Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 19
BAB 19
Lampu gantung kristal di dalam ruang VIP Arum House memantulkan pendar dingin yang mencekam. Bau harum kelopak mawar impor mahal dan wewangian niche terasa menyengat, namun sama sekali tak mampu mencairkan suasana membeku di ruangan itu.
Clarissa Arum berdiri kaku di depan cermin rias berbingkai ukiran perak. Gaun merah menyala yang dikenakannya saat peninjauan lapangan tadi pagi sudah berganti dengan gaun sutra hitam longgar. Tangan kanannya berguncang tipis saat memegang cangkir porselen, membuat cairan teh chamomile di dalamnya bergelombang keras.
Di meja kaca di hadapannya, layar komputer tablet bertengkurap menampilkan cuplikan berita mode serta utas forum mahasiswa yang mendadak tular sejak sore tadi:
"Kritik Pedas Rendra di Kurasi 5 Besar: Gaun Arum House Disebut Kebohongan Berbalut Payet!"
"Persaingan Panas Kampus Terulang Kembali? Maya Nilakandi Ungguli Clarissa Arum Meski Tanpa Modal Investor."
"Dua Kutub Fakultas Desain: Si Idealistis vs Si Putri Mahkota."
PRANG!Clarissa menghempaskan cangkir porselen itu ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping. Teh panas terpercik membasahi karpet persia mahal yang membentang di bawah kakinya.
"Kebohongan berbalut payet?!" jerit Clarissa dengan suara melengking yang memecah keheningan ruangan. Napasnya memburu, matanya merah menyala oleh luapan emosi yang tertahan sejak di panggung kurasi. "Bisa-bisanya tukang kerajinan logan kumuh itu mempermalukanku di depan dewan juri dan jutaan pasang mata penonton!"
Victor berdiri tenang di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pijar lampu kota. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada, wajahnya yang kaku memancarkan dominasi dingin, meski sorot matanya berkilat berbahaya.
"Tenangkan dirimu, Clarissa," ujar Victor datar namun menekan. "Meluapkan emosi kekanak-kanakan seperti ini tidak akan mengubah catatan evaluasi Rendra di tangan dewan kurator."
"Bagaimana aku bisa tenang, Victor?!" bentak Clarissa seraya berbalik cepat dan menunjuk layar tablet yang masih menyala. "Skor kita cuma selisih 0,5 poin di atas kertas! Dan sekarang media mulai mengungkit lagi kisah lama masa kuliah kita! Mereka menyebutku hanya bisa menang karena uang dan koneksi keluarga, sementara Maya selalu disanjung sebagai kejeniusan murni Fakultas Desain!"
Clarissa mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih. Ingatan tujuh tahun lalu di kampus Fakultas Seni dan Desain kembali berputar bagai paku panas yang menancap telak di dadanya.
Sejak hari pertama menapakkan kaki di ruang kuliah, Clarissa—putri tunggal pengusaha garmen papan atas—selalu menjadi pusat perhatian. Ia memiliki modal tanpa batas, bahan kain paling langka yang diimpor langsung dari Milan, dan asisten teknis pribadi yang siap mengeksekusi idenya. Namun, dalam setiap pameran semesteran, dewan dosen dan para kurator selalu menaruh perhatian utama pada Maya.
Maya, yang saat itu tampil sederhana tanpa embel-embel kemewahan, selalu berhasil menyihir auditorium hanya dengan selembar kain lokal dan presisi potongannya yang berjiwa. Gelar Best Graduate Design yang jatuh ke tangan Maya saat kelulusan menjadi pukulan telak bagi ego Clarissa—sebuah luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
"Tujuh tahun aku membangun Arum House!" bisik Clarissa dengan suara bergetar menahan tangis kemarahan. "Aku menguasai pasar komersial, aku masuk ke jajaran desainer elit, dan aku membayar media untuk mengubur nama Maya! Tapi begitu dia muncul kembali di kompetisi ini... dalam sekejap semua orang kembali menatapnya seolah aku ini cuma figuran!"
Victor melangkah mendekati Clarissa dengan hentakan sepatu kulitnya yang tegas. Pria itu mencengkeram kedua bahu Clarissa, memaksa wanita itu menatap lurus ke dalam manik matanya.
