Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Bukan Bercanda!
"Reyna? Ya ampun, ini beneran kamu?" sapa suara yang amat familiar itu dengan nada terkejut sekaligus gembira.
Reyna tersentak, ia buru-buru berdiri dari duduknya saat mengenali wanita paruh baya berkerudung lembut di hadapannya.
"Tante Rania...?"
Tante Rania, Ibu dari Agnia, melangkah cepat dan langsung memeluk Reyna dengan penuh kerinduan. Wanita paruh baya itu selalu menganggap Reyna seperti putrinya sendiri, mengingat Reyna adalah sahabat terdekat Agnia dan sudah tidak memiliki orang tua.
"Kamu kemana aja, Rey? Agnia sering banget cerita kalau kamu makin sibuk?" tanya Tante Rania seraya menatap Reyna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut penuh perhatian.
Reyna meremas gelas teh dinginnya dan mengulas senyum canggung, "Eh... habis ada urusan sebentar, Tante."
"Pantesan! Mumpung ketemu di sini, ayo ikut Tante pulang ke rumah! Agnia lagi di rumah dari tadi siang. Ayo, Tante nggak terima penolakan ya, kamu harus makan malam di rumah!" tegas Tante Rania hangat tanpa memberi ruang bagi Reyna untuk mencari alasan.
Rasa tidak enak hati menyergap Reyna, menolak ajakan wanita paruh baya yang sudah begitu menyayanginya seperti ibu sendiri jelas terasa sangat tidak sopan. Dengan helaan napas pasrah namun tersenyum tulus, Reyna akhirnya mengangguk.
"Iya, Tante," jawab Reyna.
Tak butuh waktu lama, mobil tiba di kediaman orang tua Agnia yang asri. Pintu pagar besi terbuka lebar dan Tante Rania mengajak Reyna masuk melewati taman depan menuju ruang tamu yang luas.
Agnia yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu seraya memangku laptopnya mendadak menghentikan ketikannya begitu mendengar langkah kaki mendekat. Saat matanya menangkap sosok Reyna yang berjalan di belakang ibunya, Agnia membelalak kaget hingga hampir menjatuhkan laptopnya.
"Reyna? Ya ampun, Rey!" seru Agnia histeris, langsung bangkit berdiri dan merangkul sahabatnya itu.
"Kok kamu bisa sama Mama?" tanya Agnia.
"Tadi Mama ketemu Reyna lagi duduk di depan minimarket sendirian, ya udah Mama seret aja sekalian suruh ke sini," sahut Tante Rania riang seraya membetulkan letak tasnya.
"Sana kalian ngobrol dulu, Mama mau ke dapur sebentar ya, mau minta Mbak masak makanan kesukaan Reyna," lanjut Tante Rania.
"Makasih banyak ya, Tante," tutur Reyna penuh rasa hormat.
Setelah Tante Rania berlalu ke arah dapur, Agnia langsung menarik tangan Reyna untuk duduk di sofa empuk. "Rey, kamu habis darimana?" tanyanya.
"Cuma jalan-jalan sebentar, Ni. Kebetulan ketemu Tante Rania," jawab Reyna berusaha menutupi fakta bahwa ia baru saja menyelesaikan hari pertamanya bekerja sebagai pelayan cafe.
"Terus, soal wawancara kamu gimana?" tanya Agnia.
"Doain ya, Ni," ucap Reyna, ia terpaksa berbohong karena belum siap memberitahukannya pada sahabatnya itu.
"Pasti itu," sahut Agnia.
Namun, sebelum obrolan mereka berlanjut lebih jauh, suara derit pintu depan yang didorong terbuka mengalihkan perhatian mereka. Suara tawa pelan Bagas terdengar dari arah teras, disusul oleh langkah kaki dua orang pria yang melangkah masuk ke dalam rumah.
"Yang, aku beli camilan yang kamu minta nih...," perkataan Bagas terhenti di udara saat matanya mendapati Reyna duduk di ruang tamu.
Di samping Bagas, berdiri sosok Dikta. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang tergulung rapi hingga siku, memancarkan kesan gagah namun tetap bersahaja.
Seketika, suasana di ruang tamu berubah menjadi sangat padat. Mata hitam Dikta yang dalam bertemu langsung dengan pandangan Reyna, suasana canggung yang sempat membeku di antara mereka selama beberapa hari terakhir seolah mendadak membumbung tinggi ke udara.
