NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:86
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrolan

Sore hari, kantor mulai lengang.

Reyhan duduk di ruangannya yang cukup mewah, dengan pemandangan kota di balik kaca besar.

Ia membuka satu file:

"Profil Internal – Rania Calista"

Foto Rania muncul.

Nama lengkap, tanggal lahir, pendidikan terakhir… Reyhan menyipitkan mata.

“Bukan sarjana, tapi...” gumamnya lirih.

Ia terus membaca—pengalaman kerja freelance, editor media sosial, marketing kampanye digital... semua di luar jalur formal. Namun dua tahun terakhir, grafik pencapaiannya mencolok.

“Dari content planner... sekarang jadi project leader kampanye utama?” gumamnya lagi.

Ia lalu menarik napas dalam. Matanya menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menutup laptopnya perlahan.

“Apa yang terjadi selama dua tahun aku ninggalin dia?”

Flashback dalam kepala Reyhan.

Kilasan wajah Rania yang menangis sambil membawa koper.

Suara bayi menangis di lorong rumah kontrakan.

Dirinya menutup pintu mobil, lalu tak pernah kembali.

Lalu—kini, ia melihat wanita itu berdiri percaya diri, mengendalikan presentasi besar, berbicara dengan rekanan luar negeri dalam bahasa Inggris yang fasih. Beda. Jauh sekali dari perempuan yang dulu ia tinggalkan karena dianggap "tidak cukup layak".

“Kamu... beneran berubah. Tapi gimana caranya? Dari mana kamu mulai lagi? Siapa yang bantu kamu berdiri sejauh ini? Apakah Radit?”

Ia menyandarkan tubuh ke kursinya, menatap ke langit-langit.

“Apa kalian punya hubungan di luar kerjaan?”

Namun, di wajahnya tak ada perubahan.

Profesional. Dingin. Terkendali.

Sampai akhirnya jam menunjukan pukul lima, ia pun berkemas. Tak ada yang bisa lagi ia kerjakan hari ini selain beristirahat.

Suasana kantor juga sudah jauh lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu mulai redup, hanya menyisakan cahaya lembut dari lobi dan lift utama.

Saat itu juga, Rania menenteng tas selempangnya sambil berjalan pelan ke arah lobi.

Baru saja ia melangkah ke pintu keluar, suara langkah kaki cepat menyusul dari belakang.

“Rania!”

Ia menoleh. Reyhan.

Dan tak jauh dari sana, Radit pun ikut menyusul di belakang sambil merapikan jasnya.

"Kalian... Pulang bareng?” tanya Rania setengah gugup.

“Nggak sih, kebetulan kita baru papasan di ruang meeting barusan,” jawab Reyhan cepat.

Mereka bertiga berdiri di lobi yang sepi. Rania sempat melirik Radit, memastikan ekspresinya.

Radit terlihat biasa saja. Bahkan santai.

“Rania, kamu pulang naik apa?” tanya Reyhan tiba-tiba.

Rania sedikit terkejut, tapi cepat menyembunyikannya. “Taksi online.”

Reyhan mengangguk, lalu memasuki lift sambil berkata,

“Mobilku kosong. Gimana kalau aku antar? Hitung-hitung... kenalan lebih akrab sebagai rekan kerja.”

Rania menegang. Mulutnya nyaris menolak mentah-mentah, tapi...

Radit menyela duluan.

“Bagus juga. Kamu bisa sekalian sharing soal sistem kerja kita di divisi kampanye digital. Reyhan bisa bantu kamu.”

“Tapi—” suara Rania nyaris tercekat.

“Gak apa-apa,” ucap Radit sambil tersenyum kecil. “Aku ada panggilan meeting daring sebentar lagi. Jadi take the ride, okay?”

Rania pun hanya bisa mengangguk.

Langkah mereka mulai keluar dari pintu kaca gedung. Hari mulai gelap, angin berhembus ringan.

