Iris Quinn hanyalah sekretaris culun yang mudah diinjak-injak. Di rumah ia dijadikan keset oleh keluarganya, di kantor ia jadi samsak perundungan. Bahkan sang CEO, Ethan Cole, memilihnya hanya karena yakin gadis itu tidak akan punya nyali untuk menggodanya.
Tapi mereka tidak tahu, Iris yang asli sudah mati.
Tubuh ringkih itu kini dikuasai oleh jiwa Valerie Crowe, jenderal perang wanita kejam yang tewas diterkam harimau di medan tempur. Bagi Valerie, menghadapi drama kantor dan keluarga picik bukanlah masalah besar. Ini hanyalah medan perang baru yang sangat mudah ditaklukkan.
Dengan kecerdasan otak Iris dan insting membunuh seorang jenderal, Valerie mulai mematahkan satu per satu harga diri orang yang pernah menindasnya. Saat Ethan Cole menyadari sekretaris penurutnya berubah menjadi wanita berdarah dingin yang bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, sang CEO justru mulai terobsesi.
Mereka pikir Iris bisa terus ditindas? Selamat datang di neraka. Permainan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Ethan
Valerie tidak tahan dengan bunyi telfon yang sejak kemarin memekakkan telinga. Ia sama sekali belum mengangkat panggilan itu selain di malam pertama saat ia masuk ke tubuh Iris.
Jadi sebelum membeli pakaian, ia memutuskan untuk menemui keluarga Iris yang ia anggap seperti benalu itu. Valerie penasaran, keluarga macam apa yang menjadikan anaknya sebagai keset.
Dengan mengenakan kaos putih yang kedodoran dan celana jeans yang warnanya agak pudar, ditambah tas selempang yang talinya hampir putus, Valerie berangkat ke rumah keluarga Iris.
Jarak dari apartemen barunya ke rumah keluarga Iris lumayan jauh. Namun Valerie memutuskan berjalan kaki agar lebih sehat sekaligus melatih kekuatan. Tidak disangka di tengah jalan ia malah hampir pingsan dan di tolong oleh seorang ibu-ibu. Lalu ibu itu memberi Valerie makanan karena melihat wajah Valerie yang pucat.
"Iris, apa seumur hidupmu hanya kau habiskan untuk bekerja dan belajar ? Tidak bisakah kau melatih kekuatanmu" gerutu Valerie hampir menangis karena sebal.
Ia mendudukkan tubuhnya di kursi di depan jalan raya. Lebih baik menunggu taksi lewat daripada pingsan betulan nanti.
Sejak kemarin Valerie berpikir keras, jika Iris memiliki banyak uang lalu mengapa ia hidup dengan sangat tidak layak. Dan hanya menghabiskan uangnya untuk diberikan pada keluarganya.
"Mungkin uang itu untuk dana daruratnya" pikir Valerie.
"Tapi Dewi perang tidak butuh dana darurat. Dia hanya butuh persiapan yang matang" lanjutnya.
Teringat lagi oleh Valerie, dia mati dengan meninggalkan banyak harta. Mulai dari koin emas, perhiasan bahkan barang antik yang harganya sangat mahal.
Ia hanya sebatang kara karena Ayahnya, yang menjadi satu-satunya keluarganya sudah tiada saat ia berusia delapan belas tahun karena sakit. Sedangkan Ibunya sudah pergi lebih dulu sesaat setelah melahirkannya.
Itu sebabnya Valerie sangat menyayangi Ayahnya karena memang Ayahnya yang menjadi Ayah sekaligus Ibu bagi Valerie.
Ayahnya seorang pria yang baik. Ia bekerja dan menjaga Valerie bersamaan. Saat Raja meminta Valerie menjadi prajurit nya, ia menjadi orang pertama yang bahagia. Setidaknya, dibawah perlindungan Raja, maka Valerie akan aman jika sewaktu-waktu ia pergi.
Dan ketika Ayah Valerie meninggal, Raja atas persetujuan Permaisuri mengangkat Valerie menjadi putri mereka. Jadi di kerajaan Aurelia, Valerie disegani karena keberadaannya serta statusnya yang menjadi kesayangan keluarga kerajaan.
"Kemana perginya harta-harta ku setelah ini ya" tanyanya pada diri sendiri.
Sebuah mobil sport berhenti di depan Valerie. Ia mengangkat kepalanya. Merasa mengenali siapa pemiliknya.
"Sedang apa kau disini, Nona Quinn ?"
Hem benar saja. Itu suara si dingin Ethan Cole. Ia membuka kaca pintunya dan memperlihatkan wajah dinginnya pada Valerie.
"Aku hanya sedang duduk, Bos" jawab Valerie tanpa berdiri memberi hormat. Jika itu Iris yang dulu sudah pasti akan panik tidak karuan.
