NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Merakit Tarian Kematian

Matahari siang memanggang lapangan berdebu di belakang Kastil Denwick. Udara terasa kering dan panas, dipenuhi oleh suara napas terengah-engah, umpatan tertahan, dan bunyi langkah kaki yang diseret paksa.

Sudah berhari-hari sejak Max, Josh, Willi, Erson, dan Kin terperangkap dalam rutinitas neraka yang dirancang oleh Arya. Latihan fisik mereka sama sekali belum menyentuh penggunaan senjata. Arya memaksa kelima prajurit muda itu memanggul batu besar dari parit pertahanan, berlari mendaki bukit berulang kali hingga batas kesadaran mereka memudar, dan melakukan latihan ketahanan otot tanpa henti. Kesombongan yang dulu menempel di wajah mereka telah lama hancur, digantikan oleh kepatuhan mutlak yang lahir dari rasa lelah dan teror psikologis.

Sementara kelima prajurit itu merayap di tanah berlumpur untuk menyelesaikan hukuman fisik mereka, Arya duduk bersila di bawah naungan pohon ek tua di sudut lapangan. Sebilah pedang besi berkarat tergeletak melintang di atas pangkuannya.

Napasnya teratur, menerapkan ritme Lion Breathing secara konstan untuk memulihkan stamina ototnya. Namun, pikirannya melayang jauh melampaui lapangan berdebu ini.

Matanya menatap kosong ke arah bilah pedangnya, membedah sebuah masalah taktis yang sangat krusial. Sehebat apa pun seni bela diri dari dunianya yang lama, Arya menyadari adanya satu kelemahan fatal jika diterapkan mentah-mentah di Aetheria: teknik-teknik Bumi diciptakan untuk menghadapi kekuatan fisik manusia normal dan batas ketahanan material baja. Di Bumi, tebasan pedang tidak bisa membelah perisai baja tebal, sehingga teknik bertarung sangat berfokus pada mencari celah kecil, bergulat di jarak dekat, dan menangkis dengan kemiringan tertentu.

Namun, di dunia ini, keberadaan Aura menghancurkan hukum fisika tersebut.

Jika ia berhadapan dengan seorang ksatria veteran dari Kekaisaran Luminaria yang memiliki cadangan aura masif, ksatria itu bisa menebas pedang, perisai, sekaligus tubuh Arya menjadi dua bagian hanya dengan satu ayunan kasar. Menangkis serangan bertenaga aura dengan postur pertahanan statis (guard atau parry murni) ala standar ksatria Aetheria adalah sebuah bunuh diri bagi tubuhnya yang belum sempurna.

Arya mengambil sebatang ranting dan mulai menggambar pola geometri acak di atas tanah.

Aku tidak bisa sekadar memakai teknik berpedang yang sudah ada, batinnya dingin. Gaya bertarung dunia ini terlalu mengandalkan tenaga kasar dari Aura. Dan gaya bertarung dari duniaku terlalu rentan terhadap daya hancur magis. Aku harus menciptakan sebuah sintesis.

Pikirannya mulai membongkar seluruh ensiklopedia teknik pertempuran mematikan yang tersimpan di dalam memorinya. Ia memisahkan prinsip-prinsip intinya, mengekstraksi bagian yang paling efisien, dan membuang gerakan yang tidak relevan.

Pertama, pijakan kaki. Ia harus membuang pergerakan linear yang sekadar maju-mundur. Ia mengingat prinsip bela diri dari para duelista selatan di dunianya—sebuah tarian kaki melingkar yang memanfaatkan geometri. Alih-alih mundur saat diserang, kakinya harus melangkah menyilang ke sudut luar. Keluar dari jalur tebasan lawan, sekaligus memposisikan dirinya di titik buta mereka. Pertahanan terbaiknya bukanlah menangkis, melainkan membuat serangan musuh selalu meleset beberapa sentimeter.

