"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Otot Suami
Pagi itu, sinar matahari merambat masuk menembus jendela kamar utama kediaman Ardan dengan kehangatan yang lembut. Di depan meja rias, Kate Ravental sudah berdiri tegak sejak subuh. Wajahnya memancarkan tekad membara yang tak terpadamkan.
Setelah runtuhnya pertahanan mentalnya kemarin akibat godaan cemburu yang berbalik menyerangnya, Kate telah meramu taktik baru. Taktik Jeda dan Intimidasi Psikologis. Rencananya sederhana: ia akan bersikap acuh tak acuh, dingin bak es di Utara, dan berpura-pura bahwa Salvatore Ardan tidak lebih dari sekadar pajangan batu di rumah ini.
"Rhea," panggil Kate sembari mengoleskan pelembab di pipinya yang masih agak hangat jika mengingat kejadian kemarin. "Hari ini adalah hari di mana aku akan membalas semua kekalahanku. Aku akan menjadi sangat acuh! Jika dia bicara, aku hanya akan menjawab dengan satu kata. Lihat saja, dia yang akan bingung dan memohon perhatianku!"
Rhea yang sedang merapikan tirai jendela besar kamar utama tidak langsung membalas. Dayang itu justru menghentikan tangannya, matanya menatap lurus keluar jendela ke arah halaman samping sebelah kiri kediaman Ardan.
"Nona," panggil Rhea dengan nada suara yang aneh—campuran antara terkejut, kagum, dan kepuasan terpendam. "Sebelum Anda melancarkan taktik acuh tak acuh itu... sebaiknya Anda melihat ke luar jendela sebentar."
Kate berdecak pelan, mengibaskan tangannya meremehkan. "Untuk apa? Paling-paling hanya rumput taman atau para pengawal yang sedang menyapu. Fokusku hari ini adalah—"
"Tuan Jenderal ada di bawah, Nona. Tanpa baju zirah," potong Rhea datar.
Kalimat pendek itu sukses menghentikan celotehan Kate. Tanpa baju zirah?
Dengan alis berkerut penuh rasa ingin tahu, Kate melangkah mendekati jendela besar. "Memangnya kenapa kalau dia tidak pakai zirah? Paling cuma pakai kemeja latihan seperti biasa—"
Perkataan Kate mendadak tersangkut rapat di dalam tenggorokannya. Matanya membelalak sempurna, bibirnya terkatup kaku, dan seluruh persendian di tubuhnya mendadak lumpuh seketika.
Di lapangan rumput sebelah kiri mansion Ardan—yang sejak kemarin lusa dijadikan lokasi latihan darurat karena barak utama militer sedang dalam tahap perbaikan struktur batu—tampak puluhan prajurit sedang melakukan latihan fisik pagi. Namun, bukan para prajurit itu yang membuat dunia Kate berhenti berputar.
Melainkan sang Jenderal Besar.
Salvatore Ardan berdiri di tengah lapangan under sinar matahari pagi yang membakar halus kulitnya. Pria itu sama sekali tidak memakai atasan. Kemeja dan jubah latihannya tergeletak begitu saja di atas bangku kayu tepi lapangan.
Air keringat membasahi kulit tubuh bagian atasnya yang berwarna sawo matang segar, berkilau-kilau diterpa cahaya pagi saat ia mengayunkan pedang kayunya dalam gerakan latihan tingkat tinggi. Setiap kali otot-otot bahunya yang lebar dan kokoh berkontraksi, alur-alur ketegangan di punggung tegapnya terlihat begitu sempurna.
Dan yang paling parah... saat Sal berbalik menghadap ke arah mansion untuk menyapu keringat di dahinya dengan lengan bawah—
OMG!
Delapan petak otot perut (abs) yang terukir sangat simetris, kencang, dan tegas membentang di dada hingga pinggangnya! Jalur otot yang menanjak turun ke balik celana cargo latihannya terpampang nyata tanpa filter sedikitpun!
DEG. DEG. DEG.
Darah di dalam tubuh Kate rasanya mengalir kencang secara mendadak hingga berkumpul di dadanya dan naik ke kepala. Napasnya memburu halus, matanya kaku menempel pada penampakan 'pemandangan terlarang' yang teramat sangat berbahaya untuk kesehatan jantung seorang wanita muda!
Pria batu itu... kenapa tubuhnya bisa se-illegal itu? jerit Kate dalam hati, tangannya memegang tepi tirai begitu erat sampai kain sutra itu teremas kaku. Bukannya selama ini dia cuma duduk di balik meja kerja memeriksa kertas? Kenapa otot perutnya bisa terbentuk seperti pahatan patung dewa perang dari mitologi kuno?
Salvatore menghentikan ayunan pedangnya sejenak. Ia mengangkat botol air perunggu, lalu menyiramkan air dingin ke atas kepalanya. Tetesan air jernih itu mengalir menelusuri lehernya yang berotot, meluncur melewati dadanya yang tegap, melintasi ukiran otot perutnya yang sempurna, hingga menetes jatuh ke tanah.
