NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Pelindung di Balik Ancaman

Jantung Alana seolah berhenti berdetak setelah membaca pesan ancaman itu. Ponsel di genggamannya terasa sedingin es.

Kalimat "dokter kesayanganmu pulang dengan peti mati" terus berputar di kepalanya bagai bayangan mantan yang tak mau pergi.

Raden, yang masih melingkarkan tangannya di pinggang Alana, merasakan perubahan suhu tubuh gadis di depannya.

Ia juga merasakan tubuh mungil Alana mulai bergetar hebat. "Lan, Sayang? Ada apa?" tanya Raden lembut.

Tatapannya berubah waspada saat melihat wajah Alana yang kini sepucat orang sakit.

Alana tidak menjawab. Ia justru refleks menyembunyikan ponselnya di balik punggung, mencoba melindungi Raden dari ancaman itu.

Namun, Raden bukan tipe pria yang mudah dikelabui.

Dengan gerakan cepat dan dominan, Raden langsung menangkap pergelangan tangan Alana.

"Berikan ponselmu, Sayang. Jangan coba-coba menyembunyikan apa pun dariku."

"Ti-tidak Den... ini bukan apa-apa kok. Hanya pesan nyasar dari orang iseng," dusta Alana dengan suara nyaris tak terdengar.

Mata Raden menyipit tajam. Tanpa bersuara, ia langsung merebut ponsel itu dari tangan Alana.

Begitu matanya membaca deretan kalimat ancaman tersebut, aura di ruangan itu mendadak berubah mencekam.

Rahang Raden mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meledak.

"Berani-beraninya mereka..." desis Raden dengan suara sangat rendah hingga membuat bulu kuduk Alana meremang.

Raden meremas ponsel itu dengan kekuatan penuh, seolah ingin menghancurkannya sebagai pelampiasan amarah.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan beberapa detik, sebelum akhirnya Raden menoleh pada Alana.

Melihat kekasihnya yang begitu rapuh, kemarahan di mata Raden perlahan mencair.

Digantikan dengan sorot mata penuh kasih dan perlindungan.

Ia mematikan ponsel itu, melemparnya ke meja, lalu memegang kedua bahu Alana agar gadis itu menatapnya.

"Raden, kita harus bagaimana sekarang? Mereka sudah berani mengancam nyawamu! Dan juga Ayahku!" ucap Alana terisak.

Raden tidak akan membiarkan Alana tenggelam dalam tangisan lebih lama. Bisa "banjir" rumah sakit ini jika ia diam saja.

Dengan satu gerakan lembut tapi posesif, ia menarik Alana ke dalam pelukan yang nyaman.

Pelukan itu sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh Alana dengan tubuhnya agar tak ada bahaya yang menyentuh.

"Dengarkan aku baik-baik, Sayang," bisik Raden tepat di telinga Alana untuk menenangkan badainya.

Raden melonggarkan sedikit pelukannya, lalu menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya yang besar.

Ia menghapus air mata Alana dengan ibu jarinya, memaksa gadis itu menatap matanya yang memancarkan keyakinan penuh.

"Aku janji tidak akan ada peti mati untukku. Dan detik ini juga, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menjemput Ayahmu."

"Beliau akan berada di bawah pengawasanku sendiri selama dua puluh empat jam penuh di tempat yang aman."

"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, mereka harus melewati mayatku terlebih dahulu!"

Setelah Alana lebih tenang, Raden membimbingnya untuk duduk di sofa panjang.

"Tunggu di sini, Sayang. Jangan ke mana-mana. Aku janji akan mengurus masalah ini sekarang juga," perintah Raden mutlak.

Raden berjalan menuju jendela besar, membelakangi Alana sambil meraih ponsel saku.

Ia menekan nomor yang hanya ia hubungi dalam keadaan darurat antara hidup dan mati.

Suara Raden berubah dingin melebihi musim salju, seolah ia baru saja menjelma menjadi malaikat maut.

"Ini aku Raden... aktifkan protokol perlindungan tingkat satu sekarang juga. Jemput target di alamat yang kukirimkan."

"Bawa dia hidup-hidup ke area apartemenku. Dan satu lagi..." Raden sengaja menjeda kalimatnya.

Matanya menajam menatap gedung-gedung tinggi di luar. "Siapkan senjata kalian dengan baik."

"Jika ada yang coba menghalangi, jangan beri mereka kesempatan untuk melihat indahnya matahari esok hari!"

Alana terpaku menahan napas. Ia baru menyadari satu hal: Raden yang sedang marah bukan sekadar dokter tampan biasa.

Sosoknya jauh lebih berbahaya dari ancaman pesan singkat tadi. Alana seperti tidak mengenali Raden.

Tepat saat Raden menutup telepon, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Alana di atas meja.

Pesan itu berupa foto pintu apartemen Raden yang tertempel stiker bunga mawar hitam.

Raden menyambarnya secepat kilat. Mata tajamnya membelalak kaget.

"Sial... ini tidak mungkin! Sangat mustahil mereka bisa sampai di sana secepat ini!"

"Kecuali jika ada orang dalam yang memberitahu letak apartemen milikku..." desis Raden dengan rahang yang mengeras kuat.

Sorot matanya kini mengarah tepat ke pintu ruangan, seolah ia tahu bahwa pengkhianat itu sedang mendengarkannya.

****

Catatan Penulis:

Halo semuanya! Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia mengikuti perjalanan Alana dan Raden sampai sejauh ini. ✨

Gimana bab kali ini? Akhirnya sisi lain Raden keluar juga ya kalau sudah menyangkut keselamatan Alana!

Tapi mawar hitam itu benar-benar bikin merinding... kira-kira siapa menurut kalian "orang dalam" yang berani berkhianat? 🌹⬛

Tulis teori kalian di kolom komentar ya! Jangan lupa klik Like, Vote, dan Bintang 5 supaya aku makin semangat! ⭐🚀

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!