari.
Mami Toni yang putus asa karena kehilangan suaminya, mencari seseorang untuk disalahkan. Terbiasa bergerak bebas dan lincah namun, tiba-tiba harus pasrah mengharap bantuan dari orang lain, membuat Mami Toni depresi. Begitu pula, Wulan.
Wulan tak sanggup mengadu pada suaminya. Ia tahu dan sadar kalau Toni mencintai ibunya. Ia juga mencintai Toni. Bagi Wulan, Toni adalah pria terbaik yang pernah ditemuinya.
Tekanan yang tak sempat Wulan sampaikan, membuat wanita itu memilih mundur. Ia mengurus segala tuntutan perceraian pada Toni. Tekadnya sudah bulat. Mustahil ia bisa hamil di bawah kondisi penuh tekanan. Teriakan sepanjang hari, yang menyumpah-nyumpahi namanya. Bahkan terkadang membawa-bawa keluarga, ayah dan ibunya yang bahkan tak tahu apa-apa. Wulan tak sanggup lagi.
Suatu malam, empat tahun yang lalu. Toni dan Wulan bercinta dengan penuh gairah. Toni menyadari, Wulan lain dari biasanya. Wanita itu berbeda. Toni menikmatinya. Lagi pula, mereka masih pasangan pengantin baru. Telanjang berjam-jam di bawah satu selimut, merupakan hal normal.
Malam itu, Wulan menahan Toni cukup lama. Suara asisten rumah tangga yang berkali-kali mengetuk pintu kamar, karena Mami Toni membutuhkan anaknya, berhasil Wulan abaikan. Ia hanya ingin memiliki suaminya utuh, saat itu.
“Yang …,” panggil Wulan. Masih dengan balutan handuk di tubuhnya. Ia memegang sebuah map yang baru saja diambilnya dari laci.
“Ya?” Toni kembali memeluk tubuh istrinya. “Masih mau? Enggak capek?” Ia menciumi leher istrinya.
“Aku mau kamu tanda tangan ini,” ucap Wulan menunjukkan mapnya.
“Apa ini? Sebentar aku liat. Ayo—duduk di sini,” ajak Toni menggamit lengan Wulan ke tepi ranjang. Ia juga masih dalam balutan handuk. Mereka baru saja mandi bersama dan kembali bercinta. Dan Wulan menyodorinya sebuah permohonan cerai yang harus ditandatanganinya.
“Lan … apa ini? Kok gini, Lan?” Toni membalik-balik semua kertas dengan wajah pias. Baginya, itu hanya sebuah mimpi buruk.
“Aku pamit, Yang … aku nggak bisa lagi.” Wulan menangis. Bahunya berguncang dan ia hanya menyandarkan kepalanya pada lengan Toni, yang duduk mematung.
“Mami? Karena Mami?” Toni bertanya namun, Wulan tak menjawab apapun.
“Kamu nggak bahagia, hidup denganku di sini?” Toni mengangkat bahu Wulan, agar wanita itu menatapnya. “Enggak bahagia, Lan?”
Wulan masih tersedu, “Maafin aku, Yang …. Aku nggak bisa.”
“Enggak bahagia?” tanya Toni.
Wulan menggeleng.
“Kalo aku tanda tangan itu, kamu bahagia? Lepas dari aku, bahagia, Lan?”
Wulan mengangguk. Ia hanya menunduk. Ia tak bisa menyaksikan suaminya kembali membalik-balik surat gugatan cerai yang ia berikan.
Toni trauma. Wulan meninggalkannya begitu saja. Tanpa kemarahan, dan tanpa penjelasan untuk sesuatu yang harusnya bisa ia perbaiki. Wulan mencampakkannya. Mengatakan lebih bahagia hidup tanpa dirinya.
Malam itu, Toni membiarkan Wulan tidur dengan tenang. Memeluk istrinya seperti biasa, dan berharap keputusan itu akan berubah keesokan harinya. Namun, ternyata luka yang dirasakan Wulan, lebih dalam dari dugaannya. Toni hanya bisa menangis, saat ibunya mencaci-maki Wulan dan memintanya keluar rumah, hanya dengan tas pakaian. Ibu Toni tak terima anaknya digugat cerai.
Pikiran Toni kembali pada sebuah kantor sederhana dengan banyak tumpukan kardus.
Ia masih berdiri membelakangi pintu dan Wulan masih menangis dalam pelukannya. Hari itu, Toni menyadari bahwa, luka Wulan belum sembuh.
Dagu Toni berada di atas kepala Wulan. Toni bisa merasakan kedua tangan Wulan yang mencengkeram bagian samping kemejanya. Ia merengkuh tubuh mantan istrinya. Mengusap punggung Wulan berkali-kali. Wulan pasti sangat lelah hari itu.
