Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 27
Suasana di dalam ruang tamu rumah Pak Damar mendadak berubah menjadi medan perang verbal yang dipenuhi amarah, kepalsuan, dan ego yang membubung tinggi.
Dada Bu Gina naik-turun dengan napas memburu. Ibu paruh baya itu langsung maju merentangkan tangan, melindungi Sandra dari usiran suaminya sendiri.
"Bapak benar-benar sudah pikun ya?!" bentak Bu Gina histeris, menatap suaminya dengan mata melotot.
"Kenapa diusir?! Jaman sekarang itu yang dicari materi, Pak! Bukan kesucian omongan kosong! Kalau Sandra mau sama Abi dan bawa kekayaan keluarganya, itu berkah buat keluarga kita! Kenapa Bapak malah bela si Yuri perempuan miskin itu?!"
"Ibu diam!" hardik Pak Damar dengan suara berat yang menggelegar, telunjuknya menunjuk tepat ke wajah istrinya.
"Kamu ajari anakmu hidup dalam kebusukan, dan sekarang kamu mau ikut menjual martabat keluarga demi harta haram?!"
Zaki, yang berdiri di samping tumpukan kantong belanjaan mewah, ikut-ikutan memasang muka masam membela sang ibu.
"Tahu nih, Ayah! Zaki mau kuliah dan beli motor baru dari uang Mbak Sandra! Kalau Ayah usir Mbak Sandra, berarti Ayah mau bikin Zaki menderita terus!"
"Abimana! Apa Ayah pernah mengajarkan kamu berkhianat? Apalagi pada wanita yang sudah membersamai kamu dari tak memiliki apa-apa sampai kini kamu memiliki jabatan? Bahkan karena doa dan juga kerja keras Yuri menopang hidupmu dan hidup keluarga ini hinga akhirnya kamu berada di titik ini!"
"Ayah... Abi...."
Di tengah keriuhan makian keluarga itu, Sandra sama sekali tidak menunjukkan rasa malu atau gentar. Perempuan itu justru mendengkus sinis, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya angkuh yang luar biasa.
Ia sama sekali tidak merasa bersalah meskipun statusnya sebagai perusak rumah tangga baru saja diteriakkan di hadapan kedua orang tua kekasih gelapnya.
"Dengar itu, Om?" ucap Sandra dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun menusuk, menatap lurus ke arah Pak Damar tanpa sedikit pun rasa segan.
"Bahkan Ibu dan adik Mas Abi saja tahu mana pihak yang menguntungkan dan mana yang membawa sial."
Abimana menoleh ke arah Sandra, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, suaranya bergetar hebat saat ia mencoba menarik lengan Sandra.
"Sandra... udah, kumohon jangan bicara seperti itu lagi di depan Ayah..." bisik Abimana panik setengah mati. Otaknya serasa mau pecah menghadapi situasi yang di luar kendali ini.
Namun Sandra menepis tangan Abimana dengan kasar. Ia justru melangkah lebih dekat ke arah Pak Damar, memamerkan senyuman penuh keyakinan yang menjijikkan.
"Kenapa aku harus diam, Mas?!" sanggah Sandra lantang, menatap Abimana lalu kembali menyorot Pak Damar.
"Om, asal Om tahu ya... saya ini tidak peduli meskipun Mas Abi sudah punya istri sebelumnya. Di dunia modern ini, pernikahan yang tidak bahagia itu wajar dibuang!"
Sandra mendongakkan dagunya tinggi-tinggi, melirik sinis ke arah pintu depan seolah-olah Yuri sedang berdiri di sana.
"Yuri itu cuma beban buat Mas Abi! Perempuan lemah yang kerjanya cuma bisa menggantungkan hidup pada suami! Sebentar lagi, Mas Abi pasti ceraikan dia," lanjut Sandra dengan senyum kemenangan yang amat congkak.
"Dan begitu surat cerai itu keluar, saya dan Mas Abi akan menikah! Kami akan hidup bergelimang harta, tinggal di rumah mewah, dan melupakan perempuan kampungan itu untuk selamanya!"
