NovelToon NovelToon
Mirage

Mirage

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Romansa Modern / Konflik etika / Tamat
Popularitas:152.8k
Nilai: 5
Nama Author: Shan_Neen

Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.

Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.

Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.

Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?

⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga baru

Mira berjalan ke arah tempat parkir, di mana mobil pemberian dari Thom terparkir rapi di sana.

Sebuah mobil sport merah, dengan segala fitur mewahnya, diberikan secara cuma-cuma untuk wanita yang telah ia renggut kesuciannya.

Mira memasuki mobil mewah itu, dan melajukannya keluar dari area apartemen The royal blossom.

Wanita itu berkendara memecah hiruk pikuk jalanan ibu kota, yang sarat dengan kemacetan.

Ia berkendara dengan kecepatan sedang, dan menuju ke sebuah tempat perawat tubuh langganannya.

Sesuai instruksi Mom Winda, Mira akan mendapatkan tamu VVIP, yang dengan sendirinya memilih sang primadona untuk melayaninya.

Masih ada waktu empat hari lagi, namun Mira telah memulai jadwal perawatan tubuhnya. Hari ini, dia ingin mengganti warna rambutnya, yang baru saja ia hitamkan, sepulang dari negara K.

Setibanya di salon langganannnya, Mira langsung disambut oleh seorang stylist profesional. Dia bukan pria, bukan juga wanita. Namun, Mira biasa memanggilnya Sist Mona.

"Say, apa kabar? Lama nggak kesindang makin cucok sih yey." Sapa Sist Mona dengan ritual cipika cipikinya.

"Baik, bisa aja kamu," sahut Mira sambil membalas ramah tamah itu.

"Mawar apose leges? Menong, pedong? Blewes atau bondira?" tanya Sist Mona, khas dengan gaya kaumnya.

"Nggak, cuma pengen ganti warna rambut aja," jawab Mira.

"Wernes apose leges say? Bukannya kemaren mentes dihitaciin. Aduhh gusti susanah ya punya tamara rempes kek begindang? " ujar Sist Mona sambil membelai rambut Mira.

"Pengin ganti aja say. Biar kelihatan lebih garang lagi. Bagusnya warna apa yah?" tanya Mira sambil bercermin, dan menyibak-nyibakkan rambutnya ke belakang.

"Ehm … biar lebih kelihatan garang yah? Gimana kalau dipirang aja?" saran Sist Mona.

"Iuh … No! Big no! Mending coklat cerah aja kali ya, Say. Biar mirip surai singa gitu lho," kata Mira.

"Yey udah centong bo, mau digimanain pun, yey tetap aja cucok … gimana kalau sekalian dikreta trus diblewes gitu bakal tamba cucok deh yey," saran Sist mona.

"Oke, kita coba dulu ya. Kalo nggak cocok langsung aja dilurusin," seru Mira.

"Sip. Cuss dicecong sekarang," ajak Sist Mona.

Setelah lima jam berlalu, kini Mira telah selesai merubah gaya rambutnya.

"Waw!" Mira nampak puas dengan model rambut barunya.

"Baguskan, Say. Emang dasarnya udah cantik sih," ucap Sist Mona.

Mira terus menyentuh rambutnya, dan menyibak-nyibakkannya ke belakang. Senyum terus menghiasi wajah cantiknya.

Dia terlihat lebih segar dengan gaya rambut itu.

"Thanks ya, Jeng," ucap Mira.

"Sama-sama. Cepet bosen lagi ya, mak. Hahahaha …," sahut Sist Mona dengan kelakarnya.

Mira ikut tertawa mendengar perkataan stylist rambutnya barusan.

Wanita itu pun lalu menyelesaikan pembayarannya di kasir, dan berjalan ke arah tepi jalan, di mana mobilnya telah terparkir.

Ia menerima kunci dari tukang parkir yang bertugas saat itu, setelah mengambilkan mobil Mira dari tempat parkir.

Mira kembali berkendara untuk pulang ke apartemennya.

Hari mulai senja, dan ia harus bersiap ntuk bekerja di paradise fall.

Sesampainya di tempat parkir bawah tanah The royal bloosom, Mira segera memarkirkan mobilnya di tempat ia biasa meninggalkannya.

Ia pun lalu menuju lift, untuk pergi ke lantai di mana unitnya berada.

Ketika sampai di lantai 1, area lobi apartemen, pintu lift terbuka karena ada yang akan ikut naik ke atas.

Ketika pintu mulai terbuka, Mira segera bergeser ke samping kiri, dengan pandangan yang masih tertuju pada lantai lift. Ia sama sekali tak melihat siapa yang masuk dan bersamanya saat itu.

"Baru pulang?" ucap orang itu.

Mira segera menoleh, dan melihat siapa orang yang tengah berdiri di sampingnya.

Netranya membola, ketika mendapati seorang pria, yang telah membuat dirinya kesal ketika waktu makan siangnya, tengah bersamanya hanya berdua di dalam lift saat ini.

"Kau!" pekik Mira yang terkejut dengan keberadaan Lingga di sampingnya.

Mira memicingkan matanya, menatap pria itu.

Baru saja dia ingin bertanya, namun pintu sudah lebih dulu terbuka, sehingga Mira memutuskan untuk segera keluar dari sana dan meninggalkan pria itu sendiri.

Mira berjalan dengan cepat menuju unitnya, namun ia merasa jika seseorang terus mengikutinya dari belakang.

Ketika dia hampir mencapai pintu apartemennya, Mira berbalik, dan hampir saja bertabrakan dengan orang yang berjalan di belakangnya itu.

Mira membeku sesaat, ketika tabrakan itu hampir saja terjadi antara keduanya.

