Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Bab 4: Ujian Ekonomi di Kota
Aroma lembap dinding kontrakan petakan di sudut sempit Gang Kelinci menggantung pekat di udara. Suara bising deru sepeda motor yang melintas di gang selebar satu meter bersahut-sahutan dengan riuh anak-anak kecil yang berlarian di luar.
Kehidupan pernikahan Burhan dan Anisa yang sudah lama terus diuji oleh kerasnya ekonomi kota.
Di atas tikar pandan yang mulai terkelupas ujungnya, Anisa duduk memandangi sebuah buku catatan bergaris dengan sampul biru kusam.
Tangannya yang memegang pena bergoyang ragu, merapikan deretan angka pengeluaran bulan ini.
"Bang..." panggil Anisa pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru kipas angin gantung yang berderit memutar angin panas.
Burhan yang sedang duduk di ambang pintu memiringkan kepala. Ia baru saja selesai membersihkan sisa oli di tangannya dengan kain lap kotor setelah seharian mencari penumpang dengan sepeda motor tua milik tetangganya.
"Kenapa, Nis? Ada yang kurang lagi?" tanya Burhan, mengusap peluh di dahinya yang berjelaga.
Anisa menghela napas panjang, menunjukkan lembaran catatan itu. "Uang kontrakan kita kurang seratus ribu untuk bulan ini, Bang. Itu belum termasuk tagihan listrik yang sudah menunggak seminggu, sama uang belanja harian kita. Beras di dapur cuma tersisa dua liter."
Burhan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Garis-garis kelelahan tercetak jelas di bawah matanya. "Bensin mahal sekali sekarang, Nis. Seharian Abang narik keliling stasiun dari pagi sampai magrib, cuma dapat lima puluh ribu. Itu pun habis dipotong sewa motor Pak RT."
"Abang tidak coba minta bagian lebih dari perbengkelan tempat Abang bantu kemarin?" tanya Anisa lembut, berhati-hati agar tidak melukai perasaan suaminya.
"Bengkel Bang Bengbeng lagi sepi, Nis. Dia cuma bisa kasih Abang uang makan siang sepuluh ribu. Abang mau minta tambah juga tidak enak hati," sahut Burhan sambil melangkah masuk dan duduk bersila di samping Anisa. Ia menatap telapak tangan Anisa yang kini mulai kasar,tangan yang dulu halus saat mereka masih hidup di desa.
Anisa menunduk, menyembunyikan genangan air mata di sudut matanya. "Maaf ya, Bang... Aku belum bisa bantu apa-apa. Tadi siang Mbak Sumi tawarin aku cuci gosok di rumahnya, tapi Abang kan..."
"Tidak, Nis!" potong Burhan cepat dengan nada sedikit tinggi, membuat Anisa terperanjat. Burhan meraih jemari istrinya, lalu melunakkan suaranya. "Tidak. Abang yang bawa kamu ke kota ini, Abang yang berjanji sama bapakmu di kampung untuk menafkahimu. Kamu tidak boleh kerja cuci gosok keliling gang."
"Tapi kita butuh uang, Bang!" seru Anisa, suaranya gemetar menahan emosi yang terbendung sejak seminggu terakhir. "Aku tidak malu kerja apa saja, Bang! Yang penting halal. Daripada kita diusir sama pemilik kontrakan minggu depan?"
"Abang masih punya harga diri, Anisa!" balas Burhan, matanya memancarkan keputusasaan sekaligus kebanggaan laki-laki yang terluka. "Biarkan Abang yang cari jalan keluar. Besok Abang bakal cari kerjaan di pasar induk. Katanya di sana lagi butuh kuli panggul malam."
"Kuli panggul?" Rina—maksud Anisa—terbelalak kaget. "Bang, punggung Abang kan sering kumat kalau angkat berat! Nanti kalau Abang sakit bagaimana? Biaya berobat kita dari mana?!"
"Lalu kamu mau Abang diam saja melihat kamu makan nasi sama garam?!" suara Burhan naik satu nada, namun seketika ia terdiam saat melihat satu tetes air mata jatuh melintasi pipi Anisa.
Hening merayap di ruangan sempit empat kali tiga meter itu. Hanya suara derit kipas angin dan bising jalanan luar yang tersisa. Burhan menarik napas dalam-dalam, mengutuk dirinya sendiri karena telah membentak wanita yang sangat dicintainya.
"Nis... maafkan Abang," bisik Burhan parau. Ia merapatkan duduknya, mengusap air mata di pipi Anisa dengan ibu jarinya yang kasar. "Abang cuma merasa gagal jadi suami. Baru tiga bulan kita nikah, Abang sudah bikin kamu menderita seperti ini."
Anisa menggeleng pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada Burhan. "Aku tidak pernah merasa menderita karena hidup sederhana bersamamu, Bang. Aku cuma takut kalau Abang kenapa-napa. Kita ini suami istri, beban ini harusnya kita pikul bersama, bukan cuma Abang sendiri."
Burhan memeluk erat bahu istrinya, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah himpitan kota yang dingin.
"Besok," kata Anisa pelan sambil menatap mata suaminya, "aku mau coba bikin gorengan dan kue kecil untuk dititip di warung depan. Boleh ya, Bang? Kita berjuang sama-sama."
Burhan menatap mata Anisa yang penuh tekad. Kebanggaannya melunak, berganti dengan rasa haru dan hormat yang mendalam pada keteguhan hati istrinya.
"Baiklah, Nis," bisik Burhan sambil tersenyum tipis. "Kita berjuang sama-sama. Kota ini keras, tapi kita tidak boleh kalah."