"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Akan Mengusahakannya
***
"Kamu pikir pernikahan anak saya itu bahan bercandaan, Mirza?!"
Plak! Srettt!
Liam melemparkan beberapa lembar kertas dengan amarah yang meluap-luap. Lembaran kertas putih itu melayang di udara sebelum akhirnya jatuh berserakan di atas lantai semen bengkel yang kotor, beberapa di antaranya langsung ternoda oleh cairan oli hitam yang menggenang.
Joni yang berdiri tak jauh dari sana langsung tersentak kaget, menahan napas menyaksikan luapan emosi pria paruh baya berelegan itu.
Mirza menunduk, matanya menatap tajam ke arah kertas-kertas yang berserakan di lantai. Di sana, tertera judul tebal yang sangat dia kenali, SURAT PERJANJIAN KONTRAK PERNIKAHAN
"Kamu sudah mempermainkan pernikahan ini, Mirza!" tuduh Liam dengan napas memburu, menunjuk wajah Mirza dengan telunjuk yang bergetar hebat.
"Saya merasa kamu dan Alana sudah menipu saya dan Dwi! Bagaimana bisa kalian mempermainkan pernikahan sakral di depan Allah? Menjadikan janji suci sebagai ajang transaksi uang di atas kertas?!"
Mirza mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Dia menarik napas panjang, menatap lurus mata mertuanya tanpa rasa takut, meski sorot matanya dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.
"Saya mengaku salah, Pa," jawab Mirza, suaranya terdengar berat namun mantap.
"Saya tahu ini salah. Tapi saat itu, saya terpaksa menyetujui perjanjian itu."
"Siapa yang memaksa kamu?!" bentak Liam, suaranya bergema menembus atap seng bengkel.
"Uang?! Harta?!"
"Keadaan, Pa! Keadaan yang memaksa saya untuk menjual harga diri saya pada Alana!" potong Mirza, nada bicaranya naik satu tingkat, menumpahkan kejujuran yang selama ini tertahan di dadanya.
"Alana tidak mau dijodohkan dengan pria pilihan Papa dan Mama. Dia melakukan semua ini karena dia tidak mau terus-menerus diatur. Alana cuma ingin menjadi dirinya sendiri!"
Liam membeku, matanya membelalak menatap Mirza.
"Alana yang datang pada saya, Pa," lanjut Mirza dengan tatapan tajam.
"Dia menawarkan kesepakatan itu kepada saya. Saat itu, ibu saya sedang kritis di rumah sakit dan saya sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatannya. Kami sama-sama berada di posisi terdesak. Kami sama-sama diuntungkan. Saya bisa mendapatkan uang untuk menyelamatkan nyawa ibu saya, dan Alana bisa mendapatkan kembali kebebasannya."
"Kebebasan ...." gumam Liam lirih, suaranya mendadak tertahan di tenggorokan.
"Iya, kebebasan!" tegas Mirza.
"Selama ini Alana sangat tersiksa, Pa. Hidupnya selalu saja diatur dan ditekan oleh Papa dan Mama. Tidak ada satu orang pun di rumah itu yang mau benar-benar mendengarkan keinginan atau pendapat dia! Alana cuma ingin menjadi dirinya sendiri, termasuk dalam urusan jodohnya. Dia cuma ingin menikah dengan laki-laki yang benar-benar dia inginkan ... Dia sudah sangat capek diatur terus-menerus sama orang tuanya!"
Kata-kata Mirza menghantam dada Liam bagaikan hantaman godam yang sangat menghancurkan. Setiap kalimat yang keluar dari mulut menantunya itu telanjang mengungkapkan rasa sakit putri tunggalnya yang selama ini tersembunyi rapat di balik senyum dan kepatuhannya.
Raut wajah marah Liam seketika sirna, berganti menjadi pucat pasi. Pria paruh baya itu mencengkeram dadanya sendiri. Tubuh tegap yang biasanya berdiri penuh wibawa itu tiba-tiba limbung, kehilangan keseimbangan.
"Papa!"
Dengan refleks yang sangat cepat, Mirza memburu maju dan menangkap tubuh Liam sebelum pria itu jatuh terhempas ke lantai semen yang kotor.