Dia mendongak, dan menatap tajam ke arah orang itu yang tak lain adalah Lingga. Pria yang selalu membuatnya keaal.

"Maaf, Tuan. Kenapa Anda terus saja mengikuti saya? Apa Anda ini seorang penguntit? Stalker? Saya bisa saja melaporkan Anda kepolisi atas tindakan tak menyenangkan atau penguntitan," Serang Mira dengan mencecar pria itu lewat kata-katanya.

Namun, Lingga justru menatap datar ke arah Mira, sambil mengeluarkan tangannya dari saku celana, dan melipatnya di depan dada.

"Kamu bilang kalau aku penguntit? Aku … menguntitmu? Hah pe de sekali ternyata kamu yah," ucap Lingga sambil menunjuk dirinya, dan lalu menunjuk ke arah Mira, yang membuat wanita itu semakin dibuat kesal.

"Jaga bicara Anda ya, Tuan. Sudah jelas kalau sedari tadi Anda terus mengikuti saya," bentak Mira sengit.

"Aku hanya mau pulang saja," Ucap Lingga sambil berjalan melalui Mira yang masih kesal.

"Pulang? Hah! Jangan bercanda, Tuan. Aku sudah lama tinggal di sini dan …," Mira terdiam.

Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Netranya membola, dengan mulut yang hampir terbuka sepenuhnya.

Lingga tengah berdiri di depan pintu apartemen, yang berada tepat di sebelahnya, dengan pintu yang telah berhasil ia buka dengan kunci yang ada di tangannya.

"What?! Jadi, tetangga barunya itu dia? Oh God!" batin Mira tak percaya.

"Sudah lihat kan? Aku bukan penguntit! Aku hanya ingin pulang. Paham?" ucap Lingga dengan sudut bibirnya yang terangkat sebelah.

"Ta … tapi, Ba… bagaimana …," ucap Mira terbata, karena masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.

"Bagaimana bisa aku tinggal di sini?" Tanya Lingga yang dijawab anggukan oleh Mira.

"Tentu saja membelinya dengan uang. Hah … pertanyaan macam apa itu," ucap Lingga ketus, sambil berlalu masuk ke dalam unitnya, meninggalkan Mira yang masih mematung di tempatnya.

Sesaat setelah pria itu menghilang di balik pintu, Mira pun kembali tersadar dari mode bingungnya. Ia menyadari betapa wajahnya sangat terlihat bodoh saat itu.

"Aaaarrrghhhh!"

Mira mengacak-acak rambutnya, sesaat setelah Lingga menutup pintu apartemen miliknya.

"Si*alan! Kenapa dia tiba-tiba bisa jadi tetangga ku sih? Ini nggak lucu! INI NGGAK LUCU! Aaaaarrrggghhh!" teriak Mira yang merasa kembali dibuat malu oleh pria itu.

Sedangkan di dalam apartemennya, Lingga terus memperhatikan tinggah Mira dari lubang di pintu, yang biasa di pakai untuk mengintip ke arah luar.

Pria itu dengan susah payah menahan tawanya, ketika menyaksikan Mira, bereaksi di luar dugaannya.

Ia meletakkan kepalan tangan di depan mulut, untuk menahan tawanya agar tidak sampai pecah.

"Kau lucu sekali Mari. Lucu sekali. Aku jadi ingin terus mengerjai mu. Hehehehe …," ucap Lingga yang terkekeh lirih.

.

.

.

.

Ada yang bingung sama bahasanya Sist Mona?😅

Itu othor nanya langsung ama nara sumber yang kenal deket ama Sist Mona ini lho🤭 Emaknya Milan, makasih udah translatinke bahasa kaum mereka ye✌😁

event give away kecil2anya udah mulai ya guys, yuk kasih dukungan buat karya ini sebanyak2nya😊🙏

1
Verlit Ivana
Mungkin seulas Kak kalau senyum, seutas cocok untuk tali.
*cmiiw
🐌KANG MAGERAN🐌: iya bener 😅 maaf ken🤭
total 1 replies
Verlit Ivana
mantap Kak, penggambaran tragisnya kena. /Smile/
🐌KANG MAGERAN🐌: makasih kak
total 1 replies
Verlit Ivana
Kak, mungkin karena pake tanda seru ya, aku bacanya si petugas kayak sambil bentak. /Frown/.
🐌KANG MAGERAN🐌: gemes kan lihat tulisan acak-acakan
total 5 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of El Dorado
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih mbak Author sudah di ijinin baca Marathon 👍🌹❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga junior mau lounching
Bundanya Pandu Pharamadina
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
❤❤❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
perasaan sudah baca, otw lagi 👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
mundur alon alon sing penting tetep gadi konco yo mbak Author
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga nanti bahagia Lingga Mira
Bundanya Pandu Pharamadina
part ulang yah kaka Author👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
ternyata yg nolong Arya(Lingga) tek kira Thomas
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga Mira 👍❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Mira😭😭😭😭
Bundanya Pandu Pharamadina
ada teka teki hubungan apa antara mama Mirna (Shofia) sama Thomas dan mami Ge*mo
Bundanya Pandu Pharamadina
tMira itu bukan teripang tapi anak konda
Bundanya Pandu Pharamadina
per*ek teriak per*ek duhhh🤭🤭
Bundanya Pandu Pharamadina
ihhh sampai ikutan gos²an bacanya
Bundanya Pandu Pharamadina
Mungkin Mari /Mari belum siap untuk kembali seperti dulu Lingga
Bundanya Pandu Pharamadina
mungkinkah dia(Lingga) anak dan keluarga yg di tolong Mira🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!