Reyna refleks meremas jemarinya di atas pangkuan dan mencoba bersikap sebisa mungkin seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka, ia mengulas senyum formal nan tipis.
"Eh, ada Reyna di sini? Wah, kebetulan banget," sapa Bagas ramah, mencoba mencairkan kekakuan seraya melirik Dikta yang hanya mengangguk pelan dengan raut datar yang sukar ditebak.
"Iya, Yang. Tadi Mama ketemu Reyna, terus Mama ajak Reyna kesini," sahut Agnia cepat.
Tak lama kemudian, Tante Rania kembali dari arah dapur membawa sebuah nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat dan piring kue kering, wajah wanita paruh baya itu makin berbinar saat melihat kehadiran Bagas dan Dikta di ruang tamu.
"Loh, ada Dikta juga! Ya ampun, Tante kira siapa," seru Tante Rania dengan raut gembira dan menyuruh semua orang untuk duduk berkumpul.
Dikta membungkuk hormat, mencium tangan Tante Rania dengan sangat santun. "Selamat sore, Tante. Maaf mengganggu waktunya, tadi habis dari rumah sakit sekalian dijemput Bagas."
"Aduh, nggak mengganggu sama sekali, Dikta! Justru Tante seneng banget kalau rumah ramai begini," tutur Tante Rania seraya mendudukkan diri di sofa tengah, lalu menatap Dikta dengan binar antusias.
"Gimana kabar Mama sama Papa kamu di Jakarta, Dikta? Udah lama banget Tante nggak ketemu mereka, terakhir pas acara nikahan Agnia sama Bagas ya?" tanya Tante Rania.
"Alhamdulillah sehat, Tante," jawab Dikta dengan suara baritonnya yang sopan dan tenang.
"Sampaikan salam buat Papa sama Mama kamu ya! Nanti kalau ada waktu, Tante yang mau main ke Jakarta," balas Tante Rania antusias.
Percakapan hangat mengenai kabar keluarga berlanjut selama beberapa menit, Reyna memilih untuk lebih banyak diam dan menyeruput teh hangatnya pelan-pelan seraya mendengarkan. Namun, tanpa ada peringatan apa pun, Tante Rania mendadak memindahkan pandangannya dari Dikta menuju Reyna yang duduk di seberang meja.
Setelah itu, Tante Rania kembali ke dapur untuk mengambil buah. Agnia yang memiliki sebuah ide pun mengikuti Ibunya, tentu saja ia melakukannya dengan pelan-pelan agar tidak ada yang curiga.
"Ma," panggil Agnia.
"Ada apa, Ni?" tanya Tante Rania.
"Sebenarnya, Nia mau minta tolong sama Mama," ucap Agnia.
"Minta tolong apa?" tanya Tante Rania.
"Mama tolong jodohin Reyna sama Dikta dong," pinta Agnia.
"Hah... jodohin Reyna sama Dikta. Gak mau, nanti kalau mereka nggak jodoh gimana?" tolak Tante Rania.
"Pasti jodoh kok, Ma. Mama nggak pengen Reyna dapat laki-laki baik, Mama kan udah kenal keluarganya Dikta, harusnya Mama tahu dong kalau Dikta itu laki-laki baik yang cocok sama Reyna," ucap Agnia.
"Iya, juga sih," gumam Tante Rania.
"Jadi, nanti Mama basa-basi gitu jodohin mereka. Nia yakin, Reyna nggak enak buat nolak kalau Mama yang jodohin," ucap Agnia.
"Oke, Mama akan coba," balas Tante Rania.
Setelah itu, Agnia kembali ke ruang tamu terlebih dahulu, dan tak lama kemudian Tante Rania.
"Eh, tapi ngomong-ngomong ya... Dikta ini kan Dokter yang mapan, ganteng dan baik lagi," ucap Tante Rania tiba-tiba dengan nada menggoda yang sangat kentara, ia melirik Reyna penuh arti.
"Reyna juga baik dan lembut banget anaknya, kok Tante lihat-lihat kalian berdua ini serasi banget ya," goda Tante Rania.
Uhuk!
Agnia yang baru saja mau menyeruput tehnya pura-pura tersedak. Bagas yang tidak tahu rencana istirahat itu, langsung melebarkan mata sempurna, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja meluncur dari bibir ibu mertuanya.
.
.
.
Bersambung.....
goda² Rey terus
langsung gas aja mas Dikta, gkusah pura² "sayangg banget yaa"🤭🤭🤭