"Kau bukan figuran, Clarissa," desis Victor pelan namun sarat akan penekanan yang kuat. "Kau adalah wajah dari investasi tiga miliar milikku. Dan aku tidak mendedikasikan modal serta jaringan operasiku hanya untuk melihatmu kalah dari seorang desainer bangkrut."
Victor merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk berinti enkripsi emas dan meletakkannya di atas jemari Clarissa.
"Apa ini?" tanya Clarissa seraya mengerutkan dahi.
"Salinan berkas autentikasi paten dan sertifikat hak cipta atas nama Arum House," jawab Victor dengan pendar mata yang amat picik. "Aku sudah mendaftarkan klaim paten atas teknik draping siluet organza bertingkat atas namamu dua jam lalu di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual—menggunakan cetak biru draf awal yang kita curi dari server Maya minggu lalu."
Clarissa membelalakkan mata, lalu seulas senyum culas perlahan terbit di wajahnya. "Kau... mendaftarkan hak cipta atas karya Maya atas namaku?"
"Legalitas hukum tidak peduli siapa yang pertama kali menggambar di kertas sketsa, Clarissa," tegas Victor penuh kemenangan. "Hukum hanya memihak siapa yang pertama kali menyetor berkas berstempel negara. Saat panggung final dimulai nanti, tim hukumku akan melayangkan tuntutan pidana atas tuduhan pelanggaran hak cipta di tengah-tengah acara secara langsung."
Senyum Victor makin tajam ketika ia melanjutkan strategi sistematisnya. "Tapi kita tidak hanya fokus pada Maya. Konsorsium Kriya Bima di posisi empat dan Vano & Co. di posisi lima juga harus dipastikan terkunci mati agar tidak ada kejutan di papan skor."
"Apa rencanamu untuk mereka?" tanya Clarissa dengan binar minat yang mulai berkobar.
"Untuk Konsorsium Bima, pialang bahan kainku sudah memborong habis seluruh pasokan benang tenun alam kelas wahid di pasar lokal malam ini. Besok pagi, saat mereka butuh bahan tambahan untuk koreksi fisik, mereka hanya akan menemukan kain kelas dua yang mudah berserabut di bawah lampu panggung," papar Victor tanpa ampun.
"Sedangkan untuk Vano & Co., tim peretasku sedang menyuntikkan dokumen palsu terkait tuduhan penggelapan pajak studio mereka ke meja panitia. Begitu sidang kurasi dibuka besok, fokus mereka akan hancur untuk mengurus verifikasi legalitas."
"Luar biasa..." bisik Clarissa, matanya berbinar riang. "Semua pesaing ditiadakan dari belakang panggung!"
Namun, di tengah gelak senyum puas Clarissa, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Seorang pria bersetelan serba hitam masuk dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi.
"Pak Victor! Gawat. Ini bencana!" seru pria itu panik, memotong tawa Clarissa seketika. "Seseorang baru saja mengunggah dokumen digital Master Design 2026 asli milik Maya ke peladen publik, lengkap dengan stempel waktu terenkripsi yang membuktikan cetak biru itu dibuat tiga bulan sebelum pendaftaran paten kita!"
Wajah Victor yang semula tenang mendadak berubah menjadi sangat kelam.
Clarissa melangkah mundur beberapa tindak, matanya melebar menatap layar tabletnya yang mendadak dipenuhi notifikasi darurat. Notifikasi klaim pelanggaran balik mulai membanjiri akun Arum House, memancing badai reputasi yang siap menggulung takhta mereka dalam semalam.
"Siapa... siapa yang mengunggah dokumen terenkripsi itu?!" bentak Victor seraya mencengkeram kerah baju anak buahnya.
"Dito dan Rendra, Pak!" ratap pria itu pasrah. "Rendra menggunakan jaringan enkripsi bengkelnya untuk membuka stempel digital yang dikunci Maya sejak awal pendaftaran kompetisi!"
Ruang VIP Arum House seketika diliputi keheningan yang mencekam. Clarissa melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Senyum culas yang baru saja terukir di bibir Clarissa padam seketika, berganti menjadi kepanikan. Di hadapannya, untuk sesaat Victor berdiri mematung.
Tiba-tiba Victor mencengkeram kerah baju anak buahnya, matanya berkilat tajam memancarkan dendam yang siap melumat siapa saja yang mencoba menghancurkan dirinya.