Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOKUMEN YANG TIDAK SELESAI
Pagi berikutnya, Nayla terbangun sebelum ponselnya berbunyi.
Cahaya matahari masuk dari celah tirai kamar lamanya. Ia menatap langit-langit beberapa saat sebelum mengingat semua yang terjadi kemarin: gudang, Bayu, Arga yang diselamatkan, dan Raka yang terluka di lengan.
Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang belum benar-benar berakhir.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Dimas.
**Dimas:** Selamat pagi, Bu Nayla. Pak Raka sudah menjalani pemeriksaan lanjutan. Beliau baik-baik saja. Tim penyidik meminta kehadiran Pak Raka dan Bu Nayla di kantor polisi pukul sepuluh untuk memberikan keterangan.
Nayla membaca pesan itu dua kali.
Ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau semakin cemas. Pemeriksaan resmi berarti semua kejadian akan dibahas kembali. Setiap pertanyaan bisa membuka luka yang belum selesai. Namun ia juga tahu, inilah jalan yang benar.
Ia membalas.
**Nayla:** Baik, Mas Dimas. Saya akan datang.
Tidak lama kemudian, Bu Ratih mengetuk pintu kamar.
“Nayla, sudah bangun?”
“Iya, Ma.”
“Pak Hendra sudah bicara dengan polisi. Kita berangkat pukul sembilan.”
Nayla duduk di tepi ranjang. “Mama ikut?”
“Mama menunggu di lobi. Papa juga.” Bu Ratih masuk dan duduk di samping Nayla. “Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.”
Nayla mengangguk.
“Ma,” katanya setelah beberapa saat, “kalau nanti ternyata dokumen Bayu itu benar?”
Bu Ratih menatapnya tenang. “Kalau benar, kita lihat apa isinya. Jangan kita menghukum Pak Raka sebelum bukti diperiksa. Tapi jangan juga memaksakan diri untuk mempercayainya hanya karena dia sudah menolongmu.”
Nayla menunduk.
“Mama tahu kamu mulai menghargai kehadirannya,” lanjut Bu Ratih. “Itu wajar. Dia hadir saat kamu sedang jatuh. Tapi jangan biarkan rasa terima kasih membuatmu berhenti bertanya.”
Kalimat itu membuat Nayla mengangkat wajah.
“Aku tidak berencana berhenti bertanya.”
“Bagus.”
***
Pukul sembilan, Nayla berangkat bersama orang tuanya.
Kantor polisi tidak jauh dari pusat kota. Bangunannya tampak sederhana, tetapi suasana di sekitarnya terasa berat. Beberapa orang menunggu di lobi dengan wajah lelah. Nayla menggenggam tas kecil berisi dokumen yang ia kumpulkan: tangkapan layar ancaman, foto, rekaman suara, dan salinan pesan dari Dimas.
Dimas sudah menunggu di lobi.
“Selamat pagi, Bu Nayla,” sapa ia. “Pak Raka sudah di ruang tunggu saksi.”
“Bagaimana kondisinya?”
“Lukanya tidak serius. Tapi dokter meminta beliau tidak terlalu banyak bergerak.” Dimas menatap Nayla sejenak. “Beliau bertanya tentang Ibu sejak tadi.”
Nayla tidak menjawab.
Ia mengikuti Dimas menuju ruang tunggu. Di sana, Raka duduk di kursi dengan lengan kanan dibalut perban. Wajahnya pucat, tetapi posturnya tetap tegak.
Begitu melihat Nayla, pria itu menoleh.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Nayla berhenti beberapa langkah darinya.
“Saya yang seharusnya bertanya begitu.”
“Saya sudah menjawabnya berkali-kali.”
“Bapak tetap pergi sendirian.”
Raka tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan.
“Saya salah.”
Nayla menatapnya cukup lama. Ia ingin memarahi Raka, tetapi kata-kata itu tidak keluar. Pria itu baru saja diselamatkan dari penculikan, lalu langsung diminta memberikan keterangan kepada polisi. Namun Nayla tidak ingin terus menjadi orang yang memaafkan setiap kali seseorang berjanji akan berubah.
“Kita bicara nanti,” ucapnya akhirnya. “Sekarang kita selesaikan keterangan ini.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
***
Ruang keterangan tidak seperti yang Nayla bayangkan.
