Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luna Melahirkan &Meminta Tolong
Kehamilanku berjalan dengan sangat indah.
Revan berubah menjadi suami yang super siaga. Dia melarangku naik high heels, melarangku kerja lembur, melarangku minum kopi. Bahkan untuk meeting penting pun, dia yang akan datang ke ruanganku agar aku tidak perlu jalan jauh ke lantai 50.
"Sayang, kamu itu sekarang bawa dua nyawa, bukan satu. Jadi harus manja," katanya setiap kali aku protes karena terlalu dimanjakan.
Kandungan ku sudah memasuki bulan ke-8. Perutku sudah besar sekali. Alesha di dalam perutku sangat aktif, sering menendang-nendang saat aku sedang meeting.
Hari itu, aku sedang melakukan cek rutin di rumah sakit yang sama tempat aku dulu sering cek kesuburan bersama Bara. Dokter Rina yang menangani ku.
Selesai cek, saat aku berjalan keluar dari ruang dokter dengan perut besarku, aku melihat seseorang yang sangat kukenal duduk di ruang tunggu poli kandungan, sendirian.
Wanita itu kurus kering, wajahnya pucat, rambutnya diikat seadanya. Memakai daster murah yang sudah luntur. Di pangkuannya ada seorang bayi yang baru lahir, dibungkus kain jarik, menangis kencang. Di sampingnya ada tas plastik kresek hitam berisi beberapa baju bayi.
Luna.
Ya Tuhan, itu Luna.
Luna yang dulu selalu memakai gaun desainer dan tas Hermes, kini terlihat seperti... seperti orang yang baru saja keluar dari penderitaan panjang.
Matanya bertemu dengan mataku. Dia langsung membeku dan menundukkan wajahnya dalam-dalam, malu.
Aku seharusnya berjalan saja. Aku seharusnya pura-pura tidak melihatnya. Setelah semua yang dia lakukan padaku.
Tapi suara tangisan bayi itu... tangisan bayi yang kelaparan dan kedinginan... membuat kakiku tidak bisa bergerak.
Aku berjalan mendekatinya.
Luna langsung panik dan memeluk bayinya lebih erat. "Ja... jangan ambil anakku... jangan..."
"Luna..." panggilku pelan.
Luna mendongak dengan air mata yang sudah menggenang. "Arini..."
"Apa yang terjadi denganmu?" tanyaku, duduk di sampingnya. Perut besarku bersebelahan dengan bayi kecilnya.
Luna pecah. Dia menangis sejadi-jadinya di ruang tunggu rumah sakit itu.
"Doni... Doni kabur... setelah aku melahirkan semalam di klinik bidan murah, dia ambil semua uang tabunganku dan kabur dengan perempuan lain... Aku... aku tidak punya uang... aku tidak punya rumah... Kak Revan mengusirku... Bara di penjara... Ibu ku tidak mau mengakuiku lagi karena malu... Aku... aku bahkan tidak punya uang untuk beli susu untuk anakku..."
Dia menunjukkan botol susu kosong di dalam tas kreseknya.
Bayinya terus menangis kehausan.
Hatiku... meski sudah sangat sakit hati padanya, tetap tidak tega melihat seorang bayi tidak berdosa menangis seperti itu.
Aku memanggil suster.
"Suster, tolong ambilkan susu formula yang terbaik dan selimut hangat untuk bayi ini. Dan tolong panggilkan dokter anak untuk cek bayi ini. Tagih semua ke saya, Arini Saputri, kamar VIP 2."
Suster itu mengangguk dan berlari.
Luna menatapku dengan tidak percaya. "Arini... kenapa... kenapa kamu masih baik padaku setelah... setelah aku merebut suamimu dan menghina mu..."
Aku menatap bayi kecil di pangkuan Luna yang kini mulai tenang setelah susunya datang. Wajah bayi itu polos dan tidak berdosa.
"Karena aku juga akan menjadi seorang ibu, Luna," jawabku sambil mengelus perut besarku. "Dan aku tahu rasanya tidak punya siapa-siapa. Aku pernah di posisi mu. Dibuang di tengah hujan tanpa siapa pun. Bedanya, waktu itu ada Revan yang menolongku. Hari ini, biar aku yang menolongmu."
Luna menangis semakin kencang dan tiba-tiba bersujud di kakiku, di lantai rumah sakit, sambil masih menggendong bayinya.
"Maafkan aku, Arini... maafkan aku... aku jahat... aku iri padamu... maafkan aku..."
Aku mengangkat Luna.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Luna. Bangun. Sekarang tugasmu adalah menjadi ibu yang baik untuk anakmu. Beri dia nama yang bagus. Jangan ulangi kesalahan mu."
Aku meninggalkan sejumlah uang di pangkuan Luna dan kartu nama Bi Ijah.
"Kalau butuh tempat tinggal sementara, hubungi Bi Ijah. Dia punya kontrakan kosong di dekat rumahnya. Kamu bisa tinggal di sana dulu sampai kamu dapat kerja."
Aku berjalan pergi meninggalkan Luna yang masih menangis di lantai, memeluk bayinya dan uang yang kuberikan.
Revan yang sudah menunggu di luar, melihat semuanya dari pintu. Dia tidak melarangku menolong Luna. Dia hanya tersenyum bangga dan membukakan pintu mobil untukku.
"Kamu memang calon ibu yang hebat, sayang," bisiknya sambil mengecup keningku.
Aku tersenyum dan mengelus perutku.
Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi memaafkan berarti membebaskan diri kita sendiri dari kebencian.
Dan hari itu, aku benar-benar bebas.