“Lan …,” panggil Toni. Ia menangkup wajah Wulan, agar mendongak menatapnya.
Dengan lancang, Toni mendekatkan wajahnya. Membuat hidung mereka saling beradu dan pandangan mereka mengunci satu sama lain. “Aku selalu cinta kamu, Sayang …,” bisik Toni.
Bibir Wulan bergetar menahan tangisnya. Empat tahun yang melelahkan buatnya. Melelahkan karena harus membuktikan bahwa, ia baik-baik saja dan bisa bahagia tanpa Toni. Sebisa mungkin mengganti semua hal dalam hidupnya, agar tak mengembalikan kenangan mereka saat bersama.
Matanya memejam saat Toni menyatukan bibir mereka. Menyambut kecupan lembut yang dulu tiap hari diterimanya. Ia sudah berjinjit, untuk menerima. Merasakan tiap sapuan dan gigitan di bibirnya yang semakin menuntut. Kedua tangannya mencengkeram lengan Toni. Kakinya perlahan melangkah saat mantan suaminya semakin merekatkan tubuh mereka.
Tangan Toni melepaskan wajah Wulan. Dengan kekuatan cengkeraman tangannya, ia merengkuh pinggang wanita itu. Terus menekan punggung mantan istrinya agar tubuh mereka menyatu. Ia benar-benar rindu Wulan memeluknya. Benar-benar rindu, Wulan bermanja-manja dan menggeliat di atas tubuhnya.
Mereka melepas rindu tanpa terburu-buru.
Di luar kantor. Dean menelepon Toni. Namun, belum ada jawaban. Rey sudah selesai merapikan tampilannya di kaca luar mobil, dan mulai melangkah.
“Oh, No—no … Toni anjing! Berengsek! Gue curiga dia pasti lagi enak-enakan di dalem.” Dean membiarkan mesin mobilnya tetap menyala, dan buru-buru keluar. Di luar mobil, ia menyempatkan diri untuk merapikan rambut dan dasinya.
“Dalam keadaan apapun, penampilan itu penting …,” bisik Dean.
Dean setengah berlari menuju tepi jalan. Setibanya di sana, ia langsung berteriak, “Rey!”
Rey yang mendengar suara seorang pria meneriakkan namanya, langsung menoleh menghentikan langkah.
“Lo, Rey, kan?” tanya Dean dari kejauhan.
“Ya?” panggil Rey.
“Sini, dong … bego …,” desis Dean. Ia harus bisa membuat Rey menjauhi pintu kantor Wulan.
“Wow! Ternyata benar Pak Rey!” seru Dean.
“Ada apa?” tanya Rey dari kejauhan.
“Ada Toni di dalem, makanya lo ke sini dulu. Apa gue mesti bilang gitu? Wulan nyadar nggak ya, muka cowonya bloon banget.” Dean terus berdesis sendirian dengan rahangnya mengatup kesal.
Rey berbalik dan melangkah menuju Dean.
“Lo?” Rey mengenali Dean.
“Iyes! Dean Danawira Hartono.” Dean tertawa kecil.
Sedangkan Rey, masih diam dengan dahi mengernyit.
“Ada apa?” tanya Rey lagi, sedikit bingung.
“Wah, bener … ternyata emang lo!” seru Dean lagi. Tangan kirinya masih memegang ponsel dan terus mengulangi panggilan untuk Toni. Sesaat kemudian, ia mendengar sahutan yang berasal dari ponselnya.
“Jadi, Rey … kapan pesta pertunangan dengan Wulan? Abaikan perjanjian di Polsek itu. Cuma masalah sepele. Undang kita-kita, dong …,” seloroh Dean.
“Sorry, nggak penting banget.” Rey melangkah mundur.
“Aduh anjing! Belagu,” umpat Dean.
“Apa lo bilang?” Rey kembali berbalik.
Dean mengangkat ponsel ke telinganya. “Anjing belagu lo! Kalo sampe gue harus buka engsel pintu kamar gara-gara elo. Gue bakar kantor lo! Ngerti! Muka bloon! Sinting!” maki Dean di telepon.
“Satpam gue … mukanya bloon. Belagu!” Dean menunjuk ponselnya.
Rey mengernyit dan rautnya sudah berubah geram. Dari kejauhan, Dean melihat Toni keluar kantor Wulan dan langsung masuk ke dalam mobil.
Dean menghela napas panjang. “Oke, Rey, tolong pertimbangkan untuk membatalkan surat perjanjian itu. Men to Men-lah …. Oke, Bro!” Dean menonjok pelan bahu Rey dengan sok akrab. “See you soon,” sambungnya.
To Be Continued
aaaampuuun dah dean..
hahahahahahahahaha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