Kedua, ritme serangan. Memutus momentum ayunan untuk menarik kembali pedang ke posisi awal adalah pemborosan tenaga. Arya mengingat gaya bertarung pasukan kavaleri pengembara dari timur jauh di dunianya. Pedang mereka selalu bergerak dalam lengkungan. Setiap kali senjatanya berbenturan dengan senjata lawan, itu bukanlah benturan keras, melainkan sebuah gesekan untuk membelokkan arah, yang secara alami berputar menjadi tebasan balasan. Senjatanya harus mengalir tanpa henti layaknya badai. Di dalamnya harus dipenuhi dengan gerak tipuan (feint) yang dirangkai sedemikian rupa hingga musuh tidak bisa membedakan mana serangan palsu dan mana tebasan yang akan memenggal leher mereka.

Ketiga, eksekusi mematikan. Ketika celah tercipta dari tarian melingkar dan tebasan beruntun itu, serangan akhirnya tidak boleh gagal. Untuk elemen ini, ia mengambil filosofi absolut dari para pendekar pulau seberang. Sebuah ketenangan pikiran yang mutlak—pemusatan niat membunuh pada satu titik—diakhiri dengan tebasan atau tusukan tunggal berkecepatan kilat yang mengeksploitasi seluruh titik berat tubuh. Satu serangan, satu nyawa yang melayang.

Arya menghentikan coretannya di tanah. Ia melempar ranting itu, perlahan bangkit berdiri, dan mencengkeram gagang pedangnya.

"Mari kita ciptakan gaya berpedang yang cocok dan efisien," gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Ia berjalan ke area kosong di pinggir lapangan, menjauh dari para prajuritnya yang masih sibuk mengutuki nasib mereka. Sambil mengatur napasnya, ia mulai mempraktekkan teori yang baru saja ia susun.

Langkah pertamanya terasa janggal. Otot-otot tubuh remajanya masih belum terbiasa merangkai gerakan-gerakan ekstrem dari berbagai aliran yang berbeda secara bersamaan. Saat ia mencoba melangkah melingkar sambil melakukan tebasan beruntun, pusat keseimbangannya goyah. Saat ia mencoba memusatkan ayunan eksekusi, pergelangan tangannya terasa kaku.

Terlalu lambat. Sudutnya terlalu lebar, Arya mengoreksi dirinya sendiri dalam hati.

Ia kembali ke posisi awal dan mengulanginya. Kali ini lebih pelan. Ia menyelaraskan pernapasan Lion Breathing-nya, membiarkan aura merah tipis merayap pelan ke otot kakinya untuk memberikan dorongan presisi.

Selangkah menyilang. Putaran pergelangan tangan. Tebasan tipuan dari bawah. Tarik titik berat tubuh. Eksekusi memutar.

SREKK!

Bilah usang itu membelah udara dengan letupan suara yang lebih tajam dari sebelumnya. Meskipun belum sempurna, Arya bisa merasakan aliran kekuatannya mulai tersambung. Gerakan yang awalnya terasa saling bertabrakan, perlahan mulai menemukan ritmenya sendiri. Ini adalah sebuah tarian pembantaian yang aneh: terlihat santai dan tidak mengancam pada detik pertama, namun berubah menjadi mesin pemotong daging pada detik berikutnya.

Arya tersenyum tipis, keringat membasahi pelipisnya. Ini baru tahap fondasi. Konsepnya sudah terbukti, ia hanya perlu menajamkannya, memahatnya ke dalam memori otot tubuh ini hingga menjadi refleks alami. Begitu potongan-potongan gerakan ini menyatu dengan sempurna bersama ledakan auranya, ia akan memiliki gaya berpedang yang murni miliknya sendiri. Sebuah gaya orisinal keluarga Denwick yang akan ia ukirkan ke dalam sejarah dunia Aetheria.

Ia kembali mengulangi rangkaian gerakan itu tanpa lelah, berputar dan menebas udara berulang kali layaknya orang gila yang sedang bertarung melawan hantu. Ia terus bereksperimen, mencari sudut paling mematikan dan keseimbangan paling sempurna.

Tanpa ia sadari, obsesinya dalam merakit teknik baru itu menjadi sebuah tontonan yang sangat membingungkan, sekaligus memesona, bagi orang-orang yang diam-diam mengamatinya dari kejauhan.

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!