Tidak ada meja panjang yang menakutkan atau dinding penuh berkas. Hanya ada meja bundar, beberapa kursi, dan dua penyidik yang duduk menghadap mereka. Inspektur Wina hadir sebagai pengawas, sementara petugas siber membawa laptop.
“Kami akan memulai dengan kronologi,” kata salah satu penyidik. “Mulai dari saat Ibu pertama menerima pesan ancaman.”
Nayla menceritakan semuanya secara berurutan.
Tentang pesan pertama dari nomor tidak dikenal.
Tentang foto dirinya dan Raka.
Tentang ancaman agar tidak datang ke kantor.
Tentang panggilan Siska yang mengancam Raka akan “membayar”.
Tentang gudang Kencana Logistik dan Raka yang ditemukan di sana.
Penyidik mencatat dengan tenang. Kadang mereka meminta Nayla mengulang bagian tertentu atau menunjukkan tangkapan layar. Nayla menjawab tanpa menambahkan dugaan yang tidak ia yakini.
Setelah itu, giliran Raka.
Ia menjelaskan hubungannya dengan Bayu dan Alena. Ia menjelaskan mengapa kerja sama bisnis mereka berakhir. Ia juga menyerahkan sebuah map berisi dokumen lama kepada penyidik.
“Ini salinan laporan audit yang saya simpan,” kata Raka. “Saya tidak meminta siapa pun percaya pada kata-kata saya. Silakan periksa keasliannya.”
Penyidik membuka map itu.
Ada beberapa lembar berwarna kusam. Di halaman pertama terdapat judul laporan audit proyek yang dulu digarap Bayu dan Raka. Di bagian bawah, terdapat tanda tangan Raka.
Nayla menatap tanda tangan itu.
“Jadi nama Bapak memang ada di dokumen yang Bayu sebut,” ujar penyidik.
“Benar,” jawab Raka. “Saya yang mengesahkan laporan hasil pemeriksaan. Tapi laporan itu tidak menyatakan saya terlibat dalam penyalahgunaan dana. Justru laporan itu menunjukkan adanya penyimpangan dari pihak vendor.”
Bayu, yang duduk di kursi lain dengan pengawalan, langsung berbicara.
“Dia yang mengubah laporan itu.”
Raka menoleh kepadanya. “Bukti.”
“Dokumen asli ada di tangan saya.”
“Kalau begitu, serahkan.”
Bayu menatap penyidik. “Saya punya salinan. Tapi saya tidak akan memberikannya sebelum saya tahu hak saya.”
Penyidik tidak terpancing.
“Hak Ibu akan dijelaskan oleh pengacara. Namun dokumen yang berkaitan dengan penyelidikan ini harus diserahkan jika diminta.”
Bayu menggigit bibirnya.
Nayla memperhatikan wajah pria itu. Ada kepanikan yang tidak bisa disembunyikan. Bayu tampak seperti seseorang yang sudah terlalu lama membangun cerita tentang dirinya sebagai korban, lalu mulai kehilangan kendali ketika cerita itu harus diuji.
“Bayu,” kata Nayla pelan, “kalau dokumen itu benar-benar membuktikan Raka bersalah, serahkan saja. Tidak perlu menahan Arga atau mengancam siapa pun.”
Bayu menatapnya tajam.
“Kamu pikir kamu bisa mengajari aku?”
“Tidak.” Nayla menarik napas. “Aku hanya ingin semua orang berhenti menyakiti orang lain demi memenangkan versi cerita masing-masing.”
Bayu tidak menjawab.
Raka menoleh kepada Nayla. Ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit dibaca. Bukan kesalahan. Bukan kemarahan. Mungkin penghargaan.
Namun Nayla tidak ingin memperpanjang tatapan itu. Ia masih tidak tahu apakah Raka benar-benar bersih dari semua tuduhan. Ia hanya tahu bahwa ia tidak akan lagi membiarkan rasa simpati menggantikan kehati-hatian.
***
Pemeriksaan berlanjut hingga siang.
Siska juga dipanggil. Ia masuk ke ruangan dengan pengawalan, mengenakan jaket abu-abu dan wajah tanpa riasan. Ia tidak lagi tampak seperti perempuan yang dulu berdiri di kafe dengan senyum penuh kendali.
“Saya ingin menjelaskan,” kata Siska segera.
Penyidik mengangguk. “Silakan.”
