Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Rin memantapkan hati untuk ke kampus hari ini. Mungkin akan banyak yang menunjuk-nunjuk dirinya lagi, tapi Rin lebih penasaran dengan undangan yang dikirimkan pihak kampus kemarin sore.
Rin memakai kemeja putih oversize, lengannya digulung se-siku, dalamnya kaus polos putih, celana kulot high waist cream, dan sepatu andalannya sneakers. Rambut Rin ikat sebagian, sebagian lagi dibiarkan terurai. Rin juga memakai tas rajut warna cream yang pernah dibelikan Al saat mereka ke pusat kerajinan.
Sepatu Rin berhenti tepat di depan pintu kayu ruang dosen. Tangannya yang memegang tas rajut terasa dingin. Dia menarik napas dan menghembuskannya.
Tok... Tok... Tok...
Pintu ruangan terbuka, Bu Lina mempersilahkan Rin masuk.
Di dalam sudah ada pak Hendra sebagai ketua prodi sedang mengobrol santai bersama Al. Dia memakai kemeja hitam polos bahan katun yang digulung hingga ke siku dan celana cargo hitam, sepatu boots kulit hitam doff dan mengenakan jam tangan hitam doff di tangan kiri. Mereka berhenti ngobrol, Al berdiri saat Rin masuk. Meraih tas rajut Rin dan meletakkan persis di sampingnya.
"Selamat pagi pak," sapa Rin dan duduk di samping Al.
"Selamat pagi. Ayo duduk, Rin. Maaf ya, Rin, bapak tahu ini telat. Harusnya dari kemarin-kemarin bapak manggil kamu, bukan nunggu kamu yang diteriakin satu kampus."
"Tidak apa pak, saya bersyukur masalah ini cepat selesai,"
"Ini rekaman video CCTV, bukti tangkapan layar si pelaku dan juga satu barang bukti," Al mengeluarkan tali jam tangan yang disimpan dalam plastik. Al meletakkannya dengan hati-hati di atas meja.
"Itu..."
"Iya Rin, itu satu-satunya bukti yang dibuang Zayn di tong sampah di depan Roemah Roti," ucap Al, Rin shock saat mendengarnya. Berarti kasus ini memang Zayn pelakunya.
"Tapi gimana bisa ketemu?"
Al menjelaskan dengan santai, "Masih ingat waktu di Roemah Roti aku nanya soal jam tangan Zayn? Itu kayak nggak asing. Dan yang menemukan tali itu adalah nenek,"
"Nenek? Tapi nenek nggak pernah cerita kalau..."
"Aku yang meminta nenek untuk nggak cerita, kamu lagi banyak pikiran. Jadi nenek nyerahin tali jam itu ke Jonas dan tim kami cari tahu tentang tali itu,"
"Apa Zayn sudah mengakui kalau itu memang dia?" tanya Pak Hendra.
"Sudah pak, tinggal nunggu dia datang..."
Suara ketukan pintu pelan terdengar. Bu Lina kembali membukakan pintu. Zayn masuk dan seketika ruangan menjadi hening.
"Duduk, Zayn," pak Hendra menunjuk sofa di samping kanannya, sedangkan Al dan Rin di sisi sebelah kiri pak Hendra. Zayn mencuri pandang sekilas ke arah Rin sebelum dia duduk.
"Terimakasih pak," ucap Zayn wajahnya kini terlihat jelas oleh semua orang yang ada di ruangan.
Rin menutup mulutnya saat matanya melihat wajah Zayn yang sedikit lebam dan ujung bibirnya memar..
Zayn duduk dengan canggung, sedangkan yang lain terlihat santai. Rin menatap Al yang ada di sampingnya dengan pandangan bertanya.
"Bisa kita mulai aja pak? Semua sudah lengkap," ucap Al yang menepuk lutut Rin dua kali seolah menenangkannya. Pak Hendra mengangguk.
"Baiklah, langsung saja Zayn. Benar yang ada di rekaman CCTV ini kamu?" sesaat mata Zayn menatap layar komputer yang di hadapkan ke arahnya.
"Iya pak, itu saya," jawabnya pelan.
"Ini tali jam kamu?" tanya Pak Hendra lagi. Zayn melihat tali jam itu dengan perasaan sendu.
"Harusnya saya tidak membuangnya di sana," bisik Zayn pelan. "Saya pikir, dengan melakukan itu tidak ada yang mencurigai saya, dan bisa memberikan dukungan terus ke Rin, tapi nyatanya..." Zayn tertawa meringis.
"Jadi beneran lo yang punya tali jam itu? Kenapa Zayn?" Rin tak percaya dengan ucapan Zayn.
"Kenapa? Apa motif kamu melakukan itu?" tanya pak Hendra lagi.