Di antara tiga bayangan yang berjalan berdampingan di trotoar, hanya satu yang merasa dadanya semakin berat.

Rania.

Ia menarik napas dalam. Dalam hati, ia berkata:

“Astaga… Tuhan… kenapa dunia sekecil ini? Dan kenapa aku harus bohong pada dua orang yang pernah... menyentuh hidupku sedalam ini?”

"Ran, kamu oke kan?" Sela Reyhan, ditengah kebingungan Rania.

"Oke. Yaudah kita jalan sekarang."

Mobil pun meluncur tenang di tengah kota yang mulai basah. Rintik hujan membasahi kaca depan, wiper menggesek pelan seiring ritmenya. Namun di dalam mobil, udara mulai memanas karena percakapan yang membeku.

Rania duduk tegak, tubuhnya sedikit menjauh dari Reyhan di kursi pengemudi. Suaranya terdengar tajam, menusuk lebih dari hujan yang turun di luar.

“Kamu ngapain sih? Ngasih aku tumpangan? Sengaja?”

Reyhan menoleh cepat, keningnya berkerut. “Apa maksudmu?”

“Maksudku…” Rania membuang napas kasar. “Kamu sengaja deketin aku. Sok ramah, sok baik. Mau nyari tahu, ya? Tentang aku? Atau mungkin tentang...”

Reyhan menjawab cepat. “Aku cuma kasih tumpangan.”

“Terlalu kebetulan untuk cuma tumpangan.”

Hening sesaat. Lalu Rania melanjutkan,

“Berhenti aja di sini. Aku mau turun.”

“Ran…”

“Berhenti!” tekan Rania dengan keras.

Tanpa banyak bicara lagi, Reyhan menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Hujan sudah semakin deras, mengguyur trotoar tanpa ampun.

Reyhan membuka kunci pintu. “Silakan. Kalau itu bikin kamu lebih nyaman.”

Rania mengerjap.

Ia tidak menyangka Reyhan akan benar-benar menurunkannya di tengah hujan deras.

“Aku gak punya niat lebih,” ucap Reyhan pelan. “Tapi kalau keberadaanku bikin kamu gak nyaman… apa boleh buat.”

Rania menggertakkan giginya, menatap kaca jendela yang sudah dipenuhi air hujan. “Kamu serius?”

“Serius.”

Ia mendesah. Tangannya menggenggam gagang pintu, tapi tak kunjung membukanya.

Lalu ia berseru, “Sial!”

Pintu tetap tertutup. Rania menjatuhkan punggungnya ke sandaran, frustrasi.

“Kamu itu... ngeselin tahu nggak! Harusnya kamu pakai otak. Ini hujan. Dan aku enggak bawa payung!”

Reyhan menahan senyum, lalu kembali mengemudikan mobil perlahan.

“Kamu sendiri yang minta turun, Ran.”

“Ugh! Kamu emang gak pernah ngerti perempuan!”

“Dulu aku ngerti kamu,” lirih Reyhan, nyaris tak terdengar.

Rania tak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela dengan kesal. Tapi wajahnya mulai melembut, meski mulutnya masih cemberut.

Perjalanan kembali hening, hanya diisi suara hujan dan desau udara AC yang mendinginkan kaca berembun. Namun di antara jeda diam itu, suara Reyhan pelan menyelusup:

“Ran…”

Rania menoleh sedikit. “Apa lagi?”

“Aku minta maaf.”

Rania tak menjawab.

“Aku tahu, semua udah telat. Tapi aku beneran gak datang ke sini buat ganggu hidup kamu. Aku cuma pengen… bisa menjalin hubungan baik. Kita sekarang satu kantor. Aku juga gak bakal minta lebih. Aku cuma… pengen lihat Aira. Sesekali.”

Suara Reyhan merendah, terdengar tulus.