“Bayu yang menyuruh aku mendekati Arga.”
Raka menatapnya dingin. Nayla juga menegang.
“Bayu bilang Arga punya akses ke dokumen proyek,” lanjut Siska. “Dia menyuruh aku membuat Arga percaya padaku. Aku hanya menjalankan perintah.”
Arga, yang duduk di kursi seberangnya, menoleh.
“Kamu bilang kamu mencintaiku.”
Siska menatapnya. Untuk sesaat, wajahnya berubah.
“Aku tidak tahu harus bagaimana. Bayu mengancam akan menyebarkan hal-hal tentang masa laluku kalau aku tidak membantunya.”
“Masa lalu apa?” tanya Nayla.
Siska menunduk.
“Aku pernah bekerja di perusahaan yang sama dengan Bayu. Aku pernah membantu menyembunyikan beberapa transaksi. Bayu punya bukti. Dia menggunakannya untuk membuatku menurut.”
Ruangan itu sunyi.
Raka menarik napas pelan. “Jadi Bayu tidak hanya memanfaatkan Arga. Ia juga memakai kamu.”
Siska mengangguk, lalu menatap Nayla.
“Aku tahu aku menyakiti kamu. Aku tahu aku salah.” Suaranya bergetar. “Tapi aku tidak berencana menculik Raka. Itu ide Bayu. Aku cuma panik ketika pemeriksaan mulai berjalan.”
“Panik bukan alasan untuk menculik orang,” kata Nayla.
Siska menunduk.
“Aku tahu.”
Nayla tidak merasa puas mendengar pengakuan itu. Tidak ada yang bisa mengembalikan ketenangannya. Tidak ada yang bisa menghapus malam-malam ketika ia menunggu Arga pulang sementara pria itu bersama Siska.
Namun Nayla juga tidak ingin berhenti di kebencian.
Ia ingin kebenaran.
“Kalau Bayu yang memaksa kalian,” kata Nayla kepada Siska, “kenapa kamu masih mengirim ancaman kepadaku setelah Raka diselamatkan?”
Siska terdiam.
“Bayu menyuruhku.”
“Bayu sudah ditangkap.”
“Aku takut.”
“Takut pada siapa?”
Siska menggenggam ujung lengan bajunya.
“Takut kalau ada orang lain yang masih bekerja untuk Bayu.”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Penyidik menatap Siska dengan serius. “Apakah ada orang lain yang terlibat?”
“Saya tidak tahu namanya. Tapi Bayu pernah menerima pesan dari seseorang di dalam perusahaan. Dia menyebutnya ‘orang lantai dua puluh tujuh’.”
Nayla langsung menegang.
Lantai dua puluh tujuh adalah lantai tempat Raka bekerja.
Raka juga tampak menegang.
“Siapa lagi yang punya akses ke lantai itu?” tanya penyidik.
“Banyak orang,” jawab Raka. “Tapi tidak semua orang bisa mengakses dokumen proyek.”
Dimas, yang berdiri di dekat pintu, mendekat. “Pak, sistem akses internal bisa diperiksa. Ada catatan siapa yang masuk dan keluar dari area kerja tertentu.”
“Lakukan,” ujar penyidik.
Dimas mengangguk.
Nayla menatap Raka.
“Bapak tahu siapa yang dimaksud?”
“Belum.” Raka menatapnya jujur. “Tapi kalau ada orang lain di perusahaan yang bekerja dengan Bayu, kita tidak boleh menganggap kasus ini selesai.”
***
Setelah pemeriksaan, Nayla dan Raka berjalan ke ruang tunggu.
Nayla masih memikirkan kata-kata Siska. *Orang lantai dua puluh tujuh.* Kalimat itu terlalu spesifik untuk diabaikan.
“Bapak tidak takut?” tanya Nayla.
Raka menoleh. “Takut apa?”
“Kalau ternyata ada orang di perusahaan yang memang membantu Bayu.”
“Saya takut.” Raka menjawab tanpa ragu. “Tapi ketakutan tidak boleh membuat kita berhenti mencari kebenaran.”
Nayla mengangguk.
“Siska bilang Bayu punya dokumen yang bisa membuktikan Bapak bersalah.”
“Kalau dokumen itu ada, biarkan penyidik memeriksanya.”
“Bapak tidak ingin membela diri?”