Kate refleks menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Wajahnya yang tadi tenang kini sudah berubah menjadi merah membara—jauh lebih panas dan merah daripada buah bit paling matang di pasar!
"Bagus ya pemandangannya, Nona?"
Suara bisikan datar nan goda dari Rhea terdengar tepat di sebelah telinga Kate. Dayang pribadi itu berdiri bersedekap dengan sudut bibir yang terangkat mengejek.
Kate tersentak kaget, melompat setengah meter ke belakang seperti kucing yang kejatuhan air!
"R-RHEA! Sejak kapan kau berdiri di situ?" seru Kate histeris, menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menutupi gejolak hatinya yang kacau balau.
"Sejak Anda menatap otot perut Tuan Jenderal tanpa berkedip selama tiga menit penuh, Nona," jawab Rhea dengan raut wajah paling polos namun sangat menyebalkan. "Saya baru tahu kalau fokus taktik 'acuh tak acuh' Anda pagi ini adalah mengagumi hasil latihan fisik suami sendiri."
"S-siapa yang mengagumi?" sembur Kate cepat-cepat, menyapu rambutnya yang sedikit berantakan demi menutupi rasa malunya yang sudah di ambang batas ledakan. Ia memelototkan matanya sok judes dan galak.
"Aku cuma... aku cuma sedang mengawasi! Ya! Mengawasi apakah dia melanggar aturan estetika lingkungan mansion dengan bertelanjang dada sembarangan seperti itu!"
Rhea menaikkan sebelah alisnya. "Aturan estetika? Nona, itu tanah milik beliau. Dan kalau boleh saya jujur, para pelayan wanita di dapur sejak tadi subuh sudah memperebutkan tugas mengantarkan air minum ke lapangan hanya untuk melihat pemandangan yang sama."
"APA?" Kate membelalak gencar. "Para pelayan dapur berani-beraninya menatap suam—maksudku, menatap pria itu tanpa baju?"
"Aha," Rhea mengangguk-angguk pelan sembari mengulum senyum mewajahi reaksi majikannya. "Jadi sekarang dia statusnya 'suami Anda'?"
"Rhea! Kau ini mau kupecat ya?!" ancam Kate galak, meski pipinya makin membara hebat.
Tepat saat itu, dari lantai bawah, terdengar suara derap langkah kaki bersol sepatu bot militer yang mantap naik melewati tangga.
Kate membeku. Tidak mungkin... dia langsung naik ke atas?
"Nona, sepertinya karma atas perbuatan Anda selama dua minggu ini sudah datang menjemput," bisik Rhea santai, lalu melangkah mundur ke dekat pintu. "Saya permisi menyiapkan air mandi untuk Tuan Jenderal."
"Rhea! Jangan tinggalkan aku!" bisik Kate panik, namun dayang itu sudah lebih dulu menghilang di balik pintu kamar mandi dengan ketangkasan yang luar biasa.
Ceklek.
Pintu kamar utama terbuka.
Salvatore melangkah masuk. Pria itu masih belum mengenakan kemeja. Handuk putih kecil tergantung canggung di lehernya yang lebar, sementara rambut hitamnya yang agak basah meneteskan sisa-sisa air ke atas dadanya yang bertelanjang. Aura maskulin yang begitu pekat dan aroma uap panas bercampur kayu cendana seketika menyeruak memenuhi ruangan.
Kate mendadak berdiri mematung di tengah kamar, membelakangi jendela, dengan kedua tangan yang saling meremas di depan gaun tidurnya. Matanya bergerak liar ke kanan dan ke kiri—sama sekali tidak berani menatap lurus ke arah dada suaminya yang masih berkeringat tipis.
Salvatore menghentikan langkahnya sewaktu melihat istrinya yang berdiri kaku seperti papan kayu dengan wajah merah padam.
"Kate?" panggil Sal dengan suara baritonnya yang sedikit serak akibat latihan fisik—suara yang mendadak terdengar sepuluh kali lipat lebih memikat dari biasanya.
DEG.
Suara itu membuat bulu kuduk Kate merinding hebat! Jantungnya berdebar kencang sampai-sampai ia takut suaminya bisa mendengar detak nya dari jarak lima meter.
"A-apa?" sahut Kate tinggi, memalingkan mukanya jauh-jauh ke arah dinding sebelah kiri.
"Kenapa... kenapa kau masuk kamar dengan penampilan syur begitu? Kau ini tidak punya kesopanan ya, Jenderal Tembok?"
Salvatore menatap tubuhnya sendiri sejenak, lalu menatap Kate. Pria itu menyapu rambut basahnya ke belakang dengan satu usapan tangan kekarnya, memamerkan garis rahangnya yang tajam dan lehernya yang jenjang.
