Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Balas Dendam
"Maukah kamu bekerja sama denganku untuk memberinya pelajaran?"
Kalimat Revan itu terus terngiang di kepalaku, bahkan setelah perapian di ruang kerja itu mulai meredup dan hujan di luar sudah berhenti.
Bekerja sama untuk balas dendam. Kata-kata itu terdengar begitu asing di telingaku. Selama tiga tahun, aku adalah Arini yang selalu diajarkan untuk mengalah, sabar, dan memaafkan. Ibu mertuaku pernah bilang, "Perempuan itu harus seperti air, Arini. Mengalir saja, jangan melawan batu."
Dan aku menurut. Aku menjadi air yang terus mengalir, bahkan saat batu itu menghantamku bertubi-tubi. Sampai akhirnya aku tenggelam.
Aku menatap Revan yang duduk di depanku. Pria ini... baru beberapa jam aku mengenalnya, tapi dia sudah memberiku kehangatan yang tidak pernah kuberikan Bara selama tiga tahun. Jasnya, teh jahe dari pembantunya, dan sekarang... sebuah kesempatan untuk bangkit.
"Tapi... saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, Pak Revan," bisikku pelan, suaraku masih serak. "Saya tidak punya apa-apa. Bahkan ijazah kuliah saya, Bara yang menyimpannya dan tidak pernah memperbolehkan saya bekerja. Apa yang bisa saya bantu?"
Revan tersenyum tipis untuk pertama kalinya. Senyum yang membuat wajah dinginnya terlihat jauh lebih manusiawi.
"Kamu punya hal yang paling Bara takutkan, Arini," jawabnya. "Kamu tahu semua keburukan Mahendra Corp dari dalam. Kamu tahu bagaimana ibunya memperlakukanmu, bagaimana Bara memanipulasi laporan keuangan untuk terlihat hebat di depan investor. Dan yang paling penting..."
Revan berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya yang besar. Dia membuka laci dan mengeluarkan sebuah map hitam tebal, lalu meletakkannya di depanku.
"Kamu punya hak. Hak sebagai mantan istri yang diceraikan secara sepihak dan penuh kebohongan. Menurut hukum, kamu berhak menuntut harta gono-gini."
Aku menatap map itu dengan jantung berdebar.
"Di dalam map itu ada dua dokumen," Revan menjelaskan, kembali duduk. "Dokumen pertama adalah surat penawaran kerja. Aku ingin kamu bekerja di Aditya Group, sebagai asisten pribadiku. Aku akan memberimu gaji, tempat tinggal, dan membiayai kamu untuk melanjutkan kuliah S2 yang dulu tertunda karena menikah dengan Bara. Kamu tidak akan menjadi pajangan, kamu akan ku latih menjadi wanita karir yang sesungguhnya."
Asisten pribadi CEO Aditya Group? Aku bahkan tidak pernah membayangkannya.
"Dan dokumen kedua?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Kontrak balas dendam," jawab Revan dengan nada serius, matanya menatapku tajam. "Aku akan membantu tim pengacaramu untuk menggugat Bara. Bukan hanya untuk harta. Tapi untuk membongkar kebohongan terbesarnya: bahwa dia mandul, dan bahwa kehamilan Luna itu penuh kejanggalan. Kita akan buat dia mengakui semuanya di depan pengadilan. Di depan keluarganya yang selama ini menghinamu."
Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya memang ada dua dokumen seperti yang dia bilang. Dokumen pertama tertulis "KONTRAK KERJA - ADITYA GROUP" dengan nominal gaji yang membuat mataku membelalak. Angkanya sepuluh kali lipat dari uang bulanan yang dulu Bara berikan padaku dengan caci maki.
Dokumen kedua lebih tipis, hanya satu lembar. Di atasnya tertulis "SURAT KUASA PENUNTUTAN HUKUM".
Aku terdiam lama. Sangat lama. Pikiranku berperang.
Jika aku tanda tangan ini, tidak ada jalan kembali. Aku akan secara resmi berperang melawan Bara, melawan keluarga Mahendra yang sangat berkuasa.
Tapi jika aku tidak tanda tangan... aku akan kembali menjadi Arini yang tidak punya apa-apa. Arini yang hanya bisa menangis di pinggir jalan dengan koper butut.
Aku teringat wajah Bara yang dingin saat melempar surat cerai itu tepat di atas kue anniversary ku. Aku teringat senyum sinis Luna sambil mengelus perutnya. Aku teringat 500 juta yang dia lemparkan padaku seperti memberi makan anjing liar.
Cukup.
Air mataku yang terakhir malam ini jatuh, tapi kali ini bukan air mata sedih. Ini air mata keputusan.
Aku mengambil pulpen mahal yang tergeletak di atas map itu.
"Apa... apa Bapak tidak takut, Luna kan adik Bapak sendiri?" tanyaku sebelum tanda tangan, menatap Revan.
Wajah Revan mengeras. "Luna sudah kuanggap tidak ada sejak dia memilih berbohong dan mencuri data perusahaanku untuk diberikan pada Bara. Dia memilih jalannya. Sekarang aku memilih jalanku. Dan jalanku adalah memastikan wanita yang tidak bersalah seperti kamu mendapatkan keadilan."
Jawaban itu cukup.
Dengan satu tarikan napas panjang, aku menandatangani kedua dokumen itu. Tanda tanganku di bawah tanda tangan Revan Aditya Pratama terlihat kecil, tapi tegas.
Arini Saputri.
Saat tinta itu kering, aku merasa beban tiga tahun di pundakku terangkat sedikit.
Revan mengambil map itu dan mengulurkan tangannya padaku. Tangannya besar, hangat, dan kokoh.
"Selamat datang di Aditya Group, Arini. Dan selamat datang di kehidupan barumu."
Aku menyambut uluran tangannya. Untuk pertama kalinya, sentuhan seorang pria tidak membuatku takut.
"Terima kasih, Pak Revan," bisikku.
"Jangan panggil Pak," koreksinya dengan senyum tipis. "Panggil Revan saja, kalau kita hanya berdua."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku tidur tanpa menangis. Di kamar tamu yang hangat dan wangi, dengan piyama sutra yang lembut, dan dengan sebuah harapan baru di dalam hati.
Di luar kamar, Revan berdiri di balkon, menatap langit yang sudah cerah setelah hujan, sambil menelepon seseorang.
"Rina, terima kasih. Data kehamilan Luna sudah kamu kirim? Bagus. Ternyata dugaanku benar, usia kehamilannya sudah 4 bulan, bukan 2 bulan seperti yang dia katakan pada Bara. Anak itu bukan anak Bara."
Revan tersenyum dingin ke arah langit malam.
"Permainan baru saja dimulai, Bara Mahendra."