“Saya sudah memberikan semua yang saya punya.” Raka menatapnya. “Kalau saya terus membela diri, saya akan terlihat seperti orang yang hanya ingin menutupi kesalahan. Saya tidak ingin itu.”
Nayla terdiam.
Raka tidak memintanya percaya. Ia meminta proses yang jalan.
“Terima kasih,” ucap Nayla akhirnya.
“Untuk apa?”
“Karena Bapak tidak memaksa saya memilih percaya atau tidak.”
Raka tersenyum tipis. “Kamu tidak perlu memilih sekarang. Cukup jaga dirimu dan jangan biarkan orang lain menentukan ceritamu.”
Nayla ingin menjawab, tetapi ponselnya bergetar.
Pesan dari Dimas.
**Dimas:** Bu Nayla, tim IT menemukan aktivitas akses tidak wajar dari akun seorang pegawai di lantai dua puluh tujuh. Namanya Tegar. Ia asisten administrasi proyek. Kami sedang memeriksa hubungannya dengan Bayu.
Nayla membaca pesan itu.
“Tegar?” ucapnya pelan.
Raka mengernyit. “Tegar Prasetyo?”
“Kamu kenal?”
“Dia asisten administrasi proyek Puri Sagara.” Wajah Raka berubah serius. “Ia sering mengurus berkas dan jadwal kunjungan. Kalau dia yang membantu Bayu, banyak dokumen bisa berpindah tanpa terlihat.”
Nayla menatap ponselnya.
“Jadi Bayu tidak bekerja sendirian.”
“Tampaknya begitu.”
Ponsel Raka bergetar.
Ia membaca layar, lalu wajahnya berubah.
“Ada apa?” tanya Nayla.
“Tegar tidak masuk kerja hari ini.” Raka mengangkat wajah. “Dan ponselnya tidak aktif sejak semalam.”
Nayla merasa dadanya kembali sesak.
Bayu sudah ditangkap.
Siska sudah diamankan.
Arga sudah diselamatkan.
Namun orang yang mungkin menjadi mata-mata Bayu di dalam perusahaan justru menghilang.
“Apakah Tegar kabur?” tanya Nayla.
“Belum pasti.” Raka berdiri, meski wajahnya menunjukkan rasa sakit. “Tapi kita tidak bisa menganggap ini kebetulan.”
Dimas datang dari arah lorong dengan langkah cepat.
“Pak, ada perkembangan.”
“Katakan.”
“Kami menemukan catatan akses dari akun Tegar. Malam sebelum Raka diculik, ada percobaan mengunduh dokumen proyek dari komputer di ruang rapat.”
“Dokumen apa?” tanya Nayla.
Dimas menatapnya dengan ragu.
“Dokumen yang sama yang sekarang dipakai Bayu untuk menuduh Pak Raka.”
Nayla menatap Raka.
Raka mengatupkan rahang.
“Jadi dokumen itu tidak hanya dari masa lalu,” katanya. “Ada yang menyalin ulang dan mengubahnya.”
“Untuk apa?” tanya Nayla.
“Untuk membuat saya terlihat bersalah,” jawab Raka. “Bayu tidak hanya ingin membalas dendam. Dia ingin menghancurkan nama saya secara permanen.”
Nayla menatap pria itu.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang nyata di wajah Raka. Bukan ketakutan karena terluka. Bukan karena diculik.
Melainkan karena reputasi dan kebenaran yang ia pertahankan selama bertahun-tahun bisa direbut oleh orang yang sengaja memalsukan cerita.
“Kita akan buktikan,” kata Nayla.
Raka menoleh.
“Kamu tidak harus berjanji membantuku.”
“Aku tidak berjanji membantu Bapak.” Nayla menarik napas. “Aku berjanji tidak akan diam kalau ada yang memalsukan kebenaran.”
Raka menatapnya cukup lama.
Lalu ia mengangguk.
“Terima kasih.”
Nayla tidak menjawab.
Ia hanya memandang layar ponselnya, tempat nama Tegar Prasetyo kini menjadi petunjuk baru.
Bayu mungkin sudah tertangkap.
Siska mungkin sudah dihentikan.
Tetapi seseorang masih bersembunyi di dalam perusahaan, dan orang itu tahu cara memutarbalikkan dokumen menjadi senjata.
Nayla tidak tahu siapa orang itu.
Namun ia tahu satu hal.
Kasus ini belum selesai.