"Jon! Ambilkan air minum sekarang! Cepat!" teriak Mirza panik pada Joni.
Joni yang ikut panik langsung berlari ke meja kayu, menyambar satu botol air mineral dan menyerahkannya pada Mirza.
Tangan Liam bergetar hebat saat dia merogoh saku dalam jasnya dengan susah payah. Dia mengeluarkan sebuah botol obat kecil, membukanya dengan canggung, lalu memasukkan dua butir tablet kecil ke dalam mulutnya tanpa air.
"Napas perlahan, Pa ... Atur napas Papa dengan baik," bisik Mirza panik namun tetap berusaha tenang. Dia menopang punggung Liam erat-erat, membiarkan pria itu bersandar pada tubuhnya sembari mengusap dada mertuanya perlahan.
"Tarik napas ... buang pelan-pelan ...."
Liam memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menguasai rasa nyeri yang mencengkeram dadanya akibat serangan pemicu emosi yang teramat hebat. Hening mencekam melingkupi bengkel selama beberapa menit. Hanya ada suara deru napas Liam yang perlahan mulai teratur dan stabil.
Setelah kondisi Liam terlihat jauh lebih tenang, Mirza bersama Joni perlahan memapah tubuh pria tua itu menuju kursi kayu di sudut bengkel. Mereka mendudukkannya dengan sangat hati-hati.
Mirza berlutut di depan Liam, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya minta maaf, Pa ... Saya minta maaf karena sudah sangat lancang bicara seperti itu sama Papa."
Liam terdiam. Dia tidak membalas ucapan Mirza. Matanya menatap kosong pada lembaran-lembaran kertas kontrak pernikahan yang masih tergeletak berserakan di atas lantai beroli.
Pikirannya melayang kembali ke kejadian tadi pagi. Entah ada angin apa yang membawanya melangkah masuk ke dalam ruang kerja Alana di rumah saat putrinya itu sudah berangkat ke kantor.
Niatnya hanya ingin meminjam mesin cetak dokumen, namun matanya tak sengaja menangkap sebuah map terselip di dalam laci meja yang tidak terkunci rapat. Saat dibuka, hancur sudah seluruh dunianya begitu membaca lembar demi lembar perjanjian kontrak antara Alana dan Mirza.
Kemarahan yang membakar dadanya tadi pagi kini menguap tanpa bekas, berganti menjadi rasa penyesalan yang teramat sangat mendalam.
"Selama ini Alana memang selalu menuruti semua kemauan kami..." batin Liam meratapi dirinya sendiri. Air mata hangat tanpa sadar menetes dari sudut matanya yang mulai mengutip keriput.
"Tapi saya sama sekali tidak pernah tahu kalau Alana harus menderita batin seperti ini hanya demi menuruti kami..."
Liam memegangi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetaran.
Ini semua salahnya.
Ini semua salah dia dan Dwi.
Mereka berdua yang selama ini merasa paling tahu apa yang terbaik untuk Alana. Mereka yang selalu memaksakan kehendak, mengatur setiap helai napas dan langkah kaki putri mereka, tanpa pernah bertanya apakah Alana bahagia atau tidak dengan semua itu. Padahal Alana sudah sangat dewasa, sudah mampu berpikir dan memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk perjalanan hidupnya.
"Saya ... saya orang tua yang gagal, Mirza," bisik Liam dengan suara parau yang sarat akan rasa sakit dan kehancuran hati seorang ayah.
Liam menatap Mirza dengan mata yang berkaca-kaca, raut wajahnya dipenuhi keseriusan dan rasa penyesalan yang mendalam. Dia memegang kedua bahu Mirza, menatap menantunya itu tepat di manik mata.
"Mirza ... Papa mohon sama kamu. Berjanjilah untuk menjaga Alana... bahagiakan dia," ujar Liam, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.
"Papa minta kamu nikahi Alana secara sah, resmi, dan tanpa ada kontrak gila seperti ini lagi. Minggu depan, di hadapan Papa dan Mama."
Mirza tersentak kaget. Matanya membelalak, tidak menyangka permintaan seperti itu akan keluar dari mulut seorang Liam Dirgantara.