"Saya... Saya melakukan itu karena Rin," jawabnya. Rin menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa gue? Lo tau akibat selebaran itu nama gue jadi hancur?" tanya Rin dengan nada emosi. Al menepuk lagi lutut Rin pelan. Menenagkan. Rin berhasil meredam suaranya agar tidak berteriak di hadapan Zayn.
"Kenapa? Apa kamu memang tidak suka dengan Rin sampai membuat fitnah begitu? Atau sesuatu yang lain?" tanya pak Hendra. Zayn menggeleng.
"Lalu kenapa?"
"Saya...menyukai Rin!" Zayn menunduk. Rin menutup mulutnya.
"Maaf? Saya tidak bisa menghubungkan korelasinya..."
"Saya... Saya pikir, dengan melakukan itu saya bisa memberikan dukungan untuk Rin,"
Rin langsung menyela, "Jadi lo jatuhin gue dulu?"
"Saya pikir saat itu hanya saya yang bisa merangkul dia disaat dia jatuh. Saya yang menguatkannya. Itu sebabnya saya membuat berita itu hanya di lingkungan kampus..."
"Tapi kenapa?" tanya Rin tak percaya seorang Zayn, ketua panitia pagelaran seni bisa melakukan hal seperti itu karena menyukai Rin.
"Karena aku nggak mau kamu terlalu berharap dengan Al! Al terang-terangan suka kamu tapi dia sendiri masih berhubungan dengan masa lalunya. Aku nggak mau kamu disakiti. Tapi aku nggak punya cara lain," Zayn menarik napasnya. "Banyak cara aku lakukan untuk deketin kamu, tapi kamu terlalu sibuk dengan Al dan teman-temannya, maaf Rin,"
Rin menggeleng tak percaya, sedangkan Al senyum smirk-nya terlihat.
"Kamu tahu efek dari tindakan kamu? Saya nggak nyangka kalau itu kamu! Kamu mahasiswa terbaik, aktif dan kampus bangga dengan kepemimpinan kamu dalam setiap acara. Bapak kecewa Zayn."
"Saya... Saya terlalu menyukai Rin sampai membuat skenario sendiri supaya saya bisa mendekati Rin. Saya akui saya salah. Saya benar-benar minta maaf dengan kelakuan saya yang seperti ini. Dan saya siap menerima hukuman apapun yang diberikan oleh kampus," suara Zayn bergetar saat meminta maaf, dan dia menunduk kembali,
"Bapak harap ini terakhir kalinya, Zayn. Meskipun kamu terbaik di kampus ini, tidak ada pengecualian soal hukuman." Pak Hendra menatap Zayn, menyayangkan salah satu mahasiswanya melakukan hal seperti itu
"Pihak kampus sudah rapat tadi pagi-pagi sekali. Dan kami menyatakan, yang pertama kamu diskors selama satu semester atas perbuatan kamu." Pak Hendra membacakan hasil rapat.
"Kedua, kamu mengunggah video klarifikasi dan permintaan maaf terkait masalah ini ditunggu paling lama 1x24 jam"
Zayn menunduk lesu.
"Yang ketiga, jika ada kejadian seperti ini lagi. Kami tidak segan-segan mengeluarkan kamu dari kampus. Karena ini termasuk mencoreng nama baik seseorang, untungnya Al tidak melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib" Pak Hendra berkata sambil melihat ke arah Al. Al mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik pak, saya berjanji ini yang pertama dan terakhir kalinya. Saya ingin segera lulus," jawabnya.
"Dan Zayn... bapak kecewa dengan kejadian ini. Kamu, pemegang kunci mading dan satu wartawan kampus, saya skors. Mereka juga sudah mengakuinya tadi dan sudah mendapatkan hukumannya masing-masing,"
Zayn menunduk semakin dalam. Merenungi akibat perbuatannya.
"Al dan Rin, ada yang mau disampaikan?" tanya pak Hendra. Al menggeleng tetapi Rin masih menatap Zayn dengan kecewa.
"Baiklah semua, saya rasa hanya itu yang bisa saya lakukan. Dan untuk urusan personal, silahkan dibicarakan tanpa kekerasan," pak Hendra melirik lebam yang ada di wajah Zayn.
Mereka pamit keluar ruangan.
"Katanya lo udah ngobrol dengan Zayn tadi malam?" bisik Rin. Al mengangguk.
"Itu bukan ngobrol! Lo berantem?" bisik Rin.
"Nggak! Itu cara cowok ngobrol!" ucap Al sambil tersenyum. Rin memutar bola matanya. Tapi kedua tangannya reflek memegang kedua sisi wajah Al, melihat apakah ada lebam juga di sana.
Zayn... Logika cinta dari mana dulu baru dirangkul?😭
Masa lalu Al yang dimaksud Zayn itu... Ada yang tau nggak? Jangan-jangannnn.....
Besok kita bongkar sama-sama , di Roemah Roti🥰
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok