Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-17
"Tuan Mahrup! Pasien atas nama Ibu Maria mendadak kritis di ruang ICU! Dan... ada seorang wanita mengaku bernama Clarissa yang memaksa masuk ke ruang perawatan!"
Mahrup mendadak bangkit dari kursi kerjanya, rahangnya mengeras tajam seketika. Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang CEO meraih kunci mobilnya dan memberikan instruksi tegas agar Hazel tetap berada di kantor untuk menyelesaikan penyesuaian jadwal harian hingga ia kembali.
Jam dinding menunjukkan pukul 12.30 WIB ketika Hazel memutuskan turun ke kantin utama di lantai dua. Kepalanya terasa pening membayangkan kondisi ibunya di rumah sakit
Di tengah krisis emosi yang berkecamuk, Hazel sangat merindukan kehangatan dari rekan-rekan kerjanya yang lama.
Membawa nampan makan siang berisi nasi dan lauk pauk sederhana, Hazel menyapu pandangannya ke sekeliling kantin yang riuh. Di sudut dekat jendela, tampak Luna, Vita, dan beberapa staf administrasi sedang duduk melingkar sembari mengobrol seru.
Dada Hazel berdesir, terbit sedikit harapan. Dengan ragu, Hazel melangkah mendekati meja mereka.
"Mbak Luna... Mbak Vita... boleh Hazel bergabung makan di sini?" sapa Hazel pelan, menyunggingkan senyum tulus walau wajahnya pucat pasi.
Seketika itu juga, gelak tawa di meja tersebut terhenti total. Keheningan canggung mencekat udara.
Vita mengalihkan pandangannya ke arah lain, pura-pura sibuk mengaduk es teh manisnya, sementara dua staf administrasi di sampingnya menatap Hazel dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan dingin merendahkan.
"Aduh, maaf ya, Bu," sindir Luna nyaring dengan nada manis yang dibuat-buat, memecah hening secara kasar. "Meja kita ini cuma buat staf biasa yang kerjanya jujur dan kotor-kotoran. Tempatnya sempit, nanti pakaian mahalmu yang dapet dari bos bisa ketumpahan kuah!"
"Mbak Luna, Hazel cuma mau makan bareng kayak biasa..." bisik Hazel parau, menahan perih yang menghantam dadanya. "Hazel nggak ada maksud apa-apa..."
"Nggak usah sok akrab deh, Hazel!" potong Luna cepat, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menegakkan punggung. Suaranya sengaja dinaikkan beberapa tingkat hingga memancing perhatian belasan karyawan lain di meja sekitarnya.
"Semua orang di gedung ini juga sudah tahu kok!" lanjut Luna sengaja berteriak miring. "Cewek lulusan sekolah biasa yang baru masuk dua hari mana bisa langsung mendepak Sekretaris Rian kalau nggak pakai 'cara kotor'? Mana ada bos besar yang tiba tiba mengangkat seorang Office girl jadi PA nya,kalau nggak ada imbalan 'servis' di belakang layar? Kamu itu cuma simpanan Tuan Mahrqup yang Sok Polos tau Ga!"
Jlebb!!
Kata-kata kasar itu menghantam batin Hazel bagaikan pukulan telak yang meremukkan seluruh harga dirinya. Wajah Hazel memucat sempurna, tubuhnya gemetar hebat menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Di sekeliling mereka, kasak-kusuk karyawan lain mulai terdengar makin riuh. Tatapan sinis, tawa meremehkan, dan bisikan bernada menjijikkan seketika terarah tepat pada sosok Hazel yang berdiri sendirian di tengah kantin.
"Mbak Luna... fitnah itu dosa besar," ujar Hazel dengan suara parau bergetar, mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada pinggiran nampan. "Hazel kerja pakai keringat sendiri, Hazel nggak pernah jadi simpanan siapa pun!"
"Alasan! Buktiin dong kalau kamu nggak jual diri!" tantang Luna puas melihat Hazel terpojok.
Rasa malu dan sedih yang luar biasa membuat napas Hazel terasa sesak. Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun lagi, Hazel memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan kantin, membiarkan nampan makan siangnya tergeletak begitu saja.
Hazel berlari menuju koridor belakang yang sepi menuju arah lift eksekutif, menahan lelehan air mata yang akhirnya pecah membasahi pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping,di saat ia berjuang mempertahankan nyawa sang ibu, orang-orang justru menginjak-injak kehormatannya tanpa ampun.
Namun, begitu pintu lift eksekutif terbuka di lantai dua belas, Hazel tersentak kaget.
Mahrup sudah kembali dari rumah sakit dan berdiri di depan meja kerja Hazel dengan wajah kelam sehitam awan badai.
Di tangan sang CEO, terikat rapat amplop cokelat tebal berisi tulisan tinta merah rahasia rumah sakit,amplop misterius yang tadi sempat Hazel sembunyikan di bawah iPad miliknya.
Mahrup menatap Hazel yang menangis sembap dengan iris mata yang berkilat dingin dan sarat akan kekecewaan yang mendalam.
"Jelaskan pada saya, Hazelia..." suara Mahrup mengalun rendah dan mencekam, mengangkat amplop itu di udara. "Kenapa dokumen rahasia rekam medis internal milik Clarissa bisa ada di atas mejamu?"