"Pa ... tapi saya tidak bisa," tolak Mirza cepat, menggelengkan kepalanya
"Saya tidak ingin mempermainkan pernikahan ini lebih jauh lagi. Bukankah tadi Papa sendiri yang bilang kalau pernikahan itu sakral? Pernikahan kami yang sekarang saja berawal dari kebohongan, bagaimana bisa—"
"Justru karena pernikahan itu sakral, Mirza!" potong Liam dengan nada memohon yang luar biasa.
"Papa ini sudah tua ... Papa tidak tahu berapa lama lagi umur Papa akan bertahan di dunia ini. Alana sampai berani mengambil keputusan gila dan nekat seperti ini hanya demi keluar dari desakan dan paksaan orang tuanya sendiri. Papa takut, Mirza ... Papa sangat takut Alana justru salah memilih pria jika pernikahan kontrak ini berakhir."
Liam meremas bahu Mirza semakin erat, menurunkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Mirza dengan tatapan seorang ayah yang pasrah.
"Anggap ini sebagai permohonan seorang ayah kepada kamu, Mirza. Tolong ... jadikan Alana istri kamu yang sesungguhnya. Sayangi Alana, bimbing dia, dan bahagiakan dia," bisik Liam dengan air mata yang menetes pelan menelusuri pipinya.
"Dan satu hal yang paling Papa mohon dari kamu ... tolong jangan pernah selingkuh atau menyakiti hatinya."
Liam menelan ludah, suaranya makin parau.
"Buatlah Alana punya tempat bersandar yang kokoh... tempat dia pulang dan merasa aman, setelah kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi di dunia ini nanti."
Mirza bungkam seribu bahasa. Dada pria itu berdesir hebat mendengar keputusasaan dan permohonan tulus dari mertuanya. Dia menatap lembaran kertas kontrak di lantai, lalu membayangkan wajah Alana, wanita yang semalam tertidur lelap dalam dekapannya sambil memeluknya erat karena ketakutan.
Isi kepala Mirza mendadak bising. Pikirannya berputar keras, mempertimbangkan setiap patah kata yang baru saja diucapkan oleh pria paruh baya di hadapannya. Ada keraguan besar yang merayapi hatinya, dia takut memberi janji manis jika pada akhirnya tidak sanggup menepatinya. Mirza sudah tertekan dan lelah, dia tidak sanggup lagi menyakiti hati siapa pun dengan kebohongan-kebohongan baru.
Mirza menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Dia menatap lurus mata Liam, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam tangan mertuanya yang gemetaran.
"Pa ... mungkin saya bukan laki-laki terbaik untuk Alana," ujar Mirza, suaranya terdengar sangat jujur dan tenang.
"Saya sadar diri, saya bukan laki-laki tepat yang ideal untuk mendampingi dia. Perbedaan status kita sangat jauh, bagaikan langit dan bumi."
Mirza jeda sejenak, meremas lembut jemari Liam.
"Tapi ... kalau Papa memang mempercayakan Alana kepada saya, mengizinkan saya untuk berusaha mencintai dia ... maka saya akan belajar. Saya akan belajar menerima Alana sebagai istri sah saya yang sesungguhnya. Saya akan berusaha mencintai dan membahagiakan dia dengan cara saya sendiri," lanjut Mirza dengan tatapan penuh komitmen.
"Saya tidak berani berjanji tinggi-tinggi, Pa ... tapi saya pastikan, saya akan mengusahakannya setiap waktu demi kebahagiaan Alana."
Mendengar ketulusan yang mengalir dari ucapan Mirza, pertahanan Liam runtuh sepenuhnya. Dadanya berdesir hangat, dipenuhi rasa haru yang luar biasa. Tanpa membuang waktu lagi, Liam langsung maju dan memeluk erat tubuh tegap menantunya itu.
"Terima kasih, Mirza ... Terima kasih," bisik Liam parau di bahu Mirza, air matanya menetes meresap ke dalam kaus yang dipakai Mirza.
"Papa percaya sama kamu. Belum pernah Papa merasa sepercaya ini sama orang lain.... Papa sangat yakin, kamu adalah laki-laki yang tepat untuk Alana."