"Aku baru selesai melatih divisi tiga," ujar Sal tenang, melangkah mendekat satu demi satu langkah. "Pakaianku basah oleh keringat, jadi aku harus mandi. Kamar mandi utama ada di kamar ini, bukan?"
Setiap langkah yang diambil Salvatore membuat Kate makin terdesak secara mental. Bau aroma tubuh Sal yang hangat dan menyengat makin dekat.
"Ya... ya tapi kan kau bisa pakai kemeja dulu sebelum naik tangga!" seru Kate, menutup matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya. "Pakai bajumu! Jangan melangkah lebih dekat lagi!"
Langkah kaki Salvatore terhenti tepat dua jengkal di depan Kate.
Kate bisa merasakan pendar hawa panas yang memancar dari tubuh Salvatore yang baru selesai berolahraga. Pria itu berada begitu dekat hingga Kate bisa mendengar hembusan napas teratur sang Jenderal.
Tiba-tiba, kedua tangan Sal yang hangat dan sedikit basah meraih pergelangan tangan Kate, lalu menariknya perlahan turun dari depan wajahnya.
Kate refleks membuka mata—dan langsung menyesali keputusannya saat itu juga.
Wajah Salvatore berada tepat di depan wajahnya. Mata elangnya yang jernih dan tajam mengunci pandangan Kate sepenuhnya. Di jarak secantik ini, Kate bisa melihat dengan sangat jelas tetesan air yang mengalir dari leher Sal, melintasi tulang selangkanya yang kokoh, lalu hilang di balik otot dadanya yang padat.
"Kate," panggil Sal sangat rendah.
"A-apa..." bisik Kate kaku, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Matamu tadi melihat ke arah jendela selama sepuluh menit," ujar Sal datar, namun ada percikan kehangatan dan kepuasan samar di dalam binar matanya. "Apakah latihan fisik KU memuaskan pandanganmu?"
BLUSH!!
Wajah Kate meledak panas seketika! Jadi... pria batu ini tahu kalau Kate memperhatikannya dari atas jendela sejak tadi?
"K-kau... kau percaya diri sekali!" sembur Kate kaku, berusaha mendorong dada tegap Sal demi menciptakan jarak. Namun, saat telapak tangannya yang halus menyentuh kulit dada Sal yang hangat, keras, dan padat seperti dinding batu, Kate justru makin syok dan makin panik!
Ototnya benar-benar nyata! Bukan ilusi!
Salvatore tidak bergeser satu milimeter pun saat didorong. Ia justru menundukkan kepalanya sedikit lagi, berbisik tepat di samping telinga Kate yang sudah berwarna merah cabai.
"Dada ini..." Sal membawa tangan Kate yang berada di dadanya untuk mengusap pelan bagian otot perutnya yang kencang, "...dan seluruh tubuh ini adalah milik suamimu, Kate. Kau tidak perlu mencuri pandang dari jendela jika kau bisa melihatnya dari dekat kapan saja."
BLUSH!
Seluruh sisa-sisa pertahanan taktis, gengsi tingginya sebagai Putri Ravental, dan rencana 'jeda acuh tak acuh' yang disusun Kate sejak subuh mendadak hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak berbekas!
Karma atas seluruh kejahilan dan rencana gila yang dilancarkannya selama dua minggu ini akhirnya datang menghantamnya secara instan lewat pesona visual suaminya sendiri yang kelewat berbahaya!
"SALVATORE ARDAN! KAU... KAU MESUM!" jerit Kate dengan suara melengking, merebut tangannya kembali dari perut Sal, lalu mendorong pria itu dengan seluruh sisa tenaganya sembari membelakangi sang Jenderal.
Salvatore terkekeh pelan—sebuah tawa bariton yang sangat renyah dan penuh kemenangan. Ia tidak lagi menggoda istrinya yang sudah berada di puncak batas malunya, melainkan berbalik santai menuju kamar mandi.
"Aku mandi dulu," ujar Sal tenang dari depan pintu kamar mandi. "Jangan lari memanjat jendela lagi. Nanti sore aku akan membawamu jalan-jalan ke kota."
BAM.
Pintu kamar mandi tertutup, meninggalkan Kate yang terduduk lemas di tepi ranjang dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya yang terasa seperti siap meledak.
Rhea keluar dari sudut lemari dengan membawa handuk bersih lainnya, menatap majikannya yang sedang dalam kondisi mati berdiri akibat serangan pesona sang Jenderal.
"Bagaimana, Nona?" tanya Rhea polos. "Taktik 'acuh tak acuh' hari ini sukses besar, bukan?"
Kate mendongak pelan dari balik tangannya, menatap Rhea dengan tatapan pasrah yang amat sangat tragis.
"Rhea..." bisik Kate kaku.
"Ya, Nona?"
"Tolong belikan aku es batu satu ember..." rintih Kate memegangi pipinya yang masih membara. "...aku butuh merendam mukaku sekarang juga!”
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