Terlihat oleh Valerie jika Ethan menghembuskan nafas berat. Lalu ia melepas kacamatanya hitamnya memperlihatkan mata yang bisa membekukan suasana.
"Kau mau kemana biar ku antar" kata Ethan lagi.
"Oh tidak perlu, Bos. Aku bisa pergi sendiri" kata Valerie. Ia berdiri dan berniat meninggalkan Ethan.
"Hei Quinn, kemarilah. Kau berani sekali mengabaikan ku" teriak Ethan.
Tapi Valerie tidak menyahut lagi. Ia berjalan santai menyusuri trotoar sembari merasakan angin yang sejuk.
Tidak disangka Ethan mengejarnya dan segera menarik tangannya. "Belum pernah ada yang menolakku. Kau berani sekali ya" ujar Ethan sangat dekat dengan wajah Iris.
"Bos, apa kau tidak takut ada yang bergosip tentang mu karena memaksa seorang gadis seperti ku ?" kata Valerie dengan nada datar. Tatapannya tajam membuat Ethan sangat tertarik. Sekretarisnya ini seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda.
"Siapa yang berani bergosip tentang Ethan Cole ? Apa mau ku hapus dari muka bumi ini" Ethan segera menarik Valerie dan memaksanya masuk ke mobil.
Mungkin Valerie bisa saja menolaknya, tapi jika itu tubuhnya yang dulu. Tubuh Iris hanya berjalan beberapa meter saja sudah kelelahan apalagi menghadapi Ethan yang tubuhnya kekar berotot.
'Tubuhnya sangat bagus. Seperti Alexander ' gumam Valerie hampir tertawa.
'Sayang sekali aku belum bisa menyentuhnya '.
"Apa yang kau tertawakan ?" tanya Ethan mengerutkan keningnya. Pasalnya tidak ada yang lucu disini tapi kenapa Iris tertawa sendiri.
"Kau yang lucu, Bos" ujar Iris segera menghentikan tawanya.
"Aku ?" tanya Ethan bingung. Tapi kemudian ia tidak ambil pusing. Bukankah Iris memang aneh ? Lihatlah penampilannya yang kuno. Kacamata tebal membingkai wajahnya dan sepasang kepang yang sudah melekat pada dirinya. Tapi entah mengapa kali ini Ethan betah lama-lama melihatnya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang hanya melirik saja.
"Kau mau kemana ?" tanya Ethan setelah mobil mulai melaju.
"Komplek Kamboja" jawab Iris. Dari nada suaranya bisa Ethan rasakan jika Iris yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu.
"Rumahmu ?" tanya Ethan lagi.
"Apa semua urusan karyawan kau harus tau ?" kali ini Iris menjawab dengan sinis. Ia melihat kearah Ethan. Tatapan yang Ethan rasakan langsung tertuju ke jantungnya.
"Ekhem bukan begitu" jawab Ethan dengan canggung. Dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri mengapa menanyakan hal yang jelas-jelas bukan urusannya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Suara musik mengalun lembut membuat Iris hampir tertidur.
Ethan sesekali melirik kearah Iris, ingin mencoba membuka obrolan tapi itu sama sekali bukan gayanya. Ia bukan orang yang humoris atau cepat bergaul.
"Kalau boleh tau, kau gunakan untuk apa saja gajimu selama bekerja denganku ?" tanya Ethan selanjutnya. Meskipun ia ingin menahan pertanyaan itu tapi akhirnya dikalahkan oleh rasa penasarannya sendiri. Ia melihat Iris yang jauh dari kata wah. Padahal gaji sekretaris di perusahaannya sangat besar.
"Tidak tau aku lupa" jawab Iris asal. Ia menegakkan lagi tubuhnya yang hampir merosot.
"Kalau kau mengantuk tidur saja tidak apa-apa" kata Ethan dengan lembut. Dan lagi-lagi ia menyesali perkataannya sendiri. Kenapa ia bisa bicara begitu pada Iris.
Iris tidak menjawab apa-apa. Ia membuka ponsel jeleknya sebentar kemudian memasukkannya lagi ke dalam tas nya yang jelek juga.
"Ish apa kau tidak bisa membeli barang-barang yang lebih bagus. Kau bekerja sebagai sekretaris Ethan Cole dan lihat dirimu. Mataku sakit melihatnya" gerutu Ethan.
"Kalau begitu jangan dilihat" sengit Iris.
...
abs pnya apartmen baru,abs tu blnju baju yg bgus...trs k salon,kl prlu ptong rmbut biar buang sial.....
kl kluarganya mnta uang,jgn d ksih...lbh baik pke buat dri sndri aja...ok jendral....
Aku udh mmpir lg....crtanya seru,sm ky crtamu yg lain....😁😁😁...
ska bgt kl cwek tngguh ky gni,ga menye2 trs kl ada yg ngusik lngsng d bls....d tnggu up'ny y....smngttt....😘😘😘