Tapi Rania membeku. Matanya menatap tajam ke jalanan yang basah di depan.

“Hentikan mobilnya sekarang.”

“Apa?”

“Berhenti, Reyhan. Aku serius.”

“Tapi kenapa—”

“Kalau kamu terus bicara soal Aira, aku turun sekarang juga. Hujan gak jadi masalah.” ucap Rania lantang.

Reyhan langsung menginjak rem perlahan, dan menepikan mobil.

“Oke. Oke. Maaf…” Ia mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Aku gak bakal bahas itu lagi.”

Rania mendengus pelan, duduk kembali dengan tegang.

Beberapa saat kemudian, Reyhan membuka pembicaraan lagi, kali ini hati-hati.

“Aku cuma penasaran…” gumamnya. “Kamu… bisa sampai di posisi sekarang, gimana caranya?”

Rania melirik tajam.

Reyhan cepat menambahkan, “Maksudku bukan meremehkan. Tapi aku tahu kamu… dulu sempat berhenti kuliah. Bahkan—”

“Bahkan menikah muda diam-diam, hamil, dan ditinggal?” potong Rania cepat.

“Itu maksud kamu, Reyhan? Kamu heran kenapa seorang wanita tanpa gelar bisa bekerja di perusahaan sebesar ini? Bahkan… jadi tangan kanan kakakmu sendiri?”

Reyhan terdiam.

“Aku memang gak punya gelar. Tapi aku punya otak. Aku bisa branding, aku bisa komunikasi. Aku ngerti konsep dan punya jam terbang lebih dari cukup untuk bersaing dengan orang-orang yang gelarnya panjang banget itu.”

Tangannya mengepal di atas paha. Matanya menatap lurus, tubuhnya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan.

“Kalau kamu pikir aku cuma numpang hidup, kamu salah. Aku ngelewatin dua tahun tanpa kamu, dengan anak kecil yang bahkan gak ngerti kenapa ayahnya gak pernah pulang.”

“Aku kerja keras. Ngerjain proyek orang, dari desain, konsep, sampe promote. Aku rela tidur dua jam sehari cuma buat bayar kontrakan, beli susu, dan ngisi nasi di piring Aira.”

“Aku bukan orang bodoh, Reyhan. Aku cuma gak punya kertas legal untuk buktiin itu.”

Reyhan menunduk, hatinya mencelos.

Tapi Rania belum selesai.

“Jadi jangan heran kenapa aku bisa kerja di kantor Radit. Jangan heran kalau suatu hari aku jauh lebih hebat dari semua orang yang dulu ngeremehin aku.”

Suara hujan kini terdengar pelan, kalah oleh gemuruh di dada mereka.

Rania menutup wajahnya dengan satu tangan. Lelah. Emosional. Tapi tetap teguh.

“Kamu udah cukup banyak ambil dari hidup aku, Reyhan. Jadi tolong… jangan ambil yang ini juga.”

Reyhan terdiam. Ucapan Rania barusan menancap lebih dalam dari luka masa lalunya.

"Sekarang, nyetir aja yang bener. Jangan bicara apapun lagi."

Reyhan mengangguk, tanpa berkata. Ia sudah sangat bersalah, dan tak seharusnya ia mengorek luka lama perempuan itu lagi.

***

Akhirnya setelah beberapa saat, mobil memasuki kompleks perumahan sederhana.

“Kanan. Di ujung situ.”

Reyhan mengikuti arahannya.

Saat mobil berhenti, Rania langsung membuka pintu dan keluar cepat-cepat. Tapi sebelum sempat menutup pintunya, ia menoleh dan berkata:

“Terima kasih… tapi jangan pernah antar aku lagi. Aku beneran nggak nyaman.”

Reyhan mengangguk. “Oke.”

“Aku serius.”

“Gak usah diulang, Rania.”

Pintu ditutup. Mobil Reyhan mundur perlahan, lalu berbalik arah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!