Mendengar ucapan Sandra yang tidak punya urat malu itu, Pak Damar mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang ditahannya sejak tadi meledak seketika.
"Perempuan tidak tahu malu!" murka Pak Damar dengan suara menggelegar yang membuat seluruh isi rumah bergetar.
"Kamu menginjak-injak pernikahan orang lain seolah itu barang bekas, lalu bicara soal kebahagiaan di atas air mata wanita lain?! Keluar dari rumah saya sekarang juga! Sebelum saya ambil sapu untuk mengusir kalian berdua!"
Bu Gina kembali menjerit histeris, sementara Zaki buru-buru menahan lengan ibunya agar tidak pingsan.
Abimana yang wajahnya sudah sepucat mayat tahu betul tabiat ayahnya. Mantan prajurit itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan panik luar biasa, Abimana mencengkeram pergelangan tangan Sandra.
"Sandra... ayo kita pergi dari sini sekarang... Kumohon, ayo keluar!" jerit Abimana ketakutan, memaksa Sandra berbalik badan.
Sandra mendengus kesal, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan gerakan angkuh.
"Ih, apaan sih, Mas! Lepasin! Biarin aja orang tua kuno ini sadar kalau masa depan kamu itu ada di tangan aku! Lagia apa bagusnya si Yuri yang cuma pelayan di caffe saja!"
"Sandra? Kamu... Apa kamu menemui Yuri? Jawab aku Sandra? Kapan?" Abimana mulai panik dan ketakutan.
"Apa sih? Biasa aja dong Mas Abi! Lagian apa salahnya aku ketemu dia! Kamu sih malah nutupin keberadaan dia dari aku! Jadinya aku cari tahu sendiri!" santai Sandra.
Abimana merasa sekujur darahnya mendadak membeku di tempat. Cengkeramannya di pergelangan tangan Sandra melemah seketika, digantikan oleh getaran hebat yang merambat hingga ke ujung jemarinya. Matanya membelalak lebar, menatap wanita di hadapannya dengan ekspresi horor seakan-akan ia sedang melihat makhluk asing yang paling mematikan.
"Kamu... kamu bilang apa, Sandra?!" teriak Abimana tertahan, suaranya pecah di tengah kepanikan yang menghantam ubun-ubunnya.
"Kamu... kamu pernah nemuin Yuri?! Kapan, Sandra?! Jawab aku!"
Sandra mengerutkan keningnya, merengut sebal karena merasa dibentak di tengah situasi yang sudah panas. Ia meronta, melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Abimana dengan kasar.
"Ih, apaan sih, Mas?! Usahakan jangan teriak-teriak begitu dong! Malu dilihatin sama ibu kamu!" tukas Sandra ketus, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat.
"Iya, aku pernah nemuin dia!. Kenapa sih? Panik banget kayak ketemu hantu!"
"Kamu... kamu gila ya?!" suara Abimana melengking tinggi, napasnya memburu tak beraturan. Keringat dingin bercucuran deras di pelipisnya.
"Kamu nemuin Yuri di mana? Apa yang kamu lakuin ke dia, Sandra?! Jawab aku!" desak Abimana histeris, mencengkeram kedua bahu Sandra dengan kuat hingga wanita itu terpekik kaget.
"Lepasin, Mas! Sakit!" maki Sandra, menepis tangan Abimana dengan beringas. Ia mendengus sinis, menatap Abimana dengan tatapan meremehkan.
"Ya ampun, Mas Abi... takut banget kelihatan istrinya? Waktu itu aku datengin dia ke kedai tempat dia kerja! Aku mau kasih tahu dia secara baik-baik atau ya, anggap aja sedikit pamer kalau kamu itu sebentar lagi jadi milik aku dan bakal ninggalin dia!"
Pak Damar yang berdiri tidak jauh dari mereka mengepalkan tangan semakin erat, menatap wanita di hadapannya dengan jijik yang amat sangat. Sementara Bu Gina dan Zaki tertegun, mulai menyadari bahwa situasi ini jauh lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